Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, Blok D 16)

 

Kamis, tanggal 23 Desember 2010, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

Pria sejati / maximal (12)

 

10)       Keselamatan / masuk surga karena usaha / persiapan kita?

 

a)   “Yesus memberikan keseimbangan antara pertobatan dan iman yang membuat pintu sorga terbuka (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

 

Tanggapan saya:

 

1.   Apa arti dari ‘keseimbangan’? Kalimat ini mengarah pada keselamatan karena iman + perbuatan baik???

 

2.   Yang membuat pintu surga terbuka bukan iman ataupun pertobatan kita tetapi Yesus, melalui kematian dan kebangkitanNya.

Ef 2:18 - “karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa”.

Ef 3:12 - Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.

Ibr 10:20 - “karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri.

Masuknya kita ke sana, itu karena iman kita.

 

b)   “Yang mula-mula diinginkan dalam kehidupan ini adalah masuk sorga, namun hal itu baru akan terlaksana di akhir kehidupan. Sebelum keinginan itu terlaksana, kita harus melakukan berbagai persiapan untuk menghadapinya. Mulai sekarang kita harus menyusun suatu rencana dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan rencana tersebut agar keinginan mula-mula kita itu dapat tercapai (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 238).

 

Tanggapan saya:

Jadi, bisanya kita masuk surga terjadi karena persiapan-persiapan / pelaksanaan rencana kita? Perhatikan bahwa di sini Cole sama sekali tidak membicarakan iman kepada Kristus! Jadi, ini ajaran keselamatan semata-mata karena perbuatan baik, dan ini adalah ajaran sesat!

 

D. James Kenendy mengutip kata-kata Martin Luther sebagai berikut:

“The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God” (= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci) - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.

 

c)   “Percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 86).

 

Tanggapan saya:

Definisi konyol dan bodoh. Percaya sama dengan beriman. Lalu bagaimana ia bisa berkata bahwa ‘percaya ditambah dengan perbuatan sama dengan iman’???

 

d)   “‘Bawalah hidupmu kepada salib’ adalah judul dan tema di mana terjadi perubahan kekal dalam hidup kita. Kita membawa:

Kesalahan - dan mendapatkan pengampunan

Pertobatan - dan kita mendapatkan iman” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 152).

 

Tanggapan saya:

Ini omongan apa? Membawa hidup ke salib kan sudah menunjukkan iman? Tetapi Cole mengatakan bahwa kita membawa pertobatan - dan kita mendapatkan iman???

 

e)   “Allah berjanji bahwa orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan akan duduk bersama-sama dengan Dia di takhta-Nya. Orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan tersebut adalah orang yang akan sanggup mencapai kekudusan” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 12).

 

Tanggapan saya:

 

1.         Kalimat pertama berbau ajaran sesat keselamatan karena perbuatan baik!

Edwin Louis Cole tidak memberi dasar Alkitab untuk ajarannya ini, tetapi sebetulnya memang ada ayat yang seakan-akan mendukung pandangan Edwin Louis Cole, yaitu 1Kor 6:9-10. Mari kita membaca dan membahas text itu.

 

1Kor 6:9-11 - “(9) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, (10) pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (11) Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita”.

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a.   Text ini bukan hanya berbicara tentang orang cabul, tetapi juga orang yang tidak adil, penyembah berhala, pencuri, orang kikir (seharusnya ‘tamak’), pemabuk, pemfitnah, penipu.

b.   Text ini tidak mengatakan bahwa orang yang bisa mengalahkan dosa-dosa itu akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah atau duduk bersama-sama dengan Dia di takhtaNya. Kalau orang yang mengalahkan dosa bisa masuk Kerajaan Allah, itu menunjuk pada ajaran keselamatan karena perbuatan baik, dan itu sesat!

c.   Ay 11-nya menunjukkan bahwa dahulu jemaat Korintus melakukan dosa-dosa tersebut, tetapi sekarang mereka telah dibenarkan karena iman kepada Kristus, dan karena itu mereka mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Sedangkan ay 9-10 menunjuk kepada orang-orang yang melakukan dosa itu dan tidak pernah bertobat / percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya!

 

2.   Edwin Louis Cole mengatakan bahwa “Orang yang bisa mengalahkan dosa percabulan tersebut adalah orang yang akan sanggup mencapai kekudusan”.

Ini sama sekali tidak punya dasar Alkitab, dan memang tidak Alkitabiah!

Bagaimana kalau seseorang bisa mengalahkan dosa percabulan, tetapi ia suka berdusta, mencuri, tidak disiplin dsb? Yang benar adalah: setiap orang kristen punya kelemahan! Bisa dalam percabulan, dusta, pelit, sombong, munafik, dan sebagainya.

 

11)       Penekanan ‘kepriaan’ yang kelewat batas sampai menjadi suatu ajaran sesat!

 

a)   “Jati diri Daud sebagai pria sejati telah terbukti melalui sikap yang diambilnya dalam menghadapi krisis. ... Paulus mau menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi setiap kaum pria yang percaya pada zamannya, dengan mengatakan, ‘Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus’ (1Korintus 11:1)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 230).

 

Tanggapan saya:

Baik Daud maupun Paulus tidak pernah ditekankan kepriaannya!

 

b)   “Keberanian moral merupakan suatu kebajikan dalam diri seorang pria, sedangkan kepengecutan moral akan menghancurkan sifat kepriaannya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 312).

Tanggapan saya:

Tak berlaku untuk perempuan?

