Pembahasan ajaran Pdt. Stephen Tong

 

berkenaan dengan

 

keselamatan Seorang filosof Cina.

 

Pendahuluan:

 

Penayangan beberapa cuplikan dari VCD Pdt. Stephen Tong berjudul ‘falsafah Asia’, yaitu VCD no 7 dan no 10, yang antara lain  mengajarkan:

·         ketidak-pastian Pdt. Stephen Tong berkenaan dengan selamat atau tidaknya seorang filosof Cina.

·         anggapan Pdt. Stephen Tong bahwa filosof Cina itu baik.

·         pengharapan Pdt. Stephen Tong untuk bertemu dengan filosof Cina itu di surga, dan pengharapannya supaya orang ‘seperti begini’ diterima oleh Tuhan di surga.

·         penggunaan Kis 10:35 untuk menunjukkan bahwa sebelum seseorang diselamatkan, kebajikannya bisa diterima oleh Tuhan.

·         bahwa orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan harus belajar dari ajaran filosof Cina itu untuk membantu mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

·         bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons manusia terhadap wahyu umum dari Allah.

 

Catatan: supaya tidak menyinggung para pengikut dari filosof Cina itu maka saya tidak mencantumkan namanya.

 

Pembahasan ajaran Pdt. Stephen Tong ini.

 

Pada saat ditanya tentang keselamatan seorang filosof Cina tertentu, Pdt. Stephen Tong memang tidak mengatakan bahwa filosof Cina itu selamat, tetapi:

 

1)   Pdt. Stephen Tong menunjukkan ketidak-pastian; dan menurut saya ini sudahlah merupakan ajaran sesat.

Jangan kira seseorang baru sesat kalau ia mengatakan bahwa orang yang tidak percaya pasti masuk surga. Menurut saya, tidak memastikan orang yang tidak percaya masuk neraka, sudah termasuk ajaran sesat.

Sama saja, dalam persoalan keilahian Kristus. Apakah seseorang baru dianggap sesat kalau seseorang menegaskan bahwa Kristus bukan Allah? Apakah ia tidak sesat kalau ‘hanya’ mengatakan bahwa Kristus belum tentu adalah Allah?

 

Bandingkan dengan kata-kata William Barclay tentang kelahiran Kristus dari seorang perawan.

William Barclay: “This passage tells us how Jesus was born by the action of the Holy Spirit. It tells us what we call the Virgin Birth. This is a doctrine which presents us with many difficulties; and our Church does not compel us to accept it in the literal and the physical sense. This is one of the doctrines on which the Church says that we have full liberty to come to our own conclusion. ... what it stresses is not so much that Jesus was born of a woman who was a virgin, as that the birth of Jesus is the work of the Holy Spirit” (= Text ini memberitahu kita bagaimana Yesus dilahirkan oleh tindakan dari Roh Kudus. Text ini memberitahu kita apa yang kita sebut kelahiran dari perawan. Ini adalah suatu doktrin yang memberi kita banyak kesukaran; dan Gereja kita tidak memaksa kita untuk menerimanya dalam arti hurufiah dan fisik. Ini adalah salah satu dari doktrin-doktrin tentang mana Gereja berkata bahwa kita mempunyai kebebasan penuh untuk datang pada kesimpulan kita sendiri. ... apa yang ditekankan bukanlah bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perempuan yang adalah seorang perawan, tetapi bahwa kelahiran Yesus merupakan pekerjaan dari Roh Kudus) - ‘The Gospel of Matthew’, hal 20.

William Barclay: “In this passage we are face to face with one of the great controversial doctrines of the Christian faith - the Virgin Birth. The Church does not insist that we believe in this doctrine” (= Dalam text ini kita berhadapan muka dengan salah satu doktrin yang kontroversial dari iman Kristen - kelahiran dari perawan. Gereja tidak mendesak / memaksa supaya kita percaya pada doktrin ini) - ‘The Gospel of Luke’, hal 12.

William Barclay: “The Jews had a saying that in the birth of every child there are three partners - the father, the mother and the Spirit of God. They believed that no child could be born without the Spirit. And it may well be that the New Testament stories of the birth of Jesus are lovely, poetical ways of saying that, even if he had a human father, the Holy Spirit of God was operative in his birth in a unique way. In this matter we may make our own decision. It may be that we will desire to cling to the literal doctrine of the virgin birth; it may be that we will prefer to think of it as a beautiful way of stressing the presence of the Spirit of God in family life” (= Orang-orang Yahudi mempunyai pepatah yang berkata bahwa dalam kelahiran dari setiap anak ada 3 orang yang bekerja sama - sang ayah, sang ibu dan Roh Allah. Mereka percaya bahwa tidak ada anak yang bisa dilahirkan tanpa Roh. Dan bisa saja bahwa cerita-cerita Perjanjian Baru tentang kelahiran Yesus adalah cara yang indah dan puitis untuk mengatakan bahwa kalaupun Yesus mempunyai ayah manusia, Roh Kudus Allah bekerja dalam kelahiranNya dalam suatu cara yang unik. Dalam persoalan ini kita boleh membuat keputusan kita sendiri. Bisa saja bahwa kita mau berpegang pada doktrin hurufiah tentang kelahiran dari perawan; bisa saja bahwa kita lebih memilih untuk menganggapnya sebagai suatu cara yang indah untuk menekankan kehadiran dari Roh Allah dalam kehidupan keluarga) - ‘The Gospel of Luke’, hal 13.

 

Jelas bahwa Barclay tidak menegaskan bahwa Yesus tidak dilahirkan dari seorang perawan, tetapi ia juga tidak berkeras tentang hal itu. Kasarnya, kalau ada yang mau percaya hal itu, boleh, tetapi kalau ada yang tak mau percaya, juga tidak apa-apa. Apakah yang seperti ini tidak sesat?

 

2)   Pdt. Stephen Tong mengatakan: “kalau diselamatkan, bagaimana diselamatkan tanpa mendengar Injil. Kalau tidak diselamatkan, kasihan ya, orang begini baik”.

Kata-kata bahwa ‘filosof Cina itu baik’ bertentangan dengan:

 

a)   Doktrin Total Depravity (= Kebejatan Total) yang merupakan ajaran Reformed.

Doktrin ini juga sering disebut dengan istilah Total Inability (= Ketidak-mampuan Total).

Doktrin ini jelas menekankan bahwa manusia di luar Kristus / yang belum beriman, tidak mungkin bisa berbuat baik sama sekali.

 

Calvin: “For our nature is not only destitute and empty of good, but so fertile and fruitful of every evil that it cannot be idle” [= Karena kita bukan hanya miskin / melarat dan kosong dalam hal baik, tetapi begitu subur dan banyak berbuah dalam setiap kejahatan sehingga kita tidak bisa malas / menganggur (dalam hal berbuat jahat)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter I, no 8.

 

Bagaimana Pdt. Stephen Tong yang mengaku Reformed bisa menganggap orang yang tidak percaya seperti filosof Cina itu sebagai ‘baik’ merupakan sesuatu yang tidak bisa saya mengerti.

 

b)   Bandingkan dengan banyak ayat Kitab Suci seperti:

1.   Yer 4:22 - “Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu”.

2.   Yer 13:23 - “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?”.

3.   Mat 7:16-18 - “(16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik”.

Text ini menunjukkan bahwa pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. Gara-gara dosa Adam, maka semua manusia lahir sebagai orang berdosa (pohon yang tidak baik), dan karena itu jelas bahwa tidak ada orang yang bisa menghasilkan buah yang baik / perbuatan baik.

4.   Yoh 8:34b - “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”.

Istilah ‘hamba’ perlu ditekankan di sini. Dengan manusia dinyata-kan sebagai ‘hamba dosa’, itu jelas menunjukkan bahwa ia selalu / terus menerus menuruti dosa, dan tidak bisa berbuat baik.

5.   Yoh 15:4-5 - “(4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

Ini jelas menunjukkan bahwa sama seperti ranting anggur tidak bisa berbuah kalau tidak melekat pada pokok anggur, demikian juga manusia di luar Kristus sama sekali tidak bisa berbuat apapun yang baik.

6.   Ro 3:10-18 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11)  Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.

7.   Ro 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.

8.   Ro 7:18-19 - “(18) Sebab aku tahu bahwa di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”.

Dari ayat ini kelihatan sepintas bahwa dalam diri manusia ada kehendak yang baik. Tetapi jelas bahwa ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa dalam diri manusia berdosa di luar Kristus itu sendiri bisa ada kehendak yang baik, karena:

a.   Penafsiran ini akan bertentangan dengan Ro 7:18nya yang mengatakan ‘tidak ada sesuatu yang baik’.

b.   Penafsiran ini juga akan bertentangan dengan Fil 2:13 yang berbunyi: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.

Ini terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:

KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan kehendakNya yang baik).

RSV: “for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NASB: “for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam ka-mu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NIV: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).

Ini menunjukkan bahwa baik keinginan maupun kemampuan untuk melakukan apa yang baik itu datang dari Tuhan.

Jadi, Ro 7:18-19 ini bukan menggambarkan Paulus pada waktu belum kristen, tetapi sesudah ia menjadi kristen (perhatikan bahwa ayat itu menggunakan present tense, bukan past tense). Karena itu ia sudah mempunyai kemauan / kehendak yang baik (dari Roh Kudus), tetapi bagaimanapun apa yang ia capai / lakukan jauh lebih rendah dari apa yang ia kehendaki, dan berdasarkan pengalaman itu ia menuliskan ayat itu.

9.   Ro 8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.

10. Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.

Catatan: memang dari ayat-ayat di atas ada yang bisa ditafsirkan hanya berlaku untuk orang-orang tertentu saja (misalnya Yer 4:22 di atas), tetapi pada umumnya, bahkan sebetulnya mungkin bisa dikatakan semuanya, adalah ayat-ayat yang berlaku umum (untuk semua manusia berdosa di luar Kristus).

 

Memang, manusia bisa melakukan kebaikan-kebaikan sosial / lahiriah, misalnya pada waktu melihat orang miskin / menderita lalu menolongnya, bahkan tanpa pamrih. Tetapi apakah itu bisa disebut sebagai perbuatan baik di hadapan Allah? Tidak! Mengapa? Karena dalam pandangan Tuhan, supaya suatu perbuatan bisa disebut baik, maka harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1.   Perbuatan baik itu harus dilakukan karena cinta kepada Allah (Yoh 14:15).

Yoh 14:15 - “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”.

2.   Perbuatan baik itu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah (1Kor 10:31).

1Kor 10:31 berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

Semua ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang ada di luar Kristus! Bdk. Ro 3:10,11,18 yang menunjukkan bahwa orang berdosa itu semuanya tidak berakal budi, tidak mencari Allah dan tidak mempunyai rasa takut kepada Allah.

Kalau syarat-syarat di atas ini tidak dipenuhi, maka bisalah dikatakan bahwa pada waktu orang itu melakukan ‘perbuatan baik’, ia melakukannya tanpa mempedulikan Allah! Bisakah ‘perbuatan baik’ seperti itu disebut baik?

Penerapan:

a.   Kalau saudara percaya bahwa seseorang bisa selamat / masuk surga karena berbuat baik, maka renungkan bagian ini, dan bertobatlah dari doktrin / kepercayaan sesat itu! Manusia tidak bisa berbuat baik, dan karena itu membutuhkan Kristus sebagai Juruselamatnya untuk bisa selamat / masuk surga!

b.   Masihkah saudara percaya bahwa semua agama lain (yang mengandalkan perbuatan baik manusia) bisa memberikan keselamatan?

 

3)   Keselamatan filosof Cina itu terserah Tuhan.

Kata-kata seperti ini kelihatannya saleh, tetapi sebetulnya salah! Apakah terserah Tuhan untuk menentukan filosof Cina itu selamat atau tidak? Kalau dalam kenyataannya filosof Cina itu memang tidak percaya sampai mati, apakah keselamatannya terserah Tuhan? Bisakah Tuhan memasukkan dia ke surga kalau dia tidak percaya? Ingat, bahwa Tuhan tidak bisa melakukan apapun menentang firmanNya sendiri.

Firman yang mana? Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.

 

Filosof Cina itu hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus (551 - 479 S.M. - Encyclopedia Britannica 2008), dan karena itu termasuk jaman Perjanjian Lama. Pada jaman itu yang di Israel mempunyai hukum Taurat, sedangkan yang di luar Israel disebut ‘tanpa hukum Taurat’. Dan Ro 2:12a itu mengatakan bahwa ‘semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat, akan binasa tanpa hukum Taurat’. Kata ‘binasa’ tak memungkinkan diartikan ‘selamat / masuk surga’. Sudah pasti artinya ‘masuk neraka’. Tetapi apa artinya ‘binasa tanpa hukum Taurat’? Artinya mereka dihakimi bukan dengan menggunakan hukum Taurat (karena mereka tak pernah tahu / mendengar tentang hukum Taurat). Jadi, mereka dihakimi oleh hukum hati nurani. Ini terlihat dari kontext Ro 2 itu, dimana kalau saudara membaca sambungannya, saudara akan melihat dengan jelas bahwa Paulus berbicara tentang hati nurani.

 

Ro 2:12-16 - “(12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. (13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. (14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.”.

 

Ay 14-15 jelas berbicara tentang hati nurani. Tidak mungkin ada orang bisa hidup sepenuhnya sesuai dengan hati nuraninya, termasuk filosof Cina itu. Dan jangan pernah berpikir bahwa kalau seseorang mentaati 90 % atau bahkan 99,99 % dorongan / bisikan hati nuraninya, maka ia akan masuk surga. Lalu siapa yang membayar hutang dosa yang 10 % atau bahkan 0,001 % itu? Ingat bahwa Allah itu adil, dalam arti Ia pasti akan menghukum setiap dosa, bahkan yang sekecil apapun. Hanya kalau seseorang mempunyai Penebus / Juruselamat, maka ia tidak lagi harus membayar hutang dosanya. Tetapi untuk orang yang tidak mempunyai Penebus / Juruselamat, dan filosof Cina itu jelas termasuk di sini, ia harus membayar sendiri semua hutang dosanya. Jadi, karena semua orang pasti melanggar hukum hati nurani ini, maka tak ada orang yang bisa lulus dalam penghakiman berdasarkan hati nurani itu. Karena itu semua pasti binasa. Perhatikan kata-kata ‘semua orang’ dalam Ro 2:12a itu!

Catatan: hal yang sama berlaku untuk orang yang mempunyai hukum Taurat. Mereka harus taat secara sempurna (100 %), baru mereka bisa selamat. Kalau tidak taat 100 %, mereka harus percaya kepada Yesus untuk bisa selamat. Karena itulah maka kita mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga!

 

Kalau Firman Tuhan mengatakan demikian, Tuhan tidak bisa melakukan hal yang lain. Ia harus melakukan sesuai dengan Firman Tuhan. Ia tidak mungkin melanggar FirmanNya sendiri.

 

4)   Pdt. Stephen Tong berharap untuk bertemu dengan filosof Cina itu di surga, atau ia berharap supaya filosof Cina itu diterima oleh Tuhan. Tetapi ia lalu menambahkan bahwa hal itu Tuhan yang tetapkan, bukan dia yang tetapkan.

 

a)   Mengharapkan untuk bertemu dengan filosof Cina itu di surga, atau mengharapkan supaya filosof Cina itu diterima oleh Tuhan, kelihatannya penuh kasih, tetapi sebetulnya sama dengan mengatakan ‘saya berharap Firman Tuhan salah’.

Penerapan: hal yang sama terjadi kalau saudara mengharapkan seseorang yang mati tanpa Kristus untuk diterima oleh Tuhan / masuk surga. Atau kalau saudara berdoa supaya seseorang yang mati tanpa Kristus itu bisa masuk surga. Ini sama dengan mengharapkan / berdoa supaya Firman Tuhan salah.

 

b)   Kata-katanya ‘saya berharap orang seperti begini diterima oleh Tuhan’, tidak bisa tidak memaksudkan ‘orang sebaik ini’. Jadi, ini jelas mengarah pada doktrin sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan oleh perbuatan baik).

Pdt. Stephen Tong memang secara sangat jelas menunjukkan kekaguman yang luar biasa terhadap kesalehan filosof Cina itu (yang ia katakan bukan hanya mengajarkan, tetapi sungguh-sungguh melakukan, dan juga ia katakan sebagai ‘sungguh-sungguh jujur’, dsb), padahal ia juga mengatakan bahwa dalam ajaran filosof Cina itu hanya ada ajaran horizontal (berhubungan dengan sesama manusia), dan sama sekali tak ada ajaran vertikal (berhubungan dengan Allah). Jadi, kalau dihubungkan dengan 10 hukum Tuhan, maka hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi hukum 1-4 tidak ada.

 

c)   Ia menambahkan bahwa filosof Cina itu masuk surga atau tidak, itu ditetapkan oleh Tuhan.

Lagi-lagi menurut saya, ini merupakan pernyataan yang aneh dan salah, dan tak sesuai dengan doktrin Reformed maupun Kitab Suci. Mengapa?

 

1.   Penetapan Tuhan (predestinasi) dilakukan sejak dunia belum dijadikan. Kalau pada saat itu Tuhan memang menetapkan bahwa filosof Cina itu masuk surga, Tuhan tidak mungkin tidak menentukan juga cara / jalan dengan mana filosof Cina itu bisa mendengar Injil (Firman Tuhan / Perjanjian Lama), sehingga ia bisa percaya dan diselamatkan, sama seperti Naaman, Rahab, Rut, dsb. Kalau Tuhan, dalam kenyataannya, tidak pernah memberi kesempatan bagi filosof Cina itu untuk mendengar Injil (Firman Tuhan / Perjanjian Lama) maka sudah jelas bahwa Ia tidak menentukan supaya filosof Cina itu diselamatkan.

 

2.   Pdt. Stephen Tong tidak mengatakan pernyataan seperti ini tentang orang-orang lain yang mati tanpa Kristus / tanpa mendengar Injil / Firman Tuhan. Ia hanya mengatakan ini tentang filosof Cina tertentu itu. Berarti, secara implicit, ia berpendapat bahwa kesalehan filosof Cina itu yang menjadi alasan penentuan / penetapan Tuhan tersebut. Tetapi kapan Tuhan melakukan penentuan itu? Pada saat dunia belum dijadikan, bukan? Pada saat itu kesalehan filosof Cina itu belum ada. Jadi, bagaimana itu bisa dijadikan dasar untuk menetapkan dia untuk selamat? Atau, Pdt. Stephen Tong menganggap, seperti pandangan Arminian, bahwa Tuhan sudah melihat lebih dulu kesalehan filosof Cina itu, dan karena itu lalu menetapkannya supaya selamat / masuk surga? Kalau ya, ini jelas bertentangan dengan doktrin Reformed yang mempercayai Unconditional Election’ (= Pemilihan yang tidak bersyarat). Juga menyalahi beberapa text Kitab Suci, seperti:

a.   Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya – (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

b.   2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

 

5)   Pdt. Stephen Tong membuka peluang diberikannya wahyu khusus dan / atau anugerah khusus kepada filosof Cina itu.

 

a)   Yang perlu dipertanyakan adalah: mengapa gerangan Pdt. Stephen Tong membuka peluang ini bagi filosof Cina itu, padahal ia tidak mempunyai bukti apapun untuk hal ini? Apakah ia membuka peluang yang sama untuk orang-orang lain? Kalau untuk filosof Cina tertentu itu ia membuka peluang, tetapi untuk orang-orang lain tidak, apa alasannya untuk membedakan filosof Cina itu dari orang-orang lain? Karena ia baik / lebih baik dari orang-orang yang lain? Kalau demikian, lagi-lagi ini menjurus pada keselamatan karena perbuatan baik, dan ini adalah ajaran sesat!

 

b)   Mengenai wahyu khusus, memang kalau Tuhan mau, bisa saja ia berfirman / memberitakan Injil / Firman Tuhan secara langsung / melalui malaikat kepada filosof Cina itu. Tetapi kalau ini terjadi, dan filosof Cina itu memang lalu percaya, bagaimana mungkin dalam ajarannya sama sekali tak ada yang berhubungan dengan Allah (ajaran yang sifatnya vertikal)?

 

c)   Mengenai anugerah khusus / kasih karunia khusus, ini merupakan sesuatu yang kontradiksi dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengharapkan orang seperti begini (yang sesaleh ini) diterima oleh Tuhan.

Mengapa saya katakan bertentangan? Karena ‘keselamatan karena kasih karunia’ memang bertentangan dengan ‘keselamatan karena perbuatan baik’. Kalau kita diselamatkan karena perbuatan baik, itu jelas bukan karena kasih karunia. Dan sebaliknya, kalau kita diselamatkan karena kasih karunia, maka jelas perbuatan baik kita sama sekali tak punya andil dalam keselamatan itu.

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

1.   Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

2.   Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

3.   Tit 3:4-7 - “(4) Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, (5) pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (6) yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, (7) supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita”.

 

6)   Pdt. Stephen Tong membandingkan Kornelius dengan filosof Cina itu.

Ia mengutip Kis 10:35 (ia tidak menyebut ayatnya, tetapi yang ia maksudkan pasti Kis 10:35, tidak ada yang lain), yang ia kutip secara serampangan, dan mengatakan bahwa ada orang yang menganggap ayat itu merupakan dasar bahwa orang seperti filosof Cina itu bisa diselamatkan. Ia memang tak mempercayai hal itu, tetapi ia tetap menegaskan bahwa ayat itu menunjukkan bahwa sebelum Kornelius diselamatkan, kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan. Secara implicit, ia memaksudkan bahwa sekalipun filosof Cina itu tak percaya, bisa saja kebaikannya / kebajikannya diterima oleh Tuhan.

 

Kis 10:35 (versi Pdt. Stephen Tong): “ternyata semua orang yang baik di dunia diterima oleh Tuhan”.

Kis 10:35 - “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

Ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan tentang hal ini:

 

a)   Penekanan dari ayat ini, kalau dilihat dari seluruh kontext (Kis 10), adalah bahwa Tuhan tidak membedakan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi.

Tetapi justru kata-kata ‘dari bangsa manapun’ dalam Kis 10:35 ini dihapuskan oleh Pdt. Stephen Tong pada waktu ia mengutip ayat ini secara serampangan!

 

b)   Pdt. Stephen Tong mengatakan ‘orang yang baik’, tetapi ay 35 sebetulnya mengatakan ‘takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran’. Ini merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Banyak penafsir yang menganggap bahwa kata-kata ‘takut akan Allah’ menunjuk pada kesalehan terhadap Allah, sedangkan kata-kata ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan terhadap sesama manusia. Jadi, kata-kata ‘takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran’ tentu tidak bisa secara serampangan diganti dengan kata-kata ‘orang yang baik’!

Bahwa memang banyak penafsir beranggapan demikian, akan saya buktikan dengan menunjukkan beberapa kutipan dari para penafsir di bawah ini, termasuk dari Calvin.

 

Barnes’ Notes: ‘He that feareth him.’ This is put for piety toward God in general. ... ‘And worketh righteousness.’ Does what is right and just. This refers to his conduct toward man. ... These two things comprehend the whole of religion, the sum of all the requirements of God - piety toward God, and justice toward people; and as Cornelius had showed these, he showed that, though a Gentile, he was actuated by true religion (= ‘Ia yang takut akan Dia’. Ini dikemukakan untuk kesalehan terhadap Allah secara umum. ... ‘Dan mengamalkan kebenaran’. Melakukan apa yang benar dan adil. Ini menunjuk kepada tingkah lakunya terhadap manusia. ... Kedua hal ini mencakup seluruh agama, total dari semua tuntutan Allah - kesalehan terhadap Allah, dan keadilan terhadap orang-orang; dan karena Kornelius telah menunjukkan hal-hal ini, ia menunjukkan bahwa, sekalipun ia seorang non Yahudi, ia digerakkan oleh agama yang benar).

 

Adam Clarke: “‘fears God,’ worships him alone (for this is the true meaning of the word), and ‘worketh righteousness,’ abstains from all evil, gives to all their due, injures neither the body, soul, nor reputation of his neighbour” (= ‘takut akan Allah’, menyembah Dia saja (karena ini adalah arti yang benar dari kata ini), dan ‘mengamalkan kebenaran’, menjauhkan diri dari semua kejahatan, memberikan kepada semua orang hak mereka, tidak menyakiti / melukai tubuh, jiwa ataupun reputasi / nama baik dari sesamanya).

 

Matthew Henry: “Observe, Fearing God, and working righteousness, must go together; for, as righteousness towards men is a branch of true religion, so religion towards God is a branch of universal righteousness. Godliness and honesty must go together, and neither will excuse for the want of the other” (= Perhatikan, Takut akan Allah, dan mengamalkan kebenaran, harus berjalan bersama-sama; karena sebagaimana kebenaran terhadap sesama manusia merupakan suatu cabang dari agama yang benar, demikian juga agama terhadap Allah merupakan suatu cabang dari kebenaran universal. Kesalehan dan kejujuran harus berjalan bersama-sama, dan tidak ada satu yang memberi alasan absennya yang lain).

 

Calvin: “‘He which feareth God, and doth righteousness.’ In these two members is comprehended the integrity of all the whole life. For the fear of God is nothing else but godliness and religion; and ‘righteousness’ is that equity which men use among themselves, taking heed lest they hurt any man, and studying to do good to all men. As the law of God consisteth upon (of) these two parts, (which is the rule of good life) so no man shall prove himself to God but he which shall refer and direct all his actions to this end, neither shall there be any sound thing in all offices, (duties,) unless the whole life be grounded in the fear of God [= ‘Ia yang takut akan Allah, dan mengerjakan kebenaran’. Dalam kedua anggota / bagian ini tercakup integritas / kelurusan dari seluruh kehidupan. Karena rasa takut akan Allah bukan lain dari kesalehan dan agama; dan ‘kebenaran’ adalah keadilan yang digunakan manusia di antara diri mereka sendiri, dengan memperhatikan supaya mereka tidak menyakiti manusia manapun, dan belajar untuk melakukan apa yang baik kepada semua manusia. Seperti hukum Taurat Allah terdiri dari kedua bagian ini, (yang adalah peraturan dari kehidupan yang baik) demikianlah tidak ada seorangpun yang akan membuktikan dirinya kepada Allah kecuali ia yang menyerahkan dan mengarahkan semua tindakan-tindakannya pada tujuan ini, dan tidak ada hal yang sehat apapun dalam semua kewajiban, kecuali seluruh kehidupan didasarkan pada rasa takut akan Allah].

 

Jadi, Calvin menganggap bahwa kehidupan yang benar harus bersifat vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia). Dengan demikian, ay 35 ini tidak mungkin diterapkan kepada filosof Cina itu, karena menurut Pdt. Stephen Tong sendiri, ajaran filosof Cina itu hanya berurusan dengan sesama manusia dan tidak ada yang berurusan dengan Allah. Kalau dihubungkan dengan 10 hukum Tuhan, maka Pdt. Stephen Tong berkata bahwa hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi hukum 1-4 tidak ada.

 

c)   Kornelius sama sekali tak bisa disamakan dengan filosof Cina itu, karena:

 

1.   Kornelius, sekalipun ia adalah orang non Yahudi (dalam hal ini ia sama dengan filosof Cina itu), tetapi pasti sudah mendengar Firman Tuhan, khususnya Perjanjian Lama (dalam hal ini ia berbeda dengan filosof Cina itu).

 

2.   Kornelius pasti adalah orang beriman, biarpun imannya merupakan iman Perjanjian Lama (percaya kepada Mesias yang akan datang); dan lagi-lagi dalam hal ini ia sangat berbeda dengan filosof Cina itu.

Berdasarkan apa saya yakin bahwa ia mempunyai iman Perjanjian Lama? Perhatikan text di bawah ini.

Kis 10:2-3,22,30 - “(2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. (3) Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: ‘Kornelius!’ ... (22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’ ... (30) Jawab Kornelius: ‘Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan”.

 

Dari text ini terlihat bahwa:

 

a.   Ia berdoa pada pk 3 petang, yang merupakan jam doa Yahudi (ay 3,30).

Adam Clarke: “I‎t was about the ninth hour of the day, answering to our three o’clock in the afternoon (see note at Acts 3:1), the time of public prayer, according to the custom of the Jews” [= Itu kira-kira jam yang ke 9 dari hari itu, sesuai dengan pk. 3 petang (lihat catatan pada Kis 3:1), saat doa umum, menurut kebiasaan orang-orang Yahudi].

 

b.   Ia banyak memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi (ay 2)!

Perhatikan bahwa di sini dikatakan bahwa ia memberi banyak sedekah secara khusus kepada umat Yahudi. Ia bisa melakukan hal itu, tidak bisa tidak, karena ia setuju dengan ajaran agama mereka, dan merasa berhutang budi pada ajaran agama mereka yang telah ia terima sebagai kebenaran!

 

Lenski: “Cornelius cultivated the two outstanding virtues of the Jewish religion: he gave abundant alms and he was diligent in prayer. The beneficiaries of his charity were ‘the people,’ lao~ so often signifying the Jewish people. He had found so much through them that he made generous and grateful return” [= Kornelius mengusahakan 2 hal baik yang menonjol / terkemuka dalam agama Yahudi: ia memberi banyak sedekah dan ia rajin / tekun dalam doa. Penerima dari kemurahan hatinya adalah ‘bangsa itu’, lao~ (LAOS) begitu sering menunjuk kepada bangsa Yahudi. Ia telah mendapatkan begitu banyak melalui mereka sehingga ia melakukan balasan yang murah hati dan penuh terima kasih] - hal 395.

 

c.   Ia terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi (ay 22).

Calvin (tentang ay 22): “‘Cornelius, a just man.’ Cornelius’ servants commend their master not ambitiously, or to the end they may flatter him, but that Peter may the less abhor his company. And for this cause they say that he was approved of the Jews, that Peter may know that he was not estranged from true and sincere godliness. For even those which were superstitious, though they served idols, did boast that they were worshippers of God. But Cornelius could not have the Jews, who retained the worship of the true God alone, to be witnesses of his godliness, unless he had professed that he worshipped the God of Abraham with them (= ‘Kornelius, orang benar’. Pelayan-pelayan Kornelius memuji tuan mereka bukan secara ambisius, atau dengan tujuan untuk menjilatnya, tetapi supaya Petrus bisa berkurang dalam kejijikannya terhadap kumpulannya. Dan untuk alasan ini mereka berkata bahwa ia direstui oleh orang-orang Yahudi, supaya Petrus tahu bahwa ia bukanlah orang yang asing / jauh dari kesalehan yang benar dan tulus. Karena bahkan mereka yang mempercayai takhyul, sekalipun mereka menyembah berhala, membanggakan diri bahwa mereka adalah penyembah-penyembah Allah. Tetapi Kornelius tidak bisa mempunyai orang-orang Yahudi, yang mempertahankan penyembahan terhadap Allah yang benar saja, menjadi saksi-saksi dari kesalehannya, kecuali ia telah mengaku bahwa ia menyembah Allah dari Abraham bersama mereka).

 

Calvin, dalam kata-katanya yang telah saya kutip di atas ini, secara benar menjadikan ini sebagai bukti bahwa Kornelius pasti setuju dengan agama Yahudi, karena kalau tidak, tidak mungkin ia akan terkenal baik dalam kalangan bangsa Yahudi.

Ingat bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa yang sangat fanatik dalam hal agama, dan karena itu tidak mungkin sekedar karena sedekah dari Kornelius kepada orang-orang Yahudi menyebabkan ia bisa terkenal baik dalam kalangan orang-orang Yahudi, kalau ia tidak setuju dengan agama Yahudi.

 

d.   Ia disebut sebagai ‘orang yang benar’.

Dalam ay 22 Kitab Suci Indonesia menyebutkan Kornelius sebagai seorang perwira yang ‘tulus hati’. Ini terjemahan yang salah.

KJV: ‘a just man’ (= seorang yang adil / benar).

RSV: ‘an upright ... man’ (= seorang ... yang lurus / jujur).

NIV/NASB: ‘a righteous ... man’ (= seorang ... yang benar).

Kata Yunani yang dipakai adalah DIKAIOS, dan menurut saya terjemahan ‘orang benar’ adalah yang terbaik.

 

Bdk. Ro 3:10 - “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”.

Ia hanya bisa dikatakan sebagai ‘orang benar’ kalau ia mempunyai iman, dan ia tidak mungkin bisa mempunyai iman Perjanjian Baru, karena ia belum pernah mendengar Injil Perjanjian Baru sepenuhnya.

 

e.   Juga kalau dilihat dari Kis 10:4,31,35 jelas bahwa Kornelius berkenan di hadapan Allah.

Kis 10:4,31,35 - “(4) Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: ‘Ada apa, Tuhan?’ Jawab malaikat itu: ‘Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. ... (31) dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapanNya. ... (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.

 

Sekarang bandingkan ini dengan Ibr 11:4-6 - “(4) Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. (5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (6) Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”.

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): “‘By faith Abel offered,’ etc. The Apostle’s object in this chapter is to show, that however excellent were the works of the saints, it was from faith they derived their value, their worthiness, and all their excellences; and hence follows what he has already intimated, that the fathers pleased God by faith alone (= ‘Karena iman Habel telah mempersembahkan’, dst. Tujuan sang rasul dalam pasal ini adalah untuk menunjukkan bahwa, bagaimanapun bagus / hebatnya pekerjaan / perbuatan baik dari orang-orang kudus, adalah dari iman pekerjaan / perbuatan baik itu mendapatkan nilai mereka, kelayakan mereka, dan semua kebagusan mereka; dan karena itu maka mengikutilah apa yang telah ia isyaratkan, bahwa bapa-bapa memperkenan Allah hanya oleh iman).

 

Kalau ini diterapkan pada ajaran Pdt. Stephen Tong tentang filosof Cina itu, maka jelas bahwa karena filosof Cina itu tidak beriman kepada Kristus, maka perbuatan baiknya, yang begitu ditonjolkan oleh Pdt. Stephen Tong itu, sehebat apapun itu adanya, tidak punya nilai apapun di hadapan Allah.

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): He says, first, that Abel’s sacrifice was for no other reason preferable to that of his brother, except that it was sanctified by faith: for surely the fat of brute animals did not smell so sweetly, that it could, by its odor, pacify God. The Scripture indeed shows plainly, why God accepted his sacrifice, for Moses’s words are these, ‘God had respect to Abel, and to his gifts.’ It is hence obvious to conclude, that his sacrifice was accepted, because he himself was graciously accepted. But how did he obtain this favor, except that his heart was purified by faith (= Ia berkata, pertama, bahwa persembahan Habel bukan karena alasan apapun lebih diterima dari persembahan saudaranya, kecuali bahwa itu dikuduskan oleh iman: karena pastilah lemak dari binatang tidak berbau begitu harum, sehingga oleh baunya itu bisa menenangkan Allah. Kitab Suci menunjukkan dengan jelas mengapa Allah menerima persembahannya, karena kata-kata Musa adalah ini: ‘Allah / TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu’ (Kej 4:4b). Jadi jelas bahwa kesimpulannya adalah, bahwa persembahannya diterima karena ia sendiri diterima dengan kasih karunia. Tetapi bagaimana ia mendapatkan kebaikan ini, kecuali bahwa hatinya dimurnikan oleh iman).

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): “‘God testifying,’ etc. He confirms what I have already stated, that no works, coming from us can please God, until we ourselves are received into favor, or to speak more briefly, that no works are deemed just before God, but those of a just man: for he reasons thus, - God bore a testimony to Abel’s gifts; then he had obtained the praise of being just before God. This doctrine is useful, and ought especially to be noticed, as we are not easily convinced of its truth; for when in any work, anything splendid appears, we are immediately rapt in admiration, and we think that it cannot possibly be disapproved of by God: but God, who regards only the inward purity of the heart, heeds not the outward masks of works. Let us then learn, that no right or good work can proceed from us, until we are justified before God [= ‘Allah bersaksi’ dst / ‘ia memperoleh kesaksian’. Ia menegaskan apa yang telah saya nyatakan, bahwa tak ada pekerjaan / perbuatan baik, yang datang dari kita yang dianggap benar di hadapan Allah, kecuali pekerjaan / perbuatan baik dari orang yang benar: karena ia berargumentasi sebagai berikut, - Allah memberi suatu kesaksian pada persembahan Habel; pada saat itu ia telah mendapatkan pujian bahwa ia benar di hadapan Allah. Doktrin ini berguna, dan harus diperhatikan secara khusus, karena kita tidak mudah diyakinkan tentang kebenarannya: karena pada waktu dalam pekerjaan / perbuatan baik apapun, terlihat adanya apapun yang baik, kita segera dipenuhi dengan kekaguman (bandingkan dengan perbuatan baik Seorang filosof Cina di mata Pdt. Stephen Tong), dan kita berpikir bahwa itu tidak mungkin bisa tidak direstui oleh Allah: tetapi Allah, yang hanya memandang / melihat pada kemurnian batin dari hati, tidak memperhatikan topeng lahiriah dari pekerjaan / perbuatan baik. Maka, hendaklah kita belajar, bahwa tidak ada pekerjaan / perbuatan baik atau benar bisa keluar dari kita, sampai kita dibenarkan di hadapan Allah].

 

Calvin (tentang Ibr 11:5): Moses indeed tells us, that he was a righteous man, and that he walked with God; but as righteousness begins with faith, it is justly ascribed to his faith, that he pleased God (= Musa memang memberitahu kita, bahwa ia adalah orang benar, dan bahwa ia berjalan dengan Allah; tetapi karena kebenaran dimulai dengan iman, maka dengan benar hal itu dianggap berasal dari imannya, sehingga ia memperkenan Allah).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): The reason he assigns why no one can please God without faith, is this, - because no one will ever come to God, except he believes that God is, and is also convinced that he is a remunerator to all who seek him. If access then to God is not opened, but by faith, it follows, that all who are without it, are the objects of God’s displeasure (= Alasan yang ia berikan mengapa tak seorangpun bisa memperkenan Allah tanpa iman, adalah ini, - karena tak seorangpun akan pernah datang kepada Allah, kecuali ia percaya bahwa Allah ada, dan juga diyakinkan bahwa Ia adalah seorang yang memberi pahala kepada semua orang yang mencariNya. Jika jalan masuk kepada Allah tidak terbuka kecuali oleh iman, maka akibatnya adalah bahwa semua orang yang tanpa iman merupakan obyek dari ketidak-senangan Allah).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): It is hence evident, that men in vain weary themselves in serving God, except they observe the right way, and that all religions are not only vain, but also pernicious, with which the true and certain knowledge of God is not connected; for all are prohibited from having any access to God, who do not distinguish and separate him from all idols; in short, there is no religion except where this truth reigns dominant [= Karena itu jelaslah bahwa orang-orang dengan sia-sia melelahkan diri mereka sendiri dalam melayani Allah / berbakti kepada Allah, kecuali mereka mentaati jalan yang benar, dan bahwa semua agama-agama bukan hanya sia-sia, tetapi juga jahat / merusak, dengan mana pengetahuan / pengenalan yang benar dan pasti tentang Allah tidak dihubungkan (lagi-lagi bandingkan dengan ajaran Seorang filosof Cina, yang menurut Pdt. Stephen Tong sendiri, sama sekali tak berhubungan dengan Allah); karena semua orang yang tidak membedakan dan memisahkan dirinya dari semua berhala, dihalangi dari mempunyai jalan masuk kepada Allah; singkatnya, tidak ada agama kecuali dimana kebenaran memerintah / berkuasa].

 

Lenski: “what makes any man well-pleasing to God is faith; without it there is no possibility of pleasing God” (= apa yang membuat manusia manapun berkenan kepada Allah adalah iman; tanpa itu tidak ada kemungkinan untuk memperkenan Allah) - hal 386.

 

John Owen: “faith is the only way and means whereby any one may please God” (= iman adalah satu-satunya jalan dan cara dengan mana seseorang bisa memperkenan Allah) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

 

John Owen: “‘All pleasing of God is, and must be, by faith, it being impossible it should be otherwise.’” (= Semua yang memperkenan Allah adalah, dan haruslah, oleh iman, dan tidak mungkin lainnya) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

 

John Owen: “‘It is impossible to please God any other way but by faith.’ Let men desire, design, and aim at it whilst they please, they shall never attain unto it. ... Hereunto Scripture bears testimony from first to last, namely, that none can, that none shall, ever please God but by faith” (= ‘Adalah tidak mungkin untuk memperkenan Allah dengan jalan lain kecuali oleh iman’. Hendaklah manusia menginginkan, merencanakan dan mengarahkan padanya semau mereka, mereka tidak akan pernah mencapainya. ... Dengan ini Kitab Suci memberi kesaksian dari awal sampai akhir, yaitu, bahwa tak seorangpun bisa, bahwa tak seorangpun akan, pernah memperkenan Allah kecuali oleh iman) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 38.

 

Supaya saudara tidak menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘iman’ dalam Ibr 11:6 ini sekedar ‘suatu kepercayaan bahwa Allah itu ada’, tetapi juga berhubungan dengan keselamatan, perhatikan komentar-komentar di bawah ini!

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): The second clause is that we ought to be fully persuaded that God is not sought in vain; and this persuasion includes the hope of salvation and eternal life, for no one will be in a suitable state of heart to seek God except a sense of the divine goodness be deeply felt, so as to look for salvation from him. We indeed flee from God, or wholly disregard him, when there is no hope of salvation (= Anak kalimat yang kedua adalah bahwa kita harus diyakinkan sepenuhnya bahwa Allah tidak dicari dengan sia-sia; dan keyakinan ini mencakup pengharapan keselamatan dan hidup kekal, karena tak seorangpun akan berada dalam keadaan hati yang cocok untuk mencari Allah kecuali suatu perasaan tentang kebaikan ilahi dirasakan secara mendalam, sehingga orang itu mencari keselamatan dari Dia. Kita akan lari dari Allah, atau sepenuhnya mengabaikanNya, pada saat tidak ada pengharapan keselamatan).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): But many shamefully pervert this clause; for they hence elicit the merits of works, and the conceit about deserving. And they reason thus: ‘We please God by faith, because we believe him to be a rewarder; then faith has respect to the merits of works.’ This error cannot be better exposed, than by considering how God is to be sought; while any one is wandering from the right way of seeking him, he cannot be said to be engaged in the work. Now Scripture assigns this as the right way, - that a man, prostrate in himself, and smitten with the conviction that he deserves eternal death, and in self-despair, is to flee to Christ as the only asylum for salvation. Nowhere certainly can we find that we are to bring to God any merits of works to put us in a state of favor with him. Then he who understands that this is the only right way of seeking God, will be freed from every difficulty on the subject; for reward refers not to the worthiness or value of works but to faith (= Tetapi banyak orang secara memalukan membengkokkan anak kalimat ini; karena mereka mendapatkan jasa dari pekerjaan / perbuatan baik, dan kesombongan tentang kelayakan. Dan mereka beralasan sebagai berikut: ‘Kita memperkenan Allah oleh iman, karena kita mempercayaiNya sebagai seorang yang memberi upah; maka iman mempunyai rasa hormat pada jasa dari pekerjaan / perbuatan baik’. Kesalahan ini tidak bisa dinyatakan dengan lebih jelas, dari pada dengan mempertimbangkan bagaimana Allah harus dicari; sementara seseorang sedang mengembara / menyimpang dari jalan yang benar untuk mencari Dia, ia tidak bisa dikatakan terlibat dalam pekerjaan / perbuatan baik. Kitab Suci memberikan ini sebagai jalan yang benar, - bahwa seseorang, yang merendahkan dirinya sendiri, dan dipukul oleh suatu keyakinan bahwa ia layak mendapatkan kematian kekal, dan dalam keputus-asaan tentang diri sendiri, harus lari kepada Kristus sebagai satu-satunya perlindungan untuk keselamatan. Pasti kita tidak bisa menemukan dimanapun bahwa kita harus membawa kepada Allah jasa pekerjaan / perbuatan baik apapun untuk meletakkan kita dalam suatu keadaan disukai / disenangi oleh Dia. Maka ia yang mengerti bahwa ini adalah satu-satunya jalan yang benar untuk mencari Allah, akan dibebaskan dari setiap kesukaran tentang pokok ini; karena upah tidak menunjuk pada kelayakan atau nilai dari pekerjaan / perbuatan baik tetapi pada iman).

 

Kata-kata di atas ini pasti bertentangan frontal dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa sebelum Kornelius percaya, ‘kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan’!

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): From these two clauses, we may learn how, and why it is impossible for man to please God without faith; God justly regards us all as objects of his displeasure, as we are all by nature under his curse; and we have no remedy in our own power. It is hence necessary that God should anticipate us by his grace; and hence it comes, that we are brought to know that God is, and in such a way that no corrupt superstition can seduce us, and also that we become assured of a certain salvation from him (= Dari dua anak kalimat ini, kita bisa belajar bagaimana dan mengapa merupakan sesuatu yang mustahil bagi manusia untuk memperkenan Allah tanpa iman; Allah dengan benar / adil menganggap kita semua sebagai obyek dari ketidak-senanganNya, karena kita semua secara alamiah ada di bawah kutukNya; dan kita tidak mempunyai obat dalam kuasa kita sendiri. Karena itu merupakan sesuatu yang perlu bahwa Allah mendahului kita dengan kasih karuniaNya; dan lalu terjadilah, bahwa kita dibawa untuk mengetahui bahwa Allah ada, dan dengan cara sedemikian rupa sehingga tak ada takhyul jahat apapun bisa membujuk kita, dan juga sehingga kita yakin tentang suatu keselamatan tertentu dari Dia).

 

Karena Kornelius adalah orang beriman, biarpun dengan iman Perjanjian Lama, tetapi ini tetap menyebabkan ia sudah bisa membuahkan perbuatan baik dalam kehidupannya. Tetapi ini sama sekali berbeda dengan filosof Cina itu, yang memang sama sekali tidak beriman kepada Kristus, dan karena itu, baik dirinya maupun kehidupannya, menurut Kitab Suci, tidak mungkin bisa memperkenan Allah.

 

7)   Hal terakhir yang akan saya soroti hanya secara singkat adalah kata-kata Pdt. Stephen Tong bahwa orang-orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan harus mempelajari ajaran filosof Cina itu, karena ini bisa membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

Catatan: di sini saya bahas singkat, tetapi nanti akan saya bahas secara mendetail.

 

Terus terang, saya menganggap pernyataan ini sebagai suatu penghinaan terhadap Kitab Suci / Alkitab kita. Bagaimana mungkin, orang Kristen yang sudah memiliki Firman Tuhan yang lengkap dalam Alkitab, lalu harus belajar dari orang, yang menurut Pdt. Stephen Tong sendiri ajarannya bahkan bukan wahyu umum, tetapi hanya merupakan renspons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum dari Allah (inipun saya sangsikan kebenarannya).