 

c)   “Dalam suatu kebaktian, lebih dari dua ribu pria memadati sebuah auditorium di Boston. Banyak di antara hadirin itu yang menerima prinsip dan kebenaran yang akan saya ajarkan, menganutnya, kemudian mengajarkannya kepada pria lain, yang selanjutnya mengajar pria yang lain lagi, dan dengan demikian kebenaran itu pun menyebar luas. Pada hari itu, ketika saya berbicara kepada kumpulan orang banyak tersebut, pengungkapan tentang Pribadi Yesus yang sesungguhnya dan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukanNya bagi manusia, khususnya kaum pria, seakan-akan menghunjam ke dalam pikiran dan hati setiap pria yang hadir di sana. Bobot kebenaran itu menciptakan suatu kesenyapan yang begitu hening di antara mereka. Beberapa saat kemudian, keheningan itu pun pecah menjadi ungkapan sukacita yang penuh gairah. Saya berhenti berbicara dan memberi kesempatan bagi para pria yang belum pernah mengambil keputusan untuk menjadi ‘pria sejati’ agar maju dan menyatakan sikap mereka. Sewaktu ratusan pria beringsut maju ke depan, pria-pria yang lain bersorak gemuruh, ‘Yesus, Yesus, Yesus!’ Sewaktu mereka berseru demikian, keyakinan yang terbentuk terasa begitu nyata. Para pria tersebut tiba-tiba menyadari bahwa menjadi pria sejati artinya adalah menjadi seperti Yesus, satu-satunya Pria yang pernah hidup tepat sesuai dengan kehendak dan tujuan Allah dalam menciptakan diriNya (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 8-9).

Catatan: kalau perlu baca terus hal 9nya.

 

Tanggapan saya:

1.   Kata-kata ‘khususnya kaum pria’ adalah omong kosong. Perbuatan apa yang Yesus lakukan hanya bagi pria, dan tidak bagi wanita?

2.   Ia menulis seakan-akan yang ia adakan adalah suatu KKR penginjilan. Kalau memang KKR penginjilan maka ini bisa saja. Tetapi kalau hanya ajaran tentang ‘pria yang sejati’, itu omong kosong!

3.   Kalau ajaran pria yang sejati menekankan hubungan suami istri dengan anak-anak, bagaimana Yesus bisa mereka teladani mengingat Yesus tidak pernah kawin / punya anak jasmani?

4.   Bagaimana orang-orang yang maju ke depan dalam kebaktian itu bisa membuang botol-botol minumannya (hal 9)? Apakah mereka datang ke kebaktian dengan membawa botol-botol minuman mereka? Atau mereka pulang dulu mengambil botol-botol itu dan lalu membuangnya ke altar gereja?

 

d)   Buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 53-61,64,66,69,70,71,72,74,98 - Yesus ditekankan kepriaanNya! Semua kata ‘orang’ atau ‘manusia’ yang ditujukan kepada Yesus, diubah menjadi ‘pria’!

 

Tanggapan saya:

Sekalipun Yesus memang adalah seorang pria, tetapi dalam kelahiranNya, penderitaanNya, pengadilan terhadapNya, kematianNya dsb, yang ditekankan dari Dia adalah bahwa Ia adalah manusia sama seperti kita (Ibr 2:14-17), bukan kepriaanNya. Apa bahayanya menekankan kepriaan Yesus? Bahayanya: ini bisa mengarah pada ajaran bahwa Ia tidak mati untuk wanita!

 

Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.

 

Alkitab memang membedakan pria dan wanita dalam rumah tangga, karena kepala keluarga harus yang pria. Tetapi dalam persoalan penebusan, keselamatan, pengudusan dsb, tidak ada perbedaan!

 

g)   “Allah bermegah dalam diri pria yang mau datang kepadaNya dengan rendah hati, yang dengan jujur berusaha berubah untuk menjadi semakin serupa dengan citra seorang pria yang terdapat dalam diri Yesus Kristus, yaitu menjadi seorang ‘pria sejati’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

 

h)   “Dia memerintahkan murid-muridNya agar melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang telah dilakukanNya, berdasarkan iman (Yohanes 14:12). Dengan berbuat demikian, para pria akan memuliakan Allah seperti Dia juga telah memuliakan Allah. Hanya dengan cara itulah harapan akan menjadi kenyataan. Kaum pria akan mendapatkan penggenapan dan kepuasan dalam menjalani proses pendewasaan menjadi pria yang sesungguhnya, dan pada saat itulah seorang pria akan dapat bersikap sama, baik terhadap orang lain, terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74-75).

 

Tanggapan saya:

Tak berlaku untuk wanita??

 

i)    “Apa kaitan hal-hal di atas dengan pernikahan? Sederhana saja: Allah, Pria yang paling sempurna itu berkepentingan untuk membentuk para suami menjadi pria yang memiliki nilai-nilai kepriaan yang sejati” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 327).

 

Tanggapan saya:

 

Allah adalah seorang pria? Ini bertentangan dengan Yoh 4:24 yang menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Kalau Roh, maka tak ada jenis kelamin.

Yoh 4:24 - Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

 

j)    Setelah membicarakan Luk 13 yang menunjukkan seorang petani yang mengharapkan buah pohon ara, sama seperti Allah mengharapkan buah dari kehidupan kita, ia lalu berkata:

“Buah itu adalah ‘karakter kepriaan kita yang sempurna’. ... Hai para pria, Allah menciptakan kita sebagai pria dan menanamkan roh-Nya di dalam diri kita; Ia berharap dapat memperoleh buah kepriaan dari kita.” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 52,53).

 

Tanggapan saya:

Lalu bagaimana dengan perempuan?

 

k)   “Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, ia merupakan contoh dari pria yang sempurna. Ketika kepriaan tersebut dirusak oleh dosa, Yesus Kristus datang memulihkan citra kaum pria sebagai Adam yang kedua. Kristus datang sebagai ‘pengungkap citra’ Allah, yang mengatakan kepada kita, bahwa kita harus terlebih dahulu ‘dilahirkan kembali’ dan menerima sifat-sifat Allah ke dalam roh kita. Kita harus mempunyai pikiran dan hati yang sudah diperbaharui kembali. Baru kehidupan kita diubahkan, ‘yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.’ Tanpa Yesus Kristus, kaum pria tidak akan pernah bisa dipulihkan ke dalam citra Allah sebagai ‘buatan Allah, diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik.’ Hanya bersama dengan Yesus hal itu bisa dilakukan saat ini. Dengan gambaran baru tentang kepriaan ini - yang sudah diberikan oleh Yesus - dimeteraikan di dalam pikiran kita, perilaku kita, sikap, dan keinginan kita, semuanya akan menjadi baru” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 106).