Wahyu umum saja, yaitu alam semesta dan hati nurani, memberikan terang yang jauh lebih sedikit dari pada wahyu khusus (Firman Tuhan dan Yesus Kristus). Dan ajaran filosof Cina itu bahkan masih di bawah wahyu umum. Lalu bagaimana mungkin kita yang sudah memiliki Alkitab dan Yesus Kristus masih harus belajar dari ajaran filosof Cina itu? Dengan kata-kata ini, Pdt. Stephen Tong bukan hanya menghina Alkitab / Firman Tuhan dan Yesus Kristus, tetapi juga menganggap bahwa Alkitab dan Yesus Kristus itu masih kurang!

 

Dan tentang pandangan Pdt. Stephen Tong bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum, saya sangat meragukan. Karena wahyu umum, yaitu alam semesta dan hati nurani, sedikitnya memberi tahu manusia bahwa Allah itu ada, dan juga tentang sifat-sifat tertentu dari Allah, seperti maha kuasa, baik, dan bijaksana.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

 

a)   Ro 1:19-20 - “(19) Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. (20) Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”.

Ro 1:19-20 (NASB): “because that which is known about God is evident within them; for God made it evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes, His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being under­stood through what has been made, so that they are without excuse” (= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan).

 

John Calvin: “There is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of divinity. ... To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance, God himself has implanted in all men a certain understanding of his divine majesty. ... a sense of deity inscribed in the hearts of all” (= Di dalam pikiran manusia, oleh suatu naluri yang bersifat alamiah, ada suatu kesadaran tentang keilahian. ... Untuk mencegah siapapun untuk berlindung dalam ketidaktahuan, Allah sendiri telah menanamkan dalam semua manusia suatu pengertian tertentu tentang keagungan ilahinya. ... suatu perasaan tentang Allah dituliskan dalam hati dari semua orang) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter III, no 1.

 

b)   Maz 19:2 - “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya”.

 

Jadi, kalau ajaran filosof Cina itu merupakan respons terhadap wahyu umum, mengapa, seperti yang dikatakan Pdt. Stephen Tong, dalam ajaran filosof Cina itu sama sekali tak ada ajaran vertikal / tentang Allah? Mengapa yang ada hanya ajaran horizontal / tentang sesama manusia?

 

Jadi, saya tak setuju sama sekali bahwa orang-orang Kristen / hamba-hamba Tuhan harus belajar dari ajaran filosof Cina itu. Kitab Suci kita sudah lengkap untuk hal itu.

Bdk. 2Tim 3:16-17 - “(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

 

 

 

 

-o0o-


Keselamatan pada jaman sebelum Kristus

 

Roma 2:12-16

 

Roma 2:12-16 - (12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. (13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. (14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

 

Introduction:

 

Penayangan cuplikan VCD Pdt. Stephen Tong tentang seorang filosof Cina tertentu, yang menunjukkan pandangannya bahwa filosof Cina itu mungkin bisa masuk surga, dan juga harapannya untuk bertemu dengan filosof Cina itu di surga. Dari 15 VCD berjudul ‘falsafah Asia’, kami mengambil beberapa cuplikan dari VCD no 7 dan no 10.

 

I) Keselamatan pada jaman setelah Kristus (jaman Perjanjian Baru).

 

1)   Bagi yang sudah pernah mendengar Injil.

Ini sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Siapapun yang sudah mendengar Injil, kalau ia percaya, akan masuk surga, tetapi kalau ia tidak percaya / tidak mau percaya kepada Kristus, akan binasa / masuk neraka. Bdk. Yoh 3:16  Yoh 3:36  Kis 16:31  Yoh 8:24  Wah 21:8  Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11-12.

Hanya orang-orang Liberal yang tak setuju dengan pandangan yang jelas-jelas merupakan pandangan Alkitab ini.

 

Tetapi ada suatu buku tafsiran yang memberikan komentar yang menarik berkenaan dengan hal ini.

Jewish New Testament Commentary: “Skeptics sometimes ask, ‘How can God be so unfair as to condemn to hell some primitive tribesman who hasn’t even heard of the Bible?’ They often raise the issue not out of concern for the ‘pitiful lost heathen’ but as a dodge to justify their own unbelief; the very form of the question assumes that God is unjust and not worthy of their trust, that the ‘primitive tribesman’ is an innocent ‘noble savage’ and God the guilty party” (= Orang skeptik kadang-kadang bertanya: ‘Bagaimana Allah bisa begitu tidak adil sehingga menghukum ke dalam neraka suku-suku yang primitif yang bahkan tidak pernah mendengar tentang Alkitab?’ Mereka sering mengangkat persoalan ini bukan karena kepedulian terhadap ‘orang kafir yang terhilang yang patut dikasihani’ tetapi sebagai suatu alasan / muslihat untuk membenarkan ketidak-percayaan mereka sendiri; bentuk dari pertanyaan itu sendiri menganggap bahwa Allah itu tidak adil dan tidak layak mendapatkan kepercayaan mereka, sehingga ‘suku-suku primitif’ itu merupakan ‘orang-orang biadab yang mulia’ yang tak bersalah dan Allah merupakan pihak yang bersalah).

 

Karena itu, kalau saudara menghadapi pertanyaan seperti ini, sebaiknya tak perlu mempermasalahkan keselamatan dari orang-orang yang tak pernah mendengar Injil. Jangan mau dibelokkan kepada pembicaraan tentang keselamatan dari orang-orang yang tak pernah mendengar Injil. Kembalikan pembicaraan kepada keselamatan mereka sendiri, misalnya dengan berkata: ‘Tak usah peduli orang-orang yang tak pernah mendengar Injil. Kamu sudah mendengar Injil, dan kalau kamu tak mau percaya kepada Kristus, kamu akan masuk neraka. Apa tanggapanmu?’.

 

2)   Bagi yang belum pernah mendengar Injil.

Orang yang tidak pernah mendengar tentang Yesus akan binasa / masuk neraka! Kalau orang yang tidak pernah mendengar Injil bisa masuk surga, maka untuk apa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil? Bahwa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil dan menjadikan semua bangsa murid Yesus (Mat 28:19), jelas menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil pasti tidak bisa selamat. Pandangan ini didukung oleh beberapa bagian Kitab Suci yang lain seperti:

 

a)   Ro 2:12a - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat”.

Kalau orang yang tidak mempunyai hukum Taurat pasti binasa, maka analoginya, orang yang tidak mempunyai Injil, juga pasti binasa.

Dalam jaman Perjanjian Lama, orang di luar Israel / Yahudi yang tidak pernah mempunyai hukum Taurat, dikatakan binasa tanpa hukum Taurat’. Analoginya, dalam jaman Perjanjian Baru, orang yang tidak pernah mendengar Injil, akan binasa tanpa Injil’!

 

b)   Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

Text ini membentuk suatu rantai. Orang yang berseru kepada nama Tuhan akan selamat, tetapi ia tidak akan bisa berseru kepada nama Tuhan kalau ia tidak percaya kepada Tuhan. Dan ia tidak akan bisa percaya kepada Tuhan kalau ia tidak pernah mendengar tentang Dia. Dan ia tidak akan bisa mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadaNya.

Jadi, kalau tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa mendengar tentang Dia, sehingga tidak percaya kepadaNya, sehingga tidak bisa berseru kepadaNya, sehingga tidak bisa diselamatkan.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang tidak diinjili / tidak pernah mendengar tentang Yesus, pasti tidak selamat. Fakta Kitab Suci inilah yang mendasari pengutusan misionaris ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau Injil.

 

c)   Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Kata-kata ‘engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup’ yang saya beri garis bawah ganda bisa dikontextualisasikan untuk jaman Perjanjian Baru sebagai ‘tidak pernah memberitakan Injil kepadanya’. Jadi, ayat ini mengatakan bahwa kalau ada orang jahat, dan kita tak pernah memberitakan Injil kepadanya, maka orang jahat itu ‘akan mati dalam kesalahannya’. Ini jelas harus diartikan bahwa orang jahat itu akan masuk neraka.

 

I) Keselamatan pada jaman sebelum Kristus (jaman Perjanjian Lama).

 

Ay 12 menunjukkan bahwa orang Yahudi dan orang non Yahudi dihakimi dengan cara yang berbeda / dasar yang berbeda.

Apa bedanya kedua kelompok ini? Bedanya adalah bahwa bangsa Israel / Yahudi mempunyai hukum Taurat, sedangkan bangsa-bangsa di luar Israel / Yahudi tidak mempunyainya.

 

Maz 147:19-20 - “(19) Ia memberitakan firmanNya kepada Yakub, ketetapan-ketetapanNya dan hukum-hukumNya kepada Israel. (20) Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukumNya tidak mereka kenal. Haleluya!”.

Ro 3:1-2 - “(1) Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? (2) Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.

 

Sekalipun ‘mempunyai hukum Taurat’ itu merupakan suatu hak, yang boleh dikatakan merupakan suatu keuntungan, tetapi bisa dikatakan ada juga kerugiannya. Mengapa? Karena Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang diberi banyak, juga akan dituntut banyak.

Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.

 

Penerapan: Ini bukan hanya bisa diterapkan kepada orang-orang Yahudi yang mempunyai hukum Taurat, tetapi lebih-lebih bisa dan harus diterapkan kepada orang-orang yang hidup pada jaman sekarang (baik kristen maupun non kristen), yang mempunyai hukum Taurat maupun Injil! Itu memang merupakan hak dan keuntungan yang lebih besar lagi, tetapi bersamaan dengan itu, itu juga memberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi!

 

Sekarang perhatikan keselamatan dari kedua golongan ini (Yahudi / Israel dan non Yahudi / Israel), atau cara penghakiman yang Allah lakukan terhadap kedua golongan ini.

Ay 12: Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.

Kata-kata ‘orang ... tanpa hukum Taurat’, jelas menunjuk kepada orang-orang non Yahudi / Israel, sedangkan ‘orang ... di bawah hukum Taurat’ jelas menunjuk kepada orang-orang Yahudi / Israel.

 

1)   Bagi orang-orang Israel / Yahudi.

Ay 12b: “dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.

Sekarang, Paulus membicarakan orang-orang Yahudi, yang mempunyai hukum Taurat. Mereka ini akan dihakimi oleh hukum Taurat. Semua penafsir beranggapan bahwa ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi / Israel itu bisa selamat.

 

Albert Barnes mengatakan bahwa bagi kedua golongan ini Paulus menggunakan istilah yang berbeda. Untuk orang-orang non Yahudi ia menggunakan istilah ‘akan binasa’ (ay 12a), tetapi untuk orang-orang Yahudi Paulus menggunakan istilah ‘akan dihakimi’ (ay 12b). Barnes mengatakan bahwa tidak jelas mengapa Paulus mengubah istilah. Tetapi mungkin untuk tidak membangkitkan prasangka / ketidak-senangan dalam diri orang-orang Yahudi yang mendengarnya, karena kalau hal ini muncul, maka hati / pikiran mereka akan dibentengi terhadap apapun yang akan diberitakan oleh Paulus. Dengan menggunakan istilah ‘akan dihakimi’ maka orang-orang Yahudi itu tidak akan mempunyai prasangka apapun, tetapi pada akhirnya akan menyimpulkan sendiri, bahwa itu menunjukkan bahwa mereka akan binasa / masuk neraka.

 

Barnes’ Notes: “‘Have sinned in the law’ Have sinned having the revealed will of God, or endowed with greater light and privileges than the pagan world. The apostle here has undoubted reference to the Jews, who had the Law of God, and who prided themselves much on its possession. ‘Shall be judged by the law’ This is an equitable and just rule; and to this the Jews could make no objection. Yet the admission of this would have led directly to the point to which Paul was conducting his argument, to show that they also were under condemnation, and needed a Saviour. It will be observed here, that the apostle uses a different expression in regard to the Jews from what he does of the Gentiles. He says of the former, that they ‘shall be judged;’ of the latter, that they ‘shall perish.’ It is not certainly known why he varied this expression. But if conjecture may be allowed, it may have been for the following reasons. (1) if he had a affirmed of the Jews that they should perish, it would at once have excited their prejudice, and have armed them against the conclusion to which he was about to come. Yet they could bear the word to be applied to the pagan, for it was in accordance with their own views and their own mode of speaking, and was strictly true. (2) the word ‘judged’ is apparently more mild, and yet really more severe. It would arouse no prejudice to say that they would be judged by their Law. It was indeed paying a sort of tribute or regard to that on which they prided themselves so much, the possession of the Law of God. Still, it was a word implying all that he wished to say, and involving the idea that they would be punished and destroyed. If it was admitted that the pagan would perish; and if God was to judge the Jews by an unerring rule, that is, according to their privileges and light; then it would follow that they would also be condemned, and their own minds would come at once to the conclusion. The change of words here may indicate, therefore, a nice tact, or delicate address in argument, urging home to the conscience an offensive truth rather by the deduction of the mind of the opponent himself than by a harsh and severe charge of the writer. In instances of this, the Scriptures abound; and it was this especially that so eminently characterized the arguments of our Saviour” (= ).

 

Matthew Henry mengatakan bahwa orang-orang Yahudi pada saat itu mempunyai pandangan bahwa seburuk apapun mereka hidup, mereka tetap akan mendapat tempat dalam dunia yang akan datang. Ini ditentang oleh Paulus, yang mengatakan bahwa mereka memang mempunyai hak dengan mempunyai hukum Taurat itu, tetapi itu bukan ‘hak yang menyelamatkan’, kecuali mereka hidup sesuai dengan hukum Taurat itu, padahal jelas mereka tidak hidup sesuai dengan hukum Taurat tersebut. Karena itu, mereka membutuhkan kebenaran yang lain untuk bisa muncul di hadapan Allah.

Bdk. Ro 9:30-10:3 - “(9:30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (9:31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. (9:32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, (9:33) seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’ (10:1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (10:2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (10:3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Bdk. Fil 3:9 - “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

Matthew Henry: “The light of the law. This the Jews had, and by this they shall be judged (v. 12): ‘As many as have sinned in the law shall be judged by the law.’ They sinned, not only having the law, but en nomo – ‘in the law,’ in the midst of so much law, in the face and light of so pure and clear a law, the directions of which were so very full and particular, and the sanctions of it so very cogent and enforcing. These shall be judged ‘by the law;’ their punishment shall be, as their sin is, so much the greater for their having the law. ‘The Jew first,’ v. 9. It shall be more tolerable for Tyre and Sidon. Thus Moses did accuse them (Jn. 5:45), and they fell under the many stripes of him that knew his master’s will, and did it not, (Lu. 12:47). The Jews prided themselves very much in the law; but, to confirm what he had said, the apostle shows (v. 13) that their having, and hearing, and knowing the law, would not justify them, but their doing it. The Jewish doctors bolstered up their followers with an opinion that all that were Jews, how bad soever they lived, should have a place in the world to come. This the apostle here opposes: it was a great privilege that they had the law, but not a saving privilege, unless they lived up to the law they had, which it is certain the Jews did not, and therefore they had need of a righteousness wherein to appear before God (= ).

 

Vincent mengatakan bahwa penggunaan kata-kata ‘akan binasa’ bagi orang-orang non Yahudi (ay 12a) dan kata-kata ‘akan dihakimi’ (ay 12b) untuk orang-orang Yahudi, menunjukkan bahwa bagi orang-orang Yahudi ini merupakan penghakiman yang menghukum.

 

Vincent: “‘Shall be judged’ (kritheesontai). The antithesis ‘shall perish’ suggests a condemnatory judgment. There is no doubt that the simple (krinoo) is used in the New Testament in the sense of ‘condemning.’ See John 3:18; 2 Thes 2:12; Heb. 13:4. The change from ‘perish’ to ‘judge’ is suggested by ‘by the law.’ ‘The Jews alone will be, strictly speaking, subjected to a tailed inquiry such as arises from applying the particular articles of a code’ (Godet). Both classes of men shall be condemned; in both the result will be perishing, but the judgment by the law is confined to those who have the law (= ).

 

Calvin juga mengatakan bahwa istilah itu menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi itu akan binasa. Dan ia memberikan dasar Kitab Suci, yaitu Ul 27:26.

Ul 27:26 - “Terkutuklah orang yang tidak menepati (seluruh / semua) perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!’”.

Catatan: penambahan kata ‘semua / seluruh’ akan saya bahas di bawah.

 

Calvin menambahkan bahwa suatu kondisi yang lebih buruk menantikan orang-orang Yahudi yang berdosa, karena penghukuman mereka sudah dinyatakan dalam hukum Taurat mereka.

 

Calvin: Whosoever have sinned under the law, etc. As the Gentiles, being led by the errors of their own reason, go headlong into ruin, so the Jews possess a law by which they are condemned; for this sentence has been long ago pronounced, ‘Cursed are all they who continue not in all its precepts.’ (Deuteronomy 27:26.) A worse condition then awaits the Jewish sinners, since their condemnation is already pronounced in their own law (= ).

 

Orang-orang Israel / Yahudi yang dihakimi berdasarkan hukum Taurat ini memang tidak mungkin bisa selamat. Mengapa?

Ay 13: Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan..

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘For not the hearers of the law’ - that is, the mere possessors of it, ‘are just before God, but the doers of the law shall be justified.’” (= ‘Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat’ - yaitu sekedar menjadi pemilik dari hukum Taurat, ‘yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan’).

 

Tetapi ketaatan yang bagaimana yang dituntut oleh Tuhan dari orang-orang Yahudi itu supaya mereka bisa selamat dalam penghakiman berdasarkan hukum Taurat itu?

 

Barnes’ Notes: “‘For not the hearers ...’ The same sentiment is implied in James 1:22; Matt. 7:21,24; Luke 6:47. The apostle here doubtless designed to meet an objection of the Jews; to wit, that they had the Law, that they manifested great deference for it, that they heard it read with attention, and professed a willingness to yield themselves to it. To meet this, he states a very plain and obvious principle, that this was insufficient to justify them before God, unless they rendered actual obedience. ‘Are just’ Are justified before God, or are personally holy. Or, in other words, simply hearing the Law is not meeting all its requirements, and making people holy. If they expected to be saved by the Law, it required something more than merely to hear it. It demanded perfect obedience. ‘But the doers of the law’ They who comply entirely with its demands; or who yield to it perfect and perpetual obedience. This was the plain and obvious demand, not only of common sense, but of the Jewish Law itself; Deut. 4:1; Lev. 18:5; compare High priest. 10:9. ‘Shall be justified’ This expression is evidently synonymous with that in Lev. 18:5, where it is said that ‘he shall live in them.’ The meaning is, that it is a maxim or principle of the Law of God, that if a creature will keep it, and obey it entirely, he shall not be condemned, but shall be approved and live forever. This does not affirm that anyone ever has thus lived in this world, but it is an affirmation of a great general principle of law, that if a creature is justified BY the Law, the obedience must be entire and perpetual. If such were the case, as there would be no ground of condemnation, man would be saved by the Law. If the Jews, therefore, expected to be saved by their Law, it must be, not by hearing the Law, nor by being called a Jew, but by perfect and unqualified obedience to all its requirements. This passage is designed, doubtless, to meet a very common and pernicious sentiment of the Jewish teachers, that all who became hearers and listeners to the Law would be saved. The inference from the passage is, that no man can be saved by his external privileges, or by an outward respectful deference to the truths and ordinances of religion” (= ).

 

Albert Barnes menekankan habis-habisan bahwa kalau seseorang dihakimi berdasarkan hukum Taurat, ia hanya bisa selamat, kalau ia mentaati hukum Taurat itu secara sempurna dan terus menerus. Ia memberikan Ul 4:1 dan Im 18:5 sebagai dasar.

Ul 4:1 - “‘Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu”.

Im 18:5 - “Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapanKu dan peraturanKu. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN”.

 

Saya sendiri berpendapat bahwa untuk menunjukkan keharusan ketaatan yang sempurna dan terus menerus ini, lebih tepat untuk menggunakan Gal 3:10.

Gal 3:10 - “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah (setiap) orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”.

Catatan: seharusnya dalam Gal 3:10b ada kata ‘setiap’. Bandingkan dengan NIV yang menterjemahkan: “Cursed is everyone who does not continue to do everything written in the Book of the Law” (= Terkutuklah setiap orang yang tidak terus melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab Hukum Taurat).

 

Sekarang perhatikan Ul 27:26 dari mana Gal 3:10 dikutip.

Ul 27:26 - “Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!’”.

 

Ada perbedaan antara Gal 3:10b dengan Ul 27:26. Bedanya adalah dalam Gal 3:10b ini, Paulus mengatakan / menambahkan kata-kata ‘segala sesuatu’.

 

Dalam KJV/NKJV, Ul 27:26 mempunyai kata ‘all’ (= semua / segala), sedangkan dalam RSV/NIV/NASB, Ul 27:26 tidak mempunyai kata itu. Dalam semua manuscript bahasa Ibrani, Ul 27:26 tidak mengandung kata ‘all’ (= semua / segala), sehingga ada yang menganggap bahwa penyalin Kitab Suci sengaja membuang kata ini, supaya tidak terlihat bahwa kita harus taat secara sempurna baru tidak terkutuk. Tetapi ada 6 manuscript non Ibrani, termasuk Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani), dimana Ul 27:26 mengandung kata ‘all’ (= semua / segala).

 

Dari semua ini bisa disimpulkan adanya beberapa kemungkinan:

a)   Ul 27:26 ini di dalam autographnya (= manuscript aslinya) memang mengandung kata ‘all’ (= semua / segala).

b)   Bisa juga bahwa sebetulnya Ul 27:26 memang tidak mengandung kata ‘all’ (= semua / segala), tetapi karena dalam Ul 28:1,15 ada kata ‘all’ (= semua / segala), maka Paulus menambahkan kata itu pada waktu mengutip Ul 27:26.

Ul 28:1,15 - “(1) ‘Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. ... (15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau”.

Catatan: perhatikan bahwa Ul 27:26 adalah ayat terakhir dari Ul 27. Jadi, ayat selanjutnya langsung adalah Ul 28:1. Karena itu memang jelas ada hubungan yang dekat antara kedua ayat tersebut. Juga perhatikan betapa miripnya Ul 28:15 dengan Gal 3:10.

c)   Atau, Paulus menafsirkan bahwa Ul 27:26 itu maksudnya adalah all the words of the law’ (= semua / segala kata-kata hukum Taurat). Ingat bahwa kalau penulis Perjanjian Baru menafsirkan Perjanjian Lama pada saat mereka menuliskan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka tafsiran mereka infallible (= tidak bisa salah), karena mereka diilhami oleh Roh Kudus!

 

Yang manapun yang benar, yang jelas Gal 3:10 itu menekankan bahwa hanya orang yang taat secara sempurna dan terus meneruslah yang tidak berada di bawah kutuk.

Calvin juga menekankan bahwa kebenaran karena hukum Taurat itu menuntut kesempurnaan dalam ketaatan itu. Begitu seseorang melanggar hukum Taurat, maka kutuk segera dinyatakan kepada orang itu. Karena itu jelas bahwa tidak ada siapapun yang bisa dibenarkan / diselamatkan berdasarkan hukum Taurat, dan bahwa harus dicari kebenaran / keselamatan yang lain (bukan berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan iman).

 

Calvin: For the hearers of the law, etc. This anticipates an objection which the Jews might have adduced. As they had heard that the law was the rule of righteousness, (Deuteronomy 4:1,) they gloried in the mere knowledge of it: to obviate this mistake, he declares that the hearing of the law or any knowledge of it is of no such consequence, that any one should on that account lay claim to righteousness, but that works must be produced, according to this saying, ‘He who will do these shall live in them.’ The import then of this verse is the following, - ‘That if righteousness be sought from the law, the law must be fulfilled; for the righteousness of the law consists in the perfection of works.’ They who pervert this passage for the purpose of building up justification by works, deserve most fully to be laughed at even by children. It is therefore improper and beyond what is needful, to introduce here a long discussion on the subject, with the view of exposing so futile a sophistry: for the Apostle only urges here on the Jews what he had mentioned, the decision of the law, - That by the law they could not be justified, except they fulfilled the law, that if they transgressed it, a curse was instantly pronounced on them. Now we do not deny but that perfect righteousness is prescribed in the law: but as all are convicted of transgression, we say that another righteousness must be sought. Still more, we can prove from this passage that no one is justified by works; for if they alone are justified by the law who fulfill the law, it follows that no one is justified; for no one can be found who can boast of having fulfilled the law (= ).

 

Kesimpulan: orang-orang Yahudi yang mempunyai hukum Taurat ini hanya bisa diselamatkan kalau mereka taat secara sempurna dan terus menerus pada hukum Taurat. Sekali saja mereka tidak taat / berbuat dosa, maka mereka langsung ada di bawah kutuk, dan karena itu tidak selamat / akan dihukum. Mengapa demikian? Karena Allah itu menuntut kesempuraan (Mat 5:48), dan keadilan Allah menyebabkan Ia harus menghukum siapapun yang berbuat dosa tak peduli hanya sekali seumur hidup.

Mat 5:48 - “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.’”.

 

2)   Bagi orang-orang di luar Israel / Yahudi.

 

a)   “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat” (ay 12a).

 

1.   ‘tanpa hukum Taurat’.

Ini jelas menunjuk kepada orang-orang kafir non Yahudi, karena ayat ini mengatakan ‘tanpa hukum Taurat’. Jadi, orang-orang itu tidak mempunyai hukum Taurat / Firman Tuhan.

 

2.   ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’.

Ini menunjukkan pandangan / ajaran Paulus tentang tentang nasib orang-orang itu. Ia berkata bahwa orang-orang itu ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’.

a.   Kata-kata ‘tanpa hukum Taurat’ menunjukkan bahwa pada saat mereka dihakimi, mereka tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, karena mereka memang tidak pernah mempunyai / mendengar hukum Taurat.

b.   Kata ‘binasa’ menunjukkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan hidup kekal tetapi akan masuk neraka.

 

Bdk. Ef 2:11-12 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”.

 

3.   Kalau mereka tidak dihakimi berdasarkan hukum Taurat, lalu mereka dihakimi berdasarkan apa? Dalam ay 14-15 Paulus jelas berbicara tentang hati nurani.

Ay 14-15: “(14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela”.

Bagian yang saya garis-bawahi itu oleh KJV/RSV diterjemahkan ‘by nature’ (= secara alamiah).

Wycliffe: “The phrase ‘by nature’ (physei) .... it seems much better to take ‘by nature’ to mean ‘instinctively.’” [= Ungkapan ‘by nature’ (PHUSEI) ... kelihatannya jauh lebih baik untuk mengartikan ‘by nature’ sebagai ‘secara naluri’].

 

Inilah hukum yang ada dalam diri mereka: hati nurani. Mereka tidak mempunyai hukum Taurat, dan karena itu tidak mungkin dihakimi berdasarkan hukum Taurat. Tetapi mereka mempunyai hukum lain, yaitu hati nurani. Hati nurani ini atau membela mereka pada waktu mereka berbuat baik, atau mengecam mereka pada waktu mereka berbuat dosa (ay 15b). Jadi, seakan-akan hukum Taurat itu tertulis dalam hati mereka (ay 15a).

 

Barnes’ Notes: “The revealed Law of God was written on tables of stone, and then recorded in the books of the Old Testament. This law the Gentiles did not possess, but, to a certain extent, the same requirements were written on their hearts. Though not revealed to them as to the Jews, yet they had obtained the knowledge of them by the light of nature. The word ‘hearts’ here denotes the mind itself, as it does also frequently in the Sacred Scriptures; not the heart, as the seat of the affections. It does not mean that they loved or even approved of the Law, but that they had knowledge of it; and that that knowledge was deeply engraved on their minds” (= Hukum Taurat yang dinyatakan dari Allah ditulis pada loh-loh batu, dan lalu dicatat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Hukum Taurat ini tidak dimiliki oleh orang-orang non Yahudi, tetapi, sampai pada tingkat tertentu, tuntutan / kewajiban yang sama ditulis pada hati mereka. Sekalipun tidak dinyatakan kepada mereka seperti kepada orang-orang Yahudi, tetapi mereka mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal itu oleh terang dari alam. Kata ‘hati’ di sini menunjukkan pikiran itu sendiri, sesuatu yang sering terjadi dalam Kitab Suci; bukan hati sebagai kedudukan dari perasaan. Itu tidak berarti bahwa mereka mengasihi atau bahkan menyetujui hukum itu, tetapi bahwa mereka mempunyai pengetahuan tentangnya; dan bahwa pengetahuan itu diukirkan dalam-dalam pada pikiran mereka).

 

Ini tidak boleh diartikan bahwa orang-orang kafir itu bisa mendapatkan pengetahuan sebanyak yang diberikan oleh hukum Taurat. Perhatikan kata-kata Barnes dan Calvin di bawah ini.

 

Barnes’ Notes: “This does not mean, by any means, that they had all the knowledge which the Law would impart, for then there would have been no need of a revelation, ... the will of God, whether made known by reason or revelation, will be the same so far as reason goes. The difference is that revelation goes further than reason; sheds light on new duties and doctrines; as the information given by the naked eye and the telescope is the same, except, that the telescope carries the sight forward, and reveals new worlds to the sight of man” [= Ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka (orang-orang kafir / non Yahudi itu) mempunyai semua pengetahuan yang diberikan oleh hukum Taurat, kalau kalau demikian maka tidak dibutuhkan suatu wahyu, ... kehendak Allah, apakah dinyatakan oleh akal atau wahyu, akan sama sejauh akal berjalan. Perbedaannya adalah bahwa wahyu berjalan lebih jauh dari akal; memberi terang pada kewajiban-kewajiban dan doktrin-doktrin yang baru; seperti informasi yang diberikan oleh mata telanjang dan oleh teleskop adalah sama, kecuali bahwa teleskop membawa penglihatan ke depan, dan menyatakan dunia / alam semesta yang baru pada penglihatan manusia].

 

Calvin: Nor can we conclude from this passage, that there is in men a full knowledge of the law, but that there are only some seeds of what is right implanted in their nature (= Kita tidak bisa menyimpulkan dari text ini bahwa dalam diri manusia ada pengetahuan penuh tentang hukum / hukum Taurat, tetapi bahwa di sana hanya ada sebagian benih dari apa yang benar yang ditanamkan dalam diri mereka).

 

Kalau hukum Taurat saja memberikan  pengetahuan lebih banyak dari pada yang diberikan oleh hati nurani, apalagi Injil / Perjanjian Baru.

 

Wycliffe: “But how much richer and fuller is our knowledge of God as revealed through his Son! ... Why then should we eagerly take the Gospel to those who have never heard it? ... it is essential because of who Christ is - the climax of God’s revelation (Heb 1:1-2). Since Christ is the supreme revelation of God, and since the NT is the record that confronts men with Christ, other methods of divine revelation are seen to be only fragmentary [= Tetapi betapa lebih kaya dan lebih penuhnya pengetahuan kita tentang Allah seperti yang dinyatakan melalui AnakNya! ... Lalu mengapa kita harus sangat ingin untuk membawa Injil kepada mereka yang tidak pernah mendengarnya? ... itu perlu karena siapa Kristus itu - puncak dari wahyu Allah (Ibr 1:1-2). Karena Kristus adalah wahyu tertinggi dari Allah, dan karena Perjanjian Baru merupakan catatan yang menghadapkan manusia dengan Kristus, metode-metode lain dari wahyu ilahi dipandang sebagai hanya bersifat tidak lengkap].

 

Bandingkan kata-kata Barnes, Calvin, dan Wycliffe di atas ini dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang menyuruh hamba-hamba Tuhan Kristen untuk mempelajari ajaran filosof Cina itu dan memakainya sebagai pedoman hidup.

Kata-kata Pdt. Stephen Tong ini, sudah salah, seandainya kita hidup pada jaman Perjanjian Lama, dan hanya mempunyai hukum Taurat. Apalagi dalam faktanya kita hidup pada jaman Perjanjian Baru.

Kata-kata Pdt. Stephen Tong ini sama dengan menyuruh orang yang mempunyai teleskop untuk meminta petunjuk kepada orang yang melihat dengan mata telanjang!

 

4.   Bisakah mereka selamat / ‘lulus’ dari penghakiman oleh hati nurani ini?

Jelas tidak mungkin, karena ay 12a memastikan mereka binasa!

Ay 12a: Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat.

Mengapa tidak mungkin? Karena sama seperti orang-orang Yahudi yang mempunyai hukum Taurat hanya bisa selamat oleh kehidupan mereka sendiri, kalau mereka taat pada hukum Taurat itu secara sempurna, maka demikian juga dengan orang-orang non Yahudi ini. Mereka hanya bisa selamat, oleh kehidupan mereka sendiri, kalau mereka taat secara sempurna pada hati nurani mereka. Dan adakah orang kafir manapun yang bisa taat secara sempurna pada hati nuraninya? Sudah jelas tidak mungkin!

 

Matthew Henry: “They had that within them which approved and commended what was well done and which reproached them for what was done amiss. ... Conscience is that candle of the Lord which was not quite put out, no, not in the Gentile world. ... their consciences did either acquit or condemn them. All this did evince that they had that which was to them instead of a law, which they might have been governed by, and which will condemn them, because they were not so guided and governed by it. So that the guilty Gentiles are left without excuse. God is justified in condemning them. They cannot plead ignorance, and therefore are likely to perish if they have not something else to plead” (= Mereka mempunyai di dalam diri mereka apa yang menyetujui dan menghargai / memuji apa yang dilakukan dengan baik dan yang mencela mereka untuk apa yang dilakukan dengan salah. ... Hati nurani adalah lilin dari Tuhan yang tidak sungguh-sungguh padam, tidak, tidak dalam dunia orang non Yahudi. ... hati nurani mereka atau membebaskan atau mengecam / menghukum mereka. Semua ini membuktikan bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bagi mereka merupakan pengganti dari suatu hukum, yang seharusnya bisa memerintah mereka, dan yang akan mengecam / menghukum mereka, karena mereka tidaklah dibimbing dan diperintah sedemikian rupa olehnya. Maka orang-orang non Yahudi yang bersalah akan ditinggalkan tanpa dalih. Allah dibenarkan dalam menghukum mereka. Mereka tidak bisa menggunakan ketidak-tahuan sebagai dalih, dan karena itu mungkin sekali binasa jika mereka tidak mempunyai sesuatu yang lain sebagai dalih / pembelaan).

 

Barnes’ Notes: It will be remarked here that the apostle does not say they shall be saved without law. He does not give even an intimation respecting their salvation. The strain of the argument, as well as this express declaration, shows that they who had sinned - and in the first chapter he had proved that all the pagan were sinners - would be punished. If any of the pagan are saved, it will be, therefore, an exception to the general rule in regard to them. The apostles evidently believed that the great mass of them would be destroyed. On this ground they evinced such zeal to save them; on this ground the Lord Jesus commanded the gospel to be preached to them; and on this ground Christians are now engaged in the effort to bring them to the knowledge of the Lord Jesus. It may be added here, that all modern investigations have gone to confirm the position that the pagan are as degraded now as they were in the time of Paul. ‘Without law’ That is, they shall not be judged by a law which they have not. They shall not be tried and condemned by the revelation which the Jews had. They shall be condemned only according to the knowledge and the Law which they actually possess. This is the equitable rule on which God will judge the world. According to this, it is not to be apprehended that they will suffer as much as those who have the revealed will of God; compare Matt. 10:15; 11:24; Luke 10:12” (= Perlu diperhatikan di sini bahwa sang rasul tidak berkata bahwa mereka akan diselamatkan tanpa hukum Taurat. Ia tidak memberikan bahkan suatu isyaratpun berkenaan dengan keselamatan mereka. Penekanan dari argumentasinya, maupun pernyataan yang nyata ini, menunjukkan bahwa mereka yang telah berdosa - dan dalam pasal yang pertama ia telah membuktikan bahwa semua orang kafir adalah orang-orang berdosa - akan dihukum. Karena itu, jika ada siapapun dari orang-orang kafir itu yang akan diselamatkan, itu akan merupakan suatu perkecualian terhadap hukum / peraturan umum berkenaan dengan mereka. Sang rasul dengan jelas percaya bahwa massa yang besar itu akan dihancurkan. Berdasarkan hal inilah mereka menunjukkan dengan jelas semangat untuk menyelamatkan mereka; berdasarkan hal inilah Tuhan Yesus memerintahkan supaya Injil diberitakan kepada mereka; dan berdasarkan hal inilah orang-orang kristen sekarang terlibat dalam usaha untuk membawa kepada mereka pengetahuan tentang Tuhan Yesus. Bisa ditambahkan di sini, bahwa semua penyelidikan modern telah menegaskan bahwa posisi dari orang-orang kafir sekarang adalah sama rendahnya / hinanya seperti pada jaman Paulus. ‘Tanpa hukum Taurat’ artinya, mereka tidak akan dihakimi oleh hukum Taurat yang tidak mereka punyai. Mereka tidak akan diadili dan dikecam / dihukum oleh wahyu yang dipunyai orang-orang Yahudi. Mereka akan dikecam / dihukum hanya sesuai dengan pengetahuan dan hukum yang sungguh-sungguh mereka punyai).

Catatan: dalam pasal pertama (dari kitab / surat Roma) Paulus memang menunjukkan bahwa semua orang kafir ini adalah orang-orang berdosa (Ro 1:18-32). Selanjutnya dalam Ro 2:17-29 Paulus menekankan bahwa semua orang-orang Yahudi adalah orang-orang berdosa. Dan dalam Ro 3:9-18, Paulus mengatakan bahwa semua manusia (Yahudi + non Yahudi) adalah orang-orang berdosa.

 

Ro 1:18-32 - “(18) Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. (19) Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. (20) Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. (22) Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. (23) Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. (24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. (25) Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. (27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: (29) penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. (30) Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, (31) tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. (32) Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya”.

Catatan: dosa penyembahan berhala yang dibicarakan, menunjukkan bahwa dalam text ini Paulus memaksudkan orang-orang non Yahudi, karena pada jaman itu orang-orang Yahudi sudah tidak lagi melakukan penyembahan berhala. Pembuangan ke Babilonia membuat mereka betul-betul kapok terhadap dosa itu.

 

Ro 2:17-29 - “(17) Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, (18) dan tahu akan kehendakNya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, (19) dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, (20) pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. (21) Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: ‘Jangan mencuri,’ mengapa engkau sendiri mencuri? (22) Engkau yang berkata: ‘Jangan berzinah,’ mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? (23) Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? (24) Seperti ada tertulis: ‘Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.’ (25) Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. (26) Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? (27) Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. (28) Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. (29) Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah”.

 

Ro 3:9-18 - “(9) Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, (10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.

 

A. T. Robertson: “‘Shall also perish without law’ ... This is a very important statement. The pagan who sin are lost, because they do not keep the law which they have, not because they do not have the Mosaic law or Christianity” (= ‘Akan binasa tanpa hukum Taurat’ ... Ini merupakan suatu pernyataan yang sangat penting. Orang kafir yang berdosa terhilang, karena mereka tidak memelihara hukum yang mereka miliki, bukan karena mereka tidak mempunyai hukum Taurat Musa atau kekristenan).

 

A. T. Robertson (tentang Ro 2:15): “Paul does not say that a pagan’s conscience always commends everything that he thinks, says, or does. In order for one to be set right with God by his own life he must always act in accord with his conscience and never have its disapproval. That, of course, is impossible else Christ died for naught (Gal. 2:21). Jesus alone lived a sinless life. For one to be saved without Christ he must also live a sinless life [= Paulus tidak mengatakan bahwa hati nurani seorang kafir selalu memuji segala sesuatu yang ia pikirkan, katakan, atau lakukan. Supaya seseorang bisa benar di hadapan Allah oleh kehidupannya sendiri, ia harus selalu bertindak sesuai dengan hati nuraninya dan tidak pernah mendapatkan celaan / ketidak-setujuannya. Itu, sudah tentu, merupakan sesuatu yang tidak mungkin atau Kristus mati secara sia-sia (Gal 2:21). Hanya Yesus saja yang hidup tanpa dosa. Bagi seseorang untuk diselamatkan tanpa Kristus ia juga harus hidup tanpa dosa].

Gal 2:21 - “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

 

Barnes’ Notes (tentang Ro 2:14): “The apostle, in Rom. 2:13, had stated a general principle, that the doers of the Law only can be justified, if justification is attempted by the Law. In this verse and the next, he proceeds to show that the same principle is applicable to the pagan; that though they have not the written Law of God, yet that they have sufficient knowledge of his will to take away every excuse for sin, .... This verse is not to be understood as affirming, as an historical fact, that any of the pagan ever did perfectly obey the Law which they had, any more than the previous verse affirms it of the Jews. The main point in the argument is, that if people are justified by the Law, their obedience must be entire and perfect; ... and that the Gentiles had an opportunity of illustrating this principle as well as the Jews, since they also had a law among themselves. The word ‘when’ (hotan) does not imply that the thing shall certainly take place, but is one form of introducing a supposition; or of stating the connection of one thing with another, Matt. 5:11; 6:2,5-6,16; 10:19” (= Sang rasul, dalam Ro 2:13, telah menyatakan suatu prinsip umum, bahwa hanya pelaku dari hukum Taurat itu yang bisa dibenarkan, jika pembenaran diusahakan oleh hukum Taurat. Dalam ayat ini dan yang berikutnya (ay 14-15), ia melanjutkan untuk menunjukkan bahwa prinsip yang sama bisa diterapkan kepada orang-orang kafir; bahwa sekalipun mereka tidak mempunyai hukum Allah yang tertulis, tetapi mereka mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kehendakNya untuk mengambil setiap dalih untuk dosa, ... Ayat ini tidak boleh dimengerti seakan-akan menegaskan, sebagai suatu fakta historis, bahwa ada orang kafir manapun yang pernah mentaati secara sempurna hukum yang mereka miliki, sama seperti ayat sebelumnya (ay 13) menegaskannya tentang orang-orang Yahudi. Pokok utama dalam argumentasinya adalah bahwa jika orang-orang mau dibenarkan oleh hukum / hukum Taurat, maka ketaatan mereka harus menyeluruh dan sempurna; ... dan bahwa orang-orang non Yahudi mempunyai kesempatan menjelaskan prinsip ini seperti orang-orang Yahudi, karena mereka juga mempunyai hukum di antara mereka sendiri. Kata ‘when / apabila’ (HOTAN) tidak menunjukkan secara tak langsung bahwa hal itu pasti terjadi, tetapi merupakan suatu bentuk untuk memperkenalkan suatu pandangan; atau untuk menyatakan hubungan dari satu hal dengan hal lainnya, Mat 5:11; 6:2,5-6,16; 10:19).

 

Penutup / kesimpulan.

 

1)   Orang-orang pada jaman Perjanjian Baru, yang sudah mendengar Injil, akan selamat kalau percaya kepada Kristus, dan akan binasa kalau tidak percaya kepada Kristus.

 

2)   Orang-orang pada jaman Perjanjian Baru, yang belum mendengar Injil, akan binasa.

 

3)   Orang-orang pada jaman Perjanjian Lama, yang mempunyai hukum Taurat akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat. Mereka akan selamat kalau mereka mentaati hukum Taurat secara sempurna, dan tentu saja tak seorangpun yang bisa taat secara sempurna. Mereka tetap bisa selamat karena iman. Pada waktu mereka mendengar hukum Taurat, yang jelas mencakup Kristus yang akan datang, dan mereka mempercayainya, maka mereka diselamatkan. Ini juga berlaku untuk orang-orang beriman / saleh yang hidup sebelum jaman Musa, seperti misalnya Abraham. Biarpun tak mempunyai hukum Taurat, tetapi mereka mendapatkan Firman Tuhan secara langsung. Firman Tuhan itu mencakup Kristus yang akan datang, dan karena itu kalau mereka mempercayainya, mereka dianggap percaya kepada Kristus, dan mereka diselamatkan. Untuk Abraham bandingkan dengan Kej 12:1-3, Kej 15:5-6 dan Yoh 8:56.

Kej 12:1-3 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; (2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’”.

Catatan: kata-kata yang saya garis-bawahi itu tidak bisa tidak pasti menunjuk kepada Kristus yang akan datang.

Kej 15:5-6 - “(5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (6) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”.

Yoh 8:56 - “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.’”.

 

4)   Orang-orang jaman Perjanjian Lama yang hidup tanpa hukum Taurat akan dihakimi berdasarkan hukum hati nurani, dan mereka akan selamat hanya kalau mereka bisa taat secara sempurna pada hukum hati nurani ini. Dan tentu saja tak seorangpun bisa taat seperti itu. Mereka tidak mungkin percaya kepada Kristus, karena tak pernah mendengarnya. Jadi, mereka pasti binasa, biarpun tidak dihakimi berdasarkan hukum Taurat tetapi berdasarkan hati nurani. Filosof Cina itu termasuk dalam kelompok ini.

 

Beberapa catatan tentang kata-kata Pdt. Stephen Tong berkenaan dengan keselamatan filosof Cina itu:

 

1.   Kata-kata Pdt. Stephen Tong bahwa filosof Cina itu baik, bertentangan dengan theologia Reformed tentang Total Depravity (= Kebejadan total), dan juga dengan banyak ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa semua manusia (kecuali Kristus) itu berdosa dan tidak ada yang baik.

Bdk. Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

 

2.   Kata-kata Pdt. Stephen Tong bahwa keselamatan filosof Cina itu terserah Tuhan, kelihatannya saleh, tetapi salah. Tuhan tidak bisa menetapkan semaunya sendiri sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan FirmanNya! Dari penguraian Firman Tuhan dalam Ro 2:12-16 ini terlihat secara pasti bahwa orang-orang jaman Perjanjian Lama yang tanpa hukum Taurat tidak mungkin selamat.

 

3.   Kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa ia berharap bertemu filosof Cina itu di surga, sama dengan kalau ia berharap bahwa Firman Tuhan itu salah!

 

4.   Argumentasi Pdt. Stephen Tong dengan menggunakan Kis 10:34-35, yang katanya memungkinkan seseorang yang belum percaya sudah berkenan kepada Allah, akan saya bahas pada kali yang akan datang dalam exposisi Kis 10.

 

 

-o0o-


KIsah rasul 10:1-48

 

Kis 10:1-48 - “(1) Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. (2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. (3) Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: ‘Kornelius!’ (4) Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: ‘Ada apa, Tuhan?’ Jawab malaikat itu: ‘Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. (5) Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. (6) Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit yang bernama Simon, yang tinggal di tepi laut.’ (7) Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia. (8) Dan sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope. (9) Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa. (10) Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. (11) Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. (12) Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. (13) Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ‘Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ (14) Tetapi Petrus menjawab: ‘Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.’ (15) Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: ‘Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.’ (16) Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit. (17) Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus. (18) Mereka memanggil seorang dan bertanya, apakah Simon yang disebut Petrus ada menumpang di rumah itu. (19) Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh: ‘Ada tiga orang mencari engkau. (20) Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari.’ (21) Lalu turunlah Petrus ke bawah dan berkata kepada orang-orang itu: ‘Akulah yang kamu cari; apakah maksud kedatangan kamu?’ (22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’ (23) Ia mempersilakan mereka untuk bermalam di situ. Keesokan harinya ia bangun dan berangkat bersama-sama dengan mereka, dan beberapa saudara dari Yope menyertai dia. (24) Dan pada hari berikutnya sampailah mereka di Kaisarea. Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. (25) Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. (26) Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: ‘Bangunlah, aku hanya manusia saja.’ (27) Dan sambil bercakap-cakap dengan dia, ia masuk dan mendapati banyak orang sedang berkumpul. (28) Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. (29) Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku.’ (30) Jawab Kornelius: ‘Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan (31) dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapanNya. (32) Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut. (33) Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.’ (34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya. (36) Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. (37) Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, (38) yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. (39) Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. (40) Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, (41) bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. (42) Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. (43) Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’ (44) Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. (45) Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, (46) sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: (47) ‘Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?’ (48) Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka”.

 

Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa ada orang yang menggunakan Kis 10 untuk menunjukkan bahwa orang seperti filosof Cina itu bisa diselamatkan.

Ia lalu mengutip ayat dari Kis 10, tanpa menyebutkan ayatnya, sebagai berikut: “ternyata semua orang yang baik di dunia diterima oleh Tuhan”.

Kelihatannya ia mengutip Kis 10:35, tetapi secara sangat ceroboh. Bandingkan dengan ayat aslinya di bawah ini.

Ay 35: “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

Pdt. Stephen Tong sendiri tak setuju dengan kata-kata orang tersebut, dan alasannya adalah: Kornelius pada saat itu belum diselamatkan, dan Petrus masih harus memberitakan Injil kepadanya, dan barulah ia diselamatkan. Tetapi Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa sebelum itu ‘kebajikan mereka diterima’!

Apakah tindakan orang yang belum beriman bisa disebut kebajikan, dan bisa diterima oleh Allah?

 

I) Kornelius dan agama Yahudi / Yudaisme.

 

A)  Pertama-tama perlu diketahui adanya kelompok Yahudi, non Yahudi, dan kelompok-kelompok lain yang ada di antaranya.

 

1)   Kelompok Yahudi.

Tentang kelompok ini, tak ada yang perlu dibahas, karena sudah jelas.

 

2)   Kelompok non Yahudi (Inggris: Gentiles; Literal: ‘nations’ / ‘bangsa-bangsa’).

Yang perlu diketahui adalah bahwa kelompok Yahudi sangat memandang rendah kelompok non Yahudi ini. Jadi, kalau bagi kita istilah ‘orang non Yahudi’ / ‘bangsa-bangsa non Yahudi’ merupakan suatu istilah biasa, maka tidak demikian bagi orang Yahudi. Istilah itu mempunyai arti sangat negatif, menghina / merendahkan!

 

Easton’s Bible Dictionary: “Gentiles - (Heb., usually in plural, goyim), meaning in general all nations except the Jews. In course of time, as the Jews began more and more to pride themselves on their peculiar privileges, it acquired unpleasant associations, and was used as a term of contempt. In the New Testament the Greek word ‎Hellenes‎, meaning literally Greek (as in Acts 16:1,3; 18:17; Rom 1:14), generally denotes any non-Jewish nation” [= ‘Orang-orang / bangsa-bangsa non Yahudi’ - (Ibrani, biasanya dalam bentuk jamak, GOYIM), secara umum berarti semua bangsa kecuali bangsa Yahudi. Dengan berlalunya waktu, karena orang-orang Yahudi mulai makin lama makin membanggakan diri mereka sendiri karena hak-hak khusus mereka, istilah ini mendapatkan gagasan yang tidak menyenangkan, dan digunakan sebagai istilah penghinaan. Dalam Perjanjian Baru kata Yunani HELLENES, secara hurufiah berarti ‘Yunani’ (seperti dalam Kis 16:1,3; 18:17; Ro 1:14), secara umum menunjuk pada bangsa non Yahudi manapun] - PC Study Bible version 5.

 

3)   Di antara kedua kelompok di atas, ada kelompok lain yang disebut ‘proselyte’ (= proselit), yaitu orang-orang non Yahudi yang diyahudikan / masuk agama Yahudi.

Ada 2 jenis proselit, yaitu:

 

a)   Proselit yang sepenuhnya.

Ada yang menyebutnya dengan istilah ‘proselyte of righteousness’ (= proselit kebenaran) atau ‘proselyte of justice’ (= proselit keadilan). Lenski dan International Standard Bible Encyclopedia menggunakan juga istilah ‘proselyte of the Sanctuary’ (= proselit dari Ruang Suci).

Yang ini betul-betul dianggap sebagai Yahudi, sekalipun tetap ada yang mengatakan bahwa mereka tetap dipandang rendah oleh sebagian orang-orang Yahudi.

 

International Standard Bible Encyclopedia (Revised Edition) - dengan topik ‘proselyte’: “PROSELYTE. ... The rabbis had mixed feelings toward proselytes. Some, like Hillel, were disposed to welcome proselytes and were even inclined to relax the requirements a bit at the outset so that the newcomer could perceive the true spirit of Judaism (Mish. Aboth i.12; T.B. Shabbath 31 a). On the other hand, Shammai viewed proselytes with some suspicion and demanded that they be thoroughly examined before admittance. In addition, some Jews feared that proselytes would return to the idolatry whence they came (T.B. Abodah Zarah 24 a) and that they did not observe the ceremonial law properly (Mish. Niddah vii.3). Indeed, some rabbis argued that proselytes were like a scab that adhered to the Jewish people (T.B. Yebamoth 47 b, 109 b; Kiddushin 70 b). Some scholars suggest, however, that the above description was meant only as a joke and should not be interpreted as a negative attitude toward proselytes” [= PROSELIT. ... Rabi-rabi mempunyai perasaan-perasaan yang bermacam-macam tentang proselit. Sebagian, seperti Hillel, condong untuk menerima proselit dan bahkan condong untuk mengurangi sedikit tuntutan-tuntutan pada permulaan sehingga orang yang baru datang itu bisa mengerti roh yang benar dari agama Yahudi (Mish. Aboth i.12; T.B. Shabbath 31 a). Di sisi lain, Shammai memandang proselit dengan kecurigaan dan menuntut supaya mereka diperiksa secara menyeluruh sebelum diterima. Sebagai tambahan, sebagian orang Yahudi takut bahwa para proselit akan kembali pada penyembahan berhala dari mana mereka datang (T.B. Abodah Zarah 24 a) dan bahwa mereka tidak mentaati hukum-hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan dengan benar / tepat (Mish. Niddah vii.3). Bahkan, beberapa rabi mengatakan bahwa para proselit adalah seperti penyakit kulit yang melekat pada bangsa Yahudi (T.B. Yebamoth 47 b, 109 b; Kiddushin 70 b). Tetapi sebagian ahli-ahli Alkitab mengatakan bahwa penggambaran di atas hanya dimaksudkan sebagai suatu lelucon, dan tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu sikap negatif terhadap proselit].

Catatan: bagi saya kalimat terakhir itu tidak masuk akal. Itu tidak mungkin merupakan lelucon, tetapi pasti merupakan sesuatu yang serius.

 

Lenski (tentang ay 28): “Only proselytes of righteousness (of the Sanctuary) were considered the equals of the Jews, and the rabbis often spoke very slightingly even of these, as when they were called sicut scabies Israeli [= Hanya proselit kebenaran (dari Ruang Suci) dianggap sebagai setara dengan orang-orang Yahudi, dan rabi-rabi sering berbicara secara meremehkan / menghina bahkan tentang mereka, seperti pada saat mereka disebut sicut scabies Israeli] - hal 414.

Catatan: saya tak mengerti kata-kata terakhir itu, yang bukan merupakan kata-kata bahasa Inggris. Tetapi mungkin artinya sama seperti dalam kutipan di atas tadi, yaitu ‘penyakit kulit yang melekat pada bangsa Israel’.

 

b)   Proselit sebagian.

Biasanya ini disebut dengan istilah ‘proselyte of the gate’ (= proselit pintu gerbang). Mereka disebut demikian karena sekalipun mereka punya kecondongan pada agama Yahudi, tetapi mereka tidak mau betul-betul masuk agama Yahudi, dan hanya berdiri di pintu gerbang agama Yahudi. Ada juga yang menyebutnya ‘semi proselyte’ (= semi proselit) atau ‘half proselyte’ (= setengah proselit).

Orang-orang ini tidak disunat, dan hanya mentaati 7 perintah / hukum Nuh.

 

Lenski (tentang Kis 2:10): “The Jews had two kinds of proselytes: ‘proselytes of the gate’ who were not bound to submit to circumcision, who observed only the seven Noachian commandments against idolatry, blasphemy, disobedience to magistrates, murder, fornication or incest, robbery or theft, eating of blood (Gen. 9:4), and were restricted in taking part in the worship; and ‘proselytes of righteousness,’ Gentiles who became complete Jews. The latter seem to be referred here” [= Orang-orang Yahudi mempunyai 2 jenis proselit: ‘proselit pintu gerbang’ yang tidak terikat untuk tunduk pada sunat, yang mentaati hanya 7 hukum Nuh terhadap penyembahan berhala, penghujatan, ketidak-taatan terhadap hakim / pemerintah, pembunuhan, percabulan atau incest / perzinahan dalam keluarga, perampokan atau pencurian, makan darah (Kej 9:4), dan dibatasi / dilarang ambil bagian dalam ibadah / kebaktian; dan ‘proselit kebenaran’, yaitu orang-orang non Yahudi yang menjadi Yahudi sepenuhnya. Yang terakhir yang kelihatannya dimaksudkan di sini (dalam Kis 2:10)] - hal 67.

Catatan: sebagian dari 7 hukum Nuh itu ada dalam Kej 9, tetapi sebagian tidak ada dan saya tidak tahu dari mana itu didapatkan.

 

Wycliffe (tentang Kis 2:10): “A few Gentiles became converts to Judaism and accepted all Jewish practices, including circumcision. A larger number stopped short of circumcision but accepted the Jewish belief in God, synagogue worship, the ethical teachings of the OT, and some of the Jewish religious practices. These people, who were called God-fearers, were familiar with the OT in the Greek version as it was read in the synagogues. Devout God-fearers provided the most fertile soil in which the Gospel took root. Cornelius was such a ‘semi-proselyte.’ His devout character was manifested by his liberal alms to the people and his regular prayers to God.” (= Sedikit orang-orang non Yahudi masuk agama Yahudi dan menerima semua praktek-praktek Yahudi, termasuk sunat, tetapi menerima kepercayaan Yahudi kepada Allah, ibadah sinagog, pengajaran etika Perjanjian Lama, dan beberapa dari praktek-praktek agamawi Yahudi. Orang-orang ini, yang disebut ‘orang-orang yang takut akan Allah’, akrab dengan Perjanjian Lama dalam versi bahasa Yunani karena itu dibacakan dalam sinagog-sinagog. Orang-orang saleh yang takut akan Allah ini menyediakan tanah yang paling subur dimana Injil berakar. Kornelius adalah ‘semi proselit’ seperti itu. Karakter salehnya dinyatakan oleh sedekahnya yang murah hati kepada bangsa itu dan doanya yang rutin kepada Allah).

 

Easton’s Bible Dictionary: “The distinction between ‘proselytes of the gate’ (Exodus 20:10) and ‘proselytes of righteousness’ originated only with the rabbis. According to them, the ‘proselytes of the gate’ (half proselytes) were not required to be circumcised nor to comply with the Mosaic ceremonial law. They were bound only to conform to the so-called seven precepts of Noah, viz., to abstain from idolatry, blasphemy, bloodshed, uncleaness, the eating of blood, theft, and to yield obedience to the authorities. Besides these laws, however, they were required to abstain from work on the Sabbath, and to refrain from the use of leavened bread during the time of the Passover. The ‘proselytes of righteousness’, religious or devout proselytes (Acts 13:43), were bound to all the doctrines and precepts of the Jewish economy, and were members of the synagogue in full communion. The name ‘proselyte’ occurs in the New Testament only in Matthew 23:15; Acts 2:10; 6:5; 13:43. The name by which they are commonly designated is that of ‘devout men,’ or men ‘fearing God’ or ‘worshipping God.’” [= Pembedaan antara ‘proselit pintu gerbang’ (Kel 20:10) dan ‘proselit kebenaran’ berasal usul hanya dari rabi-rabi. Menurut mereka ‘proselit pintu gerbang’ (setengah proselit) tidak diwajibkan untuk disunat atau untuk tunduk pada hukum upacara Musa. Mereka hanya diharuskan untuk memenuhi apa yang disebut 7 peraturan / ajaran Nuh, yaitu, tidak melakukan penyembahan berhala, penghujatan, penumpahan darah, kenajisan, makan darah, pencurian, dan harus tunduk pada otoritas. Tetapi disamping hukum-hukum ini, mereka diwajibkan untuk tidak bekerja pada hari Sabat, dan menahan diri dari penggunaan roti beragi pada masa Paskah. ‘Proselit kebenaran’, proselit yang religius atau saleh (Kis 13:43), terikat pada semua ajaran dan peraturan dari sistim Yahudi, dan merupakan anggota-anggota dari sinagog dalam persekutuan sepenuhnya. Sebutan ‘proselit’ muncul dalam Perjanjian Baru hanya dalam Mat 23:15; Kis 2:11; 6:5; 13:43). Sebutan dengan mana mereka biasanya ditunjuk adalah ‘orang-orang saleh’ atau orang-orang yang ‘takut akan Allah’ atau ‘menyembah Allah’] - PC Study Bible version 5.

Kel 20:10 - “tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

KJV: ‘thy stranger that is within thy gates’ (= orang-orang asingmu yang ada dalam pintu gerbangmu).

Catatan: saya berpendapat ayat ini tidak cocok kalau dianggap menunjuk kepada ‘proselyte of the gate’ (= proselit pintu gerbang), karena kata-kata ‘pintu gerbang’ dalam Kel 20:10 ini menunjuk pada perbatasan tempat tinggal mereka, bukan pada perbatasan agama Yahudi.

 

1.   Mat 23:15 - “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri”.

KJV: ‘to make one proselyte’ (= untuk membuat seseorang menjadi proselit).

2.   Kis 2:11 - “baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”.

KJV: ‘proselytes’ (= proselit-proselit).

3.   Kis 6:5 - “Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.

KJV: ‘a proselyte of Antioch (= seorang proselit dari Antiokhia).

4.   Kis 13:43 - “Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah”.

KJV: ‘religious proselytes’ (= proselit-proselit yang religius).

 

International Standard Bible Encyclopedia (Revised Edition) - dengan topik ‘proselyte’:

“VI. Proselytes and God-Fearers. - Many scholars see a parallel between the ‘God-fearers’ in rabbinic literature and the ‘God-fearers’ in the NT. In rabbinic literature the GER TOSAB was a Gentile who observed the Noachian commandments but was not considered a convert to Judaism because he did not agree to circumcision. As Moore pointed out, some scholars have made the mistake of calling the GER TOSAB a ‘proselyte’ or ‘semiproselyte.’ But the GER TOSAB was really a resident alien in Israel. He was not considered a convert to Judaism, for he was permitted to eat the meat of animals who were slaughtered incorrectly, and an Israelite could take usury from him. Such practices were forbidden in dealings with fellow Jews. Some scholars have claimed that the term ‘those who fear God’ (yire elohIm / samayim) was used in rabbinic literature to denote Gentiles who were on the fringe of the synagogue. They were not converts to Judaism, although they were attracted to the Jewish religion and observed part of the law. But M. Wilcox argued that the terms ‘fearers of heaven’ and ‘fearers of God’ did not designate a Gentile fringe in the synagogues in rabbinic literature. If this is true one cannot depend on the rabbinic usage in positing a difference between ‘God fearers’ and ‘proselytes’ in Acts. In any case in the OT and other Jewish literature the phrase ‘those who fear Yahweh’ (YIRE YHWH) was a common designation for pious Israelites (Psalms 15:4; 22:23 [MT 24]; 25:12; 115:11,13; 118:4; 135:20; Malachi 3:16; 4:2 [MT 3:20]; Ecclesiasticus 2:7-17; 6; 16; 34:13-15; Psalms Of Solomon 2:37; 3:16; 4:26; 1 QSb 1:1; CD 10:2; 20:19 f), and thus the phrase was not a technical term to designate Gentiles who were adherents of the synagogue in the OT and the intertestamental period, although the status of the term in the rabbinic period is still open to question. The precise status of ‘God-fearers’ in the book of Acts is also disputed. It is generally agreed that Luke used phoboumenos / sebomenos ton theon to express the same idea. But two different interpretations have been pro-posed to explain what that idea was. (Interestingly, the word phobeomai is used in the first part of Acts [10:2,22; 13:16,26,43], and sebomai is used in the second part of the book [13:43,50; 16:14; 17:4,17; 18:7].) The term ‘God-fearers’ in Acts has traditionally been described as a technical term to designate Gentiles who attended the synagogue and were attracted by Jewish monotheism. They were not converts, however, because they did not submit to circumcision. Thus when Paul visited Jewish synagogues he found three groups of people: Jews, proselytes, and God-fearers. Paul was especially successful among God-fearers because the latter were reluctant to undergo the painful operation of circumcision, and they enthusiastically embraced Christianity because Paul contended that the rite was unnecessary. Peter’s encounter with Cornelius is used to defend the traditional view. Cornelius is described as one who fears God (Acts 10:2,22), and he seems devoted to the Jewish religion (10:2). But it is clear that Cornelius was not a proselyte because he was considered unclean both by Peter (10:28) and by the Jews in Jerusalem (11:2). Thus Cornelius seems to belong in the category of Gentiles who were devoted adherents of the synagogue, although he was not a member of the Jewish religion (cf. Luke 7:1-10). The above distinction is also found in other places in Acts. At the beginning of his speech in the synagogue at Pisidian Antioch Paul says: ‘Men of Israel, and you that fear God, listen’ (Acts 13:16). A clear distinction between Jews and God-fearers seems to be implied here, and since proselytes are considered part of Israel the term ‘Godfearers’ in the speech must refer to Gentiles who were attracted to the Jewish religion but had not yet been converted. Paul’s words later on in the speech are interpreted in the much same way. ‘Brethren, sons of the family of Abraham, and those among you that fear God’ (13:26). Again native Israelites and God-fearers seem to be clearly distinguished. Acts 13:43, which describes the aftermath of Paul’s speech at Pisidian Antioch, poses a problem for this interpretation. Luke says that when the meeting ended ‘many Jews and devout converts [sebomenn proselyten] to Judaism followed Paul and Barnabas.’ The word ‘devout’ (sebomenon) describes God-fearers elsewhere, but here that word precedes the word ‘proselytes,’ and yet God-fearers and proselytes are supposed to refer to two distinct groups. This problem is solved by those who hold the traditional view in two ways: either the verse is textually corrupt, or Luke is using ‘proselyte’ inaccurately. The rest of the passages in Acts could also fit with the traditional explanation. In Thessalonica Paul’s preaching was particularly effective among the God-fearers in the synagogue (Acts 17:4), and in Athens Paul argued in the synagogue with both Jews and God-fearers (v. 17). Paul departed from the synagogue in Corinth and began to teach in the house of Titius Justus, who was ‘a worshiper of God’ (Acts 18:7). So too, Lydia, who was converted in Philippi, is described as ‘a worshiper of God’ (16:14). In Pisidian Antioch the Jews aroused ‘the devout women of high standing,’ and Paul and Barnabas were ejected from the city (13:50). This traditional interpretation has been the object of trenchant criticism, especially from K. Lake and M. Wilcox. They both claimed that ‘God-fearers’ was not a technical term for Gentiles who attended the synagogue but never took the final step of becoming Jews. Such an interpretation does not necessarily imply that all Gentiles in the synagogues were full converts. It simply means that the terms ‘God-fearers’ and ‘worshipers of God’ were not technical terms. These terms were used to denote the piety of the people being described, whether they were Jews, proselytes, or Gentiles who were attracted to Judaism. When one looks at the use of the terms in Acts it seems unlikely that phoboumenos / sebomenos ton theon are technical terms. As we have already seen, those who maintain a traditional interpretation of Acts 13:43 claim that ‘proselytes’ in this verse is either a gloss or a Lukan inaccuracy. But it seems clear that such solutions are adopted because the combination ‘devout proselytes’ (sebomenon proselyten) confounds the theory that Godfearers are distinct from proselytes. It is better to admit that ‘God-fearer’ is not used technically in Acts. After all, there is no evidence that ‘proselytes’ is a gloss in v. 43. Furthermore, Luke uses ‘proselyte’ accurately elsewhere (Acts 2:10; 6:5). When Luke speaks of ‘devout proselytes’ in Acts 13:43 he is merely saying that these proselytes were pious. In addition, if Paul distinguished between Jews and proselytes in Acts 13:43, then it is possible that the distinction he draws between ‘Jews’ and ‘God-fearers’ in 13:16,26 was a distinction between Jews and proselytes rather than between Jews and uncircumcised Gentiles in the synagogue. This interpretation would be consistent with v. 43, and vv. 16 and 26 refer to the same event in Pisidian Antioch. The references to ‘devout women’ (13:50) and Lydia ‘a worshiper of God’ (16:14) may also suggest that the term sebomai is not used as a technical term for Gentile adherents to the synagogue. After all, women did not need to be circumcised to be initiated into Judaism. Thus most women who were attracted to Judaism probably became converts. If it is true that ‘God-fearers’ was not always a technical term, then one has to determine from context whether the term refers to a proselyte or a Gentile who attended the synagogue. Both Acts 17:17 and 18:7 do not give enough information to decide conclusively. The example of Cornelius shows clearly that some pious Gentiles were attracted to Judaism but had not consented to circumcision (cf. Juvenal Satires xiv.96-100). It is possible that the Gentiles described in Acts 17:17 and 18:7 fall into the same category as Cornelius. Nevertheless, the notion that ‘God-fearer’ was used as a technical term cannot be adequately supported by the evidence. The word simply relates that one is a pious person. Thus Jews, proselytes, and Gentiles who were attracted to Judaism were all described as ‘pious.’ The meaning of ‘God-fearer’ in any particular passage must be determined from the context. In conclusion, Paul may have won the greatest number of converts from the Gentile fringe in the synagogue, but there is simply not enough evidence in Acts to prove this traditional opinion. It cannot be doubted, however, that many of Paul’s converts were uncircumcised Gentiles. Otherwise, the need for the Apostolic Council in Acts 15 would be inexplicable. But this still does not prove that a significant number of uncircumcised converts were on the fringes of the synagogues, although it is possible that this was the case” [= ].

Catatan: ini sekedar tambahan referensi, dan tidak saya terjemahkan.

 

B)  Sekarang mari kita perhatikan Kornelius termasuk kelompok yang mana.

Ay 1-4,7,22,24,30-31: “(1) Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. (2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. (3) Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: ‘Kornelius!’ (4) Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: ‘Ada apa, Tuhan?’ Jawab malaikat itu: ‘Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. ... (7) Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia. ... (22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’ ... (24) Dan pada hari berikutnya sampailah mereka di Kaisarea. Kornelius sedang menantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul. ... (30) Jawab Kornelius: ‘Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan (31) dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapanNya”.

 

Ada macam-macam pandangan tentang diri Kornelius pada saat ini (sebelum ia diinjili oleh Petrus) dalam hubungannya dengan agama Yahudi / Yudaisme.

 

1)   Hampir semua penafsir menganggap Kornelius sebagai seorang ‘proselyte of the gate’ (= proselit pintu gerbang) / ‘semi proselyte’ (= semi proselit) / ‘half proselyte’ (= setengah proselit).

 

Lenski: “he and his whole family were proselyte of the gate. On the two kinds of proselytes see 2:10 and 8:27. ... Cornelius and his household were still Gentiles and were regarded as such by all Jews, were considered as standing only at the gate of the pale of the Jewish Church and were debarred from passing beyond the court of the Gentiles in the Temple. None such had as yet come into the Christian Church save the eunuch; those called ‘proselytes’ in 2:10 were such in the full sense of the word and hence were regarded as Jews” (= ia dan seluruh keluarganya adalah proselit pintu gerbang. Tentang 2 jenis proselit lihat Kis 2:11 dan 8:27. ... Kornelius dan rumah tangganya tetap adalah orang-orang non Yahudi dan dianggap seperti itu oleh semua orang-orang Yahudi, dianggap sebagai hanya berdiri di pintu gerbang dari batas dari Gereja Yahudi dan dihalangi untuk melewati batasan halaman orang-orang non Yahudi dalam Bait Allah. Tidak ada dari orang-orang seperti itu yang masuk ke dalam Gereja Kristen kecuali sida-sida; mereka yang disebut ‘proselit’ dalam 2:11 adalah proselit dalam arti penuh dari kata itu dan karena itu dianggap sebagai orang-orang Yahudi) - hal 394-395.

 

Kis 2:10-11 - “(10) Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, (11) baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”.

KJV: ‘proselytes’ (= proselit-proselit).

Catatan: dalam Kitab Suci Indonesia kata-kata ‘penganut agama Yahudi’ masuk dalam ay 11, tetapi dalam KJV bagian itu masuk dalam ay 10.

 

Kis 8:26-40 - “(26) Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ‘Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang sunyi. (27) Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. (28) Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. (29) Lalu kata Roh kepada Filipus: ‘Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!’ (30) Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: ‘Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?’ (31) Jawabnya: ‘Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?’ Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. (32) Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulutNya. (33) Dalam kehinaanNya berlangsunglah hukumanNya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usulNya? Sebab nyawaNya diambil dari bumi. (34) Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’ (35) Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. (36) Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ‘Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?’ (37) [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’] (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. (39) Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (40) Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea”.

 

Lenski (tentang Kis 8:26-dst): “The unnamed Ethiopian eunuch is the first Gentile converted to the Christian faith. He was, indeed, not a pagan but a proselyte of the gate and thus, however, still regarded as a Gentile by all Jews” (= Sida-sida Etiopia yang tidak diberi nama ini adalah orang non Yahudi pertama yang bertobat / pindah agama kepada iman Kristen. Ia memang bukanlah seorang kafir, tetapi seorang proselit pintu gerbang, dan dengan demikian, bagaimanapun, tetap dianggap sebagai orang non Yahudi oleh semua orang-orang Yahudi) - hal 335.

Catatan: jelas ada suatu kemiripan yang luar biasa antara sida-sida Etiopia ini dengan Kornelius. Mereka sama-sama adalah proselit pintu gerbang, yang lalu diinjili, dan lalu percaya kepada Kristus.

 

Adam Clarke: “What an excellent character is this! And yet the man was a Gentile! He was what a Jew would repute common and unclean: see Acts 10:28. He was, therefore, not circumcised; but, as he worshipped the true God, without any idolatrous mixtures, and was in good report among all the nation of the Jews, he was undoubtedly what was called a proselyte of the gate, though not a proselyte of justice, because he had not entered into the bond of the covenant by circumcision. This was a proper person, being so much of a Jew and so much of a Gentile, to form the connecting link between both people; and God chose him that the salvation of the Jews might with as little observation as possible be transmitted to the Gentiles. The choice of such a person, through whom the door of faith was opened to the heathen world, was a proof of the wisdom and goodness of God (= Alangkah bagusnya karakter orang ini! Tetapi orang ini adalah seorang non Yahudi! Ia adalah apa yang seorang Yahudi anggap sebagai najis atau tidak tahir: lihat Kis 10:28. Karena itu, ia tidak disunat; tetapi karena ia menyembah Allah yang benar, tanpa campuran penyembahan berhala apapun, dan terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, tak diragukan bahwa ia adalah apa yang disebut proselit pintu gerbang, sekalipun bukan proselit keadilan / kebenaran, karena ia belum memasuki ikatan perjanjian oleh sunat. Ini merupakan orang yang tepat, sebagian Yahudi dan sebagian non Yahudi, untuk membentuk mata rantai penghubung di antara kedua bangsa / kelompok; dan Allah memilihnya supaya keselamatan orang-orang Yahudi diteruskan kepada orang-orang non Yahudi dengan perhatian sesedikit mungkin. Pemilihan orang seperti itu, melalui siapa pintu iman terbuka kepada dunia kafir, merupakan bukti dari hikmat dan kebaikan Allah).

 

Wycliffe Bible Commentary: “A few Gentiles became converts to Judaism and accepted all Jewish practices, including circumcision. A larger number stopped short of circumcision but accepted the Jewish belief in God, synagogue worship, the ethical teachings of the OT, and some of the Jewish religious practices. These people, who were called ‘God-fearers,’ were familiar with the OT in the Greek version as it was read in the synagogues. Devout God-fearers provided the most fertile soil in which the Gospel took root. Cornelius was such a ‘semi-proselyte.’ (= Sedikit orang-orang non Yahudi pindah agama ke agama Yahudi dan menerima semua praktek-praktek Yahudi termasuk sunat. Sejumlah besar berhenti sebelum sunat tetapi menerima kepercayaan Yahudi kepada Allah, ibadah sinagog, ajaran etika dari Perjanjian Lama, dan sebagian praktek-praktek agama Yahudi. Orang-orang ini, yang disebut ‘orang-orang yang takut akan Allah’, akrab dengan Perjanjian Lama dalam versi Yunani karena itu dibacakan di sinagog-sinagog. Orang-orang saleh yang takut akan Allah ini menyediakan tanah yang paling subur dalam mana Injil berakar. Kornelius adalah ‘semi-proselit’ seperti itu).

 

2)   Ada juga kelompok penafsir yang tidak menggunakan istilah ‘proselit’, tetapi jelas menganggap bahwa Kornelius sangat berhubungan dengan agama Yahudi.

 

Barclay: “Cornelius was a God-fearer. In New Testament times this had become almost a technical term for Gentiles who, weary of the gods and the immoralities and the frustration of their ancestral faiths, had attached themselves to the Jewish religion. They did not accept circumcision and the Law; but they attended the synagogue and they believed in one God and in the pure ethic of Jewish religion” (= Kornelius adalah seorang yang takut akan Allah. Dalam jaman Perjanjian Baru ini hampir menjadi istilah tehnis untuk orang-orang non Yahudi, yang karena jemu dengan dewa-dewa dan ketidak-bermoralan dan rasa frustrasi tentang iman keturunan, telah melekatkan diri mereka sendiri pada agama Yahudi. Mereka tidak menerima sunat dan hukum Taurat; tetapi mereka menghadiri sinagog dan mereka percaya kepada satu Allah dan kepada etika murni dari agama Yahudi) - hal 79.

 

Calvin (tentang ay 22): “‘Cornelius, a just man.’ Cornelius’ servants commend their master not ambitiously, or to the end they may flatter him, but that Peter may the less abhor his company. And for this cause they say that he was approved of the Jews, that Peter may know that he was not estranged from true and sincere godliness. For even those which were superstitious, though they served idols, did boast that they were worshippers of God. But Cornelius could not have the Jews, who retained the worship of the true God alone, to be witnesses of his godliness, unless he had professed that he worshipped the God of Abraham with them (= ‘Kornelius, orang benar’. Pelayan-pelayan Kornelius memuji tuan mereka bukan secara ambisius, atau dengan tujuan untuk menjilatnya, tetapi supaya Petrus bisa berkurang dalam kejijikannya terhadap kumpulannya. Dan untuk alasan ini mereka berkata bahwa ia direstui oleh orang-orang Yahudi, supaya Petrus tahu bahwa ia bukanlah orang yang asing / jauh dari kesalehan yang benar dan tulus. Karena bahkan mereka yang mempercayai takhyul, sekalipun mereka menyembah berhala, membanggakan diri bahwa mereka adalah penyembah-penyembah Allah. Tetapi Kornelius tidak bisa mempunyai orang-orang Yahudi, yang mempertahankan penyembahan terhadap Allah yang benar saja, menjadi saksi-saksi dari kesalehannya, kecuali ia telah mengaku bahwa ia menyembah Allah dari Abraham bersama mereka).

Catatan: sekalipun Calvin tidak menggunakan istilah ‘proselit pintu gerbang’, tetapi kalimat terakhir dari kata-katanya di atas ini kelihatannya menunjukkan hal itu.

 

3)   Ada yang menganggap Kornelius sepenuhnya sebagai orang non Yahudi (Gentile), atau boleh dikatakan tak berhubungan dengan Yudaisme / agama Yahudi, atau boleh dikatakan bukan seorang proselyte sama sekali.

Mungkin dari kelompok ini yang mempunyai pandangan paling extrim adalah Albert Barnes.

 

Barnes’ Notes: ‘Cornelius’ This is a Latin name, and shows that the man was doubtless a Roman. It has been supposed by many interpreters that he was ‘a proselyte of the gate’; that is, one who had renounced idolatry, and who observed some of the Jewish rites, though not circumcised, and not called a Jew. But there is no sufficient evidence of this. The reception of the narrative of Peter (Acts 11:1-3) shows that the other apostles regarded him as a Gentile. In Acts 10:28, Peter evidently regards him as a foreigner-one who did not in any sense esteem himself to be a Jew. In Acts 11:1, it is expressly said that ‘the Gentiles’ had received the Word of God, evidently alluding to Cornelius and to those who were with him [= ‘Kornelius’. Ini merupakan nama Latin, dan menunjukkan bahwa orang ini tak diragukan adalah seorang Romawi. Telah diduga oleh banyak penafsir bahwa ia adalah ‘seorang proselit pintu gerbang’; yaitu seseorang yang telah meninggalkan penyembahan berhala, yang mentaati sebagian dari upacara-upacara Yahudi, sekalipun tidak disunat, dan tidak disebut sebagai orang Yahudi. Tetapi tidak ada bukti yang cukup tentang hal ini. Penerimaan / penangkapan cerita Petrus (Kis 11:1-3) menunjukkan bahwa rasul-rasul yang lain menganggapnya sebagai orang non Yahudi. Dalam Kis 10:28, Petrus dengan jelas menganggap dia sebagai seorang asing yang dalam arti apapun tidak menganggap dirinya sendiri sebagai orang Yahudi. Dalam Kis 11:1, dikatakan secara explicit bahwa ‘orang-orang non Yahudi’ telah menerima Firman Allah, yang dengan jelas menunjuk kepada Kornelius dan mereka yang bersama dengan dia].

Kis 11:1-3 - “(1) Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. (2) Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. (3) Kata mereka: ‘Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.’”.

Kis 10:28 - Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

 

Bisa juga ditambahkan:

a)   Kata-kata Petrus dalam Kis 15:7 - “Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya”.

KJV: ‘the Gentiles’ (= orang-orang non Yahudi).

b)   Kata-kata Yakobus dalam Kis 15:14 - “Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmatNya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi namaNya”.

KJV: ‘the Gentiles’ (= orang-orang non Yahudi).

Catatan: pasti yang dimaksudkan oleh Petrus dan Yakobus di sini adalah peristiwa Kornelius. Dan mereka menyebut Kornelius dengan istilah ‘Gentile’ (= orang non Yahudi).

 

Saya menganggap argumentasi ini tak mempunyai kekuatan, karena seorang ‘proselit pintu gerbang’ memang dianggap sebagai orang non Yahudi (Gentile), dan memang tak disunat!

 

Barnes’ Notes: ‘And one that feared God’ This is often a designation of piety. See notes on Acts 9:31. It has been supposed by many that the expressions here used denote that Cornelius was a Jew, or was instructed in the Jewish religion, and was a proselyte. But this by no means follows. It is probable that there might have been among the Gentiles a few at least who were fearers of God, and who maintained his worship according to the light which they had. So there may be now persons found in pagan lands who in some unknown way have been taught the evils of idolatry and the necessity of a purer religion, and who may be prepared to receive the gospel. The Sandwich Islands were very much in this state when the American missionaries first visited them. They had thrown away their idols, and seemed to be waiting for the message of mercy and the Word of eternal life, as Cornelius was. A few other instances have been found by missionaries in pagan lands of those who have thus been prepared by a train of providential events, or by the teaching of the Spirit, for the gospel of Christ (= ‘Dan seseorang yang takut akan Allah’. Ini sering merupakan sesuatu yang menunjukkan kesalehan. Lihat catatan tentang Kis 9:31. Telah diduga oleh banyak orang bahwa ungkapan yang digunakan di sini menunjukkan bahwa Kornelius adalah seorang Yahudi, atau diajar dalam agama Yahudi, dan adalah seorang proselit. Tetapi ini sama sekali tidak berarti demikian. Adalah mungkin bahwa di antara orang-orang non Yahudi ada beberapa / sedikit yang setidaknya adalah orang-orang yang takut akan Allah, dan yang melakukan ibadahnya sesuai dengan terang yang mereka miliki. Demikianlah sekarang ada orang-orang yang ditemukan di negara-negara kafir yang dengan suatu cara yang tak diketahui telah diajar tentang jahatnya penyembahan berhala, dan perlunya suatu agama yang lebih murni, dan yang bisa disiapkan untuk menerima injil. Pulau-pulau Sandwich ada dalam keadaan ini pada saat misionaris Amerika pertama-tama mengunjungi mereka. Mereka telah membuang berhala-berhala mereka, dan kelihatannya menunggu berita tentang belas kasihan dan Firman tentang hidup kekal, seperti Kornelius. Beberapa contoh lain telah ditemukan oleh misionaris-misionaris di negara-negara kafir, tentang mereka yang telah dipersiapkan seperti itu oleh rangkaian peristiwa-peristiwa yang diatur oleh Providensia Allah, atau oleh pengajaran dari Roh Kudus, untuk injil Kristus).

 

Saya menganggap kasus yang diceritakan Barnes ini sangat berbeda dengan kasus Kornelius, yang melakukan banyak hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang proselit. Bukti-bukti lihat di bawah.

 

International Standard Bible Encyclopedia (Revised Edition) dengan topik ‘Cornelius’: The exact importance of the incident depends upon the position of Cornelius before it occurred. Certainly he was not a proselyte of the sanctuary, circumcised, under the law, a member of the Jewish communion. This is abundantly evident from Acts 10:28,34,45; 11:3,18; 15:7,14. But was he not an inferior form of proselyte, later called ‘proselytes of the gate’? This question has been much debated and is still under discussion. Ramsay (SPT, p. 43) says that the expression ‘God-fearing’ is always used in Acts with reference to this kind of proselyte. Such were bound to observe certain regulations of purity, probably those, this author thinks, mentioned in Acts 15:29, and which stand in close relation to the principles laid down in Lev 17 for the conduct of strangers dwelling among Israel. Renan, on the other hand, says that Cornelius was not a proselyte at all, but simply a devout Gentile who adopted some of the Jewish ideas and religious customs which did not involve a special profession. The importance of the whole transaction to the development of the Church seems to depend on the circumstance that Cornelius was probably not a proselyte at all. Thus we regard Cornelius as literally the firstfruits of the Gentiles [= Kepentingan yang tepat / persis dari peristiwa ini tergantung pada posisi dari Kornelius sebelum peristiwa itu terjadi. Pasti ia bukanlah proselit dari Ruang Suci, disunat, di bawah hukum Taurat, anggota dari komunitas Yahudi. Ini sangat jelas dari Kis 10:28,34,45; 11:3,18; 15:7,14. Tetapi apakah ia bukan seseorang dari bentuk proselit yang lebih rendah, yang belakangan disebut ‘proselit pintu gerbang’? Pertanyaan ini telah banyak diperdebatkan dan tetap didiskusikan. Ramsay (SPT, p. 43) mengatakan bahwa istilah ‘takut akan Allah’ selalu digunakan dalam Kisah Rasul berhubungan dengan jenis proselit ini. Orang-orang seperti itu harus mentaati peraturan-peraturan kemurnian tertentu, mungkin, pengarang ini menganggap, yang disebutkan dalam Kis 15:29, dan yang berdiri dalam hubungan yang dekat dengan prinsip-prinsip yang diberikan dalam Im 17 bagi tingkah laku orang-orang asing yang tinggal di antara orang-orang Israel. Di sisi lain, Renan mengatakan bahwa Kornelius bukanlah seorang proselit sama sekali, tetapi hanya merupakan seorang non Yahudi yang saleh yang menerima sebagian dari gagasan-gagasan dan kebiasaan-kebiasaan agamawi Yahudi yang tidak melibatkan suatu pengakuan yang khusus. Kepentingan dari seluruh transaksi bagi perkembangan dari Gereja kelihatannya tergantung pada keadaan bahwa Kornelius bukanlah seorang proselit sama sekali. Demikianlah kami menganggap Kornelius secara hurufiah sebagai buah pertama dari orang-orang non Yahudi] - PC Study Bible version 5.

Catatan: bagian yang saya beri garis bawah ganda sangat kontras dengan alasan Adam Clarke di atas berkenaan dengan pemilihan Kornelius yang adalah seorang proselit pintu gerbang. Menurut saya, alasan yang diberikan oleh International Standard Bible Encyclopedia ini tak beralasan.

 

McClintock and Strong Encyclopedia: The religious position of Cornelius before his interview with Peter has been the subject of much debate. On the one side it is contended that he was what is called a proselyte of the gate, or a Gentile, who, having renounced idolatry and worshipping the true God, submitted to the seven (supposed) precepts of Noah, frequented the synagogue, and offered sacrifices by the hands of the priests, but not having received circumcision, was not reckoned among the Jews. In support of this opinion it is pleaded that Cornelius is ‎fobou/meno$ to\n Qeo/n ‎(a man fearing God), ver. 2, the usual appellation, it is alleged, for a proselyte of the gate, as in chap. Acts 13:16,26, and elsewhere; that he prayed at the usual Jewish hours of prayer (Acts 10:30); that he read the Old Testament, because Peter refers him to the prophets (x. 43); and that he gave much alms to the Jewish people (Acts 10:2,22). On the other side it is answered that the phrases ‎fobou/menoi to\n Qeo/n‎, and the similar phrases eu)labei=$ ‎and eu)sebei=$, are used respecting any persons imbued with reverence towards God (Acts 10:35; Luke 1:50; 2:25; Col 3:22; Rev 11:18); that he is styled by Peter ‎a)llo/fulo$ ‎(a man of another race or nation), with whom it was unlawful for a Jew to associate, whereas the law allowed to foreigners a perpetual residence among the Jews, provided they would renounce idolatry and abstain from blood (Lev 17:10,11,13), and even commanded the Jews to love them (Lev 19:33,34); that they mingled with the Jews in the synagogue (Acts 14:1) and in private life (Luke 7:3); that, had Cornelius been a proselyte of the gate, his conversion to Christianity would not have occasioned so much surprise to the Jewish Christians (Acts 10:45), nor would ‘they that were of the circumcision’ have contended with Peter so much on his account (Acts 11:2); that he is expressly classed among the Gentiles by James (Acts 15:14), and by Peter himself, when claiming the honor of having first preached to the Gentiles (Acts 15:7); that the remark of the opposing party at Jerusalem, when convinced, ‘then hath God also to the Gentiles granted repentance unto life,’ would have been inapplicable upon the very principles of those who assert that Cornelius was a proselyte, since they argue from the traditions of modern Jews, the most eminent of whom, Maimonides, admits a sincere proselyte to be in a state of salvation. The other arguments, derived from the observance of the Jewish hours of prayer by Cornelius, and his acquaintance with the Old Testament, are all resolvable into a view of his religious position, which will shortly be stated. The strongest objection against the supposition that Cornelius was a proselyte of the gate arises from the very reasonable doubt whether any such distinction existed in the time of the apostles (see Tomline, Elements of Theology, 1:266 sq.). Dr. Lardner has remarked that the notion of two sorts of proselytes is not to be found in any Christian writer before the fourteenth century (Works, 6:522). See also Jennings’s Jewish Antiquities (bk. 1, ch. 3). The arguments on the other side are ably stated by Townsend (Chrolnolog. N. Test. note in loc.). See Proselyte. On the whole, the position of Cornelius with regard to religion appears to have been in that class of persons described by bishop Tomline, consisting of Gentiles who had so far benefited by their contact with the Jewish people as to have become convinced that theirs was the true religion, who consequently worshipped the true God, were acquainted with the Scriptures of the Old Testament, most probably in the Greek translation, and observed several Jewish customs, as, for instance, their hours of prayer, or anything else that did not involve an act of special profession. This class of persons seems referred to in Acts 13:16, where they are plainly distinguished from the Jews, though certainly mingled with them. To the same class is to be referred Candace’s treasurer (Acts 8:27, etc.); and in earlier times the midwives of Egypt (Ex 1:17), Rahab (Josh 6:25), Ruth, Araunah the Jebusite (2 Sam 24:18, etc.), the persons mentioned 1 Kings 8:41,42,43, Naaman (2 Kings 5:16,17). See also Josephus, Antiq. 14:7, 2, and his account of Alexander the Great going into the Temple, and offering sacrifice to God according to the direction of the high-priest (ibid. 11:8, 5); of Antiochus the Great (ibid. 12:3, 3, 4), and of Ptolemy Philadelphus (ibid. 12:2, 1, etc.). Under the influence of these facts and arguments, we regard Cornelius as having been selected of God to become the first-fruit of the Gentiles. His character appears suited, as much as possible, to abate the prejudices of the Jewish converts against what appeared to them so great an innovation. It is well observed by Theophylact that Cornelius, though neither a Jew nor a Christian, lived the life of a good Christian. He was ‎eu)sebh/$, influenced by spontaneous reverence to God. He practically obeyed the restraints of religion, for he feared God, and this latter part of the description is extended to all his family or household (ver. 2). He was liberal in alms to the Jewish people, which showed his respect for them; and he ‘prayed to God always,’ at all the hours of prayer observed by the Jewish nation. Such piety, obedience, faith, and charity prepared him for superior attainments and benefits, and secured to him their bestowment (Ps 25:9; 1; 23; Matt 13:12; Luke 8:15; John 7:17). His position in command at Caesarea doubtless brought him into contact with intelligent Jews, from whom he learned the truths respecting the Messiah, and he seems to have been prepared by a personal knowledge of the external facts of Christianity to welcome the message of Peter as of divine authority [= ... Keberatan terkuat terhadap anggapan bahwa Kornelius adalah seorang proselit pintu gerbang muncul dari keraguan yang sangat masuk akal apakah pembedaan seperti itu sudah ada pada jaman rasul-rasul (lihat Tomline, Elements of Theology, 1:266 sq.). Dr. Lardner mengatakan bahwa gagasan tentang 2 jenis proselit tidak ditemukan dalam penulis Kristen manapun sebelum abad ke 14 (Works, 6:522). Lihat juga Jennings’s Jewish Antiquities (bk. 1, ch. 3). Argumentasi-argumentasi pada sisi yang lain dengan cakap dinyatakan oleh Townsend (Chrolnolog. N. Test. note in loc.). ...] - PC Study Bible version 5.

Catatan: Encyclopedia di atas ini memberikan argumentasi pro dan kontra yang sangat panjang tentang apakah Kornelius adalah seorang proselit pintu gerbang atau bukan. Yang saya tekankan dan terjemahkan hanyalah bagian yang saya garis-bawahi.

 

Pulpit Commentary (tentang ay 2): It is an interesting question as to what was the precise religions status of Cornelius, whether he was a proselyte in any technical sense. But the whole narrative, in which he is spoken of simply as a Gentile and uncircumcised, seems to indicate that, though he had learnt from the Jews to worship the true God, and from the Jewish Scriptures read or heard in the synagogue to practice those virtues which went up for a memorial before God, yet he was in no sense a proselyte (= Merupakan suatu pertanyaan yang menarik berkenaan dengan status dari Kornelius, apakah ia adalah seorang proselit dalam arti tekhnis apapun. Tetapi seluruh cerita, dalam mana ia dibicarakan hanya sebagai seorang non Yahudi dan tidak disunat, kelihatannya menunjukkan bahwa, sekalipun ia telah mempelajari dari orang-orang Yahudi untuk menyembah Allah yang benar, dan dari Kitab Suci Yahudi membaca atau mendengar di sinagog untuk mempraktekkan hal-hal baik yang naik ke atas sebagai suatu peringatan di hadapan Allah, tetapi ia sama sekali bukan seorang proselit) - PC Study Bible version 5.