 

Tanggapan saya:

1.   Adam bukan pria yang sempurna. Kalau sempurna, ia tidak akan bisa jatuh ke dalam dosa!

2.   Dosa merusak kepriaan Adam? Jadi, sejak jatuh ke dalam dosa, Adam bukan pria, tetapi wanita / banci?

3.         Yesus datang memulihkan citra kaum pria? Lalu bagaimana dengan perempuan?

 

l)    Kaum prialah yang menghasilkan suatu bangsa. Suatu bangsa akan besar bila kaum prianya besar. Suatu bangsa akan kuat bila kaum prianya kuat” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 111).

 

Tanggapan saya:

Ini penghinaan terhadap kaum wanita! Kaum pria tidak bisa berkembang biak kalau tidak ada wanita. Jadi bagaimana Cole bisa mengatakan ‘Kaum prialah yang menghasilkan suatu bangsa’?

 

m)  “E. M. Bounds menulis, ‘Kaum pria adalah metode-metode Allah.’ Ketika kaum pria mencari metode yang lebih baik, Allah mencari kaum pria yang lebih baik” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 112).

 

Tanggapan saya:

1.         Bagaimana dengan kaum wanita?

2.         Allah tergantung manusia / kaum pria?

 

n)   Perubahan harus dimulai dari kaum pria.

 

“Karena kaum pria adalah kepala rumah tangga, perubahan harus dimulai dari kaum pria!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 83).

 

“Dengan pemahaman itulah kami berdoa. Kami bersepakat dengan Allah. Rick, menanggalkan caranya yang lama, menyerahkan kehidupannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sejak saat itu, Rick menjadi seorang pria yang lebih berpotensial daripada waktu-waktu sebelumnya. ... Perubahan sudah terjadi. Apakah yang terjadi dengan keluarganya? Beberapa bulan kemudian, Rick dan Joan duduk bersama kami di ruang tamu dengan beberapa orang lain. Tiba-tiba, saya menyadari bahwa ternyata Joan menangis. Saya menanyakan sebabnya. ‘Saya tidak sedang menangisi diri saya,’ ia berkata. ‘Saya sesungguhnya sedang menangisi kaum wanita lainnya yang akan mengalami hal yang sama seperti yang sudah saya alami. Sesudah Rick mengalami perubahan itu di dalam kehidupannya, ia kembali ke rumah dan segera segala sesuatunya pun berubah.’ Kemudian, Joan menjelaskan dampak yang luar biasa akibat perubahan yang sudah dialami Rick. ‘Kami tidak mengatakan kepada anak-anak apa yang sudah dialami Rick. Kami hanya ingin membiarkan segala sesuatunya terjadi secara wajar.’ Tetapi, tiga hari setelah Rick datang ke rumah, anak perempuan saya menghampiri saya dan berkata, ‘Mama, apa yang terjadi dengan papa? Papa kelihatannya berubah.’ Rick, Joan, dan anak-anak mereka menemukan bahwa perubahan selalu datangnya dari kepala keluarga (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 85).

 

“Banyak kaum pria saat ini yang sanggup mengubah istri, anak-anak, bisnis, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sedangkan diri mereka sendiri tidak diubahkan. ... Anda adalah seorang pria - Jika Anda berubah, keluarga Anda juga akan berubah. Jika Anda diubahkan, maka bisnis Anda pun akan diubahkan. Hai kaum pria, perubahan harus dimulai pertama-tama di dalam diri Anda” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 89-90).

 

Tanggapan saya:

1.   Katanya perubahan harus dimulai dari kaum pria, tetapi kok bisa ada pria yang mengubah keluarga, tetapi dirinya sendiri tidak berubah??

2.   Kata-kata Jika Anda diubahkan, maka bisnis Anda pun akan diubahkan’ berbau theologia Kemakmuran.

 

“Di dalam Kitab Efesus 5:23 disebutkan bahwa dalam rumah tangga, kaum pria setara dengan Kristus sebagai Kepala gereja. Perkara ini memiliki makna yang dahsyat di dalam diri kaum pria. Kebenaran: Sebagaimana Kristus adalah Juruselamat gereja, yang menyediakan jalan keluar terhadap masalah-masalah jemaat, demikian pula dengan kaum pria. Kaum pria mengambil tugas yang sama di dalam keluarga mereka. Jalan keluar terhadap masalah keluarga tetap diprakarsai oleh kaum pria” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 91).

Catatan: cetak miring dari saya.

 

Tanggapan saya:

 

1.   Ef 5:23 mengatakan bahwa suami adalah kepala istri, dan jelas juga kepala keluarga.

Ef 5:23 - “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.

Tetapi Edwin Louis Cole tahu-tahu membelokkan ‘kepala’ menjadi ‘Juruselamat’ (perhatikan kata-kata yang saya cetak miring), dan ini menjadi suatu kegilaan / kesesatan!

 

2.   Kalau suami memang adalah kepala keluarga bukankah ia boleh mengatur sehingga persoalan-persoalan tertentu dibereskan oleh istri?

 

3.         Ada cerita-cerita Alkitab yang bertentangan dengan ajaran Edwin Louis Cole ini.

a.   Zipora pada waktu ‘menyelamatkan Musa’ dengan menyunatkan anaknya (Kel 4:24-26).

b.   Debora (Hakim 4-5)!

Hak 4:4-9 - “(4) Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. (5) Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. (6) Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: ‘Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, (7) dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.’ (8) Jawab Barak kepada Debora: ‘Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.’ (9) Kata Debora: ‘Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.’ Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh”.

Siapa yang memulai inisiatif? Debora, dan ia adalah seorang perempuan!

 

4.         Bagaimana kalau suami tidak Kristen, sedangkan istrinya Kristen?

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

1Kor 7:16a - Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?”.

1Pet 3:1-2 - “(1) Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, (2) jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

2Tim 1:5 - “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.