 

J. A. Alexander: “‘Devout,’ pious, reverent, not merely in the heathen sense, but as the fruit of divine grace. ... ‘Which gave much alms,’ or rather practising many charities, not merely to the poor in general, but to the people, i.e. the chosen people, the children of Israel, among whom he lived and from whom he had learned the true religion. ‘Praying to God,’ or asking of God, i.e. looking to Jehovah, or the God of Israel, and not to idols, ... This is not the description of a proselyte, in any technical or formal sense, but of a Gentile whom divine grace had prepared for the immediate reception of the Gospel, without passing through the intermediate state of Judaism, although long familiar with it, and indebted to it for such knowledge of the word of God as he possessed (= ‘Saleh’, saleh, takut / hormat, bukan semata-mata dalam arti kafir, tetapi sebagai buah dari kasih karunia ilahi. ... ‘yang memberi banyak sedekah’, atau mempraktekkan kasih / kemurahan hati, tidak semata-mata kepada orang-orang miskin secara umum, tetapi kepada bangsa itu, yaitu kepada bangsa pilihan, anak-anak Israel, di antara siapa ia tinggal dan dari siapa ia telah mempelajari agama yang benar. ‘Berdoa kepada Allah’ atau meminta dari Allah, yaitu memandang kepada Yehovah, atau Allah Israel, dan bukan kepada berhala-berhala, ... Ini bukan penggambaran dari seorang proselit, dalam arti tehnis atau formal apapun, tetapi dari seorang non Yahudi yang telah dipersiapkan oleh kasih karunia ilahi untuk penerimaan langsung / segera terhadap Injil, tanpa melewati keadaan perantara dari agama Yahudi, sekalipun ia akrab cukup lama dengannya, dan berhutang kepadanya untuk pengetahuan tentang firman Allah seperti itu seperti yang ia miliki) - hal 389.

 

Menurut saya, pandangan di atas ini, yang menganggap Kornelius sama sekali bukan proselit merupakan suatu pandangan yang sangat tidak masuk akal, mengingat bahwa:

 

a)   Ia dikatakan sebagai ‘saleh’ (ay 2).

 

b)   Ia dan seisi rumahnya dikatakan ‘takut akan Allah’ (ay 2,22).

Perhatikan bahwa tidak dikatakan bahwa ia takut akan dewanya, tetapi akan Allah! Juga perhatikan bahwa Kornelius mempengaruhi seisi rumahnya, sehingga mereka semua juga takut akan Allah!

 

c)   Ia ‘memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi (ay 2).

Perhatikan bahwa di sini dikatakan bahwa ia memberi banyak sedekah secara khusus kepada umat Yahudi. Ia bisa melakukan hal itu, tidak bisa tidak, karena ia setuju dengan ajaran agama mereka, dan merasa berhutang budi pada ajaran agama mereka yang telah ia terima sebagai kebenaran!

 

d)   Ia ‘senantiasa berdoa kepada Allah (ay 2).

Tentang doa Kornelius ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

 

1.   Ia berdoa kepada Allah, bukan kepada berhala / dewa.

 

2.   Ia berdoa pada pk. 3 petang (ay 3,30), yang merupakan jam doa Yahudi!

Ay 30 mengatakan bahwa Kornelius mendapat penglihatan tentang malaikat itu pada saat ia sedang berdoa, dan itu terjadi pada pk. 3 petang. Ini merupakan saat doa orang-orang Yahudi, dan ini merupakan suatu argumentasi bahwa Kornelius memeluk agama Yahudi, karena ia berdoa pada saat yang merupakan jam doa Yahudi.

Adam Clarke: “I‎t was about the ninth hour of the day, answering to our three o’clock in the afternoon (see note at Acts 3:1), the time of public prayer, according to the custom of the Jews” [= Itu kira-kira jam yang ke 9 dari hari itu, sesuai dengan pk. 3 petang (lihat catatan pada Kis 3:1), saat doa umum, menurut kebiasaan orang-orang Yahudi].

 

Bahwa Kornelius berdoa sesuai dengan jam doa Yahudi, juga menunjukkan bahwa Kornelius berdoa secara rutin, bukan hanya pada saat tertentu pada saat ia mendapat masalah atau dalam bahaya.

Pulpit Commentary: Not merely to prayer as a sudden act, forced on by calamity or distress, but to prayer as the daily expression of the cherished spirit of dependence on God (= Bukan semata-mata pada doa sebagai suatu tindakan mendadak, didesak oleh bencana atau kesukaran, tetapi pada doa sebagai ungkapan harian dari roh yang menghargai ketergantungan pada Allah) - hal 351.

 

3.   Doanya mencapai Allah (ay 4,31), yaitu didengar dan dikabulkan oleh Allah!

 

4.   Isi doa Kornelius.

Ini memang tidak disebutkan secara explicit, tetapi bisa diperkirakan, karena malaikat itu datang kepadanya dalam penglihatan untuk menjawab doanya (ay 4,31).

Lenski: “Cornelius did more than merely to use the office of Jewish prayer; he begged God to enlighten his heart, to fulfill the great Messianic promises, to grant him a share in those promises. These were the petitions that were now to receive a notable answer” (= Kornelius melakukan lebih dari sekedar menggunakan jasa doa Yahudi; ia memohon Allah untuk menerangi hatinya, untuk menggenapi janji-janji agung yang berkenaan dengan Mesias, untuk memberikan kepadanya bagian dalam janji-janji itu. Ini adalah permohonan-permohonan yang sekarang menerima jawaban yang menyolok) - hal 397-398.

Kalau doanya berhubungan dengan Mesias, tidak mungkin ia tak mempunyai sangkut paut dengan agama Yahudi.

 

Lenski: “Cornelius cultivated the two outstanding virtues of the Jewish religion: he gave abundant alms and he was diligent in prayer. The beneficiaries of his charity were ‘the people,’ lao~ so often signifying the Jewish people. He had found so much through them that he made generous and grateful return” [= Kornelius mengusahakan 2 hal baik yang menonjol / terkemuka dalam agama Yahudi: ia memberi banyak sedekah dan ia rajin / tekun dalam doa. Penerima dari kemurahan hatinya adalah ‘bangsa itu’, lao~ (LAOS) begitu sering menunjuk kepada bangsa Yahudi. Ia telah mendapatkan begitu banyak melalui mereka sehingga ia melakukan balasan yang murah hati dan penuh terima kasih] - hal 395.

 

e)   Ia ‘terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi’ (ay 22).

Calvin, dalam kata-katanya yang telah saya kutip di atas, secara benar menjadikan ini sebagai bukti bahwa Kornelius pasti setuju dengan agama Yahudi, karena kalau tidak, tidak mungkin ia akan terkenal baik dalam kalangan bangsa Yahudi.

Ingat bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa yang sangat fanatik dalam hal agama, dan karena itu tidak mungkin sekedar karena sedekah dari Kornelius kepada orang-orang Yahudi menyebabkan ia bisa terkenal baik dalam kalangan orang-orang Yahudi, kalau ia tidak setuju dengan agama Yahudi.

 

f)    Ia dikatakan sebagai ‘seorang benar’ (ay 22).

Ay 22: Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’.

Ini salah terjemahan!

KJV: ‘a just man’ (= seorang yang adil / benar).

RSV: ‘an upright ... man’ (= seorang ... yang lurus / jujur).

NIV/NASB: ‘a righteous ... man’ (= seorang ... yang benar).

Kata Yunani yang dipakai adalah DIKAIOS, dan menurut saya terjemahan ‘orang benar’ adalah yang terbaik.

 

Bdk. Ro 3:10 - “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”.

Ia hanya bisa dikatakan sebagai ‘orang benar’ kalau ia mempunyai iman, dan tidak mungkin ia mempunyai iman kalau ia tak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi.

 

g)   Ia mempunyai bawahan seorang prajurit yang saleh (ay 7).

Bisa dipastikan bahwa prajurit ini bisa seperti itu karena pengaruh dari Kornelius! Jadi, Kornelius bukan hanya mempengaruhi keluarganya, tetapi juga tentara-tentara bawahannya!

 

h)   Ia mengumpulkan sahabat-sahabat dan keluarganya untuk mendengarkan ajaran / pemberitaan Injil dari Petrus (ay 24).

 

Menurut saya, tidak ada kemungkinan bahwa seseorang yang kafir total bisa hidup seperti ini! Semua ini bukan hanya menunjukkan bahwa ia mempunyai sangkut paut dengan agama Yahudi, tetapi juga bahwa ia mempunyai iman dalam arti tertentu.

 

Menurut saya, pembahasan bagian ini sangat penting, karena kalau Kornelius sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan agama Yahudi (seperti pandangan Albert Barnes), maka ia tidak mungkin bisa mempunyai iman dalam arti apapun. Mengapa? Karena pada saat itu firman tertulis hanya ada dalam kalangan bangsa Yahudi, dan tanpa firman tidak mungkin bisa ada iman.

 

II) Kornelius dan iman.

 

Sekarang kita akan mempersoalkan pertanyaan ini: sebelum Kornelius diinjili oleh Petrus, apakah ia sudah beriman atau belum? Boleh dikatakan semua penafsir yang injili / Alkitabiah menganggap bahwa Kornelius sudah beriman pada saat itu. Ini yang menyebabkan muncul kehidupan yang begitu saleh. Dan iman itu juga yang menyebabkan kehidupannya diterima oleh Allah.

 

Pada saat yang sama, semua penafsir juga menentang pandangan yang menganggap bahwa Kornelius diterima oleh Allah karena perbuatan baiknya dan bukan karena imannya.

 

Apa dasarnya untuk mengatakan bahwa Kornelius sudah beriman?

 

1)   Karena Kitab Suci menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang / tindakan seseorang berkenan kepada Allah, kalau orang itu tak beriman.

 

Ibr 11:4-6 - “(4) Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. (5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (6) Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”.

 

a)   Ibr 11:4 - “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati”.

 

Bdk. Kej 4:1-5a - “(1) Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ‘Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.’ (2) Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. (3) Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; (4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (5a) tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya”.

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): “‘By faith Abel offered,’ etc. The Apostle’s object in this chapter is to show, that however excellent were the works of the saints, it was from faith they derived their value, their worthiness, and all their excellences; and hence follows what he has already intimated, that the fathers pleased God by faith alone (= ‘Karena iman Habel telah mempersembahkan’, dst. Tujuan sang rasul dalam pasal ini adalah untuk menunjukkan bahwa, bagaimanapun bagus / hebatnya pekerjaan / perbuatan baik dari orang-orang kudus, adalah dari iman pekerjaan / perbuatan baik itu mendapatkan nilai mereka, kelayakan mereka, dan semua kebagusan mereka; dan karena itu maka mengikutilah apa yang telah ia isyaratkan, bahwa bapa-bapa memperkenan Allah hanya oleh iman).

 

Kalau ini diterapkan pada ajaran Pdt. Stephen Tong tentang filosof Cina itu, maka jelas bahwa karena filosof Cina itu tidak beriman, maka perbuatan baiknya, yang begitu ditonjolkan oleh Pdt. Stephen Tong itu, sehebat apapun itu adanya, tidak punya nilai apapun di hadapan Allah.

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): He says, first, that Abel’s sacrifice was for no other reason preferable to that of his brother, except that it was sanctified by faith: for surely the fat of brute animals did not smell so sweetly, that it could, by its odor, pacify God. The Scripture indeed shows plainly, why God accepted his sacrifice, for Moses’s words are these, ‘God had respect to Abel, and to his gifts.’ It is hence obvious to conclude, that his sacrifice was accepted, because he himself was graciously accepted. But how did he obtain this favor, except that his heart was purified by faith (= Ia berkata, pertama, bahwa persembahan Habel bukan karena alasan apapun lebih diterima dari persembahan saudaranya, kecuali bahwa itu dikuduskan oleh iman: karena pastilah lemak dari binatang tidak berbau begitu harum, sehingga oleh baunya itu bisa menenangkan Allah. Kitab Suci menunjukkan dengan jelas mengapa Allah menerima persembahannya, karena kata-kata Musa adalah ini: ‘Allah / TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu’ (Kej 4:4b). Jadi jelas bahwa kesimpulannya adalah, bahwa persembahannya diterima karena ia sendiri diterima dengan kasih karunia. Tetapi bagaimana ia mendapatkan kebaikan ini, kecuali bahwa hatinya dimurnikan oleh iman).

 

Calvin (tentang Ibr 11:4): “‘God testifying,’ etc. He confirms what I have already stated, that no works, coming from us can please God, until we ourselves are received into favor, or to speak more briefly, that no works are deemed just before God, but those of a just man: for he reasons thus, - God bore a testimony to Abel’s gifts; then he had obtained the praise of being just before God. This doctrine is useful, and ought especially to be noticed, as we are not easily convinced of its truth; for when in any work, anything splendid appears, we are immediately rapt in admiration, and we think that it cannot possibly be disapproved of by God: but God, who regards only the inward purity of the heart, heeds not the outward masks of works. Let us then learn, that no right or good work can proceed from us, until we are justified before God [= ‘Allah bersaksi’ dst / ‘ia memperoleh kesaksian’. Ia menegaskan apa yang telah saya nyatakan, bahwa tak ada pekerjaan / perbuatan baik, yang datang dari kita yang dianggap benar di hadapan Allah, kecuali pekerjaan / perbuatan baik dari orang yang benar: karena ia berargumentasi sebagai berikut, - Allah memberi suatu kesaksian pada persembahan Habel; pada saat itu ia telah mendapatkan pujian bahwa ia benar di hadapan Allah. Doktrin ini berguna, dan harus diperhatikan secara khusus, karena kita tidak mudah diyakinkan tentang kebenarannya: karena pada waktu dalam pekerjaan / perbuatan baik apapun, terlihat adanya apapun yang baik, kita segera dipenuhi dengan kekaguman (bandingkan dengan perbuatan baik filosof Cina itu di mata Pdt. Stephen Tong), dan kita berpikir bahwa itu tidak mungkin bisa tidak direstui oleh Allah: tetapi Allah, yang hanya memandang / melihat pada kemurnian batin dari hati, tidak memperhatikan topeng lahiriah dari pekerjaan / perbuatan baik. Maka, hendaklah kita belajar, bahwa tidak ada pekerjaan / perbuatan baik atau benar bisa keluar dari kita, sampai kita dibenarkan di hadapan Allah].

 

Matthew Henry (tentang Ibr 11:4): Here were two persons, brethren, both of whom went in to worship God, and yet there was a vast difference. Cain was the elder brother, but Abel has the preference. It is not seniority of birth, but grace, that makes men truly honourable. The difference is observable in their persons: Abel was an upright person, a righteous man, a true believer; Cain was a formalist, had not a principle of special grace. It is observable in their principles: Abel acted under the power of faith; Cain only from the force of education, or natural conscience. There was also a very observable difference in their offerings: Abel brought a sacrifice of atonement, brought of the firstlings of the flock, acknowledging himself to be a sinner who deserved to die, and only hoping for mercy through ‘the great sacrifice;’ Cain brought only a sacrifice of acknowledgment, a mere thank-offering, the fruit of the ground, which might, and perhaps must, have been offered in innocency; here was no confession of sin, no regard to the ransom; this was an essential defect in Cain’s offering. There will always be a difference between those who worship the true God; ... some, like the Pharisee, will lean to their own righteousness; others, like the publican, will confess their sin, and cast themselves upon the mercy of God in Christ [= Di sini ada dua orang, bersaudara, yang keduanya pergi untuk berbakti / menyembah Allah, tetapi di sana ada suatu perbedaan yang besar. Kain adalah saudara yang lebih tua, tetapi Habel lebih disukai. Bukan kesenioran dari kelahiran, tetapi kasih karunia, yang membuat manusia betul-betul terhormat. Perbedaan itu tampak dalam diri mereka: Habel adalah orang jujur / lurus, orang benar, orang percaya yang sungguh-sungguh; Kain adalah orang yang menekankan praktek lahiriah, tidak mempunyai prinsip / elemen hakiki dari kasih karunia khusus. Itu tampak dari prinsip mereka: Habel bertindak di bawah kuasa dari iman; Kain bertindak hanya dari kekuatan dari pendidikan, atau hati nurani alamiah (bukankah tindakan Kain ini sama seperti perbuatan baik filosof Cina itu?). Juga sangat tampak adanya perbedaan dalam persembahan mereka: Habel membawa suatu korban penebusan, membawa anak sulung dari kawanan dombanya, mengakui dirinya sebagai orang berdosa yang layak untuk mati, dan hanya berharap untuk belas kasihan melalui ‘korban yang agung’; Kain membawa hanya korban pengakuan, semata-mata suatu persembahan syukur, hasil dari tanah, yang bisa, dan mungkin harus, dipersembahkan dalam ketidak-berdosaan; di sini tidak ada pengakuan dosa, tidak ada hormat / penghargaan pada penebusan; ini merupakan cacat utama dari persembahan Kain. Selalu ada perbedaan di antara mereka yang menyembah Allah yang benar; ... sebagian, seperti orang Farisi, akan bersandar pada kebenaran mereka sendiri; yang lain, seperti pemungut cukai, akan mengakui dosa mereka, dan melemparkan diri mereka sendiri pada belas kasihan Allah dalam Kristus].

 

Matthew Henry: When the fire, ... consumed the offering, it was a sign that the mercy of God accepted the offerer for the sake of the great sacrifice. ... if our persons and offerings be accepted, it must be through faith in the Messiah (= Pada saat api, ... membakar habis persembahan, itu adalah suatu tanda bahwa belas kasihan Allah menerima si pemberi persembahan demi ‘korban yang agung’. ... jika diri atau persembahan kita diterima, itu harus melalui iman kepada sang Mesias).

 

Adam Clarke: “Cain and Abel both brought offerings to the altar of God, probably the altar erected for the family worship. As Cain was a husbandman, he brought a ‎minchah, or eucharistic offering, of the fruits of the ground, by which he acknowledged the being and providence of God. Abel, being a shepherd or a feeder of cattle, brought, not only the eucharistic offering, but also of the produce of his flock as a sin-offering to God, by which he acknowledged his own sinfulness, God’s justice and mercy, as well as his being and providence. Cain, not at all apprehensive of the demerit of sin, or God’s holiness, contented himself with the mincha, or thank-offering: this God could not, consistently with his holiness and justice, receive with complacency; the other, as referring to him who was the Lamb slain from the foundation of the world, God could receive, and did particularly testify his approbation. Though the mincha, or eucharistic offering, was a very proper offering in its place, yet this was not received, because there was no sin-offering (= Kain dan Habel membawa persembahan ke mezbah Allah, mungkin mezbah yang didirikan untuk ibadah keluarga. Karena Kain adalah seorang petani, ia membawa MINCHAH, atau persembahan syukur, dari hasil tanah, dengan mana ia mengakui keberadaan Allah dan ProvidensiaNya. Habel, yang adalah seorang gembala atau pemberi makan ternak, membawa bukan hanya persembahan syukur, tetapi juga hasil dari kawanan dombanya sebagai persembahan / korban penghapus dosa kepada Allah, dengan mana ia mengakui keberdosaannya, keadilan dan belas kasihan Allah, maupun keberadaan dan ProvidensiaNya. Kain, sama sekali tidak prihatin / kuatir tentang cela dari dosa, atau kekudusan Allah, puas dengan mincha, atau persembahan syukur: ini Allah tak bisa, secara konsisten dengan kekudusan dan keadilanNya, menerima dengan kepuasan; yang lain, karena menunjuk pada Dia yang adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan, Allah bisa menerima, dan secara khusus menyaksikan penerimaanNya. Sekalipun mincha, atau persembahan syukur, merupakan suatu persembahan yang benar di tempatnya, tetapi ini tidak diterima, karena tidak ada persembahan / korban penghapus dosa).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Ibr 11:4): “‘More excellent sacrifice’ - because in faith. Now faith must have some revelation of God on which it fastens. The revelation was doubtless God’s command to sacrifice animals (‘the firstlings of the flock’) in token of the forfeiture men’s life by sin, and as a type of the promised bruiser of the serpent’s head (Gen 3:15), Himself to be bruised as the one sacrifice: ... Cain, in unbelieving self-righteousness, presented merely a thank-offering, not like Abel, feeling his need of the propitiatory sacrifice appointed for sin. God ‘had respect (first) unto Abel and (then) to his offering’ (Gen 4:4). Faith causes the person to be accepted, then his offering. Even an animal sacrifice, though of God’s appointment, would not have been accepted had it not been in faith [= ‘Korban yang lebih baik’ - karena dalam / dengan iman. Dan iman harus mempunyai wahyu dari Allah pada mana itu diikat / dilekatkan. Wahyu itu tak diragukan adalah perintah Allah untuk mengorbankan binatang (‘anak sulung dari kawanan domba’) sebagai tanda dari hilangnya hidup manusia oleh dosa, dan sebagai suatu type dari penghancur kepala ular yang dijanjikan (Kej 3:15), DiriNya sendiri memar / disakiti sebagai satu korban: ... Kain, dalam sikap merasa diri sendiri benar, dan ketidak-percayaan, semata-mata memberikan persembahan syukur, tidak seperti Habel, merasakan kebutuhannya tentang suatu korban pendamaian / penebusan yang ditetapkan untuk dosa. Allah ‘telah menghormati (pertama / mula-mula) Habel dan (lalu) persembahannya’ (Kej 4:4). Iman menyebabkan orangnya diterima, lalu persembahannya. Bahkan korban binatang, sekalipun merupakan penetapan Allah, tidak akan diterima seandainya itu tidak dipersembahkan dengan iman].

 

Barnes’ Notes: It has been commonly asserted, that it was faith in Christ - looking forward to his coming, and depending on his sacrifice when offering what was to be a type of him. ... Sacrifice, as a type of the Redeemer’s great offering, was instituted early in the history of the world. There can be no reason assigned for the offering of ‘blood’ as an atonement for sin, except that it had originally a reference to the great atonement which was to be made by blood; and as the salvation of man depended on this entirely, it is probable that that would be one of the truths which would be first communicated to man after the fall (= Pada umumnya ditegaskan bahwa adalah iman kepada Kristus - memandang ke depan pada kedatanganNya, dan bergantung pada korbanNya pada waktu mempersembahkan apa yang merupakan suatu type dari Dia. ... Korban, sebagai suatu type dari korban agung sang Penebus, telah ditegakkan sangat awal dari sejarah dunia. Tidak ada alasan yang diberikan untuk mempersembahkan ‘darah’ sebagai suatu penebusan dosa, kecuali hal itu secara orisinil mempunyai suatu petunjuk pada penebusan agung yang akan dilakukan dengan darah; dan karena keselamatan manusia tergantung pada hal ini sepenuhnya, adalah mungkin bahwa hal itu adalah salah satu dari kebenaran-kebenaran yang disampaikan kepada manusia setelah kejatuhan ke dalam dosa).

 

Pulpit Commentary (tentang Ibr 11:4): The acceptableness of the offering is here simply attributed, as of necessity, to the faith of the offerer, without any intimation of how that faith had been evinced. And with this view of the matter agrees the record itself, where it is said that ‘unto Abel and his offering the LORD had respect;’ i.e. to Abel first, and then to his offering - the offering was accepted because Abel was, not Abel on account of his kind of offering (= Bisa diterimanya persembahan itu di sini hanya dihubungkan, sebagai keharusan, pada iman dari orang yang memberi persembahan, tanpa petunjuk apapun bagaimana iman itu ditunjukkan. Dan dengan pandangan ini persoalannya sesuai dengan catatan itu sendiri, dimana dikatakan bahwa ‘kepada Habel dan persembahannya Tuhan mempunyai rasa hormat’; yaitu pertama-tama kepada Habel, dan lalu pada persembahannya - persembahannya diterima karena Habel diterima, bukan Habel diterima karena jenis persembahannya).

 

b)   Ibr 11:5 - Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

 

Calvin (tentang Ibr 11:5): Moses indeed tells us, that he was a righteous man, and that he walked with God; but as righteousness begins with faith, it is justly ascribed to his faith, that he pleased God (= Musa memang memberitahu kita, bahwa ia adalah orang benar, dan bahwa ia berjalan dengan Allah; tetapi karena kebenaran dimulai dengan iman, maka dengan benar hal itu dianggap berasal dari imannya, sehingga ia memperkenan Allah).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Ibr 11:5): “Faith was the ground of his pleasing God” (= Iman adalah dasar dari keadaannya yang memperkenan Allah).

Catatan: saya tak bisa menterjemahkan kata-kata ini dengan tepat.

 

c)   Ibr 11:6 - “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”.

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): The reason he assigns why no one can please God without faith, is this, - because no one will ever come to God, except he believes that God is, and is also convinced that he is a remunerator to all who seek him. If access then to God is not opened, but by faith, it follows, that all who are without it, are the objects of God’s displeasure (= Alasan yang ia berikan mengapa tak seorangpun bisa memperkenan Allah tanpa iman, adalah ini, - karena tak seorangpun akan pernah datang kepada Allah, kecuali ia percaya bahwa Allah ada, dan juga diyakinkan bahwa Ia adalah seorang yang memberi pahala kepada semua orang yang mencariNya. Jika jalan masuk kepada Allah tidak terbuka kecuali oleh iman, maka akibatnya adalah bahwa semua orang yang tanpa iman merupakan obyek dari ketidak-senangan Allah).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): It is hence evident, that men in vain weary themselves in serving God, except they observe the right way, and that all religions are not only vain, but also pernicious, with which the true and certain knowledge of God is not connected; for all are prohibited from having any access to God, who do not distinguish and separate him from all idols; in short, there is no religion except where this truth reigns dominant [= Karena itu jelaslah bahwa orang-orang dengan sia-sia melelahkan diri mereka sendiri dalam melayani Allah / berbakti kepada Allah, kecuali mereka mentaati jalan yang benar, dan bahwa semua agama-agama bukan hanya sia-sia, tetapi juga jahat / merusak, dengan mana pengetahuan / pengenalan yang benar dan pasti tentang Allah tidak dihubungkan (lagi-lagi bandingkan dengan ajaran filosof Cina itu, yang menurut Pdt. Stephen Tong sendiri, sama sekali tak berhubungan dengan Allah); karena semua orang yang tidak membedakan dan memisahkan dirinya dari semua berhala, dihalangi dari mempunyai jalan masuk kepada Allah; singkatnya, tidak ada agama kecuali dimana kebenaran memerintah / berkuasa].

 

Supaya saudara tidak menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘iman’ dalam Ibr 11:6 ini sekedar ‘suatu kepercayaan bahwa Allah itu ada’, tetapi juga berhubungan dengan keselamatan, perhatikan komentar-komentar di bawah ini!

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): The second clause is that we ought to be fully persuaded that God is not sought in vain; and this persuasion includes the hope of salvation and eternal life, for no one will be in a suitable state of heart to seek God except a sense of the divine goodness be deeply felt, so as to look for salvation from him. We indeed flee from God, or wholly disregard him, when there is no hope of salvation (= Anak kalimat yang kedua adalah bahwa kita harus diyakinkan sepenuhnya bahwa Allah tidak dicari dengan sia-sia; dan keyakinan ini mencakup pengharapan keselamatan dan hidup kekal, karena tak seorangpun akan berada dalam keadaan hati yang cocok untuk mencari Allah kecuali suatu perasaan tentang kebaikan ilahi dirasakan secara mendalam, sehingga orang itu mencari keselamatan dari Dia. Kita akan lari dari Allah, atau sepenuhnya mengabaikanNya, pada saat tidak ada pengharapan keselamatan).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): But many shamefully pervert this clause; for they hence elicit the merits of works, and the conceit about deserving. And they reason thus: ‘We please God by faith, because we believe him to be a rewarder; then faith has respect to the merits of works.’ This error cannot be better exposed, than by considering how God is to be sought; while any one is wandering from the right way of seeking him, he cannot be said to be engaged in the work. Now Scripture assigns this as the right way, - that a man, prostrate in himself, and smitten with the conviction that he deserves eternal death, and in self-despair, is to flee to Christ as the only asylum for salvation. Nowhere certainly can we find that we are to bring to God any merits of works to put us in a state of favor with him. Then he who understands that this is the only right way of seeking God, will be freed from every difficulty on the subject; for reward refers not to the worthiness or value of works but to faith (= Tetapi banyak orang secara memalukan membengkokkan anak kalimat ini; karena mereka mendapatkan jasa dari pekerjaan / perbuatan baik, dan kesombongan tentang kelayakan. Dan mereka beralasan sebagai berikut: ‘Kita memperkenan Allah oleh iman, karena kita mempercayaiNya sebagai seorang yang memberi upah; maka iman mempunyai rasa hormat pada jasa dari pekerjaan / perbuatan baik’. Kesalahan ini tidak bisa dinyatakan dengan lebih jelas, dari pada dengan mempertimbangkan bagaimana Allah harus dicari; sementara seseorang sedang mengembara / menyimpang dari jalan yang benar untuk mencari Dia, ia tidak bisa dikatakan terlibat dalam pekerjaan / perbuatan baik. Kitab Suci memberikan ini sebagai jalan yang benar, - bahwa seseorang, yang merendahkan dirinya sendiri, dan dipukul oleh suatu keyakinan bahwa ia layak mendapatkan kematian kekal, dan dalam keputus-asaan tentang diri sendiri, harus lari kepada Kristus sebagai satu-satunya perlindungan untuk keselamatan. Pasti kita tidak bisa menemukan dimanapun bahwa kita harus membawa kepada Allah jasa pekerjaan / perbuatan baik apapun untuk meletakkan kita dalam suatu keadaan disukai / disenangi oleh Dia. Maka ia yang mengerti bahwa ini adalah satu-satunya jalan yang benar untuk mencari Allah, akan dibebaskan dari setiap kesukaran tentang pokok ini; karena upah tidak menunjuk pada kelayakan atau nilai dari pekerjaan / perbuatan baik tetapi pada iman).

Catatan: kata-kata di atas ini pasti bertentangan frontal dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa sebelum Kornelius percaya, ‘kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan’!

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): From these two clauses, we may learn how, and why it is impossible for man to please God without faith; God justly regards us all as objects of his displeasure, as we are all by nature under his curse; and we have no remedy in our own power. It is hence necessary that God should anticipate us by his grace; and hence it comes, that we are brought to know that God is, and in such a way that no corrupt superstition can seduce us, and also that we become assured of a certain salvation from him (= Dari dua anak kalimat ini, kita bisa belajar bagaimana dan mengapa merupakan sesuatu yang mustahil bagi manusia untuk memperkenan Allah tanpa iman; Allah dengan benar / adil menganggap kita semua sebagai obyek dari ketidak-senanganNya, karena kita semua secara alamiah ada di bawah kutukNya; dan kita tidak mempunyai obat dalam kuasa kita sendiri. Karena itu merupakan sesuatu yang perlu bahwa Allah mendahului kita dengan kasih karuniaNya; dan lalu terjadilah, bahwa kita dibawa untuk mengetahui bahwa Allah ada, dan dengan cara sedemikian rupa sehingga tak ada takhyul jahat apapun bisa membujuk kita, dan juga sehingga kita yakin tentang suatu keselamatan tertentu dari Dia).

 

Calvin (tentang Ibr 11:6): Were any one to desire a fuller view of this subject, he should make his commencement here, - that we in vain attempt to try anything, except we look to God; for the only true end of life is to promote his glory; but this can never be done, unless there be first the true knowledge of him. Yet this is still but the half of faith, and will profit us but little, except confidence be added. Hence faith will only then be complete and secure us God’s favor, when we shall feel a confidence that we shall not seek him in vain, and thus entertain the certainty of obtaining salvation from him. But no one, except he be blinded by presumption, and fascinated by self-love, can feel assured that God will be a rewarder of his merits. Hence this confidence of which we speak recumbs not on works, nor on man’s own worthiness, but on the grace of God alone; and as grace is nowhere found but in Christ, it is on him alone that faith ought to be fixed (= Seandainya siapapun menginginkan suatu pandangan yang lebih penuh tentang pokok ini, ia harus membuat kemajuan di sini, - bahwa kita secara sia-sia berusaha untuk mencoba apapun, kecuali kita memandang kepada Allah; karena satu-satunya tujuan yang benar dari kehidupan adalah memajukan kemuliaanNya; tetapi ini tidak pernah bisa dilakukan, kecuali di sana pertama-tama ada pengenalan yang benar tentang Dia. Tetapi ini tetap merupakan setengah dari iman, dan akan bermanfaat sedikit bagi kita, kecuali keyakinan ditambahkan. Karena itu iman hanya akan lengkap dan menjamin kebaikan / kesenangan Allah bagi kita, pada saat kita merasakan suatu keyakinan bahwa kita tidak akan mencariNya dengan sia-sia, dan dengan demikian mempunyai kepastian tentang mendapatkan keselamatan dari Dia. Tetapi tak seorangpun, kecuali ia dibutakan oleh kesombongan, dan dipesonakan oleh kasih kepada diri sendiri, bisa merasa yakin bahwa Allah akan menjadi seseorang yang memberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Karena itu keyakinan tentang mana kita berbicara, bersandar, bukan pada pekerjaan / perbuatan baik, ataupun pada kelayakan manusia itu sendiri, tetapi pada kasih karunia Allah saja; dan karena kasih karunia tidak ditemukan kecuali dalam Kristus, kepada Dialah iman harus dipancangkan).

 

Adam Clarke (tentang Ibr 11:6): “‘He that cometh to God.’ The man who professes that it is his duty to worship God, must, if he act rationally, do it on the conviction that there is such a Being infinite, eternal, unoriginated, and self-existent; the cause of all other being; on whom all being depends; and by whose energy, bounty, and providence, all other beings exist, live, and are supplied with the means of continued existence and life. He must believe, also, that he rewards them that diligently seek him; that he is not indifferent about his own worship; that he requires adoration and religious service from men; and that he blesses, and especially protects and saves, those who in simplicity and uprightness of heart seek and serve him. This requires faith, such a faith as is mentioned above; a faith by which we can please God; and now that we have an abundant revelation, a faith according to that revelation; a faith in God through Christ the great sin-offering, without which a man can no more please him, or be accepted of him, than Cain was (= ‘Ia yang datang kepada Allah’. Orang yang mengakui bahwa adalah kewajibannya untuk menyembah Allah, kalau ia bertindak secara rasionil, harus melakukannya berdasarkan keyakinan bahwa di sana ada suatu Makhluk yang tak terbatas, kekal, tak punya asal usul, dan ada dengan sendirinya / dari dirinya sendiri; penyebab dari semua keberadaan / makhluk yang lain; kepada siapa semua keberadaan / makhluk tergantung; dan oleh energi, karunia dan Providensia siapa semua makhluk keberadaan yang lain ada, hidup, dan disuplai dengan cara-cara untuk melanjutkan keberadaan dan kehidupan. Ia juga harus percaya bahwa Ia memberi upah kepada mereka yang dengan rajin mencariNya: bahwa Ia tidaklah acuh tak acuh tentang penyembahan / ibadahNya sendiri; bahwa Ia menuntut pemujaan dan ibadah agamawi dari manusia; dan bahwa Ia memberkati, dan khususnya melindungi dan menyelamatkan, mereka yang dalam kesederhanaan dan kelurusan hati mencari dan melayani / berbakti kepadaNya. Ini membutuhkan iman, iman seperti yang disebutkan di atas; suatu iman dengan mana kita bisa memperkenan Allah; dan sekarang dimana kita mempunyai wahyu yang berlimpah-limpah, suatu iman sesuai dengan wahyu itu; suatu iman kepada Allah melalui Kristus, ‘korban penghapus dosa yang agung’, tanpa mana seorang manusia tidak bisa lebih memperkenanNya, atau diterimaNya, dari pada Kain).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Ibr 11:6): “‘Without,’ (‎chooris) - ‘apart from faith:’ if one be destitute of faith (cf. Rom 14:23). ‘To please.’ Translate, as Alford (‎euaresteesai‎, the aorist), ‘It is impossible to please God at all’ (Rom 8:8). ‘Works done before the grace of Christ are not pleasant to God, forasmuch as they spring not of faith in Jesus Christ; yea, rather, for that they are not done as God hath willed them to be done, we doubt not but they have the nature of sin’ (Article XIII., ‘Book of Common Prayer’). Works not rooted in God are splendid sins (Augustine)” [= ‘Tanpa’, (CHORIS) - ‘terpisah dari iman’: jika seseorang miskin / tak mempunyai iman (bdk. Ro 14:23). ‘Memperkenan’. Terjemahkan, seperti Alford (‎euaresteesai‎, aorist / bentuk lampau), ‘Adalah mustahil untuk memperkenan Allah sama sekali’ (Ro 8:8). ‘Pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan sebelum kasih karunia dari Kristus tidak menyenangkan Allah, karena mereka muncul / timbul bukan dari iman kepada Kristus Yesus; ya, bahkan, karena mereka tidak dilakukan seperti Allah kehendaki mereka dilakukan, kita tidak meragukan bahwa mereka mempunyai sifat dari dosa’ (Artikel XIII, ‘Book of Common Prayer’). ‘Pekerjaan / perbuatan baik yang tidak berakar dalam Allah merupakan dosa-dosa yang bagus / tampan’ (Agustinus)].

Ro 14:23 - “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Ro 8:8 - “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.

 

Lenski: “what makes any man well-pleasing to God is faith; without it there is no possibility of pleasing God” (= apa yang membuat manusia manapun berkenan kepada Allah adalah iman; tanpa itu tidak ada kemungkinan untuk memperkenan Allah) - hal 386.

 

John Owen: “faith is the only way and means whereby any one may please God” (= iman adalah satu-satunya jalan dan cara dengan mana seseorang bisa memperkenan Allah) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

 

John Owen: “‘All pleasing of God is, and must be, by faith, it being impossible it should be otherwise.’” (= Semua yang memperkenan Allah adalah, dan haruslah, oleh iman, dan tidak mungkin lainnya) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.

 

John Owen: “‘It is impossible to please God any other way but by faith.’ Let men desire, design, and aim at it whilst they please, they shall never attain unto it. ... Hereunto Scripture bears testimony from first to last, namely, that none can, that none shall, ever please God but by faith” (= ‘Adalah tidak mungkin untuk memperkenan Allah dengan jalan lain kecuali oleh iman’. Hendaklah manusia menginginkan, merencanakan dan mengarahkan padanya semau mereka, mereka tidak akan pernah mencapainya. ... Dengan ini Kitab Suci memberi kesaksian dari awal sampai akhir, yaitu, bahwa tak seorangpun bisa, bahwa tak seorangpun akan, pernah memperkenan Allah kecuali oleh iman) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 38.

 

2)   Karena kehidupan yang saleh dari Kornelius, yang sudah kita bahas di atas, tidak bisa tidak, merupakan buah dari iman.

 

J. A. Alexander: “‘Devout,’ pious, reverent, not merely in the heathen sense, but as the fruit of divine grace. ... ‘Which gave much alms,’ or rather practising many charities, not merely to the poor in general, but to the people, i.e. the chosen people, the children of Israel, among whom he lived and from whom he had learned the true religion. ‘Praying to God,’ or asking of God, i.e. looking to Jehovah, or the God of Israel, and not to idols, ... This is not the description of a proselyte, in any technical or formal sense, but of a Gentile whom divine grace had prepared for the immediate reception of the Gospel, without passing through the intermediate state of Judaism, although long familiar with it, and indebted to it for such knowledge of the word of God as he possessed” (= ‘Saleh’, saleh, takut / hormat, bukan semata-mata dalam arti kafir, tetapi sebagai buah dari kasih karunia ilahi. ... ‘yang memberi banyak sedekah’, atau mempraktekkan kasih / kemurahan hati, tidak semata-mata kepada orang-orang miskin secara umum, tetapi kepada bangsa itu, yaitu kepada bangsa pilihan, anak-anak Israel, di antara siapa ia tinggal dan dari siapa ia telah mempelajari agama yang benar. ‘Berdoa kepada Allah’ atau meminta dari Allah, yaitu memandang kepada Yehovah, atau Allah Israel, dan bukan kepada berhala-berhala, ... Ini bukan penggambaran dari seorang proselit, dalam arti tehnis atau formal apapun, tetapi dari seorang non Yahudi yang telah dipersiapkan oleh kasih karunia ilahi untuk penerimaan langsung / segera terhadap Injil, tanpa melewati keadaan perantara dari agama Yahudi, sekalipun ia akrab cukup lama dengannya, dan berhutang kepadanya untuk pengetahuan tentang firman Allah seperti itu seperti yang ia miliki) - hal 389.

Catatan: dari kata-kata ini kelihatannya J. A. Alexander menganggap bahwa kesalehan Kornelius sedikitnya merupakan buah dari kelahiran baru.

 

J. A. Alexander: “It was not as a reward of what Cornelius had thus done, that the Lord now favoured and distinguished him; but this distinguishing favour was itself the cause of those devotional and charitable habits, which had been recognized in heaven as being what they were, not meritorious claims to the divine blessing, but experimental proofs that it had been bestowed” (= Bukanlah sebagai suatu pahala dari apa yang Kornelius telah lakukan, sehingga sekarang Tuhan baik dan membedakannya; tetapi kebaikan yang membedakan ini sendiri yang merupakan sebab dari kebiasaan yang bersifat membaktikan diri dan murah hati itu, yang telah dikenali dari surga apa adanya, bukan sebagai claim jasa terhadap berkat ilahi, tetapi bukti yang bersifat pengalaman bahwa itu telah diberikan) - hal 390.

 

Barnes’ Notes: Are come up for a memorial’ Are remembered before God. ... They were an evidence of piety toward God, and were accepted as such. Though he had not offered sacrifice according to the Jewish laws; though he had not been circumcised; yet, having acted according to the light which he had, his prayers were heard, and his alms were accepted. ... His heart was in the work of religion. ... His offering was that of the heart, and not merely an external offering. ... His was a work of religion. ... Cornelius was disposed to do the will of God as far as it was made known to him. Where this exists there is religion [= ‘Telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau’. Diingat di hadapan Allah. ... Hal-hal itu (perbuatan-perbuatan baik Kornelius) merupakan suatu bukti dari kesalehan kepada Allah, dan diterima seperti itu. Sekalipun ia tidak mempersembahkan korban sesuai dengan hukum Taurat Yahudi; sekalipun ia belum disunat; tetapi setelah bertindak sesuai dengan terang yang ia miliki, doanya didengar, dan sedekahnya diterima. ... Hatinya ada dalam pekerjaan dari agama. ... Persembahannya adalah persembahan dari hati, dan bukan semata-mata persembahan lahiriah. ... Kehidupan moralnya merupakan suatu pekerjaan dari agama. ... Kornelius cenderung / ingin melakukan kehendak Allah sejauh itu dinyatakan kepadanya. Dimana ini ada, di situ ada agama].

 

John Calvin: Indeed, Cornelius must have been already illumined by the Spirit of wisdom, for he was endowed with true wisdom, that is, the fear of God; and he was sanctified by the same Spirit, for he was a keeper of righteousness, which the apostle taught to be the Spirit’s surest fruit (Galatians 5:5). All those things in him which are said to have pleased God he received from God’s grace - so far is he from preparing himself to receive grace by means of them through his own effort [= Memang Kornelius pasti telah diterangi oleh Roh hikmat, karena ia diberi hikmat yang benar, yaitu rasa takut akan Allah; dan ia dikuduskan oleh Roh yang sama, karena ia adalah pemelihara kebenaran, yang diajarkan oleh sang rasul sebagai buah yang pasti dari Roh (Gal 5:5). Semua hal di dalam dia itu, yang dikatakan telah memperkenan Allah, ia terima dari kasih karunia Allah - begitu jauh ia dari mempersiapkan dirinya sendiri untuk menerima kasih karunia oleh usahanya sendiri] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XVII, no 4.

Catatan: ‘Gal 5:5’ itu mungkin salah cetak; mungkin yang ia maksud Gal 5:22.

 

Calvin: But whereas he bestowed so liberally upon the Jews, he declared how he agreed with them in religion; in which respect Luke saith, shortly after, that he was allowed of  all the Jews. And if so be it he was such an excellent mirror of godliness and holiness, even when he had but a small smattering of faith, ... ought not we to be ashamed who will be accounted most Christian doctors, and are yet so cold in the exercises of godliness? If a small sparkle of faith prevailed so much in him, what ought the full brightness of knowledge to work in us? (= Tetapi karena ia memberikan dengan begitu royal kepada orang-orang Yahudi, ia menyatakan bagaimana ia setuju dengan mereka dalam agama; dalam hal mana sesaat lagi Lukas berkata bahwa ia ‘terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi’. Dan jika demikian ia adalah cermin dari kesalehan dan kekudusan yang begitu hebat, bahkan pada waktu ia hanya mempunyai sedikit pengetahuan yang dangkal dari iman, ... tidakkah kita harus malu, yang dianggap sebagai doktor-doktor Kristen, tetapi begitu dingin dalam pelaksanaan kesalehan? Jika suatu cahaya kecil dari iman mempengaruhi dia begitu banyak, apa yang seharusnya dilakukan oleh terang sepenuhnya dari pengetahuan dalam diri kita?).

 

Matthew Henry: “he is assured that God accepts him in walking according to the light he had (v. 4): Thy prayers and thine alms are come up for a memorial before God. ... Cornelius prayed, and gave alms, not as the Pharisees, to be seen of men, but in sincerity, as unto God; ... The sacrifices under the law are said to be for a memorial. See Lev. 2:9,16; 5:12; 6:15. ... The divine revelation communicated to the Jews, as far as the Gentiles were concerned in it, not only as it directed and improved the light and law of nature, but as it promised a Messiah to come, Cornelius believed and submitted to. What he did he did in that faith, and was accepted of God in it [= ia diyakinkan bahwa Allah menerima dia dalam jalannya sesuai dengan terang yang ia miliki (ay 4): Doamu dan sedekahmu naik sebagai suatu peringatan di hadapan Allah. ... Kornelius berdoa, dan memberi sedekah, bukan seperti orang-orang Farisi, supaya dilihat oleh manusia, tetapi dalam ketulusan, seperti kepada Allah; ... Korban-korban di bawah hukum Taurat dikatakan sebagai suatu peringatan. Lihat Im 2:9,16; 5:12; 6:15. ... Wahyu ilahi yang diberikan kepada orang-orang Yahudi, sejauh orang-orang non Yahudi tersangkut di dalamnya, bukan hanya ketika hukum Taurat itu mengarahkan dan meningkatkan terang dan hukum dari alam, tetapi juga ketika hukum Taurat itu menjanjikan seorang Mesias yang akan datang, Kornelius percaya dan tunduk kepadanya. Apa yang ia lakukan, ia lakukan dalam iman itu, dan diterima oleh Allah di dalam iman itu].

 

Lenski: “When the angel tells Cornelius that his prayers and his alms have come up ‘for a memorial’ before God, the phrase conveys the truth that God intends to take account of them in his grace towards Cornelius. It should not be necessary to say that no work-righteousness is implied but something vastly far greater than any claims of human merit. The prayers and the alms revealed the condition of the heart of Cornelius. They were, indeed, good works but are here regarded like good works of the righteous at the time of the final judgment when Jesus will use them as the evidence of faith and the absence of such good works as the evidence for the absence of saving faith (Matt. 25:34-46)” [= Pada waktu malaikat memberi tahu Kornelius bahwa doa-doanya dan sedekahnya telah naik ke hadapan Allah seperti suatu peringatan, ungkapan itu menyampaikan kebenaran bahwa Allah bermaksud untuk memperhitungkan hal-hal itu dalam kasih karuniaNya kepada Kornelius. Tak perlu dikatakan bahwa tidak ada kebenaran karena pekerjaan / perbuatan baik yang dimaksudkan tetapi sesuatu yang jauh lebih besar dari claim apapun tentang jasa manusia. Doa-doa dan sedekah itu menyatakan kondisi dari hati Kornelius. Hal-hal itu memang merupakan pekerjaan / perbuatan baik, tetapi di sini dianggap seperti pekerjaan / perbuatan baik dari orang-orang benar pada saat penghakiman terakhir, pada waktu Yesus akan menggunakan mereka sebagai bukti dari iman, dan tidak adanya pekerjaan / perbuatan baik seperti itu merupakan bukti dari tidak adanya iman yang menyelamatkan (Mat 25:34-46)] - hal 397.

 

John Calvin: When, for example, Naaman the Syrian inquired of the prophet as to the proper way of worshiping God, it is not likely that he was instructed concerning the Mediator. Still, his piety is praised (2Kings 5:1-14; Luke 4:27). Cornelius, a Gentile and a Roman, could scarcely grasp what was known only obscurely to the Jews, and not to all of them. Yet his alms and his prayers were acceptable to God (Acts 10:31). And Naaman’s sacrifice was approved by the prophet’s response (2Kings 5:17-19). Neither could have occurred except by faith. The same reasoning applies to the eunuch to whom Philip was brought: unless he had been endowed with some faith, he would not have undertaken the labor and expense of a difficult journey in order to worship (Acts 8:17). Yet we see that when asked by Philip, he showed his ignorance of the Mediator (Acts 8:31). ... Therefore, although the knowledge of Christ was obscure among them, it is inconceivable to suppose that there was none at all [= Ketika, sebagai contoh, Naaman orang Syria / Aram bertanya kepada sang nabi berkenaan dengan cara yang benar untuk menyembah Allah, kecil kemungkinannya bahwa ia diajar berkenaan dengan sang Pengantara. Tetap, kesalehannya dipuji (1Raja 5:1-14; Luk 4:27). Kornelius, seorang non Yahudi dan seorang Romawi, hampir tidak bisa mengerti apa yang diketahui hanya secara samar-samar oleh orang-orang Yahudi, dan tidak oleh semua dari mereka. Dan korban Naaman direstui oleh tanggapan dari sang nabi (2Raja 5:17-19). Tidak ada dari hal-hal itu bisa terjadi kecuali oleh iman. Argumentasi yang sama berlaku untuk sida-sida kepada siapa Filipus dibawa: kecuali ia telah diberi iman (‘some faith’), ia tidak akan melakukan jerih payah dan ongkos dari suatu perjalanan yang sukar supaya bisa beribadah (Kis 8:17). Tetapi kita melihat bahwa waktu ditanya oleh Filipus, ia menunjukkan ketidak-mengertiannya tentang sang Pengantara (Kis 8:31). ... Karena itu, sekalipun pengetahuan / pengenalan tentang Kristus sangat samar-samar di antara mereka, tak terbayangkan untuk menganggap bahwa di sana pengetahuan itu tidak ada sama sekali] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter II, no 32.

 

Calvin: Augustine ... affirmeth plainly, that Cornelius could not pray unless he had faith (= Agustinus ... menegaskan dengan jelas, bahwa Kornelius tidak bisa berdoa kecuali ia mempunyai iman).

 

III) Kornelius dan Injil.

 

Dalam ay 36-43 jelas bahwa Petrus memberitakan Injil kepada Kornelius dan semua orang yang bersama-sama dengan dia.

 

1)   Apakah pekerjaan / perbuatan baik dari Kornelius, yang dinyatakan dalam ay 2,4,22,31, yang menyebabkan ia dianggap layak, sehingga lalu diberi injil?

 

Calvin: “‘Thy prayers and alms.’ ... the angel assigneth this as the cause why God vouchsafeth to show to Cornelius the light of his gospel; because he hath heard his prayers and accepted his alms. Whence we gather that virtues and good works do not only please God, but that they are also adorned with this excellent reward, that he heapeth upon us and enricheth us with greater gifts for their sakes; according to that, ‘To him that hath shall be given,’ (Matthew 13:12.) ... For God doth after this sort extol his by a continual course of his gifts, as it were by certain steps, until he bring them to the top [= ‘Doa-doa dan sedekah-sedekahmu’. ... sang malaikat memberikan ini sebagai alasan mengapa Allah bersedia untuk menunjukkan kepada Kornelius terang dari injil; karena Ia telah mendengar doa-doanya dan menerima sedekah-sedekahnya. Darimana kita mendapatkan bahwa kebaikan dan perbuatan baik bukan hanya memperkenan Allah, tetapi bahwa mereka juga dihiasi dengan pahala yang sangat bagus ini, bahwa Ia menumpuk pada kita dan memperkaya kita dengan karunia-karunia yang lebih besar karena mereka; sesuai dengan ‘Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi’ (Mat 13:12). ... Karena Allah dengan cara ini meninggikan milikNya dengan serangkaian karunia-karuniaNya, seakan-akan dengan langkah-langkah yang pasti, sampai Ia membawa mereka ke puncak].

 

Kelihatannya Calvin beranggapan bahwa kebaikan Kornelius menyebabkan ia lalu diberi Injil dan menjadi percaya. Tetapi benarkah demikian? Perhatikan kata-kata Calvin selanjutnya di bawah ini.

 

Calvin (tentang ay 4): But the Papists abuse this place two ways; for because God respected the prayers and alms of Cornelius, so that he endued him with the faith of the gospel, they wrest that unto the preparations which they have invented, as if a man did get faith by his own industry and power, and did prevent the grace of God by the merits of works. Secondly, they gather, generally, that good works are meritorious in such sort, that the graces of God are increased in every man as he hath deserved. In the former they are too childishly deceived, whilst that they feign that the works of Cornelius were acceptable to God before he was illuminate by faith. And we need not to fet (seek) a proof far to refute their ignorance; for he could obtain nothing by prayer unless faith went before, which only openeth the gate for us to pray; ... Furthermore, the fear of God and godliness do plainly prove that he was regenerate by the Spirit. For Ezekiel giveth this praise to God alone, that he frameth the hearts of men to fear him, (Ezekiel 32:40.) And Isaiah saith, that the Spirit of the fear of God resteth in Christ, (Isaiah 11:2,) that we may know that he can be found no where save only in his members. Therefore it is too great folly to feign a man in the person of Cornelius, who, having nature for his guide, can attain unto eternal life, or endeavor to come thither. Therefore they reason blockishly, that we are able to prevent the grace of God with the merits of works. Furthermore, if good works be esteemed (estimated) by faith, it is of mercy, and not of merit, that God doth allow (approve) them. For because faith findeth no worthy thing in us whereby we can please God, it borroweth that of Christ which we want. ... Yet here may a question be asked, Whether faith require the knowledge of Christ, or it be content with the simple persuasion of the mercy of God? for Cornelius seemeth to have known nothing at all concerning Christ. But it may be proved by sound proofs that faith cannot be separated from Christ; for if we lay hold upon the bare majesty of God, we are rather confounded with his glory, than that we feel any taste of his goodness. Therefore, Christ must come between, that the mind of man may conceive that God is merciful. ... Moreover, seeing that he is the way, the truth, and the life, (John 14:6;) whithersoever thou goest without him, thou shalt be enwrapped on every side in errors, and death shall meet you (thee) on every side. We may easily answer concerning Cornelius. All spiritual gifts are offered unto us in Christ; and especially whence cometh regeneration, save only because we are ingrafted into the death of Christ, our old man is crucified? (Romans, 6:5, 6.) And if Cornelius were made partaker of the Spirit of Christ, there is no cause why we should think that he was altogether void of his faith; neither had he so embraced the worship of the true God, (whom the Jews alone did worship,) but that he had also heard somewhat of the promised Mediator; though the knowledge of him were obscure and entangled, yet was it some. Whosoever came at that time into Judea he was enforced to hear somewhat of the Messiah, yea, there was some fame of him spread through countries which were far off. Wherefore, Cornelius must be put in the catalogue of the old fathers, who hoped for salvation of the Redeemer before he was revealed [= Tetapi para pengikut Paus (orang Katolik) menyalah-gunakan tempat ini dengan dua cara; karena Allah menghormati doa-doa dan sedekah-sedekah dari Kornelius, sehingga Ia memberinya iman dari injil, mereka membengkokkan itu pada persiapan-persiapan yang mereka temukan, seakan-akan seorang manusia mendapatkan iman oleh kerajinan dan kekuatannya sendiri, dan mengantisipasi / mendahului kasih karunia Allah oleh jasa pekerjaan / perbuatan baik. Yang kedua, mereka mendapatkan, secara umum, bahwa pekerjaan / perbuatan baik berjasa sedemikian rupa sehingga kasih karunia Allah ditingkatkan dalam diri setiap manusia seperti yang layak ia dapatkan. Dalam yang pertama mereka ditipu secara terlalu kekanak-kanakan, pada waktu mereka membayangkan / menganggap bahwa pekerjaan / perbuatan baik dari Kornelius diterima oleh Allah sebelum ia diterangi oleh iman. Dan kita tidak perlu jauh-jauh mencari suatu bukti untuk membantah ketidak-tahuan / kebodohan mereka; karena ia tidak bisa mendapatkan apa-apa oleh doa kecuali iman berjalan dulu, yang merupakan satu-satunya hal yang membuka pintu gerbang bagi kita untuk berdoa; ... Selanjutnya, rasa takut akan Allah dan kesalehan dengan jelas membuktikan bahwa ia (Kornelius) telah dilahir-barukan oleh Roh. Karena Yehezkiel memberikan pujian ini kepada Allah saja, bahwa Ia membentuk hati manusia untuk takut kepadaNya, (Yeh 32:40). Dan Yesaya berkata, bahwa Roh dari rasa takut akan Allah tinggal dalam Kristus, (Yes 11:2), supaya kita tahu bahwa Ia tidak bisa ditemukan dimanapun kecuali dalam anggota-anggotaNya. Karena itu merupakan suatu kebodohan yang sangat besar untuk membayangkan / menganggap bahwa seseorang dalam diri Kornelius, yang, mempunyai alam sebagai pembimbingnya, bisa mendapatkan hidup kekal, atau berusaha untuk datang ke sana. Karena itu mereka berargumentasi dengan tolol, bahwa kita bisa mengantisipasi / mendahului kasih karunia Allah dengan jasa pekerjaan / perbuatan baik. Selanjutnya, jika pekerjaan / perbuatan baik dipandang dengan / oleh iman, itu adalah dari belas kasihan, dan bukan dari jasa, bahwa Allah menyetujui / mengakui mereka. Karena iman tidak menemukan hal apapun yang layak di dalam diri kita dengan mana kita bisa memperkenan Allah, itu meminjam dari Kristus apa yang tidak kita miliki. ... Tetapi di sini bisa ditanyakan suatu pertanyaan, Apakah iman membutuhkan pengetahuan tentang Kristus, atau iman cukup puas hanya dengan keyakinan akan belas kasihan Allah? karena Kornelius kelihatannya sama sekali tidak tahu apapun mengenai Kristus. Tetapi bisa dibuktikan dengan bukti-bukti yang sehat bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari Kristus; karena jika kita hanya berpegang pada keagungan / kekuasaan Allah, kita lebih dibingungkan oleh kemuliaanNya dari pada merasakan kebaikanNya. Karena itu, Kristus harus datang di antaranya, supaya pikiran manusia bisa mengerti bahwa Allah itu penuh belas kasihan. ... Lebih lagi, melihat bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, (Yoh 14:6); kemanapun engkau pergi tanpa Dia, engkau akan dilingkupi pada setiap sisi dalam kesalahan, dan kematian akan menemui engkau pada setiap sisi. Kita bisa dengan mudah menjawab berkenaan dengan Kornelius. Semua karunia-karunia rohani ditawarkan kepada kita dalam Kristus; dan khususnya dari mana datangnya kelahiran baru, kecuali karena kita dicangkokkan ke dalam kematian Kristus, dan manusia lama kita disalibkan? (Roma 6:5,6). Dan jika Kornelius dibuat menjadi pengambil bagian dalam Roh Kristus, tidak ada alasan mengapa kita harus berpikir bahwa ia sama sekali tidak mempunyai iman; juga ia tidak akan begitu memeluk / mempercayai penyembahan dari Allah yang benar, (yang disembah hanya oleh orang-orang Yahudi saja), tetapi bahwa ia juga telah mendengar sesuatu tentang Pengantara yang dijanjikan; sekalipun pengetahuan tentang Dia kabur dan kusut, tetapi tetap ada sedikit pengetahuan tentang Dia. Siapapun pada saat itu datang ke Yudea, akan terpaksa untuk mendengar sedikit tentang Mesias, ya, di sana ada popularitas tentang Dia tersebar melalui negara-negara yang jauh. Karena itu, Kornelius harus dimasukkan dalam daftar dari bapa-bapa kuno, yang mengharapkan keselamatan dari Penebus sebelum ia dinyatakan].

 

Catatan:

a)   Yang dimaksud oleh Calvin dengan ‘bapa-bapa kuno’ pada bagian akhir dari kutipan di atas pasti adalah ‘orang-orang percaya jaman Perjanjian Lama’.

b)   Kata ‘Yehezkiel’ dan ‘Yeh 32:40’ pasti salah, karena Yeh 32 hanya sampai ay 32. Mungkin yang dimaksudkan bukan ‘Yehezkiel’ tetapi ‘Yeremia’. Dan ‘Yeh 32:40’ seharusnya adalah ‘Yer 32:40’.

 

Yer 32:40 - “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu”.

Yes 11:2 - “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN”.

 

Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:

1.   Maz 36:1 - (1) Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, dari Daud. (2) Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.

2.   Ro 3:18 - “rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.

Memang kalau kita melihat konkordansi, maka kata-kata ‘takut akan Allah’, yang dalam ay 2 ditujukan kepada Kornelius, selalu ditujukan hanya kepada orang-orang percaya, dan sebaliknya orang-orang yang tidak percaya selalu tidak mempunyai ‘takut akan Allah’.

 

Calvin: Augustine ... affirmeth plainly, that Cornelius could not pray unless he had faith (= Agustinus ... menegaskan dengan jelas, bahwa Kornelius tidak bisa berdoa kecuali ia mempunyai iman).

 

Kesimpulan: Kornelius sudah percaya, dan itu menyebabkan munculnya pekerjaan / perbuatan baik yang memperkenan Allah, dan karena semua ini, maka Allah menambahkan injil kepadanya.

 

2)   Kalau memang Kornelius sudah percaya / beriman sebelum ia diinjili oleh Petrus, lalu untuk apa Petrus memberitakan Injil kepadanya?

 

a)   Injil merupakan terang yang jauh lebih besar dari hukum Taurat.

 

1.   Itu sebabnya dikatakan oleh Yesus bahwa nabi-nabi ingin mendengar apa yang didengar oleh murid-murid Yesus.

Mat 13:16-17 - “(16) Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. (17) Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya”. Bdk. Luk 10:23-24.

 

2.   Hukum Taurat bukannya berbeda / bertentangan dengan Injil. Sebetulnya keduanya sama, hanya saja Injil lebih jelas / terang dari pada hukum Taurat.

 

a.   Bahkan Abraham juga tahu dan percaya tentang Kristus.

Yoh 8:56 - “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.’”.

KJV: ‘Your father Abraham rejoiced to see my day: and he saw [it], and was glad’ (= Bapamu Abraham bersukacita untuk melihat hariKu: dan ia melihatnya, dan bersukacita).

John Calvin: Even if the sight of something far off was rather indistinct, Abraham nevertheless had assurance of good hope. From this came that joyousness which accompanied the holy patriarch even to his death (= Bahkan jika pemandangan tentang sesuatu yang jauh agak tidak jelas, Abraham bagaimanapun mempunyai keyakinan tentang pengharapan yang baik. Dari ini datang sukacita itu yang menyertainya bahkan sampai pada kematiannya) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 1.

 

b.   Musa juga menulis / mengajar tentang Kristus.

Yoh 5:46 - “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah menulis tentang Aku.

Jadi, biarpun Musa / Perjanjian Lama menulis tentang Kristus, jelas bahwa Injil / Perjanjian Baru menulis lebih jelas tentang Kristus.

 

c.   Yohanes Pembaptis memberi terang lebih banyak dari hukum Taurat, tetapi Injil memberi terang lebih banyak dari ajaran Yohanes Pembaptis.

 

John Calvin: John stood between the law and the gospel, holding an intermediate office related to both. He called Christ the ‘Lamb of God’ and the sacrifice for the cleansing of sins (John 1:29), thus setting forth the sum of the gospel. Yet he did not express that incomparable power and glory which at length shone forth in the resurrection. Hence, Christ said that he was not equal to the apostles; this is the meaning of his words: ‘John excels among the sons of women, yet he who is least in the Kingdom of Heaven is greater than he’ (Matthew 11:11 p.). He does not commend here the persons of men, but after setting John ahead of all the prophets, he raises the preaching of the gospel to the highest rank [= Yohanes berdiri di antara hukum Taurat dan injil, memegang jabatan pengantara yang berhubungan dengan keduanya. Ia menyebut Kristus ‘Anak Domba Allah’ dan korban untuk menghapus dosa (Yoh 1:29), dengan demikian mengajukan inti sari dari injil. Tetapi ia tidak menyatakan kuasa dan kemuliaan yang tak ada bandingannya yang akhirnya bersinar dalam kebangkitan. Karena itu, Kristus mengatakan bahwa ia tidak setara dengan rasul-rasul; inilah arti dari kata-kataNya: ‘di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya’ (Mat 11:11). Di sini Ia tidak memuji pribadi-pribadi manusia, tetapi setelah meletakkan Yohanes di depan semua nabi-nabi, Ia meninggikan pemberitaan injil pada tingkat yang tertinggi] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 5.

 

John Calvin: And John the Baptist’s statement - ‘No one has ever seen God; the only-begotten Son, who is in the bosom of the Father, has made him known’ (John 1:18) - does not exclude the pious who died before Christ from the fellowship of the understanding and light that shine in the person of Christ. But, by comparing their lot with ours, he teaches that those mysteries which they but glimpsed in shadowed outline are manifest to us [= Dan pernyataan Yohanes Pembaptis - ‘Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya’ (Yoh 1:18) - tidak mengeluarkan orang-orang saleh yang mati sebelum Kristus dari persekutuan tentang pengertian dan terang yang bersinar dalam pribadi Kristus. Tetapi, dengan membandingkan nasib / bagian mereka dengan nasib / bagian kita, ia mengajar bahwa misteri-misteri, yang hanya mereka lihat sekilas dalam garis besar / sketsa yang dinaungi bayang-bayang, dinyatakan kepada kita] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 1.

 

John Calvin: the gospel points out with the finger what the law foreshadowed under types (= injil menunjuk dengan jari apa yang hukum Taurat bayangkan di bawah type-type) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 3.

 

John Calvin: the gospel did not so supplant the entire law as to bring forward a different way of salvation. Rather, it confirmed and satisfied whatever the law had promised, and gave substance to the shadows. ... where the whole law is concerned, the gospel differs from it only in clarity of manifestation [= injil tidak begitu menggantikan seluruh hukum Taurat sehingga mengemukakan suatu jalan keselamatan yang berbeda. Tetapi, injil meneguhkan dan memuaskan apapun yang dijanjikan oleh hukum Taurat, dan memberi zat / bahan pada bayangannya. ... dimana seluruh hukum Taurat dipersoalkan, injil berbeda darinya hanya dalam kejelasan pernyataan] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 4.

 

b)   Kornelius mempunyai pengertian tentang hukum Taurat, dan sekarang ia diberi terang dari Injil, yang jauh lebih terang dari terang yang diberikan oleh hukum Taurat.

Perlu diingat bahwa Kornelius hidup pada masa dimana baru saja terjadi peralihan dari hukum Taurat kepada Injil. Seandainya ia hidup dalam jaman Perjanjian Lama, maka pengetahuan / pengertiannya tentang hukum Taurat, dan juga imannya pada hukum Taurat, sudah dianggap memadai / cukup. Tetapi karena saat itu sudah terjadi peralihan ke dalam jaman Perjanjian Baru, maka ia harus mempunyai pengertian tentang injil dan iman kepada injil / Yesus Kristus.

 

Calvin mengutip Mal 4:2 yang berbunyi: “akan terbit surya kebenaran”, dan lalu berkata sebagai berikut:

 

John Calvin: By these words he teaches that while the law serves to hold the godly in expectation of Christ’s coming, at his advent they should hope for far more light. For this reason, Peter says: ‘The prophets … searched and diligently inquired about this salvation,’ which has now been made manifest by the gospel (1Peter 1:10). And ‘it was revealed to them that they were serving not themselves,’ or their age, ‘but us, in the things which have … been announced’ through the gospel (1Peter 1:12 p.). ... today the grace of which they bore witness is put before our very eyes. They had but a slight taste of it; we can more richly enjoy it [= Dengan kata-kata ini ia mengajar bahwa sementara hukum Taurat melayani untuk memegang orang-orang saleh dalam pengharapan tentang kedatangan Kristus, pada kedatanganNya mereka harus berharap untuk terang yang lebih besar. Untuk alasan ini, Petrus berkata: ‘Nabi-nabi ... meneliti dan menyelidiki dengan rajin tentang keselamatan ini’, yang sekarang telah dinyatakan oleh injil (1Pet 1:10). Dan ‘kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri’, atau jaman mereka, ‘tetapi kami, dalam hal-hal yang telah ... diumumkan’ melalui injil (1Pet 1:12). ... hari ini kasih karunia tentang mana mereka memberikan kesaksian diletakkan di depan mata kita. Mereka hanya mendapatkan sedikit cicipan tentangnya; kita bisa menikmatinya dengan lebih kaya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 1.

Catatan: 1Pet 1:10,12 dalam kutipan di atas ini tidak saya ambil dari Kitab Suci Indonesia tetapi saya terjemahkan dari bahasa Inggris.

 

c)   Kornelius memang juga sudah mempunyai pengetahuan tentang Kristus, tetapi masih kabur.

 

Barnes’ Notes (ay 36): The whole passage may be thus expressed: Peter had been asked to teach Cornelius and his assembled friends. It was expected, of course, that he would instruct him in regard to the true doctrines of religion - the doctrine which had been communicated to the Jews (= Seluruh text bisa dinyatakan seperti ini: Petrus telah diminta untuk mengajar Kornelius dan teman-temannya yang berkumpul. Tentu saja diharapkan bahwa ia akan mengajarnya berkenaan dengan ajaran yang benar dari agama - ajaran yang telah diberikan kepada orang-orang Yahudi).

 

Barnes lalu mengutip ay 36-38: “(36) Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. (37) Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, (38) yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”.

 

Dan ia lalu melanjutkan dengan kata-kata sebagai berikut:

Barnes’ Notes (ay 36): Peter here assumes that Cornelius had some knowledge of the principal events of the life of the Saviour, though it was obscure and imperfect; and his discourse professes only to state this more fully and clearly (= Di sini Petrus menganggap bahwa Kornelius telah mempunyai sebagian pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa utama dari kehidupan dari sang Juruselamat, sekalipun itu kabur dan tidak sempurna; dan percakapan / pelajarannya hanya untuk menyatakan hal ini dengan lebih penuh dan lebih jelas).

Catatan: perhatikan kata-kata ‘kamu tahu’ pada awal ay 37! Ini jelas menunjukkan bahwa Kornelius pasti tahu-tahu hal-hal tertentu tentang Kristus, tetapi masih kabur, sehingga Petrus memberi penjelasan yang lebih jelas.

 

d)   Kornelius sudah percaya pada apa yang diajarkan oleh hukum Taurat, dan sekarang ia harus percaya pada Injil / Yesus Kristus.

 

Matthew Henry: “He must send forthwith to Joppa, and enquire for one Simon Peter; ... Now here are two things very surprising, and worthy our consideration: - [1.] Cornelius prays and gives alms in the fear of God, is religious himself and keeps up religion in his family, and all this so as to be accepted of God in it, and yet there is something further that he ought to do - he ought to embrace the Christian religion, now that God has established it among men. Not, He may do it if he pleases; it will be an improvement and entertainment to him. But, He must do it; it is indispensably necessary to his acceptance with God for the future, though he has been accepted in his services hitherto. He that believed the promise of the Messiah must now believe the performance of that promise. Now that God has given a further record concerning his Son than what had been given in the Old-Testament prophecies he requires that we receive this when it is brought to us; and now neither our prayers nor our alms can come up for a memorial before God unless we believe in Jesus Christ, for it is that further which we ought to do (= Ia harus mengutus orang ke Yope, dan meminta Simon Petrus untuk datang; ... Sekarang di sini ada dua hal yang sangat mencengangkan, dan layak untuk direnungkan: - (1.) Kornelius berdoa dan memberi sedekah dalam takut akan Allah, dan ia sendiri sangat religius dan ia meneruskan / memelihara agama dalam keluarganya, dan semua ini dengan cara sedemikian rupa sehingga diterima oleh Allah di dalamnya, tetapi di sana ada sesuatu yang lebih jauh yang harus ia lakukan - ia harus memeluk / mempercayai agama Kristen, karena sekarang Allah telah menegakkannya di antara manusia. Bukan bahwa ia boleh melakukan hal itu kalau ia menyenanginya; itu akan merupakan suatu peningkatan dan hiburan baginya. Tetapi ia harus melakukannya; itu merupakan sesuatu yang mutlak sangat diperlukan bagi penerimaan Allah terhadapnya di masa yang akan datang, sekalipun ia telah diterima dalam pelayanan / penyembahannya sampai saat itu. Ia yang percaya pada janji tentang Mesias sekarang harus mempercayai pelaksanaan dari janji itu. Sekarang karena Allah telah memberikan catatan lebih jauh tentang AnakNya dari pada apa yang telah diberikan dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama, Ia menghendaki / mengharuskan bahwa kita menerima ini pada waktu ini dibawa kepada kita; dan sekarang baik doa-doa kita maupun sedekah kita tidak bisa datang kepada Allah sebagai peringatan kecuali kita percaya kepada Yesus Kristus, karena itu adalah hal lebih jauh yang harus kita lakukan).

 

Mungkin sekali kasus Kornelius sama / mirip dengan kasus yang diceritakan dalam Kis 19. Setidaknya, itu merupakan pandangan dari Calvin dan Jamieson, Fausset & Brown.

Kis 19:1-7 - “(1) Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. (2) Katanya kepada mereka: ‘Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?’ Akan tetapi mereka menjawab dia: ‘Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.’ (3) Lalu kata Paulus kepada mereka: ‘Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?’ Jawab mereka: ‘Dengan baptisan Yohanes.’ (4) Kata Paulus: ‘Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.’ (5) Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. (6) Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (7) Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang”.

 

Calvin (tentang Kis 19:4): So that he doth plainly show that the faith of the godly who had been taught by John ought to have looked unto Christ who was to come, lest these men should stand still being newly entered, without going any farther (= Sehingga ia dengan jelas menunjukkan bahwa iman dari orang-orang saleh yang telah diajar oleh Yohanes harus memandang kepada Kristus yang akan datang, supaya orang-orang ini, setelah baru masuk tidak hanya berdiri diam, tanpa berjalan lebih jauh).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “The point of contrast is between two stages in the development of the same Gospel truth - a rudimental and a ripe Gospel; the former represented by John’s baptism, in which Christ and His salvation was rather expected than actually come” (= Titik kontras di antara kedua tahap dalam perkembangan dari kebenaran Injil yang sama - suatu Injil yang bersifat dasar / permulaan dan Injil yang matang; yang pertama diwakili oleh baptisan Yohanes, dalam mana Kristus dan keselamatanNya lebih diharapkan dari pada betul-betul datang).

 

John Calvin: Cornelius, with alms and prayers, was acceptable to God (Acts 10:2), ... it appears that he was then already enlightened and regenerated, so that he lacked nothing but a clear revelation of the gospel [= Kornelius, dengan sedekah-sedekah dan doa-doanya, diterima oleh Allah (Kis 10:2), ... kelihatannya bahwa pada saat itu ia sudah diterangi dan dilahir-barukan, sehingga ia tidak kekurangan apapun kecuali wahyu / penyataan yang jelas dari Injil] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 10.

 

3)   Bagaimana seandainya Kornelius yang sudah percaya pada hukum Taurat itu, lalu menolak Injil, pada saat Petrus memberitakan Injil kepadanya?

Itu tidak mungkin terjadi! Perlu diingat bahwa kalau Kornelius sudah percaya pada hukum Taurat, itu berarti bahwa Allah / Roh Kudus pasti sudah melahir-barukan dia. Bahkan iman pada hukum Taurat itu juga merupakan pemberian / anugerah Allah kepadanya. Dan Allah tidak mungkin bekerja setengah-setengah. Ia pasti akan melanjutkan dengan memberi Kornelius iman kepada Yesus Kristus / Injil.

 

Juga bandingkan dengan ayat ini.

Yoh 5:46 - “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah menulis tentang Aku”.

 

IV) Kornelius dan keselamatan.

 

1)   Orang-orang jaman Perjanjian Lama di luar Israel semuanya binasa.

 

a)   Calvin percaya bahwa orang-orang jaman Perjanjian Lama yang ada di luar Israel binasa.

 

John Calvin: until the advent of Christ, the Lord set apart one nation within which to confine the covenant of his grace. ‘When the Most High gave to the nations their inheritance, when he separated the sons of Adam,’ says Moses, ‘his people became his possession; Jacob was the cord of his inheritance.’ (Deuteronomy 32:8-9 p.) Elsewhere he addresses the people as follows: ‘Behold, to the Lord your God belong heaven and... earth with all that is in it. Yet he cleaved only to your fathers, loved them so that he chose their descendants after them, namely, you out of all peoples’ (Deuteronomy 10:14,15 p., cf. Vg.). He, therefore, bestowed the knowledge of his name solely upon that people as if they alone of all men belonged to him. He lodged his covenant, so to speak, in their bosom; he manifested the presence of his majesty to them; he showered every privilege upon them. ... In the meantime, ‘he allowed all other nations to walk’ in vanity (Acts 14:16), as if they had nothing whatsoever to do with him. Nor did he give them the sole remedy for their deadly disease - the preaching of his Word. Israel was then the Lord’s darling son; the others were strangers. Israel was recognized and received into confidence and safekeeping; the others were left to their own darkness. Israel was hallowed by God; the others were profaned. Israel was honored with God’s presence; the others were excluded from all approach to him [= sampai kedatangan Kristus, Tuhan memisahkan satu bangsa dalam mana Ia membatasi perjanjian kasih karuniaNya. ‘Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia’, kata Musa, ‘bagian TUHAN ialah umatNya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagiNya’. (Ul 32:8-9). Di tempat lain Ia berbicara kepada umat / bangsaNya sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, ... dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilihNya dari segala bangsa’ (Ul 10:14,15, bdk. Vulgate). Karena itu, Ia memberikan pengetahuan tentang namaNya hanya kepada bangsa itu seakan-akan mereka sendiri dari semua manusia yang adalah miliknya. Ia mengajukan perjanjianNya, boleh dikatakan, dalam dada mereka; Ia menyatakan kehadiran dari keagunganNya kepada mereka; Ia menghujani / mencurahkan setiap hak kepada mereka. ... Sementara itu, ‘Ia mengijinkan semua bangsa-bangsa lain untuk berjalan’ dalam kesia-siaan (Kis 14:16), seakan-akan mereka tidak mempunyai urusan apapun denganNya. Juga Ia tidak memberikan mereka satu-satunya obat untuk penyakit mematikan mereka - pemberitaan FirmanNya. Pada saat itu Israel adalah anak kesayangan Tuhan; bangsa-bangsa lain adalah orang-orang asing. Israel dikenali dan diterima ke dalam hubungan yang dekat seperti dengan seorang sahabat dan penyimpanan yang aman; bangsa-bangsa lain dibiarkan pada kegelapan mereka sendiri. Israel dikuduskan oleh Allah; bangsa-bangsa yang lain dicemarkan. Israel dihormati oleh kehadiran Allah; bangsa-bangsa lain dikeluarkan dari semua pendekatan kepadaNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter XI, no 11.

Ul 32:8-9 - “(8) Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. (9) Tetapi bagian TUHAN ialah umatNya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagiNya”.

Ul 10:14-15 - “(14) Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; (15) tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilihNya dari segala bangsa, seperti sekarang ini”.

Kis 14:16 - “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing”.

KJV: ‘Who in times past suffered all nations to walk in their own ways’ (= Yang pada waktu lampau membiarkan semua bangsa untuk berjalan dalam jalan mereka sendiri).

RSV: ‘In past generations he allowed all the nations to walk in their own ways’ (= Dalam generasi-generasi yang lalu Ia mengijinkan semua bangsa-bangsa untuk berjalan di jalan mereka sendiri).

 

Kornelius sudah masuk jaman Perjanjian Baru, dan ia bukan orang non Yahudi yang secara total ada di luar Israel, karena seperti telah kita pelajari di depan, ia adalah seorang semi proselit. Jadi, ia tidak termasuk dalam apa yang Calvin katakan tentang bangsa-bangsa lain di atas.

Tetapi filosof Cina itu sangat berbeda dengan Kornelius. Ia pasti termasuk dalam apa yang Calvin katakan tentang bangsa-bangsa lain di atas.

Jadi, menggunakan cerita tentang Kornelius sebagai dasar keselamatan filosof Cina itu, ataupun penerimaan Allah terhadap kebaikan yang dilakukan filosof Cina itu, jelas merupakan sesuatu yang sangat salah / sesat.

 

b)   Bagaimana orang-orang Israel jaman Perjanjian Lama bisa diselamatkan, padahal Kristus belum mati menebus dosa?

 

1.   Penebusan Kristus berlaku untuk mereka (berlaku surut).

John Calvin: At the moment of his resurrection, he deemed many of the saints worthy of sharing in his resurrection and let them be seen in the city of Jerusalem (Matthew 27:52-53). In this he has given a sure pledge that whatever he did or suffered in acquiring eternal salvation pertains to the believers of the Old Testament as much as to ourselves [= Pada saat kebangkitanNya, Ia menganggap banyak orang-orang kudus layak untuk ambil bagian dalam kebangkitanNya dan membiarkan mereka terlihat dalam kota Yerusalem (Mat 27:52-53). Dalam hal ini Ia telah memberikan suatu janji yang pasti bahwa apapun yang Ia lakukan atau derita dalam mendapatkan keselamatan kekal berhubungan dengan orang-orang percaya dari Perjanjian Lama sama seperti dengan diri kita sendiri (orang-orang percaya dari Perjanjian Baru)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter X, no 23.

Mat 27:52-53 - “(52) kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. (53) Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang”.

Catatan: Calvin beranggapan bahwa bangkitnya orang-orang kudus ini bukan terjadi pada saat Yesus mati, tetapi pada saat Yesus bangkit.

 

2.   Mereka (orang-orang Perjanjian Lama) tetap diselamatkan karena iman saja, iman kepada Kristus, kepada Kristus yang akan datang.

Ini sudah saya bicarakan dalam pelajaran yang lalu, tetapi di sini saya ingin menambahkan kata-kata dari Calvin dan Louis Berkhof.

 

John Calvin: When, for example, Naaman the Syrian inquired of the prophet as to the proper way of worshiping God, it is not likely that he was instructed concerning the Mediator. Still, his piety is praised (2Kings 5:1-14; Luke 4:27). Cornelius, a Gentile and a Roman, could scarcely grasp what was known only obscurely to the Jews, and not to all of them. Yet his alms and his prayers were acceptable to God (Acts 10:31). And Naaman’s sacrifice was approved by the prophet’s response (2Kings 5:17-19). Neither could have occurred except by faith. The same reasoning applies to the eunuch to whom Philip was brought: unless he had been endowed with some faith, he would not have undertaken the labor and expense of a difficult journey in order to worship (Acts 8:17). Yet we see that when asked by Philip, he showed his ignorance of the Mediator (Acts 8:31). And I even confess that their faith was in some part implicit, not only with respect to the person of Christ, but also with respect to the power and office enjoined upon him by the Father. In the meantime, it is certain that they were instructed in principles such as might give them some taste, however small, of Christ. This ought not to seem strange, for the eunuch would not have hastened to Jerusalem from a far-off region to worship an unknown God; and certainly Cornelius, having once embraced the Jewish religion, did not spend much time without becoming acquainted with the rudiments of true doctrine. As far as Naaman was concerned, it would have been too absurd, when Elisha instructed him concerning small things, to have been silent on the principal point. Therefore, although the knowledge of Christ was obscure among them, it is inconceivable to suppose that there was none at all; because they practiced the sacrifices of the law, which by their very end - that is, Christ - should be distinguished from the false sacrifices of the Gentiles [= Sebagai contoh, pada saat Naaman orang Aram bertanya kepada sang nabi berkenaan dengan cara yang benar untuk menyembah Allah, rasanya kecil kemungkinannya bahwa ia diajar berkenaan dengan sang Pengantara. Tetapi tetap saja kesalehannya dipuji (2Raja 5:1-14; Luk 4:27). Kornelius, seorang non Yahudi dan seorang Romawi, hampir tidak bisa mengerti apa yang diketahui hanya secara kabur oleh orang-orang Yahudi, dan bahkan tidak kepada semua dari mereka. Tetapi sedekah-sedekah dan doa-doanya diterima oleh Allah (Kis 10:31). Dan persembahan / korban Naaman direstui / disetujui oleh jawaban sang nabi (2Raja 5:17-19). Yang manapun dari kedua hal ini tidak bisa terjadi kecuali oleh iman. Pemikiran / pertimbangan yang sama berlaku untuk sida-sida kepada siapa Filipus dibawa: kecuali ia telah diberi dengan sedikit iman, ia tidak akan melakukan jerih payah dan pengeluaran dari suatu perjalanan yang sukar untuk beribadah / menyembah (Kis 8:17). Tetapi kita melihat bahwa pada waktu ditanya oleh Filipus, ia menunjukkan ketidak-tahuannya tentang sang Pengantara (Kis 8:31). Dan saya bahkan mengakui bahwa sebagian iman mereka bersifat implicit, bukan hanya berkenaan dengan pribadi Kristus, tetapi juga berkenaan dengan kuasa dan tugas / jabatan yang ditentukan kepadaNya oleh sang Bapa. Sementara itu, adalah pasti bahwa mereka diajar prinsip-prinsip yang bisa memberi mereka sedikit kecapan, betapapun kecilnya, tentang Kristus. Ini bukan hal yang aneh, karena sida-sida itu tidak akan tergesa-gesa pergi ke Yerusalem dari daerah yang sangat jauh untuk beribadah / menyembah Allah yang tak dikenal; dan pasti Kornelius, setelah sekali memeluk agama Yahudi, tidak membuang banyak waktu tanpa berusaha mengenal dasar-dasar dari ajaran yang benar. Sejauh Naaman dipersoalkan, adalah menggelikan, pada waktu Elisa mengajar dia berkenaan hal-hal yang kecil, tetapi diam / bungkam tentang pokok-pokok yang prinsip. Karena itu, sekalipun pengetahuan tentang Kristus kabur di antara mereka, adalah tidak mungkin untuk dianggap bahwa mereka tidak mempunyainya sama sekali; karena mereka mempraktekkan korban-korban dari hukum Taurat, yang oleh tujuan korban-korban itu - yaitu Kristus - harus dibedakan dari korban-korban palsu dari orang-orang non Yahudi] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter II, no 32.

 

Di bagian lain dari bukunya (‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter II, no 5), Calvin mengatakan bahwa ‘implicit faith’ itu adalah ‘the preparation of faith’ (= persiapan iman) atau ‘the beginning of faith’ (= permulaan iman). Dan ia memberi contoh:

a.   Yoh 4:50,53 - “(50) Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, anakmu hidup!’ Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. ... (53) Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: ‘Anakmu hidup.’ Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya”.

b.   Yoh 4:42 - “dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’”.

Dari kedua text ini terlihat dengan jelas bahwa seseorang bisa ‘percaya’, lalu setelah itu ‘percaya lagi’. Yang dianggap sebagai ‘implicit faith’ oleh Calvin adalah iman yang pertama, yang ia katakan sebetulnya merupakan persiapan / permulaan iman.

 

Louis Berkhof: “D. The Idea of Faith in Scripture. 1. In the Old Testament. ... Faith is never treated as a novelty of the new covenant, nor is any distinction drawn between the faith of the two covenants. There is a sense of continuity, and the proclamation of faith is regarded as the same in both dispensations, John 5:46; 12:38,39; Hab 2:4; Rom 1:17; 10:16; Gal 3:11; Heb 10:38. In both Testament faith is the same radical self-commitment to God; not merely as the highest good of the soul, but as the gracious Saviour of the sinner. The only difference that is apparent, is due to the progressive work of redemption, and this is more or less evident even within the confines of the Old Testament itself. ... In the earlier portions of the Old Testament ... The promise of God is in the foreground, and the case of Abraham is designed to set forth the idea that the proper response to it is of faith. The whole life of Noah was determined by trust in God and in His promises, but it is especially Abraham that is set before us as the typical believer, who commits himself to God with unwavering trust in His promises and is justified by faith. b. In the period of the law. ... The law was not substituted for the promise; neither was faith supplanted by works. Many of the Israelites, indeed, looked upon the law in a purely legalistic spirit and sought to base their claim to salvation on a scrupulous fulfilment of it as a body of external precepts. But in the case of those who understood its real nature, who felt the inwardness and spirituality of the law, it served to deepen the sense of sin and to sharpen the conviction that salvation could be expected only from the grace of God. The essence of real piety was ever-increasingly seen to consist in a confident trust in the God of salvation. While the Old Testament clearly stresses the fear of the Lord, a large number of expressions, such as hoping, trusting, seeking refuge in God, looking to Him, relying on Him, fixing the heart on Him, and cleaving to Him - make it abundantly evident that this fear is not a craven but a child-like, reverent fear, and emphasize the necessity of that loving self-commitment to God which is the essence of saving faith. Even in the period of the law faith is distinctly soteriological, looking to the Messianic salvation. It is a trusting in the God of salvation, and a firm reliance on His promises for the future. 2. In the New Testament. When the Messiah came in fulfilment of the prophecies, bringing the hoped-for salvation, it became necessary for the vehicles of God’s revelation to direct God’s people to the person of their Redeemer. This was all the more necessary in view of the fact that the fulfilment came in a form which many did not expect, and which apparently did not correspond with the promise. a. In the Gospels. The demand for faith in Jesus as the Redeemer, promised and hoped for, appeared as something characteristic of the new age. ‘To believe’ meant to become a Christian. This demand seemed to create a gulf between the old dispensation and the new. The beginning of the latter is even called ‘the coming of faith,’ Gal. 3:23,25. It is the characteristic thing of the Gospels that in them Jesus is constantly offering Himself as the object of faith, and that in connection with the highest concerns of the soul. ... b. In the Acts. In the Acts of the Apostles faith is required in the same general sense. By the preaching of the apostles men are brought to the obedience of faith in Christ; and this faith becomes the formative principle of the new community” (= D. Gagasan tentang iman dalam Kitab Suci. 1. Dalam Perjanjian Lama. ... Iman tidak pernah diperlakukan sebagai sesuatu yang baru dari Perjanjian Baru, juga tidak ada perbedaan apapun yang digambarkan antara iman dari kedua perjanjian itu. Ada suatu pengertian / arti yang berkelanjutan, dan pemberitaan iman dianggap sama dalam kedua jaman, Yoh 5:46; 12:38,39; Hab 2:4; Ro 1:17; 10:16; Gal 3:11; Ibr 10:38. Dalam kedua Perjanjian, iman adalah penyerahan diri sendiri secara radikal kepada Allah; bukan semata-mata sebagai hal yang terbaik dari jiwa, tetapi sebagai Juruselamat yang penuh kasih karunia dari orang berdosa. Satu-satunya perbedaan yang terlihat, disebabkan oleh pekerjaan penebusan yang bersifat progresif, dan ini lebih atau kurang jelas bahkan dalam batasan dari Perjanjian Lama sendiri. ... Dalam bagian yang paling awal dari Perjanjian Lama ... Janji-janji Allah ada di latar depan, dan kasus Abraham direncanakan / ditujukan untuk mengemukakan gagasan bahwa tanggapan yang benar terhadapnya adalah iman. Seluruh hidup Nuh diarahkan oleh kepercayaan kepada Allah dan janji-janjiNya, tetapi adalah Abraham yang secara khusus diletakkan di depan kita sebagai orang percaya yang khas, yang menyerahkan dirinya sendiri kepada Allah dengan kepercayaan yang teguh pada janji-janjiNya dan dibenarkan oleh iman. b. Dalam jaman hukum Taurat. ... Hukum Taurat tidak menggantikan janji; juga iman tidak digantikan oleh pekerjaan / perbuatan baik. Memang banyak orang Israel memandang pada hukum Taurat dengan roh legalistik yang murni dan berusaha untuk mendasarkan tuntutan keselamatan mereka pada penggenapan / ketaatan sampai hal yang sekecil-kecilnya pada hukum Taurat sebagai suatu kumpulan dari ajaran-ajaran lahiriah. Tetapi dalam kasus dari mereka yang mengerti sifat hukum Taurat yang sesungguhnya, yang merasakan sifat batin dan rohani dari hukum Taurat, hukum Taurat itu berfungsi untuk memperdalam perasaan / pengertian tentang dosa, dan mempertajam keyakinan bahwa keselamatan hanya bisa diharapkan dari kasih karunia Allah. Hakekat dari kesalehan yang sesungguhnya makin lama makin terlihat dalam suatu kepercayaan yang penuh keyakinan kepada Allah dari keselamatan. Sementara Perjanjian Lama dengan jelas menekankan rasa takut akan Tuhan, tetapi sejumlah besar ungkapan, seperti ‘berharap’, ‘mempercayai’, ‘mencari perlindungan dalam / kepada Allah’, ‘memandang kepadaNya’, ‘bersandar kepadaNya’, ‘mengarahkan / menancapkan hati kepadaNya’, dan ‘melekat kepadaNya’ - membuat jelas dengan berlimpah-limpah bahwa rasa takut ini bukanlah betul-betul takut, tetapi rasa takut dari seorang anak yang penuh dengan rasa hormat, dan menekankan perlunya penyerahan diri yang penuh kasih kepada Allah, yang merupakan hakekat dari iman yang menyelamatkan. Bahkan dalam jaman hukum Taurat, iman dengan jelas berhubungan dengan keselamatan, memandang pada keselamatan dari Mesias. Iman itu adalah suatu tindakan percaya kepada Allah dari keselamatan, dan suatu kebersandaran yang teguh pada janji-janjinya untuk masa yang akan datang. 2. Dalam Perjanjian Baru. Pada saat Mesias datang dalam penggenapan dari nubuat-nubuat, membawa keselamatan yang diharapkan, maka menjadi perlu untuk sarana / cara dari wahyu Allah untuk mengarahkan umat Allah kepada pribadi dari Penebus mereka. Ini makin perlu mengingat fakta bahwa penggenapan itu datang dalam bentuk yang tidak diharapkan oleh banyak orang, dan yang kelihatannya tidak sesuai dengan janjinya. a. Dalam Injil-injil. Tuntutan untuk iman kepada Yesus sebagai Penebus yang dijanjikan dan diharapkan, terlihat sebagai sesuatu yang merupakan sifat dari jaman yang baru. ‘Percaya’ berarti ‘menjadi seorang Kristen’. Tuntutan ini kelihatannya menciptakan suatu jurang pemisah antara jaman Perjanjian Lama dan jaman Perjanjian Baru. Permulaan dari jaman Perjanjian Baru bahkan disebut ‘datangnya iman’, Gal 3:23,25. Itu merupakan sesuatu yang khas dari Injil-injil bahwa dalam Injil-injil itu Yesus secara tetap menawarkan dirinya sendiri sebagai obyek dari iman, dan itu dalam hubungan dengan kepedulian tertinggi tentang jiwa. ... b. Dalam Kisah Rasul. Dalam Kisah Rasul, iman dituntut dalam arti umum yang sama. Oleh pemberitaan dari rasul-rasul, orang-orang dibawa pada ketaatan dari iman kepada Kristus; dan iman ini menjadi prinsip yang berhubungan dengan pertumbuhan dari masyarakat yang baru) - ‘Systematic Theology’, hal 498-499.