Catatan: dalam keluarga Timotius, yang kristen duluan justru adalah nenek dan ibunya. Mungkinkah kakek dan ayahnya, yang adalah orang kafir, yang mengajarkan kekristenan kepada Timotius?

 

12)       Wanita, pria, dan fungsi / pekerjaan Roh Kudus.

 

“Hal yang sama juga terjadi atas diri wanita Kristen. Mereka menginginkan suami mereka yang belum diselamatkan mendengarkan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Dan, mereka begitu menginginkan hal ini dan sering juga mereka berbuat salah. Mereka kelihatannya percaya bahwa ‘tidak ada laki-laki yang datang kepada Bapa kecuali istri mereka menarik mereka.’ Tidak ada seorang wanita pun yang mampu menarik seorang pria datang kepada Allah - hanya Roh Kudus yang mampu melakukannya. Tidak terkira banyaknya wanita yang sudah menyerahkan tubuh, pikiran, dan jiwa mereka terhadap maksud gila-gilaan ini, mereka mencoba menggantikan tugas Allah Roh Kudus. Berkali-kali para konselor mengatakan kepada para wanita, ‘Jangan mempermainkan Allah.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65).

 

“Yakinlah bahwa kaum pria adalah imam, dan Allah sudah mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam posisi itu. Seorang wanita tidak bisa mendorong seorang pria. Dorongan seorang wanita akan membantu hanya ketika seorang pria memang sudah siap ditarik atau dipimpin oleh Roh Allah menjadi seperti yang Allah inginkan. Kaum pria dapat mengubah kebiasaannya. Tetapi, hanya Allah yang mampu mengubah sifat alamiahnya. Para wanita, janganlah mempermainkan Allah!” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 65-66).

 

Tanggapan saya:

 

Apa urusannya ini dengan ‘mempermainkan Allah’? Dan, kalau pria yang melakukan hal itu, apakah mereka juga mempermainkan Allah?

 

Dan anehnya dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut: “Setiap wanita memiliki peranan yang sangat besar untuk mendorong suaminya ke arah yang benar, dan tidak membutakan matanya terhadap langkah-langkah menyimpang yang dilakukan suaminya, sebab wanita mempunyai dua kemungkinan, ia dapat menjadi alat pemicu kejahatan bagi suaminya, atau ia menjadi alat kebenaran yang dipakai Tuhan bagi suaminya” (hal 50).

Hebat sekali buku ini bisa menentang big boss-nya sendiri!

 

Edwin Louis Cole meninggikan pria secara sangat berlebihan (dan dengan cara yang salah), dan sebaliknya, merendahkan wanita, juga secara sangat berlebihan!

 

Saya setuju bahwa pertobatan seseorang merupakan pekerjaan Allah / Roh Kudus, tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh pasif total kalau kita ingin seseorang bertobat. Kita harus memberitakan Injil, mendoakannya, memberikan teladan yang baik kepadanya, mengajaknya ke gereja, dan sebagainya. Dan ini berlaku baik untuk pria maupun wanita!

 

Bdk. 1Kor 3:5-9 - “(5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. (9) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.

 

13) Ajaran sesat tentang kebapaan Allah.

“Kehormatan tertinggi yang Tuhan taruh di dalam kehidupan seorang pria adalah menjadi ayah. Karena itu, Tuhan juga memilih untuk menyebut dan memanggil diriNya sebagai Bapa. Kebapaan adalah pekerjaan yang terutama bagi para pria. Tidak ada yang lebih lengkap bagi seorang pria untuk mencapai kepenuhan kecuali menjadi ayah” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 78).

 

Tanggapan saya: Ini betul-betul gila dan tolol.

a)   Allah bukan memilih untuk menyebut diriNya sebagai Bapa, tetapi Ia memang adalah Bapa, dan Yesus adalah AnakNya. Kalau Ia memilih untuk menyebut / memanggil diriNya sebagai Bapa, berarti kebapaanNya tidak kekal. Dan mungkinkah suatu waktu kelak, Ia memilih menjadi Ibu? Dan Yesus lalu menjadi PutriNya?

b)   Bukan kebapaan manusia yang menjadi pola dari kebapaan Allah, tetapi sebaliknya!

c)   Bagaimana dengan Yesus, yang tidak pernah menjadi bapa, karena tak pernah menikah? Jadi, Ia tidak lengkap untuk mencapai kepenuhan?

 

14) Ajaran sesat tentang doktrin Allah Tritunggal.

 

“Para teolog menjelaskan tentang kedudukan Allah, Anak, dan Roh Kudus dalam Tritunggal Allah, sebagai berikut:

Anak = Visioner (pemegang visi)

Roh Kudus = Administrator (pengelola)

Bapa = penguasa” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129-130).

 

Tanggapan saya:

Teolog tolol yang mana yang mengatakan ini? Ini teori sinting / sesat tentang Allah Tritunggal. Juga ini dinyatakan tanpa dasar Alkitab!

Disamping itu, dalam apa yang ia bahas pada bagian ini, sebetulnya ia sama sekali tidak perlu berbicara tentang Allah Tritunggal, tetapi ia tahu-tahu nyelonong ke Allah Tritunggal tanpa ada perlunya, dan memasukkan ajaran sesat ini!

 

15) Tentang Yesus.

 

a)   Yesus adalah hamba manusia.

“Sifat dasar Allah adalah selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain, dan Dialah Juruselamat yang menjadi hamba bagi semua orang. Roh yang memampukan Yesus menjadi demikian itu juga bekerja di dalam diri kita untuk ... menciptakan hati seorang hamba” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 326).

 

Dalam hubungan Yesus dengan kita, Dia adalah Tuhan dan kita yang adalah hamba-hambaNya!

 

Tetapi bagaimana dengan ayat di bawah ini?

Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

Ini hanya menunjukkan perendahan yang Yesus alami pada waktu berinkarnasi. Allah menjadi manusia, Tuhan menjadi hamba. Tetapi hamba siapa? Tak pernah dikatakan Yesus menjadi hamba kita! Ia menjadi hamba Allah!