Gal 3:23-25 - “(23) Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. (24) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. (25) Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun”.

 

2)   Sekarang, bagaimana dengan keselamatan Kornelius?

Dalam pembahasan-pembahasan yang lalu kita sudah melihat bahwa Kornelius adalah seorang semi proselit, dan ia sudah beriman (dengan iman Perjanjian Lama). Jadi kelihatannya, kita harus menyimpulkan bahwa ia sudah selamat. Tetapi ada problem dengan pandangan ini.

 

a)   Ia belum menerima Roh Kudus, dan baru menerimanya setelah Petrus memberitakan Injil kepadanya (ay 36-44).

 

Jawaban terhadap problem ini:

 

Lenski: “All those who spoke with tongues at the time of Pentecost were already saved, ... All those who heard Peter in the house of Cornelius had faith and were saved before the Spirit came and gave them the ability to speak with tongues. The same is true with regard to the Samaritans, 8:15-17. This falling of the Spirit upon people, this charismatic gift of the Spirit, is entirely separate from the Spirit reception by faith for salvation and by baptism for regeneration and renewing (Tit. 3:5)” [= Semua mereka yang berbicara dengan bahasa Roh pada hari Pentakosta sudah diselamatkan, ... Semua orang yang mendengar Petrus di rumah Kornelius telah mempunyai iman dan telah diselamatkan sebelum Roh datang dan memberi mereka kemampuan berbicara dengan bahasa Roh. Hal yang sama juga benar berkenaan dengan orang-orang Samaria, Kis 8:15-17. Turunnya Roh kepada orang-orang, karunia kharismatik dari Roh ini, sama sekali terpisah dari penerimaan Roh oleh iman untuk keselamatan dan oleh baptisan kelahiran baru dan pembaharuan (Tit 3:5)] - hal 431.

 

Lenski: “We have these three in a direct line: 2:2-13; 8:15-17; and now 10:44-46. The miracle is the same, a sudden speaking in languages the speakers had never learned, first by Jewish, secondly by Samaritan, and now thirdly by Gentile Christians, the plain intention being to show that God made no difference between them, in particular by placing the Samaritan and the Gentile believers on a par with the Jewish believers” (= Kita mempunyai ketiga hal / text ini dalam suatu garis lurus: 2:2-13; 8:15-17; dan sekarang 10:44-46. Mujijatnya sama, mendadak berbicara dalam bahasa Roh yang tak pernah dipelajari oleh para pembicaranya, pertama-tama oleh orang-orang Yahudi, yang kedua oleh orang-orang Samaria, dan sekarang yang ketiga oleh orang-orang Kristen non Yahudi, maksud yang jelas adalah untuk menunjukkan bahwa Allah tidak membuat perbedaan di antara mereka, khususnya dengan menempatkan orang-orang Samaria dan orang-orang non Yahudi pada suatu persamaan dengan orang-orang percaya Yahudi) - hal 432.

 

b)   Ayat problem.

Kis 11:14 - “Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu”.

KJV: Who shall tell thee words, whereby thou and all thy house shall be saved (= Yang akan memberitahu kamu kata-kata, dengan mana engkau dan seluruh rumahmu akan diselamatkan).

RSV: he will declare to you a message by which you will be saved, you and all your household (= ia akan menyatakan kepadamu suatu berita dengan mana engkau akan diselamatkan, engkau dan seluruh rumah tanggamu).

NIV: He will bring you a message through which you and all your household will be saved (= Ia akan membawa kepadamu suatu berita melalui mana engkau dan seluruh rumah tanggamu akan diselamatkan).

NASB: and he shall speak words to you by which you will be saved, you and all your household (= dan ia akan mengatakan kata-kata kepadamu dengan mana engkau akan diselamatkan, engkau dan seluruh rumah tanggamu).

 

Bagaimana menafsirkan ayat ini?

 

1.   Banyak penafsir mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Kornelius memang belum selamat pada saat itu.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kis 11:14): “Let the reader observe here, that ‘salvation’ is made to hang upon ‘words’ - that is, the Gospel message concerning Christ. The ‘house’ or ‘household’ of Cornelius is here associated with himself in the promised salvation, because he feared God ‘with all his house’ (v 2)” [= Hendaklah para pembaca memperhatikan di sini, bahwa ‘keselamatan’ dibuat tergantung pada ‘firman’ - yaitu berita Injil berkenaan dengan Kristus. ‘Rumah’ atau ‘rumah tangga’ Kornelius di sini dihubungkan dengan dirinya sendiri dalam janji keselamatan, karena ia takut akan Allah ‘dengan seisi rumahnya’ (ay 2)].

Catatan: Ini kelihatannya menunjukkan Kornelius belum selamat. Karena kalau keselamatan tergantung pada berita Injil, dan ia belum menerima berita Injil itu sampai Petrus memberitakannya kepadanya, maka jelas bahwa pada saat itu ia belum selamat.

 

J. A. Alexander (tentang Kis 11:14): “‘By which,’ literally, ‘in which,’ i.e. in the hearing, or rather in the doing of which. The words which Peter was to speak were not merely doctrinal or theoretical, but practical, preceptive, and imperative. They were to tell him what to do, and in the doing of it he was to be saved, in the highest and most comprehensive sense, that of deliverance from all the evils of his previous condition. ‘And all thy house’ or ‘household,’ who had been before described as sharers in his fear of God (see above, on ch. 10,2), and no doubt in his prayers and alms and longing for salvation. To them, as well as to himself, it pleased God that the words of Peter should be savingly effectual” [= ‘Dengan mana’, secara hurufiah, ‘dalam mana’, yaitu dalam mendengar, atau lebih tepat, dalam melakukan hal mana. Kata-kata yang akan diucapkan oleh Petrus bukanlah semata-mata bersifat doktrinal atau teoretis, tetapi praktis, bersifat ajaran, dan merupakan perintah. Kata-kata itu akan memberi tahu dia apa yang harus dilakukan, dan dalam melakukannya ia akan diselamatkan, dalam arti yang tertinggi dan paling luas, tentang pembebasan dari semua kejahatan dari kondisinya sebelumnya. ‘Dan seluruh rumahmu’ atau ‘rumah tangga / keluarga’, yang sebelumnya telah digambarkan sebagai orang-orang yang ikut ambil bagian dalam rasa takutnya akan Allah (lihat di atas, tentang pasal 10:2), dan tak diragukan dalam doa-doa dan sedekah-sedekah dan kerinduannya untuk keselamatan. Bagi mereka, maupun bagi dirinya sendiri, merupakan sesuatu yang memperkenan Allah bahwa kata-kata dari Petrus harus menyelamatkan secara efektif] - hal 424.

 

Lenski (tentang Kis 11:14): “‘Shall be saved’ is passive and implies the Savior as the agent. Despite his connection with the synagogue, Cornelius had not yet found salvation as is clear from 4:12. What Peter says brings out the very things all these Jewish Christians must realize, namely that they were not saved by circumcision or legal ordinances of Moses but solely and also completely by the utterances which contain the gospel and are connected with the Savior. And these utterances were sufficient to save any man, be he Jew or Gentile” (= ‘Akan diselamatkan’ adalah pasif dan secara implicit menunjukkan sang Juruselamat sebagai agen yang menyelamatkan. Sekalipun mempunyai hubungan dengan sinagog, Kornelius belum menemukan keselamatan, seperti jelas dari 4:12. Apa yang Petrus katakan membawa / mengeluarkan hal-hal yang harus disadari oleh semua orang-orang Kristen Yahudi ini, yaitu bahwa mereka tidak diselamatkan oleh sunat atau peraturan hukum Musa tetapi semata-mata dan juga secara lengkap / sempurna oleh ucapan-ucapan yang berisikan injil dan berhubungan dengan sang Juruselamat. Dan ucapan-ucapan ini cukup untuk menyelamatkan siapapun, apakah ia Yahudi atau non Yahudi) - hal 444.

Catatan: Lenski memberikan pandangan yang menentang pandangannya sendiri. Bandingkan dengan kata-katanya yang saya kutip di atas yang menyatakan pandangannya bahwa Kornelius sudah selamat pada saat itu.

Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.

 

Thomas Walker (tentang Kis 11:14): “This shews that, though Cornelius was sincerely pious and an earnest seeker after truth, a personal knowledge of Christ was necessary in order to actual salvation. It also suggests that his prayers and desires took the form of a deep spiritual longing for the salvation of God” (= Ini menunjukkan bahwa sekalipun Kornelius saleh secara tulus dan merupakan seorang pencari kebenaran yang sungguh-sungguh, suatu pengenalan pribadi tentang Kristus perlu supaya betul-betul selamat. Itu juga menunjukkan bahwa doa-doa dan keinginan-keinginannya ada dalam bentuk kerinduan rohani yang dalam untuk keselamatan dari Allah) - hal 252.

Thomas Walker (tentang Kis 10:35): “Though the centurion was not yet actually in a state of salvation (11:14), he was an earnest seeker after it. And those who seek shall find (Matt. 7:7,8)” [= Sekalipun sang perwira belum betul-betul ada dalam keadaan keselamatan (11:14), ia adalah seorang pencari keselamatan yang sungguh-sungguh. Dan mereka yang mencari akan mendapatkan / menemukan (Mat 7:7-8)] - hal 241.

 

A. T. Robertson (tentang Kis 11:14): Clearly Cornelius was unsaved in spite of his interest in Jewish worship. Clearly also the household of Cornelius would likewise be won to Christ by the words of Simon Peter (= Jelas bahwa Kornelius ada dalam keadaan tidak selamat sekalipun ia mempunyai kesenangan dalam ibadah Yahudi. Jelas juga bahwa rumah tangga / keluarga Kornelius juga dimenangkan kepada Kristus oleh firman dari Simon Petrus).

 

The Biblical Illustrator (New Testament) tentang Kis 11:14: Cornelius was no common publican or sinner, but possessed all the qualifications of a saint, if a saint can grow in the sell of this earth, without a seed from heaven. If any man could be just with God apart from Christ, surely this is the man. Yet the Word of God treats him as a sinner, and tells him what he must do to be saved. There is no escape from the force of this case. It effectually shuts out all hope of merit [= Kornelius bukanlah pemungut cukai atau orang berdosa yang hina, tetapi memiliki semua persyaratan dari seorang kudus, jika seorang kudus bisa bertumbuh dalam sell (?) dari bumi ini, tanpa suatu benih dari surga. Seandainya seorang manusia bisa benar dengan Allah terpisah dari Kristus, pasti inilah orang itu. Tetapi Firman Allah memperlakukan dia sebagai orang berdosa, dan memberitahu dia apa yang harus ia lakukan untuk diselamatkan. Tidak ada jalan lolos dari kekuatan dari kasus ini. Itu secara efektif menutup semua pengharapan dari jasa (perbuatan baik)].

 

F. F. Bruce (NICNT) tentang Kis 11:14: “salvation did not enter Cornelius’s house until Peter came there with the gospel” (= keselamatan tidak memasuki rumah Kornelius sampai Petrus datang di sana dengan injil ) - hal 235.

 

Kalau pada saat itu Kornelius memang belum selamat, maka ada 2 kemungkinan pandangan menurut saya:

 

a.   Pada saat itu Kornelius sudah dilahir-barukan, tetapi belum sungguh-sungguh beriman kepada Kristus.

Perlu diingat bahwa dalam theologia Reformed, kelahiran baru harus mendahului iman, seperti yang dikatakan oleh Louis Berkhof di bawah ini.

 

Louis Berkhof: “True saving faith. ... The seed of faith is implanted in man in regeneration. ... It is only after God has implanted the seed of faith in the heart that man can exercise faith” (= Iman yang menyelamatkan yang benar. ... Benih iman ditanamkan dalam diri manusia dalam kelahiran baru. ... Hanya setelah Allah telah menanamkan benih iman dalam hati orang berdosalah manusia bisa beriman) - ‘Systematic Theology’, hal 503.

 

b.   Pada saat itu Kornelius sudah beriman, tetapi dengan iman orang-orang Perjanjian Lama, yaitu iman kepada Kristus yang akan datang. Sedangkan saat itu sudah masuk jaman Perjanjian Baru, sehingga iman seperti itu belum memadai untuk keselamatan. Ia harus percaya kepada Kristus yang sudah datang. Tetapi bagaimanapun, orang yang mempunyai iman Perjanjian Lama seperti ini pasti akan mendengar Injil dan mempercayainya.

 

2.   Tetapi ada beberapa penafsir / ahli theologia yang kelihatannya mempunyai pandangan yang berbeda tentang Kis 11:14 itu.

 

a.   Kata-kata dalam Kis 11:14 itu hanya menunjuk pada doktrin keselamatan / ajaran tentang keselamatan.

 

Adam Clarke: “he shall tell thee words whereby thou and thy house shall be saved. He shall announce to you all the doctrine of salvation (= ia akan memberitahu engkau kata-kata / firman dengan mana engkau dan rumahmu akan diselamatkan. Ia akan mengumumkan kepadamu seluruh doktrin keselamatan).

 

Kalau ini benar, maka Kis 11:14 artinya hanyalah bahwa Petrus harus menyampaikan doktrin keselamatan secara menyeluruh kepada Kornelius, dan tidak berarti bahwa Kornelius belum selamat.

 

Keberatan: kata-kata ‘bagimu dan bagi seisi rumahmu’ rasanya tak cocok dengan penafsiran ini.

Kis 11:14 - “Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.

 

b.   Kornelius sudah selamat, tetapi ia tidak mempunyai keyakinan keselamatan.

H. A. Ironside: “Though Cornelius was a man whose prayers and alms-giving had been accepted by God, therefore of the very necessity he must have been on the ground of an Old Testament believer. He was already quickened, but was not what the New Testament calls ‘saved.’ When we speak of being saved we mean far more than being safe. All down the centuries those who turned to God in repentance were quickened by the Spirit of God, and in that sense were children of God and went home to heaven at death, but they did not know positively that they were justified before God. They could not know for certain that their souls were saved. All these precious truths awaited revelation in the new dispensation” (= Sekalipun Kornelius adalah seseorang yang doa-doa dan pemberian sedekah-sedekahnya telah diterima oleh Allah, dan karena itu pastilah ia berada pada daerah dari orang percaya Perjanjian Lama. Ia telah dihidupkan, tetapi bukanlah apa yang Perjanjian Baru sebut ‘diselamatkan’. Pada waktu kita berbicara tentang ‘diselamatkan’ kita memaksudkan lebih jauh dari pada ‘ada dalam keadaan aman’. Semua yang dalam sepanjang abad-abad yang lalu berbalik kepada Allah dalam pertobatan dihidupkan oleh Roh Allah, dan dalam arti itu adalah anak-anak Allah dan pergi ke surga pada saat mati, tetapi mereka tidak mengetahui secara positif bahwa mereka dibenarkan di hadapan Allah. Mereka tidak bisa tahu dengan pasti bahwa jiwa-jiwa mereka diselamatkan. Semua kebenaran-kebenaran yang berharga ini menunggu wahyu dalam jaman Perjanjian Baru) - hal 268-269.

 

A. H. Strong: “In Acts 10:35 - ‘in every nation he that feareth him, and worketh righteousness, is acceptable to him’ - Peter declares, not that Cornelius was not a sinner, but that God had accepted him through Christ; Cornelius was already justified, but he needed to know (1) that he was saved, and (2) how he was saved; and Peter was sent to tell him of the fact, and of the method, of his salvation in Christ” [= Dalam Kis 10:35 - ‘Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya’ - Petrus menyatakan, bukan bahwa Kornelius bukanlah seorang yang berdosa, tetapi bahwa Allah telah menerima dia melalui Kristus; Kornelius sudah dibenarkan, tetapi ia perlu tahu (1) bahwa ia telah selamat / diselamatkan, dan (2) bagaimana ia diselamatkan; dan Petrus diutus untuk memberi tahu dia tentang fakta itu, dan tentang cara / metode, dari keselamatan dalam Kristus] - ‘Systematic Theology’, hal 574.

 

Keberatan: Kis 11:14 tidak membicarakan ‘keyakinan keselamatan’ tetapi ‘keselamatan’.

Kis 11:14 - “Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu”.

 

Catatan: sekalipun dua pandangan di atas ini (point a dan b) mempunyai keberatan, tetapi menurut saya keberatan itu tidak mutlak. Alasan saya: dalam banyak kasus ayat Kitab Suci memang tidak bisa ditafsirkan apa adanya / sesuai kata-katanya secara hurufiah.

 

Sukar untuk mengambil kesimpulan yang pasti tentang keselamatan Kornelius pada saat itu. Menurut saya, kesukarannya disebabkan karena kita tidak tahu kapan Kornelius mulai memiliki iman Perjanjian Lama itu.

Kalau ia sudah memiliki iman Perjanjian Lama itu sebelum kematian Kristus, yang berarti masih termasuk jaman Perjanjian Lama, maka ia sudah selamat (dan saya tak percaya ia bisa kehilangan keselamatan).

Tetapi kalau ia mulai memiliki iman Perjanjian Lama itu setelah masuk jaman Perjanjian Baru, maka iman Perjanjian Lama itu tidak memadai, dan ia belum selamat. Kalau kasus kedua ini yang benar, maka mungkin ia sama dengan kasus orang-orang dalam Kis 19:1-7.

                  1                                                            2

------------------------------------------------------------------------------------------------------

            Perjanjian Lama                                    Perjanjian Baru

 

 

Berdasarkan kesalehan hidupnya (yang sudah kita bahas di depan), dan juga bahwa ia / perbuatannya sudah diterima oleh Allah dan memperkenan Allah, saya lebih condong pada kasus yang pertama. Jadi, ia sudah mempunyai iman Perjanjian Lama sebelum Kristus mati disalib, dan karena itu ia sudah selamat. Sekalipun waktu berlalu, dan memasuki jaman Perjanjian Baru setelah kematian Kristus, dan Kornelius belum mengetahui Injil dengan jelas, tidak mungkin kita menganggap bahwa ia kehilangan keselamatannya, sekalipun hanya untuk sementara!

Kalau memang demikian, maka tentang Kis 11:14 tadi, kita harus memilih pandangan ke 2, yang mengatakan bahwa ayat itu tidak menunjukkan bahwa Kornelius belum selamat. Memang ada 2 penafsiran di sana (point a. dan b.); yang mana yang benar, tak terlalu jadi soal.

 

V) Penjelasan tentang Kis 10:34,35.

 

Ay 34-35: “(34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

1)   Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa ayat ini digunakan oleh beberapa orang (bukan oleh Pdt. Stephen Tong sendiri) untuk mengatakan bahwa orang-orang seperti filosof Cina itu bisa diselamatkan. Dan kata-kata Pdt. Stephen Tong dalam hal ini memang benar, karena memang ada orang-orang seperti itu, yang terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini.

 

A. H. Strong: “The patriarchs, though they had no knowledge of a personal Christ, were saved by believing in God so far as God had revealed himself to them; and whosoever among the heathen are saved, must in like manner be saved by casting themselves as helpless sinners upon God’s plan of mercy, dimly shadowed forth in nature and providence. But such faith, even among the patriarchs and heathen, is implicitly a faith in Christ, and would become explicit and conscious trust and submission, whenever Christ were made known to them (Matt 8:11,12; John 10:16; Acts 4:12; 10:31,34,35,44; 16:31)” [= Para kepala keluarga, sekalipun mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang Kristus yang bersifat pribadi, diselamatkan oleh kepercayaan kepada Allah sejauh Allah telah menyatakan diriNya sendiri kepada mereka; dan siapapun di antara orang-orang kafir yang diselamatkan, harus dengan cara yang serupa diselamatkan dengan melemparkan diri mereka sendiri sebagai orang-orang berdosa yang tak berdaya kepada rencana Allah tentang belas kasihan, yang digambarkan / dibayangkan secara samar-samar dalam alam dan providensia. Tetapi iman seperti itu, bahkan di antara para kepala keluarga dan orang kafir, secara implicit merupakan iman kepada Kristus, dan akan menjadi kepercayaan dan ketundukan yang explicit dan sadar, pada waktu Kristus dinyatakan kepada mereka (Mat 8:11,12; Yoh 10:16; Kis 4:12; 10:31,34,35,44; 16:31)] - ‘Systematic Theology’, hal 842.

 

Catatan: istilah ‘patriarch’ tak ada sama katanya dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus artinya adalah ‘kepala keluarga’, tetapi dalam buku theologia dan tafsiran digunakan untuk menunjuk kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan juga ke 12 anak laki-laki Yakub.

Webster’s New World Dictionary (tentang kata ‘patriarch’): “the father and ruler of a family or tribe, as one of the founders of the ancient Hebrew families: in the Bible, Abraham, Isaac, Jacob and Jacob’s twelve sons were patriarchs” (= bapa dan pemimpin dari suatu keluarga atau suku, sebagai salah satu pendiri dari keluarga-keluarga Ibrani kuno: dalam Alkitab, Abraham, Ishak, Yakub, dan 12 anak laki-laki dari Yakub adalah ‘patriarchs’).

 

A. H. Strong: Since Christ is the Word of God and the Truth of God, he may be received even by those who have not heard of his manifestation in the flesh. A proud and self-righteous morality is inconsistent with saving faith; but a humble and penitent reliance upon God, as a Saviour from sin and a guide of conduct, is an implicit faith in Christ; for such reliance casts itself upon God, so far as God has revealed himself, - and the only Revealer of God is Christ. We have, therefore, the hope that even among the heathen there may be some, like Socrates, who, under the guidance of the Holy Spirit working through the truth of nature and conscience, have found the way of life and salvation (= Karena Kristus adalah Firman Allah dan Kebenaran Allah, Ia bisa diterima bahkan oleh mereka yang tidak / belum pernah mendengar tentang manifestasiNya dalam daging. Suatu kehidupan moral yang sombong dan merasa diri sendiri benar tidak konsisten dengan iman yang menyelamatkan; tetapi suatu kebersandaran yang rendah hati dan bersifat menyesal kepada Allah, sebagai seorang Juruselamat dari dosa dan seorang Pembimbing tingkah laku, adalah suatu iman yang implicit kepada Kristus; karena kebersandaran seperti itu melemparkan diri sendiri kepada Allah, sejauh Allah telah menyatakan diriNya sendiri, - dan satu-satunya Yang menyatakan Allah adalah Kristus. Karena itu, kita mempunyai pengharapan bahwa bahkan di antara orang kafir bisa ada beberapa / sebagian, seperti Socrates, yang di bawah bimbingan Roh Kudus yang bekerja melalui kebenaran dari alam dan hati nurani, telah menemukan jalan kehidupan dan keselamatan) - ‘Systematic Theology’, hal 843.

 

J. A. Alexander: “This verse has sometimes been abused, to prove that the knowledge of the Gospel is not necessary to the salvation of the heathen” (= Ayat ini kadang-kadang telah disalah-gunakan, untuk membuktikan bahwa pengetahuan tentang Injil tidaklah perlu untuk keselamatan orang kafir) - hal 409.

 

Calvin: But it seemeth that this place doth attribute the cause of salvation unto the merits of works. For if works purchase favor for us with God, they do also win life for us which is placed in the love of God towards us. Some do also catch at the word ‘righteousness,’ that they may prove that we are not justified freely by faith, but by works (= Tetapi kelihatannya bahwa tempat / ayat ini memang menghubungkan penyebab keselamatan dengan jasa dari perbuatan baik. Karena jika perbuatan baik membeli kemurahan / perkenan Allah bagi kita, maka perbuatan baik juga memenangkan hidup bagi kita yang ditempatkan dalam kasih Allah terhadap kita. Sebagian orang juga memegang kata ‘kebenaran’, supaya mereka bisa membuktikan bahwa kita tidak dibenarkan dengan cuma-cuma oleh iman, tetapi oleh perbuatan baik).

 

Barnes’ Notes (tentang Kis 10:4): ‘Are come up for a memorial’. Are remembered before God. ... They were an evidence of piety toward God, and were accepted as such. Though he had not offered sacrifice according to the Jewish laws; though he had not been circumcised; yet, having acted according to the light which he had, his prayers were heard, and his alms were accepted. This was done in accordance with the general principle of the divine administration, that God prefers the offering of the heart to external forms; the expressions of love to sacrifice without it. This he had often declared, Isa 1:11-15; Amos 5:21-22; 1 Sam 15:22, ‘To obey is better than sacrifice, and to hearken than the fat of rams,’ Hos 6:6; Eccl 5:1. It should be remembered, however, that Cornelius was not depending on external morality. His heart was in the work of religion. It should be remembered, further, that he was ready to receive the gospel when it was offered to him, and to become a Christian. In this there was an important difference between him and those who are depending for salvation on their morality in Christian lands. Such people are inclined to defend themselves by the example of Cornelius, and to suppose that as he was accepted BEFORE he embraced the gospel, so they may be without embracing it. But there is an important difference in the two cases. For: (1) There is no evidence that Cornelius was depending on external morality for salvation. His offering was that of the heart, and not merely an external offering. (2) Cornelius did not rely on his morality at all. His was a work of religion. He feared God; he prayed to him; he exerted his influence to bring his family to the same state. Moral people do neither. ‘All their works they do to be seen of men’; and in their heart there is ‘no good thing toward the Lord God of Israel.’ Compare 1 Kings 14:13; 2 Chron 19:3. Who ever hears of a man that ‘fears God,’ and that prays, and that instructs his household in religion, that depends on morality for salvation? (3) Cornelius was disposed to do the will of God as far as it was made known to him. Where this exists there is religion. The moral man is not. (4) Cornelius was willing to embrace a Saviour when he was made known to him. The moral man is not. He hears of a Saviour with unconcern; he listens to the message of God’s mercy from year to year without embracing it (= ‘Telah naik sebagai suatu peringatan’. Diingat di hadapan Allah. ... Mereka adalah suatu bukti kesalehan kepada Allah, dan diterima sebagai hal seperti itu. Sekalipun ia tidak mempersembahkan korban sesuai dengan hukum-hukum Yahudi; sekalipun ia tidak / belum disunat; tetapi, setelah bertindak sesuai dengan terang yang ia miliki, doa-doanya didengarkan, dan sedekah-sedekahnya diterima. Ini dilakukan sesuai dengan prinsip umum dari pemerintahan ilahi, bahwa Allah lebih memilih persembahan dari hati dari upacara-upacara lahiriah; ungkapan-ungkapan kasih dari korban tanpa kasih. Ini telah sering Ia nyatakan, Yes 1:11-15; Amos 5:21-22; 1 Sam 15:22, ‘mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan’, Hos 6:6; Pkh 4:17. Tetapi harus diingat bahwa Kornelius tidak bersandar pada kehidupan moral lahiriah. Hatinya merupakan pekerjaan dari agama. Selanjutnya harus diingat bahwa ia siap untuk menerima injil pada waktu itu ditawarkan kepadanya, dan menjadi orang Kristen. Dalam hal ini ada suatu perbedaan di antara dia dan mereka yang mempercayai / menggantungkan keselamatan pada kehidupan moral mereka di negara-negara Kristen. Orang-orang seperti itu cenderung untuk membela diri mereka sendiri dengan teladan dari Kornelius, dan menduga / menganggap bahwa karena ia diterima SEBELUM ia memeluk / percaya kepada injil, maka mereka juga bisa diterima sebelum memeluk / mempercayainya. Tetapi di sana ada suatu perbedaan penting dalam dua kasus. Karena, (1) Di sana tidak ada bukti bahwa Kornelius bergantung pada kehidupan moral lahiriah untuk keselamatan. Persembahannya adalah persembahan dari hati, dan bukan semata-mata persembahan lahiriah. (2) Kornelius tidak bergantung pada kehidupan moralnya sama sekali. PekerjaanNya adalah pekerjaan dari agama. Ia takut akan Allah; ia berdoa kepadaNya; ia menggunakan pengaruhnya untuk membawa keluarganya ke keadaan yang sama. Orang-orang yang bersandar pada kehidupan moral tidak melakukan yang manapun dari hal-hal ini. ‘Semua perbuatan baik mereka lakukan supaya dilihat manusia’; dan dalam hati mereka ‘tidak ada hal yang baik terhadap Tuhan, Allah Israel’. Bandingkan 1Raja 14:13; 2Taw 19:3. Siapa yang pernah mendengar tentang seseorang yang ‘takut akan Allah’ dan yang berdoa, dan yang mengajar rumah tangganya dalam agama, yang bergantung pada kehidupan moral untuk keselamatan? (3) Kornelius ingin melakukan kehendak Allah sejauh itu dinyatakan kepadanya. Dimana hal ini ada di situ ada agama. Manusia moral tidak seperti itu. (4) Kornelius mau memeluk / mempercayai Juruselamat pada waktu Ia dinyatakan kepadanya. Manusia moral tidak. Ia mendengar tentang seorang Juruselamat tanpa perhatian; ia mendengar berita tentang belas kasihan Allah dari tahun ke tahun tanpa memeluk / mempercayainya).

 

2)   Untuk melihat bahwa apakah memang memungkinkan untuk menyimpulkan dari text ini bahwa ada kemungkinan selamat untuk orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil, mari kita pelajari Kis 10:34-35 ini.

 

Ay 34-35: “(34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

 

Mari kita bandingkan ayat aslinya ini dengan kutipan serampangan dari ayat ini yang dilakukan oleh Pdt. Stephen Tong.

Kis 10:35 (versi Pdt. Stephen Tong): “ternyata semua orang yang baik di dunia diterima oleh Tuhan”.

 

Kis 10:35 yang asli: “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.”.

 

Ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan tentang hal ini:

 

a)   Penekanan dari ayat ini, kalau dilihat dari seluruh kontext (Kis 10), adalah bahwa Tuhan tidak membedakan antara orang dari bangsa Yahudi dan orang dari bangsa non Yahudi.

Tetapi justru kata-kata ‘dari bangsa manapun’ dalam Kis 10:35 ini dihapuskan oleh Pdt. Stephen Tong pada waktu ia mengutip ayat ini secara serampangan!

 

J. A. Alexander: “The essential meaning is that whatever is acceptable to God in one race is acceptable in any other” (= Arti yang hakiki dari ayat ini adalah bahwa apapun yang bisa diterima oleh Allah dalam satu bangsa bisa diterima dalam bangsa yang lain) - hal 409.

 

Adam Clarke (tentang ay 34): “‘God is no respecter of persons’ He does not esteem a Jew, because he is a Jew; nor does he detest a Gentile because he is a Gentile. It was a long and deeply rooted opinion among the Jews, that God never would extend his favour to the Gentiles; and that the descendants of Jacob only should enjoy his peculiar favour and benediction. Of this opinion was Peter, previously to the heavenly vision mentioned in this chapter. He was now convinced that God was no respecter of persons; that as all must stand before his judgment seat, to be judged according to the deeds done in the body, so no one nation, or people, or individual, could expect to find a more favourable decision than another who was precisely in the same moral state; for the phrase, respect of persons, is used in reference to unjust decisions in a court of justice, where, through favour, or interest, or bribe, a culprit is acquitted, and a righteous or innocent person condemned. See Lev 19:15; Deut 1:16-17, and 16:19. And as there is no iniquity (decisions contrary to equity) with God, so he could not shut out the pious prayers, sincere fasting, and benevolont alms-giving of Cornelius; because the very spring whence they proceeded was his own grace and mercy. Therefore he could not receive even a Jew into his favour (in preference to such a person) who had either abused his grace, or made a less godly use of it than this Gentile had done” [= ‘Allah tidak membedakan orang’. Ia tidak menghargai seorang Yahudi karena ia adalah orang Yahudi; juga Ia tidak membenci seorang non Yahudi karena ia adalah orang non Yahudi. Merupakan suatu pandangan yang lama dan berakar dalam di antara orang-orang Yahudi, bahwa Allah tidak pernah akan memperluas kebaikanNya kepada orang-orang non Yahudi; dan bahwa hanya keturunan Yakub yang menikmati kebaikan dan berkat khususNya. Petrus mempunyai pandangan ini, sebelum penglihatan surgawi yang disebutkan sebelumnya dalam pasal ini. Sekarang ia yakin bahwa Allah tidak membedakan orang; bahwa semua harus berdiri di hadapan takhta penghakimanNya, untuk dihakimi sesuai dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam tubuh, sehingga tak ada bangsa, atau orang-orang, atau individu, bisa mengharapkan untuk mendapatkan suatu keputusan yang lebih baik dari pada yang lain, yang berada dalam keadaan moral yang betul-betul sama; karena ungkapan ‘membedakan orang’ digunakan berkenaan dengan keputusan yang tidak adil dalam suatu sidang pengadilan, dimana, melalui kebaikan, atau kepentingan, atau suap, orang yang telah melakukan kejahatan dibebaskan, dan orang yang benar atau tidak bersalah dihukum. Lihat Im 19:15; Ul 1:16-17, dan 16:19. Dan karena di sana tidak ada ketidak-adilan (keputusan yang bertentangan dengan keadilan) dengan Allah, maka Ia tidak bisa mencegah masuknya doa-doa yang saleh, puasa yang tulus, dan sedekah yang penuh kebaikan dari Kornelius; karena sumber dari mana hal-hal ini keluar adalah kasih karunia dan belas kasihanNya sendiri. Karena itu Ia tidak bisa menerima bahwa satu orang Yahudi ke dalam kebaikanNya (dalam kebaikanNya kepada orang seperti itu) yang atau telah menyalah-gunakan kasih karuniaNya, atau melakukan penggunaan yang kurang saleh tentangnya dari pada yang telah dilakukan oleh orang non Yahudi ini].

 

b)   Pdt. Stephen Tong mengatakan ‘orang yang baik’, tetapi ay 35 sebetulnya mengatakan takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran. Ini merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Banyak penafsir yang menganggap bahwa kata-kata ‘takut akan Allah’ menunjuk pada kesalehan terhadap Allah, sedangkan kata-kata ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan terhadap sesama manusia. Jadi, kata-kata ‘takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran’ tentu tidak bisa secara serampangan diganti dengan kata-kata ‘orang yang baik’!

Bahwa memang banyak penafsir beranggapan demikian, akan saya buktikan dengan menunjukkan beberapa kutipan dari para penafsir di bawah ini, termasuk dari Calvin.

 

Adam Clarke: “‘fears God,’ worships him alone (for this is the true meaning of the word), and ‘worketh righteousness,’ abstains from all evil, gives to all their due, injures neither the body, soul, nor reputation of his neighbour” (= ‘takut akan Allah’, menyembah Dia saja (karena ini adalah arti yang benar dari kata ini), dan ‘mengamalkan kebenaran’, menjauhkan diri dari semua kejahatan, memberikan kepada semua orang hak mereka, tidak menyakiti / melukai tubuh, jiwa ataupun reputasi / nama baik dari sesamanya).

 

Barnes’ Notes: ‘He that feareth him.’ This is put for piety toward God in general. ... ‘And worketh righteousness.’ Does what is right and just. This refers to his conduct toward man. ... These two things comprehend the whole of religion, the sum of all the requirements of God - piety toward God, and justice toward people; and as Cornelius had showed these, he showed that, though a Gentile, he was actuated by true religion (= ‘Ia yang takut akan Dia’. Ini dikemukakan untuk kesalehan terhadap Allah secara umum. ... ‘Dan mengamalkan kebenaran’. Melakukan apa yang benar dan adil. Ini menunjuk kepada tingkah lakunya terhadap manusia. ... Kedua hal ini mencakup seluruh agama, total dari semua tuntutan Allah - kesalehan terhadap Allah, dan keadilan terhadap orang-orang; dan karena Kornelius telah menunjukkan hal-hal ini, ia menunjukkan bahwa, sekalipun ia seorang non Yahudi, ia digerakkan oleh agama yang benar).

 

Matthew Henry: “Observe, Fearing God, and working righteousness, must go together; for, as righteousness towards men is a branch of true religion, so religion towards God is a branch of universal righteousness. Godliness and honesty must go together, and neither will excuse for the want of the other” (= Perhatikan, Takut akan Allah, dan mengamalkan kebenaran, harus berjalan bersama-sama; karena sebagaimana kebenaran terhadap sesama manusia merupakan suatu cabang dari agama yang benar, demikian juga agama terhadap Allah merupakan suatu cabang dari kebenaran universal. Kesalehan dan kejujuran harus berjalan bersama-sama, dan tidak ada satu yang memberi alasan absennya yang lain).

 

Sekarang mari kita melihat pandangan Calvin tentang ayat ini.

 

Calvin: “‘He which feareth God, and doth righteousness.’ In these two members is comprehended the integrity of all the whole life. For the fear of God is nothing else but godliness and religion; and ‘righteousness’ is that equity which men use among themselves, taking heed lest they hurt any man, and studying to do good to all men. As the law of God consisteth upon (of) these two parts, (which is the rule of good life) so no man shall prove himself to God but he which shall refer and direct all his actions to this end, neither shall there be any sound thing in all offices, (duties,) unless the whole life be grounded in the fear of God [= ‘Ia yang takut akan Allah, dan mengerjakan kebenaran’. Dalam kedua anggota / bagian ini tercakup integritas / kelurusan dari seluruh kehidupan. Karena rasa takut akan Allah bukan lain dari kesalehan dan agama; dan ‘kebenaran’ adalah keadilan yang digunakan manusia di antara diri mereka sendiri, dengan memperhatikan supaya mereka tidak menyakiti manusia manapun, dan belajar untuk melakukan apa yang baik kepada semua manusia. Seperti hukum Taurat Allah terdiri dari kedua bagian ini, (yang adalah peraturan dari kehidupan yang baik) demikianlah tidak ada seorangpun yang akan membuktikan dirinya kepada Allah kecuali ia yang menyerahkan dan mengarahkan semua tindakan-tindakannya pada tujuan ini, dan tidak ada hal yang sehat apapun dalam semua kewajiban, kecuali seluruh kehidupan didasarkan pada rasa takut akan Allah].

 

Sekarang mari kita perhatikan komentar Calvin tentang ay 2 yang berbunyi sebagai berikut: “Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah”.

 

Calvin (tentang ay 2): He saith that he was a godly man, and one that feared God; secondly, that like a good householder he had a care to instruct his families; he praiseth him afterward for the offices of love, because he was beneficial (beneficent) toward all the people; and, lastly, that he prayed (to) God continually. The sum is this, that Cornelius was a man of singular virtues, wherein the integrity of the godly consisteth, so that his life was framed, in all points, according to the rule which God prescribeth unto us. And because the law is contained in two tables, Luke commendeth, in the former place, Cornelius’ godliness; secondly, he descendeth unto the second part, that he exercised the offices of love toward men. This is very profitable to be marked, because we have a way to live well described in his person. Wherefore, in ordering the life well, let faith and religion be the foundation, which being taken away, all other virtues are nothing else but smokes. Luke reckoneth up the fear of God and prayer as fruits and testimonies of godliness and of the worship of God, and that for good causes. For religion cannot be separated from the fear of God and the reverence of him, neither can any man be counted godly, save he who acknowledging God to be his Father and Lord, doth addict himself wholly to him (= Ia berkata bahwa ia adalah orang yang saleh, dan orang yang takut akan Allah; kedua, bahwa seperti seorang pengatur rumah tangga yang baik ia mempunyai kepedulian untuk mengajar keluarganya; ia memujinya belakangan untuk jasa kasih, karena ia bersikap dermawan kepada seluruh bangsa itu; dan terakhir, bahwa ia senantiasa berdoa kepada Allah. Intisarinya adalah ini, bahwa Kornelius adalah seorang manusia dengan kebaikan / sifat baik yang luar biasa, dimana ketulusan / kejujuran dari orang saleh ada, sehingga kehidupannya dibentuk, dalam semua hal, sesuai dengan peraturan yang Allah tentukan bagi kita. Dan karena hukum Taurat ada dalam 2 loh batu, Lukas memuji, di tempat pertama kesalehan Kornelius; dan yang kedua, ia turun pada bagian yang kedua, bahwa ia melakukan jasa kasih kepada manusia. Ini sangat berguna untuk diperhatikan, karena kita mempunyai suatu jalan untuk hidup baik yang digambarkan dalam dirinya. Karena itu, dalam mengatur kehidupan dengan baik, hendaklah iman dan agama merupakan dasar / fondasi, yang kalau diambil, menyebabkan semua kebaikan yang lain tidak lain dari pada asap. Lukas memperhitungkan rasa takut akan Allah dan doa sebagai buah-buah dan kesaksian-kesaksian dari kesalehan dan dari ibadah kepada Allah, dan itu dengan alasan yang baik. Karena agama tidak bisa dipisahkan dari rasa takut akan Allah dan rasa hormat kepada Dia, juga siapapun tidak bisa dianggap saleh, kecuali ia yang mengakui Allah sebagai Bapa dan Tuhannya, sehingga membaktikan dirinya sepenuhnya kepadaNya).

 

Dengan demikian, ay 35 ini tidak mungkin diterapkan kepada filosof Cina itu, karena menurut Pdt. Stephen Tong sendiri (dalam VCD tentang filsafat Asia), ajaran filosof Cina itu hanya berurusan dengan sesama manusia dan tidak ada yang berurusan dengan Allah. Kalau dihubungkan dengan 10 hukum Tuhan, maka Pdt. Stephen Tong berkata bahwa hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi hukum 1-4 tidak ada.

 

Tetapi Calvin menganggap, bahwa kehidupan yang benar harus bersifat vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia). Bahkan kelihatan jelas bahwa Calvin menganggap bahwa kehidupan vertikal yang benar itu merupakan dasar dari kehidupan horizontal yang benar. Tanpa kehidupan vertikal yang benar, maka kehidupan horizontal yang kelihatannya baik hanyalah asap! Ini harus diterapkan dalam ‘kehidupan baik dari filosof Cina itu’ yang begitu disanjung oleh Pdt. Stephen Tong!

 

c)   Apakah ay 35 ini mengajarkan bahwa seseorang bisa diterima oleh Allah / berkenan kepada Allah karena perbuatan baik?

 

1.   Pertama-tama, mari kita meneliti kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa pada saat itu Kornelius memang belum diselamatkan, karena Kornelius masih harus diinjili oleh Petrus, dan baru sesudah itu ia diselamatkan. Tetapi pada saat itu, menurut Pdt. Stephen Tong, kebajikan Kornelius, sudah diterima oleh Tuhan. Jadi, Pdt. Stephen Tong menganggap bahwa adalah mungkin kebajikan seseorang sudah diterima oleh Tuhan, tetapi orangnya belum diterima / belum diselamatkan.

Ini sama sekali mustahil, karena kebajikannya tak bisa diterima, kalau orangnya tidak diterima. Dan kalau orangnya diterima, maka pasti ia diselamatkan.

 

Calvin: if works purchase favor for us with God, they do also win life for us which is placed in the love of God towards us (= jika perbuatan baik membeli kemurahan / perkenan Allah bagi kita, maka perbuatan baik juga memenangkan hidup bagi kita yang ditempatkan dalam kasih Allah terhadap kita).

 

Dari kata-kata Calvin di atas ini terlihat bahwa ia tidak membedakan antara ‘orangnya diterima’ dan ‘orangnya diselamatkan / mendapatkan hidup’. Ini yang Alkitabiah, karena:

a.   Ibr 11:6 mengatakan bahwa tanpa iman tidak mungkin orang berkenan / diterima oleh Allah (ini sudah saya bahas di depan dan tidak saya ulang di sini).

b.   Ada banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa sebelum seseorang beriman, seluruh hidupnya adalah dosa / bejat [ingat doktrin Total Depravity (= Kebejatan Total)] dalam ajaran Reformed!

 

2.   Sekarang mari kita lihat apakah ay 35 ini memang mengajarkan bahwa dengan perbuatan baik seseorang bisa diterima oleh Allah / berkenan kepada Allah?

Kelihatannya memang demikian, karena Kis 10:35 itu mengatakan: “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.

Ini hanya bisa diarahkan pada doktrin keselamatan karena perbuatan baik kalau kita melepas ayat ini dari seluruh Alkitab! Mengapa? Karena seluruh Alkitab mengajarkan keselamatan karena iman, dan menentang ajaran keselamatan karena perbuatan baik! Jadi, mustahil kalau dari ayat ini kita mendapatkan ajaran sesat itu. Karena itu, ayat ini harus ditafsirkan secara berbeda. Perhatikan komentar dari para penafsir yang saya kutip di bawah ini.

 

J. A. Alexander: “‘Feareth God and worketh righteousness’ are not meritorious conditions or prerequisites to the experience of divine grace, but its fruits and evidences” (=  ‘Takut akan Allah dan mengamalkan / mengerjakan kebenaran’ bukanlah merupakan kondisi atau persyaratan yang berjasa bagi pengalaman tentang kasih karunia ilahi, tetapi merupakan buah dan bukti dari kasih karunia ilahi) - hal 409.

 

Jadi, J. A. Alexander berpendapat bahwa kedua hal baik dalam ay 35 itu bukan merupakan penyebab, tetapi hasil / bukti / buah dari kasih karunia ilahi!