Bdk. Yes 52:13 - “Sesungguhnya, hambaKu akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan”.

 

Terhadap kita, Ia adalah Tuhan kita!

Yoh 13:13  - “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”.

 

b)   Tentang penebusan yang Yesus lakukan.

 

“Kalvari adalah tempat Kristus menukar kebenaranNya dengan keadaan kita yang berdosa, supaya kita dapat menyerahkan keberdosaan kita dan menerima kebenaranNya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 79).

 

Tanggapan saya: Jadi, Ia menjadi berdosa?

 

“Allah mengasihi orang berdosa, meskipun Allah sendiri membenci dosa. Tujuan kekal Yesus di atas Golgota adalah memisahkan kita dari dosa kita. Allah murka terhadap dosa. Selama kita masih identik dengan dosa, kita tetap menjadi sasaran murka Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 35).

 

Tanggapan saya: Tujuan kekal Yesus di atas Golgota adalah memisahkan kita dari dosa kita? Bukannya menebus dosa kita atau memikul hukuman dosa kita?

 

c)   Yesus sama dengan Bapa.

 

“Dia menyamakan diriNya sepenuhnya dengan Bapa (Yohanes 10:30)” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 308).

 

Tanggapan saya:

‘Satu dengan Bapa’ (Yoh 10:30), atau ‘setara dengan Bapa’ (Yoh 5:18  Fil 2:6) berbeda dengan ‘menyamakan diri sepenuhnya dengan Bapa’. Yang terakhir ini menjadi ajaran Sabelianisme.

 

Catatan: Yoh 5:18 versi Kitab Suci Indonesia salah terjemahan. Seharusnya bukan ‘menyamakan diri’ tetapi ‘membuat diri setara’.

Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ (= membuat diriNya sendiri setara dengan Allah).

 

d)   Yesus dan firman / kata-kata Allah.

 

“Semakin banyak firman yang ada di dalam hati Anda, Anda akan semakin menyerupai firman, dengan kata lain semakin menyerupai Kristus. Firman harus diperoleh di dalam roh” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 60).

 

Tanggapan saya:

Jadi, firman = Kristus? Dan bagaimana cara memperoleh firman di dalam roh? Apa maksudnya?

 

“Tutur kata adalah ungkapan sifat manusia, sebagaimana firman Allah juga mengungkapkan sifat-sifat Allah. ‘Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’ (Yohanes 1:1). Kristus datang sebagai penjelmaan Firman Allah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 47-48).

 

“Pola kerja Allah secara garis besar adalah sebagai berikut: Allah menyampaikan suatu firman, memberi firman tersebut wujud berupa suatu ‘tubuh’, dan menyembuhkan seluruh dunia.

·         Pola tersebut terlihat nyata dalam kehidupan Yesus. Yesus datang sebagai ‘Firman’, Dia datang dalam wujud tubuh manusia (yang terdiri dari darah dan daging), dan menyampaikan kabar anugerah serta penebusan yang membawa kesembuhan bagi dunia.

·         Allah menyampaikan berita Injil kepada para murid, yang kemudian menjadi tubuh Kristus, dan selanjutnya mereka membawa kesembuhan bagi seluruh dunia” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 138-139).

 

Dari buku ‘Hikmat Bagi Pria’:

“Isilah otak (pikiran) kita dengan Firman Tuhan dan hiduplah di dalamnya, karena Firman Allah adalah pribadi Allah. Allah adalah Firman, dan Firman adalah Allah, Yoh 1:1. (RO)” (hal 2).

Catatan: RO rupanya adalah Rubin Ong, Youth Minister Fellowship Pemimpin Christian Men’s Network di Indonesia (lihat book cover bagian depan buku ini).

 

Tanggapan saya:

 

Ini ajaran sesat dan tolol! ‘Firman’ dalam Yoh 1:1,14 merupakan gelar dari Yesus, dan tidak menunjuk pada kata-kata Allah!

 

Bandingkan dengan “tetapi berpikiran seperti Firman Tuhan berpikir (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 14).

Ini lagi-lagi ketololan yang searah dengan ajaran di atas! Firman Tuhan tidak bisa berpikir! Kalau ia mengatakan Firman Tuhan berpikir, lagi-lagi ia menganggap Firman Tuhan sebagai pribadi!

 

Orang ini mengacau-balaukan ‘Firman’ dan ‘Allah’ dalam Yoh 1:1, karena ia mengatakan Allah adalah Firman, dan Firman adalah Allah, Yoh 1:1’. Ini salah sama sekali, dan menunjukkan ketidak-mengertian sama sekali tentang gramatika bahasa Yunani.

Kata-kata ‘Firman itu adalah Allah’ dalam bahaya Yunani adalah THEOS EN HO LOGOS, dan karena kata ‘Firman’ (LOGOS) menggunakan definite article (= kata sandang tertentu), yaitu HO, dan kata ‘Allah’ (THEOS) tidak, maka LOGOS-lah subyeknya dan THEOS-lah predikatnya. Karena itu, harus diterjemahkan ‘Firman itu adalah Allah’, dan tidak bisa / tidak boleh diterjemahkan ‘Allah adalah Firman’! Seandainya kedua kata itu menggunakan definite article (= kata sandang tertentu), maka bisa dibolak-balik. Jadi bisa diterjemahkan ‘Allah adalah Firman’ maupun ‘Firman adalah Allah’. Contoh-contoh lain:

·         Yoh 4:24 - PNEUMA HO THEOS harus diterjemahkan ‘Allah adalah Roh’, bukan ‘Roh adalah Allah’.

·         1Yoh 4:16 - HO THEOS AGAPE ESTIN harus diterjemahkan ‘Allah adalah kasih’ dan bukan ‘kasih adalah Allah’.

·         Yoh 1:14 - HO LOGOS SARX EGENETO harus diterjemahkan ‘Allah menjadi daging’ dan bukan ‘daging menjadi Allah’.

 

A. T. Robertson: “‘And the Word was God.’ ‎kai ‎‎Theos ‎‎een ‎‎ho ‎‎logos‎. By exact and careful language John denied Sabellianism by not saying ‎ho ‎‎Theos ‎‎een ‎‎ho ‎‎logos‎. That would mean that all of God was expressed in ‎ho ‎‎logos ‎and the terms would be interchangeable, each having the article. The subject is made plain by the article ‎ho ‎‎logos ‎and the predicate without it ‎Theos ‎just as in John 4:24 ‎pneuma ‎‎ho ‎‎Theos ‎can only mean ‘God is spirit,’ not ‘spirit is God.’ So in 1 John 4:16 ‎ho ‎‎Theos ‎‎agapee ‎‎estin ‎can only mean ‘God is love,’ not ‘love is God’ ... So in John 1:14 ‎ho ‎‎Logos ‎‎sarx ‎‎egeneto‎, ‘the Word became flesh,’ not ‘the flesh became Word.’”.

Catatan: saya tak memberikan terjemahannya karena di atas intinya sudah saya berikan dengan kata-kata saya sendiri.

 

e)   Yesus dilahir-barukan?

 

Allah menciptakan Adam sebagai seorang anak. Allah juga memperlakukan Adam sebagai seorang anak. Namun, Adam kemudian jatuh ke dalam dosa. Akibatnya sifat Allah sebagai Bapa sorgawi baru dapat disingkapkan secara sempurna pada saat kedatangan Adam yang lain yang disebut ‘Anak tunggal’ Allah. Yesus sebagai ‘Adam yang akhir’ telah menyingkapkan kebenaran tentang Allah sebagai Bapa. Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan cara manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 228).

 

Ada banyak kesalahan yang besar / kesesatan di sini:

 

1.   Siapa mengatakan Adam adalah anak Allah? Kalau ia memang anak Allah, ia tak akan dibuang! Kalau dalam Luk 3:38 Adam disebut ‘anak Allah’, itu dalam arti ‘ciptaan Allah’. Kata ‘Bapa’ bisa berarti Pencipta, dan kata ‘anak’ bisa berarti ‘yang dicipta’. Misalnya:

Ibr 12:9 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”.

Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

Kata-kata ‘Bapa yang kekal’ oleh para penafsir dikatakan seharusnya adalah ‘bapa dari kekekalan’, dan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah ‘pencipta / sumber dari kekekalan’!

 

‘Bapa yang kekal’.

KJV/RSV/NIV: ‘everlasting Father’ (= Bapa yang kekal).

NASB: ‘eternal Father’ (= Bapa yang kekal).

Apa arti istilah ‘Bapa yang kekal’ ini?

Barnes’ Notes: “Literally, it is the Father of eternity” (= Secara hurufiah, ini adalah Bapa dari kekekalan) - hal 193.

Barnes’ Notes: “He is not merely represented as everlasting, but he is introduced, by a strong figure, as even ‘the Father of eternity’, as if even everlasting duration owed itself to his paternity” (= Ia tidak semata-mata digambarkan sebagai kekal, tetapi ia diperkenalkan dengan suatu penggambaran yang kuat bahkan sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, seakan-akan bahkan kekekalan berhutang dirinya sendiri kepada kebapaannya) - hal 193.

 

Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan author’ / ‘pencipta’ atau ‘sumber’.

 

Calvin: The name Father is put for Author, because Christ preserves the existence of his Church through all ages, and bestows immortality on the body and on the individual members. Hence we conclude how transitory our condition is, apart from him; for, granting that we were to live for a very long period after the ordinary manner of men, what after all will be the value of our long life? We ought, therefore, to elevate our minds to that blessed and everlasting life, which as yet we see not, but which we possess by hope and faith. (Romans 8:25.) (= ).

 

2.   Oleh karena kedudukannya sebagai Anak Allah, Yesus memampukan manusia menjadi anak-anak Allah.

 

Tanggapan saya:

Yesus memampukan manusia jadi anak-anak Allah bukan karena Ia adalah Anak Allah, tetapi karena Ia yang adalah Allah, sudah menjadi manusia, dan mati di salib untuk menebus dosa kita. Itupun harus ditambahi pekerjaan Roh Kudus yang membuat kita beriman, karena tanpa percaya / beriman kepada Kristus, kita bukan anak-anak Allah (Yoh 1:12).

 

3.   “manusia harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah seperti yang telah dialami Yesus.

 

Tanggapan saya:

Ini puncak dari kegilaan dan kesesatan orang ini! Kalau Yesus dilahirkan kembali, berarti tadinya Ia mati dalam dosa, seperti kita! Dan kalau demikian, Ia tidak bisa menjadi Juruselamat / Penebus kita!

 

f)    Yesus menjadi serupa dengan manusia.

 

“Yesus menanggalkan segala kemuliaan yang dimilikiNya di sorga, merendahkan diriNya hingga menjadi sedikit lebih rendah dari malaikat, menjadi serupa dengan manusia, .... ” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

 

Tanggapan saya:

Ini merupakan ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus, karena seharusnya bukan ‘serupa’ tetapi ‘sama / sama dengan’!! Ibr 2:14-17  Fil 2:7.

Ibr 2:14,17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; ... (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.

Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

 

Tetapi bagaimana dengan Ro 8:3 - “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging”?

 

Matthew Henry (tentang Ro 8:3): “How Christ appeared: ‘In the likeness of sinful flesh.’ Not sinful, for he was holy, harmless, undefiled; but in the likeness of that flesh which was sinful (= Bagaimana Kristus nampak: ‘Dalam keserupaan dengan daging yang berdosa’. Bukan berdosa, karena Ia adalah kudus / suci, tidak jahat, tidak kotor / rusak; tetapi dalam keserupaan dengan daging yang berdosa itu).

 

Jangan anggap enteng ajaran sesat tentang kemanusiaan Yesus!

Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya) - ‘The Epistles of John’, hal 21.