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘He that feareth him, and worketh righteousness, is accepted with him.’ As the two-fold description here given of the divinely-accepted man is just the well-known Old Testament description of him who, within the pale of Revealed Religion, was regarded as truly godly, it cannot be alleged that Peter meant it to denote a merely virtuous character in the pagan sense; and as the apostle had learnt enough from the messengers of Cornelius, and from his own lips, to convince him that the whole religious character of this Roman officer had been cast in the mould of the Jewish Faith, there can be no doubt that the apostle meant to describe exactly such saint-ship, in its internal spirituality and external fruitfulness, as God had already pronounced to be genuine and approved; and since to such ‘He giveth more grace,’ according to the law of His kingdom (James 4:6; Matt 25:29), He now sends Peter, not to be the instrument of his conversion - as is very frequently said - but simply to show him the way of God more fully, as before to the Ethiopian eunuch [= ‘Ia yang takut akan Dia, dan mengamalkan kebenaran diterima olehNya / berkenan kepadaNya’. Karena penggambaran rangkap dua yang diberikan di sini tentang orang yang diterima secara ilahi, merupakan penggambaran Perjanjian Lama yang terkenal tentang dia yang, dalam batasan Agama yang diwahyukan, dianggap sebagai betul-betul saleh, maka tidak bisa dikatakan bahwa Petrus memaksudkan itu untuk menunjukkan semata-mata karakter yang baik dalam arti kafir; dan karena sang rasul telah belajar cukup dari utusan-utusan Kornelius, dan dari bibir Kornelius sendiri, untuk meyakinkan dia bahwa seluruh karakter religius dari perwira Romawi ini telah dilemparkan dalam cetakan dari Iman Yahudi, maka tidak ada keraguan di sana bahwa sang rasul bermaksud untuk menggambarkan dengan tepat orang kudus seperti itu, dalam kerohanian batin dan ke-berbuah-an lahiriah, seperti yang telah Allah umumkan sebagai asli dan disetujui; dan karena kepada orang seperti itu ‘Ia memberikan lebih banyak kasih karunia’, sesuai dengan hukum dari KerajaanNya (Yak 4:6; Mat 25:29), sekarang Ia mengutus Petrus, bukan sebagai alat dari pertobatannya - seperti yang sering dikatakan - tetapi hanya untuk menunjukkan kepadanya jalan / cara Allah secara lebih penuh, seperti sebelumnya kepada sida-sida Etiopia].

 

Saya beranggapan bahwa kata-kata Jamieson, Fausset & Brown ini penting dan bagus sekali. Pertama-tama perhatikan bahwa kesalehan rangkap dua (kepada Allah dan sesama manusia) itu ia anggap sebagai kesalehan yang sejati, dan ini ia bedakan dengan ‘kesalehan dari orang kafir’, yaitu orang-orang yang sama sekali tak pernah mendengar Firman Tuhan, dan di sini tercakup orang-orang seperti Socrates, filosof Cina itu, dan sebagainya. Kedua, ia mengatakan bahwa Petrus bukan diutus sebagai alat pertobatan Kornelius, tetapi hanya untuk menunjukkan kepadanya jalan Allah itu secara lebih penuh. Jadi, Kornelius dianggapnya sebagai sudah bertobat, dan yang diberikan oleh Petrus hanyalah pengertian yang lebih lengkap tentang Injil.

 

Calvin: But it seemeth that this place doth attribute the cause of salvation unto the merits of works. For if works purchase favor for us with God, they do also win life for us which is placed in the love of God towards us. Some do also catch at the word ‘righteousness,’ that they may prove that we are not justified freely by faith, but by works. But this latter thing is too frivolous. For I have already showed that it is not taken for the perfect and whole observing of the law, but is restrained unto the second table and the offices of love. Therefore it is not the universal righteousness whereby a man is judged just before God, but that honesty and innocency which respecteth men, when as that is given to every man which is his. Therefore the question remaineth as yet, whether works win the favor of God for us? which that we may answer, we must first note that there is a double respect of God in loving men. For seeing we be born the children of wrath, (Ephesians 2:3,) God shall be so far from finding any thing in us which is worthy of his love, that all our whole nature causeth him rather to hate us; in which respect, Paul saith that all men are enemies to him until they be reconciled by Christ, (Romans 5:10.) Therefore the first accepting of God, whereby he receiveth us into favor, is altogether free; for there can as yet no respect of works be had, seeing all things are corrupt and wicked, and taste of (bespeak) their beginning. Now, whom God hath adopted to be his children, them doth he also regenerate by his Spirit, and reform in them his image: whence riseth that second respect. For God doth not find man bare and naked then, and void of all grace, but he knoweth his own work in him, yea, himself. Therefore, God accepteth the faithful, because they live godly and justly. And we do not deny that God accepteth the good works of the saints; but this is another question, whether man prevent the grace of God with his merits or no, and insinuate himself into his love, or whether he be beloved at the beginning, freely and without respect of works, forasmuch as he is worthy of nothing else but of hatred. Furthermore, forasmuch as man, left to his own nature, can bring nothing but matter of hatred, he must needs confess that he is truly beloved; whereupon, it followeth that God is to himself the cause that he loveth us, and that he is provoked (actuated) with his own mercy, and not with our merits. Secondly, we must note, that although the faithful please God after regeneration with good works, and their respects of works, yet that is not done with the merit of works. For the cleanliness of works is never so exact that they can please God without pardon; yea, forasmuch as they have always some corruption mixed with them, they are worthy to be refused. Therefore, the worthiness of the works doth not cause them to be had in estimation, but faith, which borroweth that of Christ which is wanting in works (= Tetapi kelihatannya bahwa tempat / ayat ini memang menghubungkan penyebab keselamatan dengan jasa dari perbuatan baik. Karena jika perbuatan baik membeli kemurahan / perkenan Allah bagi kita, maka perbuatan baik juga memenangkan hidup bagi kita yang ditempatkan dalam kasih Allah terhadap kita. Sebagian orang juga memegang kata ‘kebenaran’, supaya mereka bisa membuktikan bahwa kita tidak dibenarkan dengan cuma-cuma oleh iman, tetapi oleh perbuatan baik. Tetapi hal yang terakhir ini adalah terlalu sembrono. Karena saya telah menunjukkan bahwa kata itu tidak diartikan untuk ketaatan yang sempurna dan menyeluruh dari hukum Taurat, tetapi dibatasi pada loh batu kedua dan kewajiban untuk mengasihi. Karena itu, kata itu bukanlah kebenaran universal / menyeluruh dengan mana seseorang dihakimi di hadapan Allah, tetapi kejujuran dan ketidak-berdosaan yang berkenaan dengan sesama manusia, sedangkan hal itu diberikan kepada setiap orang yang adalah milikNya. Karena itu pertanyaan tetap ada, apakah pekerjaan / perbuatan baik memenangkan kemurahan / perkenan Allah bagi kita? yang supaya bisa kami jawab, kami harus pertama-tama memperhatikan bahwa ada 2 hal dari Allah dalam mengasihi manusia. Karena melihat bahwa kita dilahirkan sebagai anak-anak kemurkaan, (Ef 2:3), Allah akan sangat jauh dari menemukan apapun dalam diri kita yang layak untuk mendapat kasihNya, dan bahwa seluruh sifat dasar kita menyebabkan Ia bahkan membenci kita; dalam hal mana, Paulus mengatakan bahwa semua manusia adalah musuh-musuh bagi Dia sampai mereka diperdamaikan oleh Kristus, (Ro 5:10). Karena itu penerimaan pertama dari Allah, dengan mana Ia menerima kita ke dalam kemurahan / perkenanNya, adalah sepenuhnya cuma-cuma; karena di sana tidak bisa ada perbuatan baik yang dimiliki, melihat bahwa segala sesuatu rusak dan jahat, dan memperlihatkan asal usul mereka. Sekarang, siapa yang telah Allah adopsi menjadi anak-anakNya, mereka juga Ia lahir-barukan oleh RohNya, dan Ia membentuk kembali gambarNya dalam diri mereka: dari mana muncul hal / penerimaan yang kedua. Karena pada saat itu Allah tidak mendapati manusia kosong dan telanjang, dan kosong dalam semua kasih karunia, tetapi Ia mengetahui pekerjaanNya sendiri di dalam orang itu, ya, orang itu sendiri. Karena itu, Allah menerima orang-orang yang beriman, karena mereka hidup secara saleh dan benar. Dan kami tidak menyangkal bahwa Allah menerima perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang kudus; tetapi ini merupakan pertanyaan yang berbeda, apakah manusia mendahului / mengantisipasi kasih karunia Allah dengan jasa perbuatan baiknya atau tidak, dan memasukkan dirinya sendiri ke dalam kasihNya, atau apakah ia dikasihi sejak semula, dengan cuma-cuma dan tanpa memandang perbuatan baik, karena ia tidak layak mendapatkan apapun kecuali kebencian. Selanjutnya, karena manusia, jika dibiarkan dalam dirinya sendiri, tidak bisa membawa apapun kecuali bahan kebencian, ia terpaksa mengakui bahwa ia benar-benar dikasihi; dan kemudian menyusul bahwa Allah adalah penyebab bagi diriNya sendiri sehingga Ia mengasihi kita, dan bahwa Ia digerakkan oleh belas kasihanNya sendiri, dan bukan oleh jasa perbuatan baik kita. Kedua, kita harus memperhatikan, bahwa sekalipun orang beriman setelah kelahiran baru memperkenan Allah dengan perbuatan-perbuatan baik dan rasa hormat mereka terhadap perbuatan baik, tetapi itu tidak dilakukan dengan jasa dari perbuatan baik. Karena kebersihan dari perbuatan baik tidak pernah begitu tepat sehingga mereka bisa memperkenan Allah tanpa pengampunan; ya, karena mereka selalu mempunyai sebagian kerusakan dicampur dengan perbuatan-perbuatan baik itu, mereka layak untuk ditolak. Karena itu, kelayakan dari perbuatan baik tidak menyebabkan mereka dihargai, tetapi iman, yang meminjam dari Kristus apa yang kurang dalam perbuatan baik).

 

John Calvin: They cite Peter’s statement, which Luke quotes in the Acts: ‘In truth I find that God accepts no one person over another’ (Acts 10:34-35, Comm.). But in every nation he who does righteousness is acceptable to him. And from this passage, which seems quite clear, they infer that if by right efforts a man may gain God’s favor for himself, it is not the gift of God alone that gains him salvation; nay, rather that God of his own mercy so helps the sinner that by works He is inclined to mercy. But you can in no way make the Scriptural passages agree unless you recognize a double acceptance of man before God. For God finds nothing in man’s nature but his miserable condition to dispose Him to mercy. If, therefore, when he is first received by God, it is certain that man is naked and bereft of all good, and on the other hand, stuffed and laden with all kinds of evils - on the basis of what endowment, I ask, shall we say he is worthy of a heavenly calling (cf. Hebrews 3:1)? Away, then, with this empty dreaming about merits, where God so clearly sets off his free mercy! For they most wickedly twist what the angel’s voice said to Cornelius - that his prayers and alms mounted up unto God’s presence (Acts 10:31) - to mean that by zeal for good works man is prepared to receive God’s grace. Indeed, Cornelius must have been already illumined by the Spirit of wisdom, for he was endowed with true wisdom, that is, the fear of God; and he was sanctified by the same Spirit, for he was a keeper of righteousness, which the apostle taught to be the Spirit’s surest fruit (Galatians 5:5). All those things in him which are said to have pleased God he received from God’s grace - so far is he from preparing himself to receive grace by means of them through his own effort. Truly, not one syllable of Scripture can be cited contrary to this doctrine: God’s sole reason to receive man unto himself is that he sees him utterly lost if left to himself, but because he does not will him to be lost, he exercises his mercy in freeing him. Now we see how it is that this acceptance has nothing to do with man’s righteousness but is pure proof of divine goodness toward miserable sinners, utterly unworthy of so great a benefit [= Mereka mengutip pernyataan Petrus, yang dikutip oleh Lukas dalam Kisah Rasul: Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang’ (Kis 10:34-35, Comm.). Tetapi dalam setiap bangsa ia yang melakukan kebenaran diterima olehNya. Dan dari text ini, yang kelihatannya jelas, mereka menyimpulkan bahwa jika oleh usaha-usaha yang benar seseorang bisa mendapatkan perkenan Allah bagi dirinya sendiri, maka bukan karunia / anugerah Allah saja yang memberinya keselamatan; tidak, tetapi bahwa Allah dengan belas kasihanNya sendiri membantu orang berdosa sedemikian rupa sehingga oleh perbuatan baik Ia dicondongkan pada belas kasihan. Tetapi engkau tidak bisa mengharmoniskan text-text Kitab Suci ini kecuali engkau menyadari suatu penerimaan ganda tentang manusia di hadapan Allah. Karena Allah tidak mendapati apapun dalam diri manusia kecuali kondisinya yang menyedihkan untuk mencondongkan Dia pada belas kasihan. Karena itu, jika ia pertama-tama diterima oleh Allah, adalah pasti bahwa manusia itu telanjang dan tidak mempunyai kebaikan apapun, dan pada sisi yang lain, diisi dan dimuati / dipenuhi dengan kejahatan-kejahatan - berdasarkan pemberian / anugerah apa, saya bertanya, akan kita katakan bahwa ia layak mendapatkan panggilan surgawi (bdk. Ibr 3:1)? Maka, singkirkanlah mimpi kosong tentang jasa (dari perbuatan baik) ini, dimana Allah dengan begitu jelas mendengungkan belas kasihanNya yang cuma-cuma! Karena mereka dengan jahat membengkokkan suara malaikat yang dikatakan kepada Kornelius - bahwa doa-doa dan sedekah-sedekahnya telah naik ke hadapan Allah (Kis 10:31) - sehingga berarti bahwa oleh semangat untuk perbuatan baik manusia dipersiapkan untuk menerima kasih karunia Allah. Memang Kornelius pasti telah diterangi oleh Roh hikmat, karena ia diberi hikmat yang benar, yaitu rasa takut akan Allah; dan ia dikuduskan oleh Roh yang sama, karena ia adalah pemelihara kebenaran, yang diajarkan oleh sang rasul sebagai buah yang pasti dari Roh (Gal 5:5). Semua hal-hal itu di dalam dia yang dikatakan telah memperkenan Allah ia terima dari kasih karunia Allah - begitu jauh ia dari mempersiapkan dirinya sendiri untuk menerima kasih karunia oleh usahanya sendiri. Sesungguhnya, tidak satu suku katapun dari Kitab Suci bisa dikutip bertentangan dengan doktrin ini: satu-satunya alasan Allah untuk menerima manusia kepada diriNya sendiri adalah bahwa Ia melihatnya sama sekali terhilang jika dibiarkan pada dirinya sendiri, tetapi karena Ia tidak menghendakinya untuk terhilang, Ia menjalankan / menggunakan belas kasihanNya dalam membebaskannya. Sekarang kita melihat bagaimana halnya bahwa penerimaan ini tidak mempunyai hubungan apapun dengan kebenaran manusia, tetapi merupakan bukti murni dari kebaikan ilahi terhadap orang-orang berdosa yang menyedihkan, yang sama sekali tidak layak tentang suatu kebaikan yang begitu besar] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XVII, no 4.

 

John Calvin: For those who imagine that some sort of seed of election was sown in them from birth itself, and that by its power they have always been inclined to piety and the fear of God, are not supported by Scriptural authority and are refuted by experience itself. They put forward a few examples by which to prove that the elect even before illumination were not strangers to religion: Paul lived a blameless life as a Pharisee (Philippians 3:5-6); Cornelius, with alms and prayers, was acceptable to God (Acts 10:2), and the like, if any. As for Paul, we grant them their point; in Cornelius, we say they are deceived. For it appears that he was then already enlightened and regenerated, so that he lacked nothing but a clear revelation of the gospel. But what will they wring out of these few examples? That all the elect are always endowed with the spirit of piety? No more than if someone - by showing the uprightness of Aristides, Socrates, Xenocrates, Scipio, Curius, Camillus, and others - infers from it that all who are forsaken in the darkness of idolatry were earnest seekers of holiness and purity. Indeed, Scripture openly disclaims them in more than one place. This state before regeneration described by Paul in his letter to the Ephesians shows no grain of this seed. ‘You were dead,’ he says, ‘through the trespasses and sins in which you... walked according to the course of this world, according to the prince of the air, who is now at work in his disobedient sons. Among these we all once lived in the passions of our flesh, following the desires of the flesh and of the mind. So we were by nature children of wrath, like the rest.’ (Ephesians 2:1-3, abbr.) Again: ‘Remember that ... you were once without hope, and lacking God in the world.’ (Ephesians 2:12 p.) Likewise: You were once darkness but are now light in the Lord; walk as children of light.’ (Ephesians 5:8-9.) [= Karena mereka yang membayangkan / mengkhayalkan bahwa sejenis benih pemilihan telah ditaburkan dalam diri mereka sejak lahir, dan bahwa oleh kuasanya mereka selalu condong pada kesalehan dan rasa takut akan Allah, tidak didukung oleh otoritas Kitab Suci, dan disangkal oleh pengalaman sendiri. Mereka mengemukakan beberapa contoh-contoh dengan mana mereka membuktikan bahwa orang-orang pilihan, bahkan sebelum pencerahan, bukanlah orang-orang asing terhadap agama: Paulus hidup secara tak bercacat sebagai seorang Farisi (Fil 3:5-6); Kornelius, dengan sedekah-sedekah dan doa-doanya, diterima oleh Allah (Kis 10:2), dan yang lain-lain, jika ada. Tentang Paulus, kami mengakui point mereka; dalam Kornelius, kami berkata bahwa mereka tertipu. Karena kelihatan bahwa pada saat itu ia sudah diterangi dan dilahir-barukan, sehingga ia tidak kekurangan apapun kecuali wahyu / penyataan yang jelas dari Injil. Tetapi apa yang akan mereka peras dari beberapa contoh ini? Bahwa semua orang pilihan selalu diberi roh kesalehan? Ini tidak lebih benar dari jika seseorang, dengan menunjukkan kejujuran / ketulusan / kelurusan dari Aristides, Socrates, Xenocrates, Scipio, Curius, Camillus, dan lain-lain, menyimpulkan dari situ bahwa semua orang yang ditinggalkan dalam kegelapan dari penyembahan berhala adalah pencari-pencari yang sungguh-sungguh dari kesucian / kekudusan dan kemurnian. Kitab Suci secara terbuka menyangkal mereka di lebih dari satu tempat. Keadaan sebelum kelahiran baru ini digambarkan oleh Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Efesus tidak menunjukkan adanya benih ini. ‘Kamu dahulu sudah mati’, katanya, ‘karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.’ (Ef 2:1-3). Lagi, ‘ingatlah bahwa dahulu kamu ... tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia’ (Ef 2:12). Juga: ‘Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang’ (Ef 5:8-9)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 10.

Catatan: saya tak mengerti mengapa berkenaan dengan Paulus, Calvin mengakui point mereka.

 

John Calvin: The Lord, having rescued man from the pit of perdition, has through the grace of adoption set him apart for his own. Thereupon, because he has begotten him anew and conformed him to a new life, he now embraces him as a new creature (cf. 2 Corinthians 5:17) endowed with the gifts of his Spirit. This is that ‘acceptance’ which Peter mentions (Acts 10:34; cf.  1 Peter 1:17) whereby believers are, after their call, approved of God also in respect of works (cf. 1 Peter 2:5). For the Lord cannot fail to love and embrace the good things that he works in them through his Spirit. But we must always remember that God ‘accepts’ believers by reason of works only because he is their source and graciously, by way of adding to his liberality, deigns also to show ‘acceptance’ toward the good works he has himself bestowed. For whence come their good works, save that the Lord, having chosen them as vessels unto honor (Romans 9:21), thus is pleased to adorn them with true purity? Whence, also, are these works reckoned good as if they lacked nothing, save that the kindly Father grants pardon for those blemishes and spots which cleave to them? [= Tuhan, setelah menyelamatkan manusia dari lubang kehancuran / kebinasaan / penghukuman, telah memisahkannya sebagai milikNya sendiri, melalui kasih karunia pengadopsian. Setelah itu, karena Ia telah melahir-barukannya dan menyesuaikan dia dengan suatu kehidupan yang baru, sekarang Ia memeluknya sebagai ciptaan yang baru (bdk. 2Kor 5:17) yang diberi karunia-karunia Roh. Ini adalah ‘penerimaan’ yang disebutkan oleh Petrus (Kis 10:34; bdk. 1Pet 1:17) dengan mana orang-orang percaya, setelah panggilan mereka, direstui oleh Allah juga berkenaan dengan pekerjaan / perbuatan baik mereka (bdk. 1Pet 2:5). Karena Tuhan tidak bisa gagal untuk mengasihi dan memeluk hal-hal yang baik sehingga Ia bekerja dalam diri mereka melalui RohNya. Tetapi kita harus selalu mengingat bahwa Allah ‘menerima’ orang-orang percaya karena / berhubungan dengan pekerjaan / perbuatan baik, hanya karena Ia adalah sumber mereka dan dengan penuh kasih karunia / kemurahan, melalui penambahan pada keroyalanNya, juga berkenan untuk menunjukkan ‘penerimaan’ terhadap perbuatan baik yang telah Ia sendiri anugerahkan. Karena dari mana datangnya perbuatan baik mereka, kecuali Tuhan, setelah memilih mereka sebagai alat-alat / benda-benda bagi kemuliaan (Ro 9:21), lalu berkenan untuk menghiasi mereka dengan kemurnian yang benar? Juga, dari mana pekerjaan-pekerjaan ini dianggap baik, seakan-akan pekerjaan-pekerjaan itu tidak kekurangan apapun, kecuali bahwa Bapa yang baik memberikan pengampunan untuk cacat-cacat dan noda-noda yang melekat pada pekerjaan-pekerjaan itu?] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XVII, no 5.

 

Kalau seluruh kata-kata Calvin mau dikatakan secara singkat dan sederhana, maka bisa dikatakan seperti ini: dalam diri orang yang di luar Kristus / tidak beriman, maka Allah tidak bisa menjumpai apapun yang baik, sebaliknya Ia bahkan menjumpai hal-hal yang seharusnya membuatNya membenci orang berdosa itu. Dalam keadaan seperti itu, Ia memberikan kasih karuniaNya, dan membuat orang itu bertobat / percaya kepada Yesus. Ini menyebabkan orang itu lalu diterima oleh Allah, dan ini merupakan penerimaan yang pertama. Setelah itu Allah membentuk orang itu, atau menguduskan orang itu, sehingga muncul perbuatan-perbuatan baik dalam diri orang itu, yang memperkenan Allah, dan ini adalah penerimaan yang kedua. Tetapi penerimaan kedua inipun disertai kasih karunia / kemurahan, karena kekudusan kita tetap penuh dengan cacat cela.

Sekarang bandingkan pandangan Calvin ini dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong tentang Kornelius (yang pasti ia terapkan kepada filosof Cina itu). Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa sebelum Kornelius diselamatkan, kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan!

 

Kesimpulan: ay 34-35 ini menekankan / mengajarkan:

1.   Allah tak membedakan bangsa, khususnya Yahudi dan non Yahudi.

2.   Kata-kata ‘takut akan Dia’ dan ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan vertikal (kepada Allah) dan horizontal (kepada sesama manusia), dan ini bukan kesalehan kafir. Orang kafir tidak mungkin bisa mempunyai kedua kesalehan ini.

3.   Orang yang dalam ay 35 dikatakan berkenan kepada Allah bukanlah orang tak beriman yang ‘hidupnya baik’, tetapi orang yang setelah beriman, lalu dalam hidupnya membuahkan kedua jenis kesalehan di atas (vertikal dan horizontal).

Dengan demikian, ay 34-35 ini tidak mungkin bisa digunakan untuk mengatakan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Kristus, seperti filosof Cina itu atau Socrates, bisa diselamatkan ataupun diterima oleh Tuhan.

 

Penerapan:

Untuk diri saudara sendiri, kalau saudara belum percaya Kristus, cepatlah percaya. Karena sebaik apapun kehidupan saudara, itu tidak mungkin memperkenan Allah, dan itu tidak mungkin menyelamatkan saudara.

Dan kalau saudara melihat orang yang kelihatannya baik, tetapi tidak / belum percaya kepada Kristus, ingatlah, bahwa orang seperti itu tidak mungkin memperkenan Allah atau masuk surga berdasarkan perbuatan baik mereka. Karena itu, beritakanlah Injil kepada mereka, supaya mereka bisa percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Kiranya Tuhan memberkati saudara.

 

 

-AMIN-


Tanggapan terhadap

 

ajaran Pdt. Stephen Tong

 

tentang hubungan

 

ajaran Seorang filosof Cina dan Kitab Suci / Alkitab

 

Amsal 1:7 - “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.

 

Dalam VCD berjudul ‘falsafah Asia’, ada beberapa hal yang diajarkan oleh Pdt. Stephen Tong tentang ajaran seorang filosof Cina dalam hubungannya dengan Kitab Suci / Alkitab, yaitu:

1)   Dalam ajaran filosof Cina itu yang ada hanyalah ajaran horizontal (berhubungan dengan sesama manusia), tetapi sama sekali tidak ada ajaran vertikal (berhubungan dengan Allah). Jadi, kalau dibandingkan dengan 10 hukum Tuhan, maka hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi hukum 1-4 tidak ada.

2)   Ajaran filosof Cina itu bukanlah wahyu umum, tetapi respons manusia terhadap wahyu umum. Karena itu ajaran filosof Cina itu bisa bertentangan dengan ajaran Kitab Suci.

3)   Setelah menunjukkan suatu ajaran filosof Cina itu yang kelihatannya ia anggap sangat bagus, Pdt. Stephen Tong lalu mengatakan bahwa orang-orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan harus memperhatikan ajaran filosof Cina itu, karena ini bisa membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

 

I) Ajaran filosof Cina itu hanya mengandung ajaran horizontal, tidak ada yang vertikal.

 

Yang aneh dalam pemikiran saya, adalah: dengan pengertian seperti itu tentang ajaran filosof Cina itu, apa sebabnya dan bagaimana mungkin Pdt. Stephen Tong tetap meninggi-ninggikan ajaran filosof Cina itu? Saya kira semua agama mempunyai ajaran yang mirip / sama dengan hukum 5-10, dan bahkan banyak yang juga mempunyai hukum 1-2 (sekalipun tentu saja dinyatakan dengan kata-kata yang berbeda). Jadi, lalu apa istimewanya ajaran filosof Cina itu dalam hal ini sehingga diagung-agungkan oleh Pdt. Stephen Tong? Apakah Pdt. Stephen Tong juga mempunyai pandangan yang sama tentang agama-agama lain?

 

Sekarang, mari kita membandingkan ajaran Pdt. Stephen Tong dalam hal ini dengan ajaran Calvin dan Kitab Suci.

 

1)   Kalau kita membandingkan hal ini dengan ajaran Calvin, maka jelas bahwa Calvin menekankan keharusan adanya pengetahuan tentang Allah maupun tentang diri sendiri / sesama manusia. Calvin juga menekankan bahwa pengetahuan tentang Allah itu lebih penting, dan bahkan menjadi dasar, dari pengetahuan tentang diri sendiri / sesama manusia.

 

a)   Hikmat yang benar dan sehat terdiri dari 2 bagian, pengenalan tentang Allah dan diri sendiri.

 

John Calvin: Nearly all the wisdom we possess, that is to say, true and sound wisdom, consists of two parts: the knowledge of God and of ourselves. But, while joined by many bonds, which one precedes and brings forth the other is not easy to discern (= Hampir semua hikmat yang kita miliki, yaitu hikmat yang benar dan sehat, terdiri dari 2 bagian: pengetahuan / pengenalan tentang Allah dan tentang diri kita sendiri. Tetapi, sekalipun dipersatukan oleh banyak ikatan, yang mana yang mendahului dan yang melahirkan yang lain tidak mudah untuk dilihat) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 1, no 1.

 

b)   Sekalipun pengenalan tentang Allah dan tentang diri sendiri saling berhubungan, tetapi urut-urutan yang benar dalam ajaran yang benar adalah mempelajari pengetahuan / pengenalan tentang Allah lebih dulu.

 

John Calvin: however the knowledge of God and of ourselves may be mutually connected, the order of right teaching requires that we discuss the former first, then proceed afterward to treat the latter (= bagaimanapun pengetahuan / pengenalan tentang Allah dan tentang diri kita sendiri bisa berhubungan secara timbal balik, urut-urutan ajaran yang benar menuntut bahwa kita membicarakan yang pertama lebih dulu, dan lalu setelah itu melanjutkan untuk menangani yang terakhir) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 1, no 3.

 

c)   Manusia tak pernah bisa mengenal diri sendiri tanpa lebih dulu mengenal Allah. Dan tanpa memandang kepada Allah dan menjadikannya sebagai standard, maka manusia akan merasa dirinya sendiri benar, lurus, bijaksana dan kudus.

 

John Calvin: it is certain that man never achieves a clear knowledge of himself unless he has first looked upon God’s face, and then descends from contemplating him to scrutinize himself. For we always seem to ourselves righteous and upright and wise and holy - this pride is innate in all of us - unless by clear proofs we stand convinced of our own unrighteousness, foulness, folly, and impurity. Moreover, we are not thus convinced if we look merely to ourselves and not also to the Lord, who is the sole standard by which this judgment must be measured (= adalah pasti bahwa manusia tidak pernah mencapai pengetahuan / pengenalan yang jelas tentang dirinya sendiri kecuali ia lebih dulu telah melihat pada wajah Allah, dan lalu turun dari perenungan tentangNya untuk memeriksa dirinya sendiri dengan teliti. Karena kita selalu kelihatan bagi diri kita sendiri benar dan lurus dan bijaksana dan kudus - kesombongan ini merupakan suatu pembawaan sejak lahir dalam semua dari kita - kecuali oleh bukti-bukti yang jelas kita diyakinkan tentang ketidak-benaran, kekotoran / keburukan / kebusukan, kebodohan, dan ketidak-murnian kita sendiri. Selanjutnya, kita tidak akan diyakinkan seperti itu jika kita memandang semata-mata pada diri kita sendiri dan tidak juga kepada Tuhan, yang adalah satu-satunya standard dengan mana penghakiman / penilaian ini harus diukur) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 1, no 2.

 

John Calvin: we must infer that man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty (= kita harus menyimpulkan bahwa manusia tidak pernah disentuh secara cukup dan dipengaruhi oleh kesadaran tentang keadaannya yang rendah sampai ia telah membandingkan dirinya sendiri dengan keagungan Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 1, no 3.

 

Bdk. Amsal 1:7 - “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.

 

Adam Clarke (tentang Amsal 1:7): “This fear or religious reverence is said to be the beginning of knowledge; ‎ree’shiyt‎, the principle, the first moving influence, begotten in a tender conscience by the Spirit of God. No man can ever become truly wise, who does not begin with God, the fountain of knowledge; and he whose mind is influenced by the fear and love of God will learn more in a month than others will in a year” (= Rasa takut atau rasa takut / hormat religius ini dikatakan merupakan permulaan pengetahuan; REE’SHIYT, dasar, pengaruh penggerak pertama, dilahirkan dalam hati nurani yang lembut oleh Roh Allah. Tidak ada manusia bisa pernah menjadi betul-betul bijaksana, yang tidak mulai dengan Allah, sumber dari pengetahuan; dan ia yang pikirannya dipengaruhi oleh rasa takut dan kasih akan Allah akan belajar lebih banyak dalam satu bulan dari pada orang-orang lain dalam satu tahun).

 

Matthew Henry (tentang Amsal 1:7): “this is so the beginning of knowledge that those know nothing who do not know this” (= ini merupakan permulaan pengetahuan sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak mengetahui hal ini tidak mengetahui apa-apa).

 

Kalau, seperti yang dikatakan oleh Pdt. Stephen Tong, bahwa ajaran filosof Cina itu sama sekali tidak mengandung unsur vertikal, maka berdasarkan Amsal 1:7 ini tidak mungkin ia bisa dianggap sebagai mempunyai pengetahuan, berhikmat, dan sebagainya!

 

d)   Manusia dilahirkan dan hidup dengan tujuan untuk mengenal Allah, dan kalau manusia tidak mengarah pada tujuan ini, maka manusia itu sudah memburuk dari hukum penciptaan mereka.

 

John Calvin: Besides, if all men are born and live to the end that they may know God, ... it is clear that all those who do not direct every thought and action in their lives to this goal degenerate from the law of their creation (= Disamping itu, jika semua orang dilahirkan dan hidup untuk tujuan supaya mereka bisa mengenal Allah, ... adalah jelas bahwa semua mereka yang tidak mengarahkan setiap pikiran dan tindakan dalam kehidupan mereka pada tujuan ini memburuk dari hukum penciptaan mereka) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 3, no 3.

 

Catatan: tidak usah diragukan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan rancangan (design) untuk bersekutu dengan Dia, dan tidak mungkin manusia bisa bersekutu dengan Dia, kalau manusia itu tidak mengenal Dia.

 

e)   Tanpa penyembahan terhadap Allah, manusia bahkan lebih rendah dari binatang.

John Calvin: if once religion is absent from their life, men are in no wise superior to brute beasts, but are in many respects far more miserable. ... Therefore, it is worship of God alone that renders men higher than the brutes, and through it alone they aspire to immortality (= jika suatu kali agama absen dari kehidupan mereka, manusia sama sekali tidak lebih tinggi / mulia dari binatang, tetapi dalam banyak hal jauh lebih menyedihkan. ... Karena itu, penyembahan / ibadah kepada Allah saja yang membuat manusia lebih tinggi dari binatang, dan melalui hal itu saja mereka menginginkan kekekalan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 3, no 3.

Catatan:

·         yang dimaksud dengan kata ‘agama’ di sini jelas adalah hal-hal yang berurusan dengan Allah, bukan dengan sesama manusia.

·         bahwa manusia yang tidak menyembah Allah bahkan lebih rendah dari binatang, bisa terlihat dari banyak sifat buruk manusia yang bahkan tidak pernah ada dalam diri binatang. Misalnya: binatang tidak ada yang tamak, rakus, dan sebagainya, seperti manusia.

 

f)    Manusia yang tidak mengenal dan menyembah Allah yang benar saja dikecam oleh Paulus, apalagi yang sama sekali tidak memikirkan / mengajarkan tentang Allah.

 

John Calvin: The apostle accordingly characterizes that vague and erroneous opinion of the divine as ignorance of God. ‘When you did not know God,’ he says, ‘you were in bondage to beings that by nature were no gods’ (Galatians 4: 8 p.). And elsewhere he teaches that the Ephesians were ‘without God’ at the time they were straying away from the right knowledge of the one God (Ephesians 2:12). Nor is it of much concern, at least in this circumstance, whether you conceive of one God or several; for you continually depart from the true God and forsake him, and, having left him, you have nothing left except an accursed idol [= Sesuai dengan itu sang rasul menggolongkan pandangan yang samar-samar dan salah tentang Allah sebagai ketidak-tahuan tentang Allah. ‘Ketika kamu tidak mengenal Allah’, katanya, ‘kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah’ (Gal 4:8). Dan di tempat lain ia mengajar bahwa orang-orang Efesus ‘tanpa Allah’ pada saat mereka tersesat dari pengetahuan / pengenalan yang benar tentang satu Allah (Ef 2:12). Juga bukanlah sesuatu yang terlalu penting, setidaknya dalam keadaan ini, apakah kamu memahami satu Allah atau beberapa allah / dewa; karena kamu secara terus menerus menyimpang dari Allah yang benar dan meninggalkan Dia, dan setelah meninggalkan Dia, kamu tidak mempunyai apapun yang tersisa kecuali suatu berhala yang terkutuk] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 4, no 3.

Gal 4:8 - “Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah”.

Ef 2:11-12 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”.

 

Juga perhatikan tafsiran Calvin tentang Maz 14:1 - “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik”.

Calvin (tentang Maz 14:1): It is therefore important for us, in the first place, to know, that however much the world applaud these crafty and scoffing characters, who allow themselves to indulge to any extent in wickedness, yet the Holy Spirit condemns them as being fools; for there is no stupidity more brutish than forgetfulness of God (= Karena itu adalah penting bagi kita, di tempat yang pertama, untuk mengetahui, bahwa bagaimanapun hebatnya dunia menghargai orang-orang yang licik / licin dan suka mencemooh, yang mengijinkan diri mereka sendiri untuk memuaskan diri sampai tingkat manapun dalam kejahatan, tetapi Roh Kudus mengecam mereka sebagai orang-orang tolol / bebal; karena tidak ada ketololan yang lebih bersifat binatang dari pada pelupaan terhadap Allah).

 

Bdk. Maz 10:4 - “Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: ‘Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!’, itulah seluruh pikirannya”.

NIV: In his pride the wicked does not seek him; in all his thoughts there is no room for God’ (= Dalam kesombongannya orang fasik tidak mencariNya; dalam seluruh pikirannya tidak ada tempat untuk Allah).

Bandingkan ayat ini dengan filosof Cina itu, yang menurut Pdt. Stephen Tong, ajarannya sama sekali tidak berurusan dengan Allah (tak ada ajaran vertikal).

 

g)   Calvin menganggap bahwa tanpa hukum 1-4, hukum 5-10 menjadi kosong dan tak ada harganya.

 

John Calvin: God has so divided his law into two parts, which contain the whole of righteousness, as to assign the first part to those duties of religion which particularly concern the worship of his majesty; the second, to the duties of love that have to do with men. Surely the first foundation of righteousness is the worship of God. When this is overthrown, all the remaining parts of righteousness, like the pieces of a shattered and fallen building, are mangled and scattered. What kind of righteousness will you call it not to harass men with theft and plundering, if through impious sacrilege you at the same time deprive God’s majesty of its glory? Or that you do not defile your body with fornication, if with your blasphemies you profane God’s most holy name? Or that you do not slay a man, if you strive to kill and to quench the remembrance of God? It is vain to cry up righteousness without religion. This is as unreasonable as to display a mutilated, decapitated body as something beautiful. Not only is religion the chief part but the very soul, whereby the whole breathes and thrives. And apart from the fear of God men do not preserve equity and love among themselves. Therefore we call the worship of God the beginning and foundation of righteousness. When it is removed, whatever equity, continence, or temperance men practice among themselves is in God’s sight empty and worthless (= Allah telah membagi hukum TauratNya menjadi 2 bagian, yang mencakup seluruh kebenaran, dan memberikan bagian yang pertama pada kewajiban-kewajiban agama yang secara khusus berkenaan dengan penyembahan dari keagunganNya; yang kedua, pada kewajiban-kewajiban kasih yang berurusan dengan manusia. Jelas bahwa fondasi pertama dari kebenaran adalah penyembahan / ibadah kepada Allah. Pada waktu ini dirobohkan, semua bagian-bagian kebenaran yang tersisa, seperti potongan-potongan dari suatu bangunan yang hancur dan roboh, terkoyak-koyak dan berhamburan. Engkau akan menyebutnya sebagai kebenaran jenis apa untuk tidak mengganggu manusia dengan pencurian dan penjarahan, jika melalui pelanggaran yang jahat terhadap hal-hal keramat, pada saat yang sama engkau mencabut / menghilangkan keagungan Allah dari kemuliaanNya? Atau jika engkau tidak mencemarkan tubuhmu dengan percabulan, tetapi dengan penghujatanmu engkau menajiskan nama Allah yang paling kudus? Atau jika engkau tidak membunuh manusia, tetapi engkau berjuang untuk membunuh dan memadamkan ingatan tentang Allah? Adalah sia-sia untuk meneriakkan kebenaran tanpa agama. Ini sama tidak masuk akalnya dengan memamerkan suatu tubuh yang dimutilasi dan dipenggal lehernya sebagai sesuatu yang indah. Bukan hanya bahwa agama merupakan bagian yang terutama, tetapi juga merupakan jiwa, dari mana seluruhnya bernafas dan berkembang. Dan terpisah dari rasa takut akan Allah, manusia tidak memelihara keadilan dan kasih di antara mereka sendiri. Pada waktu hal ini disingkirkan, keadilan, pembatasan diri / tarak, atau penguasaan diri / nafsu makan apapun yang dipraktekkan manusia di antara mereka sendiri, adalah kosong dan tak berharga dalam pandangan Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter 8, no 11.

 

Juga bandingkan dengan Mat 22:37-40 - “(37) Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan (seharusnya ‘seperti’) itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’.

 

Calvin (tentang Mat 22:39): He assigns the second place to mutual kindness among men, for the worship of God is first in order. The commandment to love our neighbors, he tells us, is like the first, because it depends upon it. For, since every man is devoted to himself, there will never be true charity towards neighbors, unless where the love of God reigns; for it is a mercenary love which the children of the world entertain for each other, because every one of them has regard to his own advantage. On the other hand, it is impossible for the love of God to reign without producing brotherly kindness among men (= Ia memberikan tempat kedua pada kebaikan timbal balik di antara manusia, karena ibadah / penyembahan terhadap Allah adalah yang pertama dalam urut-urutan. Ia memberitahu kita, bahwa perintah untuk mengasihi sesama manusia kita, adalah seperti yang pertama, karena itu tergantung padanya. Karena setiap manusia sayang kepada dirinya sendiri, maka tidak akan ada kasih yang sungguh-sungguh terhadap sesama manusia, kecuali kasih terhadap Allah bertakhta; karena itu adalah kasih yang berjiwa dagang yang dipunyai anak-anak dunia satu terhadap yang lain, karena setiap orang dari mereka mempunyai perhatian pada keuntungannya sendiri. Pada sisi yang lain, adalah mustahil bagi kasih terhadap Allah untuk bertakhta tanpa menghasilkan kebaikan persaudaraan di antara manusia).

 

2)   Sekalipun hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi tujuan pemberian hukum-hukum itu sangat berbeda dengan dalam Kitab Suci.

 

Kalaupun yang dikatakan Pdt. Stephen Tong benar bahwa hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetap saja menurut saya, tujuan Tuhan mengajarkan hukum 5-10 dalam Kitab Suci / Alkitab, sangat berbeda dengan tujuan filosof Cina itu mengajarkan ajarannya. Apa bedanya? Seluruh Kitab Suci harus ditafsirkan secara Kristocentris / berpusatkan Kristus. Hukum Taurat tujuannya adalah supaya orang sadar dosa, dan lalu datang kepada Kristus (Ro 3:20  Gal 3:21-25  Ro 10:4).

 

Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Gal 3:21-25 - “(21) Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. (22) Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. (23) Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. (24) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. (25) Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun”.

Ro 10:4 - “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the end of the law’ (= tujuan hukum Taurat).

 

Sekarang apa tujuan filosof Cina itu mengajarkan ajarannya, yang mirip / sama dengan hukum 5-10? Apakah sekedar supaya menjadi orang-orang yang ‘baik’, atau supaya masuk surga, saya tidak tahu. Tetapi yang jelas BUKAN supaya orang-orang sadar akan dosa dan lalu percaya kepada Kristus!

Karena itu, sekalipun ada persamaan antara ajaran filosof Cina itu dengan hukum 5-10, tetapi dalam persoalan tujuan, keduanya sangat berbeda!

 

II) Ajaran filosof Cina itu merupakan respons terhadap wahyu umum, dan karena itu bisa bertentangan dengan Kitab Suci / Alkitab.

 

Tentang pandangan Pdt. Stephen Tong bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum, ada 2 hal yang ingin saya kemukakan:

 

1)   Apakah Pdt. Stephen Tong juga menganggap ajaran agama lain sebagai respons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum? Atau hanya ajaran filosof Cina itu yang ia anggap seperti itu? Kalau hanya ajaran filosof Cina itu, apa alasannya sehingga ajaran ini dibedakan dengan agama-agama lain?

 

2)   Saya sangat meragukan bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum.

Mengapa? Karena ‘wahyu’ atau ‘revelation’ [dari kata ‘to reveal’ (= menyatakan)] diberikan Allah kepada manusia untuk menyatakan diriNya kepada manusia sehingga manusia bisa mengenal diriNya. Dan wahyu umum, yaitu alam semesta dan hati nurani, setidaknya memang memberi tahu manusia bahwa Allah itu ada, dan juga tentang sifat-sifat tertentu dari Allah, seperti maha kuasa, baik, murah hati, bijaksana, dan sebagainya.

Bahwa wahyu umum memang memberi tahu manusia tentang hal-hal itu, bisa terlihat dari ayat-ayat ini:

 

a)   Ro 1:19-20 - “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih”.

Ro 1:19-20 (NASB): “because that which is known about God is evident within them; for God made it evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes, His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being under­stood through what has been made, so that they are without excuse” (= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan).

 

John Calvin: “There is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of divinity. ... To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance, God himself has implanted in all men a certain understanding of his divine majesty. ... a sense of deity inscribed in the hearts of all” (= Di dalam pikiran manusia, oleh suatu naluri yang bersifat alamiah, ada suatu kesadaran tentang keilahian. ... Untuk mencegah siapapun untuk berlindung dalam ketidaktahuan, Allah sendiri telah menanamkan dalam semua manusia suatu pengertian tertentu tentang keagungan ilahinya. ... suatu perasaan tentang Allah dituliskan dalam hati dari semua orang) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter III, no 1.

 

John Calvin: Since, therefore, men one and all perceive that there is a God and that he is their Maker, they are condemned by their own testimony because they have failed to honor him and to consecrate their lives to his will. If ignorance of God is to be looked for anywhere, surely one is most likely to find an example of it among the more backward folk and those more remote from civilization. Yet there is, as the eminent pagan says, no nation so barbarous, no people so savage, that they have not a deep-seated conviction that there is a God (= Karena itu, karena semua manusia merasa / mengerti bahwa di sana ada Allah, dan bahwa Ia adalah Pencipta mereka, mereka dikecam / dihukum oleh kesaksian mereka sendiri karena mereka telah gagal untuk menghormati Dia dan membaktikan kehidupan mereka pada kehendakNya. Jika ketidak-tahuan tentang Allah dicari dimana-mana, pasti seseorang akan paling memungkinkan untuk menemukan suatu contoh darinya di antara orang-orang terbelakang dan mereka yang lebih terpencil dari kebudayaan. Tetapi di sana tidak ada, seperti dikatakan seorang kafir yang menonjol, bangsa yang begitu biadab, atau bangsa yang begitu ganas / buas, yang tidak mempunyai suatu keyakinan yang mendalam akan adanya Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 3, no 1.

 

John Calvin: And they who in other aspects of life seem least to differ from brutes still continue to retain some seed of religion. So deeply does the common conception occupy the minds of all, so tenaciously does it inhere in the hearts of all! Therefore, since from the beginning of the world there has been no region, no city, in short, no household, that could do without religion, there lies in this a tacit confession of a sense of deity inscribed in the hearts of all (= Dan mereka yang dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kelihatannya tidak terlalu berbeda dengan binatang tetap mempertahankan benih agama. Begitu dalamnya konsep / pengertian umum ini menempati pikiran dari semua orang, begitu kuatnya hal itu melekat dalam hati semua orang! Karena itu, sejak permulaan dunia ini tidak ada daerah, tidak ada kota, singkatnya, tidak ada rumah tangga, yang bisa berjalan terus tanpa agama, di sana ada suatu pengakuan diam-diam tentang suatu perasaan tentang keallahan yang dituliskan dalam hati semua orang) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 3, no 1.