 

Kalau Yesus hanya serupa dengan kita, Dia tidak bisa menebus dosa kita. Untuk bisa menebus dosa kita Dia harus betul-betul menjadi sama dengan kita (Ibr 2:14-17).

 

g)   Dalam hidupNya, Yesus bergantung kepada Roh Kudus, supaya kita dapat menerima Roh Kudus yang sama.

 

“Dalam menjalani kehidupanNya, Dia bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus, agar kita dapat menerima Roh Kudus yang sama, sehingga kita dapat hidup sama seperti ketika Dia hidup di muka bumi ini” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 74).

 

Tanggapan saya:

Yesus hidup suci, bukan supaya kita dapat menerima Roh Kudus! Apa urusan dua hal ini kok bisa dihubungkan?

Yesus hidup suci, karena kalau tidak, Ia tidak bisa mati menebus dosa kita, tetapi mati untuk dosaNya sendiri. Juga kalau Ia tidak suci, pada waktu kita percaya kepada Dia, kita tidak bisa dipakaiani dengan jubah kebenaran / pakaian putih! (Yes 61:10  Wah 3:18). Dengan kata lain, kita tidak bisa dibenarkan!

Tetapi antara kesucian hidup Yesus dan kita menerima Roh Kudus yang sama, tidak ada hubungannya!

 

Alkitab hanya mengatakan kalau Yesus tidak naik ke surga, maka Roh Kudus tidak akan turun (Yoh 16:7).

 

G)  Penonjolan diri sendiri / gerakan pria sejati.

 

“Sejak diperkenalkan, Christian Men’s Network (CMN) telah melayani para pria di 210 negara, membangun 70 kantor nasional dan melayani jutaan pria melalui pertemuan pria Kristen, retreat, pelayanan gereja, video, radio, televisi, buku, kaset, dan siaran satelit. Ribuan pria mengalami perubahan hidup, perkawinan dipulihkan, hubungan dipulihkan, pelayan-pelayan Tuhan bangkit dan dikuatkan, serta lebih dari seratus pelayanan pria dilahirkan. ... Sejak berdiri sampai tahun 2002, CMN Indonesia telah memuridkan lebih dari 1500 pria yang berasal dari berbagai gereja, denominasi, lembaga Kristen, perusahaan, badan pemerintahan. Saat ini, pemuridan pria telah ada di 7 kota: Jakarta, Cirebon, Medan, Semarang, Manado, Samarinda dan Denpasar” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 0).

 

“Ketika saya menulis bagian pertama dari buku ini, kuasa Allah hadir dan mempercepat apa yang saya tulis, dan saya merasakan bahwa apa yang ditulis itu begitu baik. Saya sadar bahwa urapan Allah hadir, dan kebenaran dalam buku ini telah mengubah hidup banyak pria di seluruh dunia. Di Zimbabwe, ketika saya sedang berbicara dalam sebuah konferensi, seorang pria yang takut akan Allah menantang saya. Pendeta Perkins telah menjadi seorang utusan Injil lebih dari tiga puluh tahun di Zambia dan ia dihormati dan dikasihi. Ia pernah dianiaya dan ditinggalkan di tepi jalan, tubuhnya dibungkus dengan kawat berduri dan dibiarkan agar dia mati. Ia tidak hanya bisa hidup, tetapi menikmati umur yang panjang sampai ia bisa menyaksikan orang-orang yang telah menyiksa dia itu dibawa kepada Kristus. Itulah keadilan yang ia rindukan. Pertama kali saya melihat dia ketika ia diperkenalkan untuk berbicara dalam konferensi itu, dan ia berjalan ke podium dengan perlahan, tetapi penuh empati. Ia berdiri dan menatap para hadirin selama beberapa menit. Lalu, ia mengamati saya di deretan kursi depan. Apa yang kemudian terjadi sungguh mengejutkan semua hadirin dan saya terpana. ‘Di manakah Anda ketika saya membutuhkan Anda?’ ia berteriak kepada saya. ‘Saya telah menghabiskan waktu untuk berkhotbah kepada kaum wanita dan anak-anak, dan baru sekarang ini saya membaca buku Anda, Maximized Manhood. Seandainya saya menghabiskan waktu hidup saya untuk belajar tentang pria, maka pasti saya sudah menyelamatkan bangsa saya. Anda harus masuk ke hutan di mana Anda dibutuhkan di sana.’” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 165,166).

 

“Setelah hampir lima puluh tahun dalam pelayanan dan lima puluh empat tahun pernikahan, saya masih selalu bepergian, menulis, mengajar dan berkhotbah. Hidup bagi Kristus adalah satu-satunya petualangan terbesar di muka bumi ini. Tidak ada bandingannya. ... Saya ingin berkobar-kobar bagi Allah sampai akhir hidup saya” (‘Kesempurnaan Seorang Pria’, hal 166,170).

 

Tanggapan saya:

1)   Semua kata-kata di atas ini, menurut saya, merupakan penonjolan diri sendiri dan gerakan pria sejati!

 

2)   Kalau Cole mau berkobar-kobar bagi Allah sampai mati, itu bagus sekali hanya kalau Ia mempunyai kebenaran! Tetapi dalam faktanya ia sesat, maka sikap berkobar-kobarnya justru sangat membahayakan!

Amsal 19:2 - Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”.

NIV: It is not good to have zeal without knowledge, nor to be hasty and miss the way’ (= Adalah tidak baik mempunyai semangat tanpa pengetahuan, ataupun tergesa-gesa dan sesat dari jalan).

 

Juga bandingkan dengan ayat-ayat ini:

 

Ro 10:1-3 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

 

Kis 26:9 - “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret”.

 

Yoh 16:1-3 - “(1) ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. (2) Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (3) Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.

 

 

Penutup.

 

Selesai camp yang saya ikuti, saya berbicara dengan semua mereka (panitia camp, termasuk Kaleb Kiantoro), dan saya mengatakan kepada mereka tentang ajaran kacau dan sesat dan ajaran tanpa dasar Alkitab, atau dengan dasar Alkitab yang ditafsirkan salah, dan saya mau membetulkan mereka. Mereka bilang mau, lalu saya dirangkul dsb, tetapi saya merasa kalau itu hanya kemunafikan saja. Kenyataannya sama sekali tidak ada follow up. Jadi akhirnya saya membuat seminar dan tulisan untuk menyerang ajaran ini.

 

Berkenaan dengan hal baik yang digembar-gemborkan banyak orang berkenaan dengan pria sejati / maximal, yaitu bahwa camp / seminar ini berhasil memperbaiki banyak pernikahan dan kehidupan keluarga (orang tua - anak), ini pendapat saya:

 

1)   Tak ada metode yang selalu berhasil, atau bahkan, yang pada umumnya berhasil. Ini berlaku baik untuk penginjilan, maupun counseling.

 

2)   Baik Edwin Louis Cole, maupun Eddy Leo, maupun para pengkhotbah dalam Camp, dan juga fasilitator (pemimpin kelompok) dalam camp, semuanya adalah orang-orang awam dalam urusan keluarga / pernikahan. Mereka tidak punya keahlian khusus, pendidikan khusus berkenaan dengan hal itu! Dari mana saya menyimpulkan hal ini?

a)   Saya sendiri diajar berkenaan dengan hal-hal seperti itu pada saat saya sekolah theologia.

b)   Saya pernah di-counsel dosen saya (seorang Ph. D., dan orang top di RTS dalam urusan counseling), dan itu merupakan suatu seri counseling, bukan satu kali saja.

c)   Saya juga sering ikut acara-acara tentang pernikahan / keluarga yang dipimpin orang-orang yang memang memenuhi syarat, dan mempunyai pendidikan khusus dalam hal itu.

d)   Saya sendiri pernah di-counsel dalam urusan hubungan suami istri oleh orang-orang yang memang memenuhi syarat dan mempunyai pendidikan khusus dalam hal itu.

 

Dari semua ini saya bisa membedakan orang-orang yang memang memenuhi syarat dan yang tidak, dalam persoalan counseling, pernikahan, keluarga dan sebagainya. Apa yang mereka berikan, baik dalam camp maupun buku-buku mereka, hanyalah hal-hal remeh, sehingga kalau dikatakan bisa mendapatkan hasil yang luar biasa, menurut saya itu adalah omong kosong. Kalau problem keluarga yang kecil-kecil, mungkin bisa. Tetapi untuk problem besar, saya tidak percaya kalau pria sejati ini bisa menolong. Mungkin juga ‘pemulihan’ itu sifatnya semu dan sementara.

 

Memang Tuhan itu bisa saja menggunakan ‘orang-orang bodoh’, tetapi Tuhan tidak bakal memakai orang-orang, yang ajarannya penuh dengan kesalahan dan kesesatan!

 

Catatan: bahaya lain dari counsellor awam adalah: biasanya mereka tidak bisa memegang rahasia! Sangat berbahaya kalau pengakuan yang sifatnya sangat pribadi / rahasia, diberikan kepada orang-orang yang tidak bisa memegang rahasia!

Edwin Louis Cole memang mengatakan kata-kata ini: “Orang yang loyal tidak suka membocorkan rahasia. Mereka menjaga rahasia tanpa mengenal kompromi. ... Orang yang loyal tidak pernah mengumbar perkataannya, ‘Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara’ (Amsal 11:13). Pemerintahan di seluruh dunia ini tidak ada yang terluput dari masalah yang disebut dengan ‘kebocoran’, yang menimbulkan kesulitan bagi pemerintah maupun rakyat. ‘Kebocoran’ ini disebabkan oleh orang-orang yang menyebarluaskan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kerahasiaannya. Orang yang suka ‘membocorkan’ rahasia atau menggerutu adalah orang yang hanya loyal kepada peraturan mereka sendiri, namun tidak loyal kepada peraturan atasan mereka. Anggota jemaat yang setia tidak akan menyebarkan gosip, mencari-cari kesalahan, atau pun menggerutu tentang gembala mereka. Mereka juga tidak bersedia mendengarkan kabar burung. Kemampuan menjaga rahasia adalah kebaikan yang dimiliki oleh orang yang loyal, sebagaimana loyalitas adalah kebaikan yang ada pada orang yang dapat dipercaya. Gembala yang mendengar sesuatu secara pribadi dan kemudian menceritakannya di muka umum adalah gembala yang tidak loyal dan oleh karenanya juga tidak dapat dipercaya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 161,162).

Tetapi persoalannya, apakah orang-orang di bawah menurutinya?

 

Hal terakhir yang ingin saya berikan adalah ini: sekalipun dalam camp itu ada penginjilan dan hal-hal yang ‘baik’, tetapi dengan dicampur dengan ajaran-ajaran yang kacau / sesat, ini menjadi sangat membahayakan. Ingat, tak ada ajaran sesat yang tidak mengandung kebaikan. Setan tak setolol itu. Dia berikan hal-hal yang baik, dicampur dengan ajaran-ajaran sesat, dan itu akan ‘membunuh’ saudara! Kalau saudara mau meracun seseorang, apakah memberikan sepiring racun 100 % kepada dia? Tidak! Saudara beri makan yang banyak zat-zat yang baik / berguna, tetapi berikan sedikit racun, dan itu akan membunuh dia! Jadi, bodohlah orang / pendeta yang menganggap camp ini baik / berguna, karena mengandung hal-hal yang baik!

 

Juga ada orang yang berkata: Tetapi pria sejati kan tak sesesat Saksi Yehuwa? Saya jawab: Ya, Saksi Yehuwa lebih sesat. Tetapi kalau ada 2 piring makanan, yang pertama saya beri 2 sendok racun, dan yang kedua hanya ½ sendok racun, apakah saudara mau memilih makanan di piring yang kedua?

 

Saran saya: jangan ikut camp ini ataupun mempopulerkannya! Kalau saudara melakukannya, saudara mendukung penyesatan!

 

 

 

 

-TAMAT-

 

 

Email : golgotha_ministry0@yahoo.com                               

Visit: www.golgotaministry.co.cc