 

John Calvin: Men of sound judgment will always be sure that a sense of divinity which can never be effaced is engraved upon men’s minds. ... this conviction, namely, that there is some God, is naturally inborn in all, and is fixed deep within, as it were in the very marrow (= Manusia dengan penghakiman / penilaian yang sehat akan selalu yakin bahwa suatu perasaan tentang keilahian yang tidak pernah bisa dihapuskan dituliskan pada pikiran manusia. ... keyakinan ini, yaitu bahwa di sana ada Allah, secara alamiah ada sejak lahir dalam semua orang, dan dipasang / dicamkan jauh di dalam, seakan-akan dalam sumsum) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 3, no 3.

 

John Calvin: a sense of divinity is by nature engraven on human hearts. For necessity forces from the reprobate themselves a confession of it. In tranquil times they wittily joke about God, indeed are facetious and garrulous in belittling his power. If any occasion for despair presses upon them, it goads them to seek him and impels their perfunctory prayers. From this it is clear that they have not been utterly ignorant of God (= suatu perasaan tentang keilahian secara alamiah diukirkan pada hati manusia. Karena kebutuhan memaksa orang-orang yang ditetapkan untuk binasa itu sendiri untuk mengakui hal tersebut. Dalam masa tenang mereka bergurau dengan jenaka tentang Allah, bahkan secara berkelakar dan banyak bicara dalam merendahkan kuasaNya. Jika ada keadaan yang menyebabkan putus asa menekan mereka, itu mendorong mereka untuk mencari Dia dan memaksa / mendorong doa-doa mereka yang asal-asalan. Dari hal ini adalah jelas bahwa mereka bukannya sama sekali tidak tahu tentang Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 4, no 4.

 

Ini juga membuat saya tidak percaya bahwa dalam dunia ini ada orang-orang yang betul-betul adalah Atehist. Mereka yang mengaku sebagai Atheist, sebetulnya dalam hati mereka mengakui adanya Allah, hanya saja mereka menekan dan tidak mau mengakui hal itu.

 

b)   Maz 19:2 - Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya”.

 

c)   Maz 104:24 - Betapa banyak perbuatanMu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaanMu..

 

d)   Kis 14:15-17 - “(15) ‘Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. (16) Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, (17) namun Ia bukan tidak menyatakan diriNya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.’”.

 

e)   Mat 5:45 - Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Luk 6:35-36 - “(35) Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (36) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.’.

 

Jadi, dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa wahyu umum, yaitu hati nurani dan alam semesta, termasuk apa yang terjadi dalam alam semesta, seperti musim-musim, hujan, dsb, menunjukkan kepada manusia banyak hal tentang Allah. Bukan hanya bahwa Allah itu ada, tetapi juga bahwa Allah itu berkuasa, mulia, bijaksana, baik, murah hati, penuh kasih karunia (karena Ia tetap bersikap baik / memberkati orang-orang jahat), dan sebagainya.

 

Sekarang, kalau dikatakan bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons terhadap wahyu umum, mengapa, seperti yang dikatakan Pdt. Stephen Tong, dalam ajaran filosof Cina itu sama sekali tak ada ajaran vertikal / tentang Allah? Mengapa yang ada hanya ajaran horizontal / tentang sesama manusia?

Memang hati nurani juga memberikan ajaran moral, yang merupakan kehendak Allah bagi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya, tetapi kalau ajaran filosof Cina itu memang merupakan respons manusia terhadap wahyu umum, dan ternyata responsnya hanya berupa ajaran horizontal, tanpa ada sedikitpun ajaran tentang Allah, maka jelas bahwa ini merupakan respons yang sangat buruk, dan karena itu tidak pantas diagung-agungkan seperti yang dilakukan oleh Pdt. Stephen Tong!

 

III) Ajaran filosof Cina itu harus diperhatikan oleh orang-orang Kristen supaya bisa menjadi orang Kristen yang lebih bertanggung-jawab.

 

Hal terutama yang akan saya soroti berkenaan dengan ajaran Pdt. Stephen Tong tentang ajaran filosof Cina itu dan hubungannya dengan Kitab Suci, adalah bahwa ia mengatakan bahwa orang-orang Kristen, majelis-majelis / tua-tua, dan hamba-hamba Tuhan harus mengerti bahwa semua ajaran filosof Cina itu bisa membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

 

Mula-mula Pdt. Stephen Tong memberi contoh ajaran filosof Cina itu, tentang ‘gentleman yang mementingkan kebenaran / keadilan, dan orang kecil yang mementingkan profit / keuntungan’. Setelah ia membahas ajaran itu, ia lalu menanyakan: ‘Bagus ndak?’.

 

Dan ia lalu melanjutkan dengan mengatakan kata-kata sebagai berikut: “Saya kira ini perlu ya, semua hamba-hamba Tuhan, semua majelis, semua tua-tua, semua orang-orang Kristen, mengerti semua yang pernah dipikirkan ... ikut membentuk kita menjadi orang Kristen yang lebih bertanggung jawab. Karena Yesus berkata ‘jikalau kebenaranmu tidak melampaui kebenaran orang Farisi engkau tidak bisa masuk kerajaan  Surga.’”.

Catatan: nama dari filosof Cina ini saya gantikan dengan ...

 

Kata-kata Yesus ini pasti dikutip dari Mat 5:20 - “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Catatan: kata-kata ‘hidup keagamaan’ oleh KJV diterjemahkan ‘righteousness’ (= kebenaran). Jadi dalam hal ini pengutipan yang dilakukan oleh Pdt. Stephen Tong cukup benar.

 

Dari 3 hal ini, saya akan membahas yang no 3 lebih dulu, lalu yang no 1, dan terakhir yang no 2, yang paling saya utamakan, saya bahas paling akhir dan paling terperinci.

 

1)   Tentang penghubungan dengan Mat 5:20.

Saya sama sekali tidak mengerti apa hubungannya Mat 5:20 ini dengan keharusan semua hamba Tuhan, majelis, tua-tua, orang Kristen untuk memperhatikan ajaran filosof Cina itu! Ini merupakan suatu penghubungan yang sama sekali ngawur!

 

Dalam komentarnya tentang ayat ini, Calvin mengatakan bahwa orang-orang Farisi menekankan ajaran dan ketaatan yang sifatnya lahiriah / munafik dan suka memamerkan kebenarannya. Karena itu Yesus mengatakan bahwa kebenaran dari murid-murid harus melampaui kebenaran dari orang-orang Farisi itu. Kita harus mempunyai kebenaran yang sifatnya rohani / dari dalam. Ini tak berarti Yesus mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik, tetapi kalau seseorang betul-betul beriman, maka pasti kebenaran jenis ini akan muncul dalam hidupnya sebagai buah dari imannya.

 

Calvin: But it deserves inquiry, whether he does not rather blame the corrupted manner of teaching, which the Pharisees and Scribes followed in instructing the people. By confining the law of God to outward duties only, they trained their disciples, like apes, to hypocrisy. They lived, I readily admit, as ill as they taught, and even worse: and therefore, along with their corrupted doctrine, I willingly include their hypocritical parade of false righteousness.

Catatan: ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

 

Jadi, bagaimana ayat seperti ini dihubungkan dengan ajaran filosof Cina itu, yang dikatakan oleh Pdt. Stephen Tong harus dimengerti sebagai ikut membentuk kita menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab, betul-betul merupakan sesuatu yang melampaui akal saya!

 

2)   Tentang pertanyaan Pdt. Stephen Tong ‘bagus ndak’?

Kalau saya harus menjawab pertanyaan ‘bagus ndak’ itu, maka saya berkata itu tidak ada apa-apanya dalam keindahan, kejelasan, kedalaman, dsb, dibandingkan dengan ajaran Kitab Suci tentang hal itu. Intinya hanya urusan orang yang mata duitan yang dikontraskan dengan orang yang menekankan kebenaran dan keadilan. Tentang hal-hal seperti ini Kitab Suci memberikan banyak sekali ajaran / ayat yang jauh lebih indah dan dalam. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini, yang boleh dikatakan hanya merupakan sebagian kecil dari apa yang Kitab Suci katakan berkenaan dengan uang / harta dan bahayanya.

·         Maz 62:11 - “Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya”.

·         Amsal 10:2 - “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut”.

·         Amsal 11:4 - “Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”.

·         Amsal 15:16 - “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan”.

·         Amsal 21:6 - “Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut”.

·         Amsal 23:4-5 - “(4) Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. (5) Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali”.

·         Amsal 30:8-9 - “(8) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. (9) Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku”.

·         Pkh 5:9-16 - “(9) Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. (10) Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? (11) Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. (12) Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri. (13) Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatupun padanya untuk anaknya. (14) Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. (15) Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? (16) Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan”.

·         Yer 9:23-24 - “(23) Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, (24) tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.’”.

·         Yeh 7:19 - “Perak mereka akan dicampakkan ke luar dan emas mereka akan dianggap cemar. Emas dan peraknya tidak akan dapat menyelamatkan mereka pada hari kemurkaan TUHAN. Mereka tidak akan kenyang karenanya dan perut mereka tidak akan terisi dengannya. Sebab hal itu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan”.

·         Mat 6:19-24 - “(19) ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20) Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (21) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (22) Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (23) jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (24) Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.

·         Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.

·         Mat 13:22 - “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah”.

·         Mat 19:21-24 - “(21) Kata Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (23) Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (24) Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.’”.

·         Luk 12:16-21 - “(16) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kataNya: ‘Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. (17) Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (21) Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.’”.

·         Luk 21:34-36 - “(34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35) Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.

·         1Tim 6:6-10 - “(6) Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (7) Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (8) Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (9) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

·         1Tim 6:17-19 - “(17) Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (18) Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (19) dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya”.

·         Yak 1:9-11 - “(9) Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, (10) dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput. (11) Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap”.

·         Yak 4:4 - “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”.

·         Yak 5:1-3 - “(1) Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! (2) Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! (3) Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir”.

·         1Yoh 2:15 - “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu”.

 

3)   Sekarang, tentang ajaran filosof Cina itu yang ia anggap bisa menjadikan kita orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.

Saya kutip ulang kata-kata Pdt. Stephen Tong, kata per kata, sebagai berikut: “Saya kira ini perlu ya, semua hamba-hamba Tuhan, semua majelis, semua tua-tua, semua orang-orang Kristen, mengerti semua yang pernah dipikirkan ... ikut membentuk kita menjadi orang Kristen yang lebih bertanggung jawab”.

Catatan: nama dari filosof Cina itu saya ganti dengan ...

 

a)   Saya tekankan kata ‘lebih’ ini! Secara implicit ini menunjukkan bahwa Pdt. Stephen Tong menganggap bahwa ajaran filosof Cina itu lebih bagus / lebih bisa menguduskan dari Alkitab / Firman Tuhan.

Tentang pandangan Pdt. Stephen Tong yang begitu mengagungkan ajaran filosof Cina itu, dan bahkan secara implicit menempatkannya di atas Firman Tuhan / Kitab Suci, maka saya akan memberikan di bawah ini kutipan-kutipan dari Calvin sebagai pembanding.

 

John Calvin: Now this power which is peculiar to Scripture is clear from the fact that of human writings, however artfully polished, there is none capable of affecting us at all comparably. Read Demosthenes or Cicero; read Plato, Aristotle, and others of that tribe. They will, I admit, allure you, delight you, move you, enrapture you in wonderful measure. But betake yourself from them to this sacred reading. Then, in spite of yourself, so deeply will it affect you, so penetrate your heart, so fix itself in your very marrow, that, compared with its deep impression, such vigor as the orators and philosophers have will nearly vanish. Consequently, it is easy to see that the Sacred Scriptures, which so far surpass all gifts and graces of human endeavor, breathe something divine (= Sekarang, kuasa ini yang merupakan sesuatu yang khas dari Kitab Suci, adalah jelas dari fakta bahwa dari tulisan-tulisan manusia, betapapun dipoles secara hebat, tidak ada yang bisa dibandingkan sama sekali dalam kemampuannya untuk mempengaruhi kita. Bacalah Demosthenes atau Cicero; bacalah Plato, Aristotle, dan yang lain-lain dari suku / jenis / kelompok yang sama itu. Mereka akan, saya akui, memikat engkau, menyenangkan engkau, menggerakkan engkau, mempesona engkau dalam ukuran yang hebat. Tetapi bawalah dirimu sendiri dari mereka pada pembacaan kudus / keramat ini. Maka siapapun adanya engkau, begitu dalamnya itu akan mempengaruhimu, begitu dalamnya itu menembus hatimu, begitu dalamnya itu memancangkan dirinya sendiri dalam sumsummu, sehingga, dibandingkan dengan kesannya yang mendalam, semangat / kekuatan yang dimiliki ahli-ahli pidato dan ahli-ahli filsafat hampir lenyap. Karena itu, adalah mudah untuk melihat bahwa Kitab Suci yang kudus, yang begitu jauh melampaui semua karunia-karunia dan kasih karunia dari usaha manusia, menghembuskan sesuatu yang bersifat ilahi) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 8, no 1.

 

Catatan: alangkah berbedanya perbandingan yang dilakukan oleh Calvin dan Pdt. Stephen Tong pada waktu mereka membandingkan tulisan-tulisan ahli-ahli filsafat dsb, dengan Kitab Suci! Dan ini pasti juga berlaku untuk ajaran filosof Cina itu.

 

John Calvin: “Not style but content is decisive. Indeed, I admit that some of the prophets had an elegant and clear, even brilliant, manner of speaking, so that their eloquence yields nothing to secular writers; and by such examples the Holy Spirit wished to show that he did not lack eloquence while he elsewhere used a rude and unrefined style. But whether you read David, Isaiah, and the like, whose speech flows sweet and pleasing, or Amos the herdsman, Jeremiah, and Zechariah, whose harsher style savors of rusticity, that majesty of the Spirit of which I have spoken will be evident everywhere. And I am not unaware that Satan is in many ways an imitator of God, in order by a false likeness to insinuate himself into the minds of simple folk (= Bukan gaya, tetapi isi yang menentukan. Memang, saya mengakui bahwa beberapa / sebagian dari nabi-nabi mempunyai cara berbicara yang anggun dan jelas, dan bahkan cemerlang, sehingga kefasihan mereka tidak kalah dari penulis-penulis sekuler; dan dengan contoh-contoh seperti itu Roh Kudus ingin menunjukkan bahwa Ia tidak kekurangan kefasihan pada saat di tempat lain Ia menggunakan gaya yang kasar dan tidak diperhalus. Tetapi apakah kamu membaca Daud, Yesaya, dan sebagainya, yang ucapannya mengalir dengan manis dan menyenangkan, atau Amos sang penggembala, Yeremia, dan Zakharia, yang gayanya yang lebih kasar / tajam berbau kekasaran / kesederhanaan, keagungan dari Roh tentang mana saya telah berbicara, akan nyata dimana-mana. Dan saya bukannya tidak sadar bahwa Iblis dalam banyak cara adalah seorang peniru dari Allah, supaya oleh suatu kemiripan yang palsu bisa membuat dirinya sendiri disenangi dalam pikiran dari orang-orang yang dungu) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 8, no 2.

 

Dari sini kita bisa melihat bahwa gaya dari Kitab Suci kadang-kadang kasar dan kadang-kadang halus / anggun. Tetapi Calvin mengatakan bahwa Iblis juga menirunya, supaya dengan kemiripan itu ia bisa menipu dan diterima oleh orang-orang yang dungu. Karena itu, kalau dalam ajaran / tulisan filosof Cina itu, Socrates, orang-orang kafir dan ahli-ahli filsafat kafir yang lain, ada hal-hal yang kelihatannya indah, menarik, anggun dsb, kita harus mengingat hal ini! Kita harus menganggap itu sebagai tiruan / samaran setan, dan bukannya sebagai Firman Tuhan atau sesuatu yang disetarakan dengan Firman Tuhan, apalagi sesuatu yang melampaui Firman Tuhan, dan bahkan bukan sebagai respons manusia terhadap wahyu umum, seperti yang dipercaya / diajarkan oleh Pdt. Stephen Tong berkenaan dengan ajaran filosof Cina itu!

 

b)   Saya sama sekali tidak setuju, bahkan sepenuhnya menentang, ajaran Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa orang-orang Kristen / hamba-hamba Tuhan harus belajar dari ajaran filosof Cina itu, apalagi kalau tujuannya untuk membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab!

 

Alasan-alasannya:

 

1.   Dilihat dari tingkatan-tingkatan kebenarannya.

 

Sekarang mari kita perhatikan tingkatan-tingkatan di bawah ini:

 

a.   Ajaran filosof Cina itu masih ada di bawah wahyu umum.

Ini terlihat dari kata-kata Pdt. Stephen Tong sendiri, pada waktu ia mengatakan:

·         Bahwa ajaran filosof Cina itu bukan wahyu umum, tetapi merupakan tanggapan manusia terhadap wahyu umum.

·         Bahwa dalam ajaran filosof Cina itu tidak ada ajaran vertikal / tentang Allah, padahal itu ada dalam wahyu umum.

 

b.   Wahyu umum sendiri, yaitu alam semesta dan hati nurani, memberikan terang yang jauh lebih sedikit dari pada wahyu khusus (Firman Tuhan dan Yesus Kristus).

Ini merupakan sesuatu yang jelas, karena dosa menyebabkan wahyu umum menjadi kabur dan manusia menjadi buta. Akibatnya wahyu umum menjadi tidak memadai untuk mengenal Allah, dan karena itu Allah memberi wahyu khusus.

 

John Calvin: SCRIPTURE CAN COMMUNICATE TO US WHAT THE REVELATION IN THE CREATION CANNOT. Accordingly, the same prophet, after he states, ‘The heavens declare the glory of God, the firmament shows forth the works of his hands, the ordered succession of days and nights proclaims his majesty’ (Psalm 19:1-2 p.), then proceeds to mention his Word: ‘The law of the Lord is spotless, converting souls; the testimony of the Lord is faithful, giving wisdom to little ones; the righteous acts of the Lord are right, rejoicing hearts; the precept of the Lord is clear, enlightening eyes’ (Psalm 28:8-9, Vg.; 19:7-8, EV) [= Kitab Suci bisa menyampaikan kepada kita apa yang wahyu dalam penciptaan tidak bisa. Sesuai dengan itu, nabi yang sama, setelah ia menyatakan ‘Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam’ (Maz 19:1-2), lalu melanjutkan dengan menyebutkan FirmanNya: ‘Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya’ (Maz 28:8-9, Vg, 19:7-8, EV)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter 6, no 4.

Catatan: Maz 28:8-9 tak cocok, mungkin terjemahan Latin Vulgate yang digunakan oleh Calvin agak berbeda. Yang cocok sekali memang adalah Maz 19, dan saya memberikan komentar Calvin tentang Maz 19 dari buku tafsirannya.

 

Calvin (tentang Maz 19): this psalm consists of two parts, in the first of which David celebrates the glory of God as manifested in his works; and, in the other, exalts and magnifies the knowledge of God which shines forth more clearly in his word (= mazmur ini terdiri dari 2 bagian, dalam bagian yang pertama darinya Daud menyatakan / menghormati kemuliaan Allah seperti yang dinyatakan dalam pekerjaanNya; dan dalam bagian yang lain, meninggikan dan membesarkan pengetahuan tentang Allah yang bersinar dengan lebih jelas dalam firmanNya).

 

Maz 19:1-7 - (1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; (3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. (7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya”.

 

Maz 19:8-15 - “(8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. (9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. (10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, (11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. (12) Lagipula hambaMu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. (13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. (14) Lindungilah hambaMu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. (15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku”.

 

Di sini saya juga ingin menambahkan komentar dari Calvin dan Albert Barnes tentang Ro 2:14-15 yang berbicara tentang hati nurani.

Ro 2:14-15 - “(14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela”.

Barnes’ Notes: “This does not mean, by any means, that they had all the knowledge which the Law would impart, for then there would have been no need of a revelation, ... the will of God, whether made known by reason or revelation, will be the same so far as reason goes. The difference is that revelation goes further than reason; sheds light on new duties and doctrines; as the information given by the naked eye and the telescope is the same, except, that the telescope carries the sight forward, and reveals new worlds to the sight of man” [= Ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka (orang-orang kafir / non Yahudi itu) mempunyai semua pengetahuan yang diberikan oleh hukum Taurat, kalau kalau demikian maka tidak dibutuhkan suatu wahyu, ... kehendak Allah, apakah dinyatakan oleh akal atau wahyu, akan sama sejauh akal berjalan. Perbedaannya adalah bahwa wahyu berjalan lebih jauh dari akal; memberi terang pada kewajiban-kewajiban dan doktrin-doktrin yang baru; seperti informasi yang diberikan oleh mata telanjang dan oleh teleskop adalah sama, kecuali bahwa teleskop membawa penglihatan ke depan, dan menyatakan dunia / alam semesta yang baru pada penglihatan manusia].

Calvin: Nor can we conclude from this passage, that there is in men a full knowledge of the law, but that there are only some seeds of what is right implanted in their nature (= Kita tidak bisa menyimpulkan dari text ini bahwa dalam diri manusia ada pengetahuan penuh tentang hukum / hukum Taurat, tetapi bahwa di sana hanya ada sebagian benih dari apa yang benar yang ditanamkan dalam diri mereka).

 

c.   Wahyu khusus, yaitu Firman Tuhan dan Yesus Kristus. Inipun bisa dibagi dalam tingkatan-tingkatan, yang makin lama makin terang, yaitu:

·         Hukum Taurat / Perjanjian Lama.

·         Ajaran Yohanes Pembaptis.

·         Ajaran Yesus / Injil / Perjanjian Baru.

 

John Calvin: John stood between the law and the gospel, holding an intermediate office related to both. He called Christ the ‘Lamb of God’ and the sacrifice for the cleansing of sins (John 1:29), thus setting forth the sum of the gospel. Yet he did not express that incomparable power and glory which at length shone forth in the resurrection. Hence, Christ said that he was not equal to the apostles; this is the meaning of his words: ‘John excels among the sons of women, yet he who is least in the Kingdom of Heaven is greater than he’ (Matthew 11:11 p.). He does not commend here the persons of men, but after setting John ahead of all the prophets, he raises the preaching of the gospel to the highest rank [= Yohanes berdiri di antara hukum Taurat dan injil, memegang jabatan pengantara yang berhubungan dengan keduanya. Ia menyebut Kristus ‘Anak Domba Allah’ dan korban untuk menghapus dosa (Yoh 1:29), dengan demikian mengajukan inti sari dari injil. Tetapi ia tidak menyatakan kuasa dan kemuliaan yang tak ada bandingannya yang akhirnya bersinar dalam kebangkitan. Karena itu, Kristus mengatakan bahwa ia tidak setara dengan rasul-rasul; inilah arti dari kata-kataNya: ‘di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya’ (Mat 11:11). Di sini Ia tidak memuji pribadi-pribadi manusia, tetapi setelah meletakkan Yohanes di depan semua nabi-nabi, Ia meninggikan pemberitaan injil pada tingkat yang tertinggi] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 5.

Mat 1:11 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya”.

 

John Calvin: the gospel points out with the finger what the law foreshadowed under types (= injil menunjuk dengan jari apa yang hukum Taurat bayangkan di bawah type-type) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 3.

 

John Calvin: the gospel did not so supplant the entire law as to bring forward a different way of salvation. Rather, it confirmed and satisfied whatever the law had promised, and gave substance to the shadows. ... where the whole law is concerned, the gospel differs from it only in clarity of manifestation [= injil tidak begitu menggantikan seluruh hukum Taurat sehingga mengemukakan suatu jalan keselamatan yang berbeda. Tetapi, injil meneguhkan dan memuaskan apapun yang dijanjikan oleh hukum Taurat, dan memberi zat / bahan pada bayangannya. ... dimana seluruh hukum Taurat dipersoalkan, injil berbeda darinya hanya dalam kejelasan pernyataan] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 4.

 

Calvin mengutip Mal 4:2 yang berbunyi: “akan terbit surya kebenaran”, dan lalu berkata sebagai berikut:

John Calvin: By these words he teaches that while the law serves to hold the godly in expectation of Christ’s coming, at his advent they should hope for far more light. For this reason, Peter says: ‘The prophets … searched and diligently inquired about this salvation,’ which has now been made manifest by the gospel (1Peter 1:10). And ‘it was revealed to them that they were serving not themselves,’ or their age, ‘but us, in the things which have … been announced’ through the gospel (1Peter 1:12 p.). ... today the grace of which they bore witness is put before our very eyes. They had but a slight taste of it; we can more richly enjoy it [= Dengan kata-kata ini ia mengajar bahwa sementara hukum Taurat melayani untuk memegang orang-orang saleh dalam pengharapan tentang kedatangan Kristus, pada kedatanganNya mereka harus berharap untuk terang yang lebih besar. Untuk alasan ini, Petrus berkata: ‘Nabi-nabi ... meneliti dan menyelidiki dengan rajin tentang keselamatan ini’, yang sekarang telah dinyatakan oleh injil (1Pet 1:10). Dan ‘kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri’, atau jaman mereka, ‘tetapi kami, dalam hal-hal yang telah ... diumumkan’ melalui injil (1Pet 1:12). ... hari ini kasih karunia tentang mana mereka memberikan kesaksian diletakkan di depan mata kita. Mereka hanya mendapatkan sedikit cicipan tentangnya; kita bisa menikmatinya dengan lebih kaya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 1.

Catatan: 1Pet 1:10,12 dalam kutipan di atas ini tidak saya ambil dari Kitab Suci Indonesia tetapi saya terjemahkan dari bahasa Inggris.

 

Sekarang perhatikan beberapa komentar dari beberapa penafsir tentang Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”. Semua komentar-komentar ini menunjukkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Injil memberi terang yang lebih banyak dari hukum Taurat / Perjanjian Lama.

 

John Calvin: And John the Baptist’s statement - ‘No one has ever seen God; the only-begotten Son, who is in the bosom of the Father, has made him known’ (John 1:18) - does not exclude the pious who died before Christ from the fellowship of the understanding and light that shine in the person of Christ. But, by comparing their lot with ours, he teaches that those mysteries which they but glimpsed in shadowed outline are manifest to us [= Dan pernyataan Yohanes Pembaptis - ‘Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya’ (Yoh 1:18) - tidak mengeluarkan orang-orang saleh yang mati sebelum Kristus dari persekutuan tentang pengertian dan terang yang bersinar dalam pribadi Kristus. Tetapi, dengan membandingkan nasib / bagian mereka dengan nasib / bagian kita, ia mengajar bahwa misteri-misteri, yang hanya mereka lihat sekilas dalam garis besar / sketsa yang dinaungi bayang-bayang, dinyatakan kepada kita] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter IX, no 1.

 

Matthew Henry: “The law was given by Moses, and it was a glorious discovery, both of God’s will concerning man and his good will to man; but the gospel of Christ is a much clearer discovery both of duty and happiness ... the revelation which God made of himself in the Old Testament was very short and imperfect, in comparison with that which he has made by Christ ... none of the Old-Testament prophets were so well qualified to make known the mind and will of God to the children of men as our Lord Jesus was, for none of them had seen God at any time. Moses beheld the similitude of the Lord (Num. 12:8), but was told that he could not see his face, Exo. 33:20. But this recommends Christ’s holy religion to us that it was founded by one that had seen God, and knew more of his mind than any one else ever did” [= Hukum Taurat diberikan oleh / melalui Musa, dan itu merupakan penemuan / penyingkapan yang mulia, baik tentang kehendak Allah berkenaan dengan manusia dan kehendak-baikNya bagi manusia; tetapi injil Kristus merupakan suatu penemuan / penyingkapan yang jauh lebih jelas, baik tentang kewajiban maupun kebahagiaan ... wahyu yang Allah buat tentang diriNya sendiri dalam Perjanjian Lama adalah sangat singkat dan tidak sempurna, dibandingkan dengan apa yang telah Ia buat oleh / melalui Kristus ... tidak ada nabi-nabi Perjanjian Lama yang begitu memenuhi syarat dengan baik untuk menyatakan pikiran dan kehendak Allah kepada anak-anak manusia seperti Tuhan kita Yesus, karena tidak ada dari mereka yang telah melihat Allah pada saat manapun. Musa melihat bentuk dari Tuhan (Bil 12:8), tetapi diberitahu bahwa ia tidak bisa melihat wajahNya, Kel 33:20. Tetapi ini menganjurkan agama kudus Kristus bagi kita bahwa itu didirikan oleh seseorang yang telah melihat Allah, dan tahu lebih banyak tentang pikiranNya dari orang lain manapun].

 

Barnes’ Notes: “‘No man hath seen God at any time.’ This declaration is probably made to show the superiority of the revelation of Jesus above that of any previous dispensation. It is said, therefore, that Jesus ‘had an intimate knowledge of God,’ which neither Moses nor any of the ancient prophets had possessed. God is invisible: no human eyes have seen him; but Christ had a knowledge of God which might be expressed to OUR apprehension by saying that he SAW him. He knew him intimately and completely, and was therefore fitted to make a fuller manifestation of him. ... This verse proves that Jesus had a knowledge of God above that which any of the ancient prophets had, and that the fullest revelations of his character are to be expected in the gospel. By his Word and Spirit he can enlighten and guide us, and lead us to the true knowledge of God; and there is no true and full knowledge of God which is not obtained through his Son” (= ‘Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah’. Pernyataan ini mungkin dibuat untuk menunjukkan kesuperioran dari wahyu dari Yesus di atas wahyu dari jaman yang lebih dulu manapun. Karena itu dikatakan bahwa Yesus ‘mempunyai pengenalan intim / mendalam tentang Allah’, yang baik Musa maupun yang manapun dari nabi-nabi kuno tidak mempunyainya. Allah itu tidak bisa dilihat: tidak ada mata manusia telah melihatNya; tetapi Kristus mempunyai suatu pengenalan tentang Allah yang bisa dinyatakan pada pengertian KITA dengan mengatakan bahwa Ia TELAH MELIHAT Dia. Ia mengenalNya dengan intim / mendalam dan dengan lengkap / sempurna, dan karena itu cocok untuk membuat manifestasi yang lebih penuh tentang Dia. ... Ayat ini membuktikan bahwa Yesus mempunyai suatu pengenalan tentang Allah di atas pengenalan yang dimiliki oleh nabi-nabi kuno yang manapun, dan bahwa wahyu yang paling penuh dari karakterNya harus diharapkan dalam injil. Oleh firman dan RohNya Ia bisa menerangi dan membimbing kita, dan memimpin kita pada pengetahuan / pengenalan yang benar tentang Allah; dan tidak ada pengetahuan / pengenalan yang benar dan penuh tentang Allah yang tidak didapatkan melalui AnakNya).

 

Jadi, ajaran filosof Cina itu masih di bawah wahyu umum, dan wahyu umum ada di bawah wahyu khusus. Dan dalam wahyu khusus sendiri, hukum Taurat / Perjanjian Lama ada di bawah ajaran Yohanes Pembaptis, dan ajaran Yohanes Pembaptis ada di bawah Injil / Perjanjian Baru / ajaran Yesus Kristus.

 

Lalu bagaimana mungkin kita yang sudah memiliki wahyu khusus, yaitu seluruh Alkitab dan Yesus Kristus, masih harus belajar dari ajaran filosof Cina itu, supaya bisa menjadi orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab? Terus terang, saya menganggap pernyataan ini sebagai suatu penghinaan terhadap Kitab Suci. Bagaimana mungkin, orang Kristen yang sudah memiliki Firman Tuhan yang lengkap dalam Alkitab, lalu harus belajar dari orang, yang menurut Pdt. Stephen Tong sendiri ajarannya bahkan bukan wahyu umum, tetapi hanya merupakan renspons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum dari Allah (inipun saya sangat sangsikan kebenarannya).

 

2.   Apakah Pdt. Stephen Tong menganggap ajaran filosof Cina itu ada dalam Alkitab, atau tidak ada dalam Alkitab? Kalau ada, untuk apa dan mengapa orang Kristen harus mempelajarinya dari ajaran dari filosof Cina itu dan bukannya dari Alkitab? Kalau tidak ada, apakah itu berarti Alkitab itu masih kurang dan harus ditambahi dengan ajaran filosof Cina itu? Kalau yang terakhir ini dijawab ‘ya’, maka itu berarti Pdt. Stephen Tong sudah menyimpang dari semboyan reformasi ‘SOLA SCRIPTURA’!

 

3.   Kitab Suci kita sudah lengkap untuk menguduskan / memperbaiki kehidupan kita, dan tak perlu ditambahi apapun yang lain.

Bdk. 2Tim 3:16-17 - “(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

KJV: ‘That the man of God may be perfect, throughly furnished unto all good works’ (= Supaya manusia milik Allah bisa sempurna, sepenuhnya diperlengkapi pada semua perbuatan baik).

 

Calvin (tentang 2Tim 3:16): Thus he who knows how to use the Scriptures properly, is in want of nothing for salvation, or for a Holy life (= Demikianlah ia yang tahu bagaimana menggunakan Kitab Suci dengan benar, tidak kekurangan apapun untuk keselamatan, atau untuk suatu kehidupan yang kudus).

 

Calvin (tentang 2Tim 3:17): “‘That the man of God may be perfect.’ ‘Perfect’ means here a blameless person, one in whom there is nothing defective; for he asserts absolutely, that the Scripture is sufficient for perfection. Accordingly, he who is not satisfied with Scripture desires to be wiser than is either proper or desirable (= ‘Supaya manusia milik Allah bisa sempurna’. ‘Sempurna’ di sini berarti seorang yang tak bercacat, seseorang dalam siapa tidak ada apapun yang cacat / kurang baik; karena ia menegaskan secara mutlak, bahwa Kitab Suci adalah cukup untuk kesempurnaan. Sesuai dengan itu, ia yang tidak puas dengan Kitab Suci ingin mempunyai kebijaksanaan yang lebih dari yang benar atau yang bisa diinginkan).

 

Barnes’ Notes (tentang 2Tim 3:16): “‘For correction.’ ... The meaning is, that the Scriptures are a powerful means of reformation, or of putting men into the proper condition in regard to morals. After all the means which have been employed to reform mankind; ... the word of God is still the most powerful and the most effectual means of recovering those who have fallen into vice. No reformation can be permanent which is not based on the principles of the word of God (= ‘Untuk koreksi / memperbaiki kelakuan’. ... Artinya adalah, bahwa Kitab Suci adalah suatu cara yang sangat berkuasa / kuat untuk mereformasi, atau untuk meletakkan manusia ke dalam suatu kondisi yang tepat berkenaan dengan moral. Setelah semua cara-cara yang telah digunakan untuk mereformasi umat manusia; ... firman Allah tetap merupakan cara yang paling berkuasa / kuat dan paling efektif untuk memulihkan mereka yang telah jatuh ke dalam kejahatan. Tidak ada reformasi bisa bersifat permanen, kalau tidak didasarkan pada prinsip-prinsip firman Allah).

 

Barnes’ Notes (tentang 2Tim 3:17): “‘That the man of God may be perfect.’ The object is not merely to convince and to convert him; it is to furnish all the instruction needful for his entire perfection. The idea here is, not that any one IS absolutely perfect, but that the Scriptures have laid down the way which leads to perfection, and that, if any one WERE perfect, he would find in the Scriptures all the instruction which he needed in those circumstances. There is no deficiency in the Bible for man, in any of the situations in which he may be placed in life [= ‘Supaya manusia milik Allah itu bisa sempurna’. Tujuannya bukan semata-mata meyakinkan dan mempertobatkannya; tujuannya adalah untuk memperlengkapi / menyediakan semua instruksi yang dibutuhkan untuk seluruh kesempurnaannya. Gagasannya di sini adalah, bukan bahwa siapapun adalah sempurna secara mutlak, tetapi bahwa Kitab Suci telah memberikan cara yang memimpin pada kesempurnaan, dan bahwa, seandainya siapapun adalah sempurna, ia akan menemukan dalam Kitab Suci semua instruksi yang ia butuhkan dalam keadaan itu. Tidak ada kekurangan dalam Alkitab untuk manusia, dalam sikon apapun dalam mana ia ditempatkan dalam kehidupan].

 

Barnes’ Notes (tentang 2Tim 3:17): “‘Thoroughly furnished unto all good works.’ Margin, ‘perfected.’ The Greek means, to bring to an end; to make complete. The idea is, that whatever good work the man of God desires to perform, or however perfect he aims to be, he will find no deficiency in the Scriptures, but will find there the most ample instructions that he needs” (= ‘sepenuhnya diperlengkapi pada semua perbuatan baik’. Catatan tepi, ‘disempurnakan’. Kata Yunaninya berarti, ‘membawa pada satu tujuan’; ‘membuat lengkap / sempurna’. Gagasannya adalah bahwa perbuatan baik apapun yang ingin dilakukan oleh manusia milik Allah, atau betapapun sempurnanya tujuannya, ia tidak akan mendapati kekurangan dalam Kitab Suci, tetapi akan mendapatkan di sana instruksi yang paling banyak / cukup yang ia butuhkan).

 

4.   Roh Kudus memimpin dan menguduskan orang percaya menggunakan Firman Tuhan.

 

a.   Roh Kudus memimpin dengan Firman Tuhan.

Bdk. 2Pet 1:19-21 - “(19) Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. (20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.

 

·         Ajaran filosof Cina itu jelas bukan Kitab Suci / Firman Tuhan; juga bukannya muncul dari dorongan Roh Kudus, tetapi dari dorongan / kehendak filosof Cina itu sendiri.

 

Calvin (tentang 2Pet 1:20): Peter says that Scripture came not from man, or through the suggestions of man. For thou wilt never come well prepared to read it, except thou bringest reverence, obedience, and docility; but a just reverence then only exists when we are convinced that God speaks to us, and not mortal men. Then Peter especially bids us to believe the prophecies as the indubitable oracles of God, because they have not emanated from men’s own private suggestions. To the same purpose is what immediately follows, - but holy men of God spake as they were moved by the Holy Ghost. They did not of themselves, or according to their own will, foolishly deliver their own inventions. The meaning is, that the beginning of right knowledge is to give that credit to the holy prophets which is due to God. He calls them the holy men of God, because they faithfully executed the office committed to them, ... they dared not to announce anything of their own, and obediently followed the Spirit as their guide, who ruled in their mouth as in his own sanctuary. Understand by ‘prophecy of Scripture’ that which is contained in the holy Scriptures [= Petrus mengatakan bahwa Kitab Suci datang bukan dari manusia, atau melalui anjuran / dorongan manusia. Karena engkau tidak akan pernah dipersiapkan dengan baik untuk membaca Kitab Suci, kecuali engkau membawa rasa takut dan hormat, ketaatan, dan kepatuhan; tetapi rasa takut dan hormat yang benar hanya ada pada waktu kita diyakinkan bahwa Allah, dan bukan manusia yang fana, yang berbicara kepada kita. Maka Petrus secara khusus meminta kita untuk mempercayai nubuat-nubuat sebagai sabda yang pasti dari Allah, karena nubuat-nubuat itu tidak keluar dari dorongan pribadi manusia itu sendiri. Apa yang berikutnya juga mempunyai tujuan yang sama, - tetapi orang-orang kudus Allah berbicara pada waktu mereka digerakkan oleh Roh Kudus. Mereka tidak melakukan dari diri mereka sendiri, atau sesuai dengan kehendak mereka, dengan tolol menyampaikan penemuan-penemuan mereka sendiri. Artinya adalah, bahwa permulaan dari pengetahuan yang benar adalah memberikan penghargaan kepada nabi-nabi kudus yang merupakan hak / milik Allah. Ia menyebut mereka orang-orang kudus dari Allah, karena mereka dengan setia melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka, ... mereka tidak berani mengumumkan / memberitahukan apapaun dari diri mereka sendiri, dan dengan taat mengikuti Roh sebagai pembimbing mereka, yang memerintah dalam mulut mereka seperti dalam Ruang Suci / BaitNya. Yang dimaksudkan dengan ‘nubuat-nubuat Kitab Suci’ adalah apa yang ada dalam Kitab Suci yang kudus].

 

·         Kita hanya bisa mengikuti Allah kalau kita mengikuti Firman Tuhan / Kitab Suci.

Calvin (tentang 2Pet 1:19): This is a remarkable passage: we learn from it how God guides us. The Papists have ever and anon in their mouth, that the Church cannot err. Though the word is neglected, they yet imagine that it is guided by the Spirit. But Peter, on the contrary, intimates that all are immersed in darkness who do not attend to the light of the word. Therefore, except thou art resolved wilfully to cast thyself into a labyrinth, especially beware of departing even in the least thing from the rule and direction of the word. Nay, the Church cannot follow God as its guide, except it observes what the word prescribes. In this passage Peter also condemns all the wisdom of men, in order that we may learn humbly to seek, otherwise than by our own understanding, the true way of knowledge; for without the word nothing is left for men but darkness (= Ini merupakan suatu text yang hebat / luar biasa: dari text ini kita belajar bagaimana Allah membimbing kita. Para pengikut Paus sekali-sekali mengatakan bahwa Gereja tidak bisa salah. Sekalipun firman diabaikan, tetapi mereka mengkhayalkan bahwa Gereja dibimbing oleh Roh. Tetapi Petrus, sebaliknya, mengisyaratkan bahwa semua ditenggelamkan dalam kegelapan kalau tidak memperhatikan terang dari firman. Karena itu, kecuali engkau memutuskan secara sengaja untuk melemparkan dirimu sendiri ke dalam suatu susunan / jalan yang membingungkan, khususnya berhati-hatilah untuk tidak menyimpang dalam hal yang terkecil dari peraturan dan arah dari firman. Tidak, Gereja tidak bisa mengikuti Allah sebagai pembimbingnya, kecuali Gereja memperhatikan / mentaati apa yang dituliskan oleh firman. Dalam text ini Petrus juga mengecam semua hikmat dari manusia, supaya kita bisa dengan rendah hati belajar untuk mencari, bukan oleh pengertian kita sendiri, jalan yang benar dari pengetahuan; karena tanpa firman tidak ada apapun yang tertinggal bagi manusia kecuali kegelapan).

 

Kalau Pdt. Stephen Tong menyuruh orang-orang Kristen, tua-tua, hamba-hamba Tuhan mempelajari dan memperhatikan ajaran filosof Cina itu, supaya bisa menjadi orang Kristen yang lebih bertanggung jawab, ini jelas sama dengan menyuruh untuk menggunakan sesuatu yang bukan Firman Tuhan sebagai pembimbing! Dan menurut Calvin, ini hanya bisa membawa ke dalam kegelapan!

 

b.   Roh Kudus menguduskan dengan Firman Tuhan.

Perlu dicamkan bahwa kita tidak akan bisa maju dalam pengudusan tanpa pekerjaan Roh Kudus. Dalam menguduskan kita, Roh Kudus jelas bekerja menggunakan firmanNya. Sekarang pertanyaannya, maukah / mungkinkah Roh Kudus bekerja menguduskan kita dengan menggunakan ajaran seorang filosof Cina, sehingga kita bisa menjadi orang Kristen yang lebih bertanggung jawab??

Sekarang bandingkan dengan ayat-ayat ini:

·         Yoh 15:3 - “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.”.

Calvin (tentang Yoh 15:3): so far as Christ works in the heart by the Spirit, the word itself is the instrument of cleansing (= sejauh Kristus bekerja dalam hati oleh Roh, firman itu sendiri adalah alat pembersihan).

·         Yoh 17:17 - “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran.”.

Calvin (tentang Yoh 17:17): He asks, first, therefore, that the Father would sanctify the disciples, ... Next, he points out the means of sanctification, and not without reason; for there are fanatics who indulge in much useless prattle about sanctification, but who neglect the truth of God, by which he consecrates us to himself. Again, as there are others who chatter quite as foolishly about the truth and yet disregard the word, Christ expressly says that the truth, by which God sanctifies his sons, is not to be found any where else than in the word. ... True, it is God alone who sanctifies; but as ‘the Gospel is the power of God to salvation to every one that believeth,’ (Romans 1:16,) whoever departs from the Gospel as the means must become more and more filthy and polluted [= Karena itu, pertama-tama ia meminta supaya Bapa menguduskan murid-murid, ... Selanjutnya, Ia menunjukkan cara dari pengudusan, dan bukan tanpa alasan; karena ada orang-orang fanatik yang menuruti dirinya sendiri dengan banyak ocehan yang tak berguna tentang pengudusan, tetapi yang mengabaikan kebenaran Allah, dengan mana Ia mengabdikan kita kepada diriNya sendiri. Juga, karena ada orang-orang lain yang mengoceh dengan cara yang sama tololnya tentang kebenaran tetapi mengabaikan firman, Kristus dengan jelas mengatakan bahwa kebenaran, dengan mana Allah menguduskan anak-anakNya, tidak ditemukan di tempat lain manapun kecuali dalam firman. ... Memang benar bahwa hanya Allah sendiri yang menguduskan; tetapi karena ‘Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya’, (Ro 1:16), siapapun yang menyimpang dari Injil sebagai cara (pengudusan) harus / pasti menjadi makin lama makin kotor dan terpolusi].

 

Bisakah ajaran seorang filosof Cina disebut firman Tuhan / Injil / Kitab Suci sehingga bisa dipakai oleh Tuhan / Roh Kudus untuk membersihkan / menguduskan dan memimpin orang Kristen?

 

Kesimpulan.

 

Kalau dalam ajaran yang lalu, yang sudah kita bahas, Pdt. Stephen Tong bertentangan dengan SOLA FIDE / GRATIA, maka saya berpendapat bahwa di sini ia bertentangan dengan SOLA SCRIPTURA!

Bagaimana sikap Pdt. Stephen Tong terhadap Wah 22:18-19?

Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

 

Barnes’ Notes: “The reference here is to the book of Revelation only - for at that time the books that now constitute what we call the Bible were not collected into a single volume. This passage, therefore, should not be adduced as referring to the whole of the sacred Scriptures. Still, the principle is one that is thus applicable; for it is obvious that no one has a right to change any part of a revelation which God makes to man; to presume to add to it, or to take from it, or in any way to modify it” (= Keterangan ini hanya bagi kitab Wahyu saja - karena pada saat itu kitab-kitab yang sekarang membentuk apa yang kita sebut Alkitab belum dikumpulkan ke dalam satu kitab / buku. Karena itu, text ini tidak boleh dikemukakan sebagai menunjuk pada seluruh Kitab Suci yang kudus. Tetapi tetap prinsip ini adalah prinsip yang bisa diterapkan seperti itu; karena adalah jelas bahwa tak seorangpun mempunyai hak untuk mengubah bagian manapun dari suatu wahyu yang Allah buat bagi manusia; berani menambah kepadanya, atau mengurangi darinya, atau dengan cara apapun memodifikasinya).

 

 

-AMIN-